Derrida, Dekonstruksi, dan Ironi Kebenaran

Judul Buku: Derrida
Penulis: Muhammad Al-Fayyadl
Pengantar: Goenawan Mohamad
Penerbit: LKiS
Cetakan: Pertama, Agustus 2005
Tebal: xxx + 244 halaman
Peresensi: M Mushthafa

9 Oktober 2004, seorang filsuf terkemuka dari Prancis meninggalkan kita semua. Namanya telah begitu mendunia: Jacques Derrida. Salah satu konsep kunci yang diperkenalkannya ke dalam khazanah filsafat, “dekonstruksi”, telah begitu sering dikutip dalam berbagai forum dan media oleh berbagai kalangan, terutama untuk menggambarkan semangat perlawanan dan sikap anti-kemapanan. Dekonstruksi juga diyakini sebagai semacam jimat pembebasan yang cukup ampuh untuk menghadapi klaim-klaim kebenaran yang dibangun atas dasar arogansi.

Buku ini hadir ke khalayak Indonesia untuk mengundang para pembacanya berbagi kegelisahan dan keprihatinan seperti yang telah digeluti Derrida selama ini, sebagaimana tergambar dalam filsafat dan pemikirannya. Dalam karya ini Derrida hadir sebagai sebuah nama yang merepresentasikan salah satu gugus pemikiran alternatif, di tengah situasi dunia yang cenderung tak menoleransi yang lain, the Other, dan mengarahkan semuanya ke pusaran teleologi modernisme yang tunggal dan seragam.

Di antara simpul-simpul pemikiran Derrida yang mewartakan pembebasan, sikap rendah hati, dan penghargaan atas yang lain itu, terdapat butir-butir pemikiran filosofis yang sebenarnya sangatlah canggih membedah, tajam berargumen, cermat menelisik, dan kadang cukup rumit. Meski demikian, yang menarik dari karya ini adalah bahwa ia dapat bertutur dengan cukup bernas dan mengalir tentang bagaimana Derrida menyampaikan dan membangun argumen menyangkut sejumlah persoalan filosofis yang didiskusikannya itu.

Empat bab dalam buku ini secara berkesinambungan memberikan gambaran yang jernih dan utuh tentang dasar-dasar kritik dan keberatan Derrida atas strukturalisme yang kemudian mengantarkan Derrida pada bangunan filsafat yang dikembangkannya, yang banyak bertumpu pada strategi dekonstruksi, serta tentang bagaimana dekonstruksi itu sendiri membawa pada sejumlah konsekuensi di berbagai wilayah kehidupan.

Garis besar kritik Derrida atas tradisi filsafat Barat berpusat pada serangannya terhadap metafisika kehadiran (logosentrisme) yang begitu dominan. Namun demikian, uraian dalam buku ini tidak secara eksplisit masuk dari term metafisika kehadiran itu, melainkan dimulai dari kritik dan ketidakpuasan Derrida atas strukturalisme, pemikiran yang diilhami oleh Ferdinand de Saussure dan di tahun 1960-an berkembang serta begitu populer di Eropa. Bagi Derrida strukturalisme memang telah membukakan gerbang bagi penjelajahan intelektual yang dilakukannya; strukturalisme adalah pemikiran yang menyingkirkan subjek sebagai pusat wacana dengan menekankan pada aspek struktural bahasa yang lebih bersifat objektif. Sayangnya, menurut Derrida, Saussure dengan strukturalismenya itu tak sepenuhnya berhasil mengelak dari logosentrisme; strukturalisme masih merindukan pusat dan selalu ingin bernostalgia dengan asal usul (origins, arché). Ini terlihat jelas dalam kecenderungan fonosentrisme strukturalisme, yang begitu memuja suara (ph?n?), yang menjadi cerminan dari “kehadiran-diri” (self-presence) si penutur.

Melanjutkan strukturalisme yang mengarahkan fokus kupasan ke bahasa, Derrida meradikalkan makna teks, tulisan, dan metafor. Dalam hal ini Derrida menggunakan strategi dekonstruksi untuk melawan kecenderungan fondasionalisme dan pengacuan pada subjek atau asal usul tertentu, dan kemudian menggantikannya dengan intertekstualitas. Dengan dekonstruksi, yang dalam buku ini dijelaskan melalui komentar-komentar kritis Derrida atas filsuf-filsuf terkemuka semisal Nietzsche, Freud, Heidegger, dan Levinas, ditunjukkan bahwa makna sebuah teks selalu tertunda, berada dalam suatu usaha penataan dan khaos tiada henti, dan karena itu tak dapat mencapai titik makna yang utuh dan bulat. Secara positif, dekonstruksi menumbangkan hierarki konseptual yang menstruktur dalam teks dan menghidupkan kekuatan-kekuatan tersembunyi (tekstualitas laten) yang sebelumnya terbungkam.

Dengan demikian, dekonstruksi mengantar kita semua ke dalam suatu penjelajahan makna yang tak terbatas dan tak mencapai titik pungkas. Bukan suatu nihilisme, tetapi semacam parodi, atau ironi, tentang kebenaran, di tengah hasrat berlebih manusia untuk mencapai kepenuhan makna.

Di tengah masih cukup langkanya karya tulis yang mengupas segi-segi pemikiran konseptual yang dituturkan dengan jernih, tajam, dan kontekstual di Indonesia, tak heran jika Goenawan Mohamad memuji karya ini sebagai “sumbangan yang amat berharga dalam khazanah penulisan filsafat dalam bahasa kita”. Fayyadl, penulis buku ini, dengan sangat fasih dan penuh empati membawa kita ke titik-titik penting pemikiran Derrida, untuk bersama-sama terus menyadari betapa wajah kebenaran itu relatif, dan karena itu kita harus selalu rendah hati dalam mengungkapkan setiap nilai kebenaran yang kita temukan.

http://rindupulang.blogspot.co.id/2005/08/derrida-dekonstruksi-dan-ironi.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*