Kritik Sastra atau Apresiasi Sastra

Budi Hatees
Harian Analisa 16 Maret 2014

Jika bicara tentang sejarah kritik sastra di negeri ini, nama HB Jassin tidak akan pernah dilupakan. Sejumlah buku yang ditulisnya, termasuk tulisan-tulisan lain yang menyebar pada sejumlah media dan belum sempat dibukukan -Anda bisa membacanya di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di kompleks Taman Ismail Marzuki- akan dikutip.

Tulisan-tulisan Jassin tentang sajak-sajak Chairil Anwar paling sering jadi inspirasi. Tulisan-tulisan itu mampu membuat penyair tersebut menjadi fenomenal dalam rumah tangga kesusastraan kita hingga hari ini.

Chairil Anwar menjadi terkenal sebagai penyair sejak Jassin mengkritik sajak-sajaknya. Begitu simpul yang menjadi pengetahuan umum tentang kepenyairan Chairil Anwar, seakan-akan ada korelasi antara tulisan Jassin dengan fenomena kepenyairan Chairil Anwar.

Terlepas ada atau tidak korelasi itu. Dampak pujian terhadap kerja kreatif Jassin bukan saja membuat posisi Jassin bertambah kokoh sebagai kritikus sastra yang pernah ada di negeri ini. Dia juga menguatkan pandangan umum bahwa setelah Jassin, tidak ada lagi kritikus sastra yang pernah dilahirkan di negeri ini.

Ketika Jassin hidup, dia satu-satunya orang yang memilih membicarakan karya-karya sastra dari para sastrawan. Pilihan itu harus diambilnya sebagai beban dan tanggung jawab. Dia bekerja sebagai editor di media cetak yang berisi karya-karya sastra; cerpen, sajak dan esai. Setiap kali terbit edisi baru dari media sastra, ada rubrikasi yang berisi apresiasi terhadap karya-karya sastra. Jassin bertanggung jawab mengisi apresiasi itu. Ia mengulas karya-karya dari para sastrawan, tidak semua karya. Diseleksi satu dari sekian banyak karya.

Pada saat tulisan-tulisan apresiasi karya sastra itu muncul, pengetahuan umum tentang sastra masih terbatas. Sumber informasi yang memberikan pengetahuan tentang apa itu kritik sastra juga terbatas. Tulisan Jaasin menjadi sumber informasi utama, sehingga publik sastra mengasumsikan tulisan apresiasi karya sastra itu sebagai kritik sastra. Sebab itu, jika sebuah karya diulas Jassin, sudah dengan sendiri pengarang karya sastra itu akan mendapat “nilai tambah”.

Ketika Jassin mengulas dan memuji esai tentang kritik sastra yang ditulis Damiri Mahmud, misalnya, sudah dengan sendirinya Damiri Mahmud mempunyai nilai tambah sebagai penulis kritik sastra. Apresiasi Jassin semacam penobatan Damiri Mahmud sebagai kritikus sastra. Akibatnya, posisi Jassin dalam kesusastraan kita lebih dari sekadar pengapresiasi karya sastra. Dia menjelma sebagai lembaga beatifikasi atas kapasitas seorang sastrawan.

Zaman berubah dan informasi mudah diperoleh dari mana-mana. Sumber informasi tentang sastra tidak cuma domain media cetak, tapi juga media online dan buku. Pengetahuan tentang sastra, termasuk tentang kriik sastra, tidak cuma perilah teknik mengapresiasi karya sastra. Apresiasi bukan kritik sastra. Karya tulis seperti itu lebih tepat disebut resensi. Dunia media cetak sudah galib memuat resensi: buku, kaset, film, dan siaran televisi.

Di dalam resensi itu, penulisnya melakukan timbangan yang berorientasi kepada kepentingan khalayak. Tidak jarang, resensi memuat kritiki tajam terhadap kandungan yang dirensi. Misalnya, resensi tentang buku baru acap berupa kritik terhadap perspektif yang dipakai penulis dalam menghasilkan karya, yang diperbandingkan dengan perspektif yang dipakai si penulis resensi atau dengan karya-karya yang sejenis dan sudah lebih dahulu terbit.

Laila S. Chudori yang selalu menulis resensi film di majalah Tempo, acap membandingkan-bandingkan film yang sedang dirensinya dengan karya lain yang pernah dihasilkan sutradara. Dia juga sering membanding-bandingkan kemampuan peran dari seorang aktor dalam film tersebut jika dibandingkan dengan kemampuannya dalam film sebelumnya.

Resensi seperti ini juga sering kita baca dalam liputan jurnalistik tentang peristiwa kesenian seperti pameran lukisan, pementasan teater, instalasi senirupa dan lain sebagainya. Dalam Kompas, misalnya, rutin setiap hari Minggu, pembaca disuguhi laporan jurnalistik tentang peristiwa kesenian. Tidak jarang laporan itu menukik pada ihwal detail peristiwa. Sering mengulas juga persoalan-persoalan teknis estetik yang menguatkan kesan bahwa peritiwa kesenian itu berhasil atau gagal membawa misi keseniannya.

Cuma, sampai hari ini kita tidak pernah mendengar kalau Laila S. Chudori disebut sebagai kritikus film. Atau, para wartawan Kompas disebut-sebut sebagai kritikus teater, kritikus tari, kritikus senirupa dan sebagainya. Lantas, kenapa ketika seseorang menulis resensi berupa apresiasi terhadap karya sastra, maka orang tersebut akan disebut kritikus sastra.

Mihar Harahap, apresiator cerpen-cerpen yang dipublikasikan di sejumlah media cetak terbitan Sumatra Utara, selalu menyebut dirinya sebagai kritikus sastra Indonesia yang berdomisili di Sumatra Utara. Predikat itu sekaligus menegaskan, esai-esai yang ditulisnya merupakan kritik sastra, meskipun keseluruhan isi dari esai-esainya hanya berupa apresiasi terhadap karya sastra.

Esainya tentang cerpen-cerpen yang muncul selama satu bulan di Analisa, misalnya, hampir 80% menceritakan kembali isi dari cerpen-cerpen yang diapresiasinya. Sikapnya sebagai pengapresiasi, lebih menunjukkan dia pembaca yang tekun