Dialog Imajiner Mohammad Yamin tentang “Deklarasi Hari Puisi Indonesia.” (I)

Nurel Javissyarqi

I
“Mungkin selera saya belum terbentuk dengan baik, pendapat saya mungkin keliru. Pokoknya Anda tahu bahwa saya terbiasa mengatakan terus-terang pendapat saya, atau lebih tepat perasaan saya. Saya curiga bahwa pendapat orang sering dipengaruhi ilusi, mode atau tingkah sesat. Sedangkan saya berbicara secara alamiah. Mungkin saja keadaan alamiah pada diri saya masih belum sempurna, namun boleh jadi juga pendapat alamiah ini masih sangat kurang diperhatikan oleh kebanyakan orang.” (Voltaire, L’Ingénu, 1767, terjemahan Yayasan Obor Indonesia, Januari 1989).

Kenapa para sastrawan serta kritikus Indonesia suka memakai kata ‘imajinasi?’ Maka seolah M. Yamin ingin berdialog dengan saya, atau sebaliknya saya berharap dapat mewawancarai Beliau. Olehnya sebelum jauh, mari berkirim ‘Surah Pembuka’ untuknya, semoga diberikan kelapangan sahaja di dalam peristirahatannya yang terindah. Al-Fatihah…
***

Yamin: “Nurel, aku melihat kemarin kau menggarap bagian ‘XXIV (kupasan ke tiga dari paragraf lima dan enam, lewat esainya Ignas Kleden)’ yang rencananya mengurai perangai berpikirnya Ibn Khaldun. Lantas kenapa kau ajak aku kemari?”

Nurel: “Begini Pak, baru-baru ini dideklarasikan ‘Hari Puisi Indonesia,’ tentu Bapak sudah tahu. Maka rencananya isi di bagian 24 yang seyogyanya mengurai model pemikiran, saya undur dulu. Bapak tidak keberatan kan, saya undang meniti kali ini?”

Yamin: “Tentu tidak NJ. Oya, aku baca tulisanmu yang mengutip bukuku ‘Bagian XIV (kupasan ke nol dari sebelum paragraf ketiga, lewat esainya Ignas Kleden) bertitel BABAD NUCA NEPA.’ Kau mempunyai pribadi menarik Nurel, masak ada kupasan ke nol segala. Yang kau rampungkan dua bulanan, sampai kepada paham Howking. Kau memang berjiwa menarik!”

Nurel: “Pak Yamin bisa saja membuat besar kepala, saya kan hanya pengelana.”

Yamin: “Terserahlah, aku tidak mau berlama-lama berdebat dengan yang masih hidup. Toh kelak sejarah membuktikan.”

Nurel: “Saya tinggal sarapan dulu Pak.”

Yamin: “Ya.”
***

Nurel: “Maaf agak lama Pak, tadi setelah sarapan bersih-bersih sambil mengingat beberapa berita yang terposting di tahun lalu, pun yang terbaru.”

Yamin: “Oya, web yang kau kelola apa tidak diganggu Hecker lagi?”

Nurel: “Alhamdulillah tidak, dan semoga seterusnya tidak. Kok malah saya yang diwawancarai Pak?”

Yamin: “Santai Nurel. Aku tahu engkau muda, eemm… semangatmu meledak-ledak. Jadi pembicaraan kita pelan saja. Sebelumnya, ringkaskan biografiku dari riaupos.co 25 November 2012. Biar aku bisa mengingat masa mudaku, yang pengen menjadi penyair. Tidak usah pakai judulnya, lantaran kurang menarik!”

Nurel: “Dengan senang hati. Namun saya sambil dengar lagunya Helloween Future World. Tidak apa kan?”

Yamin: “Hehehe… kau memang bandel. Ya sudah…”
***

Nurel: “Pak, data di sana sama persis di Wiki. Jadi saya jumput dari Wikipedia saja:

Prof. Mohammad Yamin S.H., lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat 24 Agustus 1903 – meninggal di Jakarta 17 Oktober 1962. Seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, ahli hukum, pahlawan nasional RI. Perintis puisi modern Indonesia, pelopor Sumpah Pemuda yang mempengaruhi sejarah persatuan di Nusantara.

Putra dari pasangan Usman Baginda Khatib dan Siti Sa’adah berasal Sawahlunto dan Padang Panjang. Ayahnya beranak enam belas sedari lima istri. Di antara saudaranya: Muhammad Yaman, pendidik; Djamaluddin Adinegoro, wartawan; Ramana Usman, pelopor korps diplomatik. Sepupunya, Mohammad Amir, tokoh pergerakan kemerdekaan.

Pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, dilanjutkan Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta. Mempelajari sejarah purbakala, bahasa Yunani, Latin, Kaei. Kuliah di Recht Hogeschool (RHS, kelak menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia) Jakarta, memperoleh gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) tahun 1932.

Memulai karier kepenulisan pada dekade 1920-an, semasa dunia sastra Indonesia mengalami perkembangan. Karya-karya pertamanya ditulis berbahasa Melayu di jurnal Jong Sumatera, jurnal bahasa Belanda 1920. Kekaryaan terawalnya, terikat bentukan bahasa Melayu Klasik.

Tahun 1922, muncul awal kali sebagai penyair dengan puisinya “Tanah Air” (himpunan puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan), “Tumpah Darahku” 28 Oktober 1928. Karya ini penting bagi sejarah, karena waktu itu Yamin bersama para pejuang kebangsaan memutuskan demi menghormati satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa Indonesia. Dramanya “Ken Arok dan Ken Dedes” berdasarkan sejarah Jawa, terbit di tahun itu juga.

Puisinya berbentuk soneta yang dipinjam dari literatur Belanda. Walau sering melakukan eksperimen, puisinya masih menepati norma klasik Bahasa Melayu, dibandingkan generasi penulis termuda. Menerbitkan drama, esai, novel sejarah, dan puisi. Menerjemahkan karya sastrawan dunia; William Shakespeare (Julius Caesar), serta karyanya Rabindranath Tagore.

Karier politiknya kala mahasiswa di Jakarta. Bergabung organisasi Jong Sumatranen Bond, menyusun ikrah Sumpah Pemuda yang dibacakan dalam Kongres Pemuda II. Ikrar tersebut menetapkan Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu sebagai Bahasa Nasional. Melalui organisasi Indonesia Muda, mendesakkan supaya Bahasa Indonesia dijadikan sebagai alat persatuan. Setelah kemerdekaan menjadi bahasa resmi, serta utama di dalam kesusastraan.

Tahun 1932 bergelar sarjana hukum. Bekerja pada bidang hukum di Jakarta hingga tahun 1942, dan tercatat anggota Partindo. Setelah Partindo bubar, bersama Adenan Kapau Gani dan Amir Sjarifoeddin, mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia. Tahun 1939 sebagai anggota Volksraad.

Semasa pendudukan Jepang (1942-1945), bertugas di Pusat Tenaga Rakyat; organisasi nasionalis yang disokong pemerintah Jepang. Tahun 1945, sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Pada sidang BPUPKI, pendapatnya mengenai hak asasi manusia dimasukkan dalam konstitusi negara. Dan mengusulkan wilayah Indonesia pasca-kemerdekaan, mencakup Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaya, Timor Portugis, semua wilayah Hindia Belanda.

Setelah kemerdekaan, Ir. Soekarno menjadi Presiden RI pertama, M. Yamin dilantik untuk jabatan penting dalam pemerintahannya: Anggota DPR sejak tahun 1950, Menteri Kehakiman (1951-1952), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955), Menteri Urusan Sosial dan Budaya (1959-1960), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962), Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961-1962).

Saat menjabat Menteri Kehakiman, membebaskan tahanan politik yang dipenjara tanpa proses pengadilan. Tanpa grasi, remisi, mengeluarkan 950 tahanan yang dicap komunis atau sosialis. Atas kebijakannya, dikritik anggota DPR, tetapi berani bertanggung jawab atas tindakannya. Semasa menduduki Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan, mendorong pendirian univesitas negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Di antara perguruan tinggi yang didirikannya, Universitas Andalas di Padang, Sumatera Barat.

Tahun 1937, menikahi Siti Sundari, putri bangsawan dari Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. Dikaruniai satu putra, Dang Rahadian Sinayangish Yamin (Dian). Tahun 1969, Dian melangsungkan pernikahan dengan Gusti Raden Ayu Retno Satuti, putri tertua sedari Mangkunegoro VIII.

Karya-karyanya: Tanah Air (puisi) 1922, Indonesia, Tumpah Darahku 1928, Kalau Dewa Tara Sudah Berkata (drama) 1932, Ken Arok dan Ken Dedes (drama) 1934, Sedjarah Peperangan Dipanegara 1945, Tan Malaka 1945, Gadjah Mada (novel) 1948, Sapta Dharma 1950, Revolusi Amerika 1951, Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia 1951, Kebudayaan Asia-Afrika 1955, Konstitusi Indonesia dalam Gelanggang Demokrasi 1956, 6000 Tahun Sang Merah Putih 1958, Naskah Persiapan Undang-undang Dasar 1960; 3 jilid, Ketatanegaraan Madjapahit 7 jilid.

Penghargaan diraihnya: Bintang Mahaputra RI, tanda penghargaan tertinggi dari Presiden RI atas jasanya kepada nusa-bangsa. Tanda penghargaan dari Corps Polisi Militer sebagai pencipta lambang Gajah Mada, dan Panca Darma Corps. Tanda penghargaan Panglima Kostrad atas jasanya mencipta Petaka Komando Strategi Angkatan Darat.

Referensi: “Tokoh Bangsa Multitalenta: M. Yamin,” Jurnal Nasional, 27 Juli 2011. Diakses 5 Juni 2012, “Posisi M. Yamin dalam Sejarah Indonesia,” Okezone.com diakses 5 Juni 2012, Simbolon, Parakitri Tahi (2006), Menjadi Indonesia, penerbit buku Kompas, Hukumonline.com Muhammad Yamin, Pelopor Hak Asasi Manusia di Awal Republik, Tempo Edisi Khusus Sumpah Pemuda, Sundari, Kacamata Merah Muda, 2008.”
***

Yamin: “Terimakasih Nurel. Dan jumputkan catatan ‘Deklarasi Hari Puisi Indonesia,’ serta yang kau anggap perlu. Yang ditulis siapa itu… aku lupa, di koran tertanggal sama aku sebutkan di atas.” (Tengok pula Majalah Sastra Horison, edisi Januari 2013, di lembar pertama dan kedua, halaman 2-3 “Catatan Kebudayaan” mengenai Deklarasi Hari Puisi Indonesia, Inisiator dan Konseptor, Deklarator-nya).

Nurel: “Namanya Fedli Azis, Pak. Saya ambil dulu isi deklarasinya.”

Yamin: “Silahkan.”

Nurel: “Berikut ini Bapak, Deklarasi Hari Puisi Indonesia

Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air.

Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat Nusantara. Sejak itu pula sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.

Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia.

Sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.

Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi Nasional sebagai sumber inspirasi untuk menunjukkan kebudayaan Indonesia modern, literat dan terbuka.

Pekanbaru, 22 November 2012”
***

Yamin: “Ambilkan pula daftar nama pengikut kesaksian itu, yang tercatat di facebooknya Dimas Arika Mihardja.”

Nurel: “Ya Bapak.” (M. Yamin manggut-manggut tanda setuju). “Demikian ini Pak, Para Inisiator, konseptor dan deklarator Hari Puisi Indonesia di Riau: 1. Sutardji Calzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia), 2. Rida K. Liamsi (Penyair, Novelis, Yayasan Sagang), 3. Maman S. Mahayana (Kritikus Sastra, Dosen FIB UI), 4. Agus R. Sarjono (Penyair, Jurnal Sajak dan Jurnal Kritik), 5. Ahmadun Yosi Herfanda (Penyair, Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta), 6. Kazzaini KS (Penyair, Dewan Kesenian Riau), 7. Asrizal Nur (Penyair, Yayasan Panggung Melayu), 8. Jamal D. Rahman (Penyair, Majalah Sastra Horison), 9. D. Kemalawati (Penyair, Aceh), 10. Acep Zamzam Noor (Penyair, Jawa Barat), 11. Bambang Widiatmoko (Penyair, Komunitas Sastra Indonesia, KSI, Jakarta), 12. Dorothea Rosa Herliany (Penyair, Jawa Tengah), 13. Fatin Hamama (Penyair, Jakarta), 14. Isbedy Stiawan ZS (Penyair, Lampung), 15. Chavcay Syaefullah (Penyair, Banten), 16. Hanna Fransisca (Penyair, Kalimantan Barat), 17. Rahman Arge (Penyair, Sulawesi), 18. Joko Pinurbo (Penyair, Yogyakarta), 19. Prof. Dr. Suminto Sayuti (Penyair, Guru Besar Sastra, Yogyakarta), 20. John Waromi (Penyair, Papua), 21. Micky Hidayat (Penyair, Kalimantan Selatan), 22. Pranita Dewi (Penyair, Bali), 23. Fakhrunnas MA Jabbar (Penyair dan Cerpenis, Riau), 24. Taufik Ikram Jamil (Penyair dan Novelis, Riau), 25. Husnu Abadi (Penyair, Riau), 26. Jefri Al-Malay (Penyair, Riau), 27. Marhalim Zaini (Penyair, Riau), 28. Hasan Aspahani (Penyair, Wartawan, Kepulauan Riau), 29. Husnizar Hood (Penyair, Kepulauan Riau), 30. Ramon Damora (Penyair dan Wartawan, Kepulauan Riau), 31. Samson Rambah Pasir (Penyair dan Cerpenis, Kepulauan Riau), 32. Iyut Fitra (Penyair, Sumatera Barat), 33. Dimas Arika Mihardja (Penyair Jambi), 34. Hasan Albanna (Penyair dan Cerpenis, Sumatera Utara), 35. Pandapotan MT Silagan (Penyair, Sumatera Utara), 36. Anwar Putra Bayu (Penyair, Sumatera Selatan).”
***

Yamin: “Loh, kok dikasih angka? Kan aslinya tidak ada?”

Nurel: “Biar mudah terbaca Pak. Jikalau saya keliru, ada yang meluruskannya, sebab pada paragraf esai Dimas, begini suaranya: Penyair Jambi, Dimas Arika Mihardja (DAM), yang diundang ke PPI sekaligus salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia, menyatakan Hari Puisi Indonesia itu mendapatkan dukungan penuh para sastrawan, kritikus dan pengamat sastra. “Deklarasi Hari Puisi Indonesia pada acara bertajuk “Malam Deklarasi Hari Puisi Indonesia” itu dibacakan oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, didampingi oleh 37 penyair Indonesia (selaku inisiator, konseptor, dan deklarator)” jelas DAM. “Turut memberikan sambutan adalah Gubernur Riau (H.M. Rusli Zainal), Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (H. Kazzaini Ks), dan Ketua Pembina Yayasan Sagang (H. Rida K. Liamsi)”.

Yamin: “Mungkin Dimas pernah membaca makolah mengenai doa yang dipanjatkan oleh sejumlah 40 jama’ah, kekuatannya sebanding seorang Wali. Lantas menulis 37, ditambah para penyambutnya.” (tengok Horison, jumlah Deklaratornya 31, Jumlah Inisiator dan Konseptornya 7, maka totalnya 38 orang).

Nurel: “Saya tidak tahu Pak, apakah di antara mereka ada Wali Allah, atau sudah sejumlah kekuatannya jika dipersatukan. Tapi kalau tidak keliru saya dengar suatu makolah; kadang kebaikan pun keburukan, jika tidak tampak pada perseorangan, akan diperlihatkan secara terbuka.”

Yamin: “Mereka mempuni dalam kesusastraan di Indonesia, para sastrawan juga kritikus handal, serta Hari Puisi Indonesia sudah ditetapkan. Sedangkan kau sendiri menyebut dirimu hanyalah pengelana. Jangan-jangan kau yang keliru?”

Nurel: “Santai Pak. Bapak kan ingat ketiga esai saya yang bertitel ‘Gugatan untuk MASTERA 2006, dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000’ I, II, III, juga perangai tulisan sebelum serta setelahnya; yakni siap dikritik jika ada kehilafan, tentu Bapak memahami kandungannya?”

Yamin: “Ya, aku memahamimu Nurel dan kabar sebenarnyalah yang patut diterbitkan. Dan kini kau ambil data yang diperlukan untuk catatanmu. Oya, aku cemburu dengan Tagore, yang kau tulis panjang-lebar. Kapan diriku kau kupas, sebagaimana sastrawan asal India tersebut?”

Nurel: “Hehe… Kita kan sama mengaguminya Pak. Dan kekaguman saya kepada Bapak, tidak kurang dibandingkan terhadapnya. Mungkin jikalau waktunya berlaku, takdirnya betapa indah.”

Yamin: “Kau bisa saja menghiburku. Ya sudah, siapa tahu ini menjadi ketetapan terindahku sebagaimana yang engkau katakan.”
***

Nurel: “Sebagai sketsanya saya ambil dari Wikipedia:

Sumpah Pemuda ialah bukti otentik 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Maka segenap rakyat memperingati momentum tanggal tersebut sebagai hari lahir bangsanya. Proses kelahiran itu buah perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas kekuasaan kolonialis. Ini mendorong para pemuda saat itu membulatkan tekadnya demi mengangkat harkat-martabat hidup orang Indonesia asli, menjadi komitmen perjuangan rakyat hingga mencapai kemerdekaan 17 tahun kemudian; 17 Agustus 1945.

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis M. Yamin di secarik kertas, disodorkan kepada Soegondo, ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan). Sambil berbisik ke Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya punya formulasi lebih elegan untuk keputusan Kongres ini). Soegondo membubuhi paraf setuju di kertas itu, diteruskan yang lain paraf setuju. Sumpah awalnya dibaca Soegondo, lantas dijelaskan panjang-lebar oleh M. Yamin.

Sumpah Pemuda versi orisinal:

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. 
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. 
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan:

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. 
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. 
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Dalam mempersatukan organisasi pemuda pada satuan wadah dimulai sejak Kongres Pemuda Pertama 1926. Sebab 20 Februari 1927 telah diadakan pertemuan, namun belum mencapai final. Pada 3 Mei 1928 diadakan pertemuan lagi, dilanjutkan tanggal 12 Agustus 1928 dihadiri semua organisasi pemuda. Dan diputuskan mengadakan Kongres pada bulan Oktober 1928, bersusunan panitia dengan setiap jabatan dibagi kepada satu organisasi pemuda (tak ada organisasi rangkap jabatan):

Ketua: Sugondo Djojopuspito (PPPI), Wakil: R.M. Joko Marsaid (Jong Java), Sekretaris: Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond), Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond), Pembantu I: Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond), II: R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia), III: R.C.I. Sendoek (Jong Celebes), IV: Johannes Leimena (Jong Ambon), V: Mohammad Rochjani Su’ud (Pemoeda Kaoem Betawi).

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda II berasal dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung berbeda, dibagi tiga kali rapat: Sabtu 27 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Sambutan ketua Sugondo Djojopuspito berharap kongres dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Dan uraian M. Yamin mengenai arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya ada lima faktor pemerteguh persatuan Indonesia: sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Minggu 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas pendidikan. Pembicara Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro berpendapat, anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, adanya keseimbangan pendidikan sekolah, di rumah, dan dididik secara demokratis.

Rapat penutup di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerak kepanduan. Ramelan mengemukakan, kepanduan tidak bisa dipisahkan sedari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak disiplin-mandiri, hal-hal dibutuhkan perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu ‘Indonesia Raya’ karya Wage Rudolf Supratman, yang dimainkan biola tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu itu disambut meriah para peserta. Kongres ditutup mengumumkan rumusan hasil-hasil. Oleh para pemuda yang hadir, rumusannya diucapkan Sumpah Setia.

Peserta Kongres Pemuda II berasal dari wakil-wakil organisasi pemuda waktu itu: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Hadir pemuda Tionghoa sebagai pengamat, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, Tjio Djien Kwie, tetapi tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutusnya. Sementara Kwee Thiam Hiong wakil Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai AR Baswedan, keturunan arab mengadakan kongres di Semarang, mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.”
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*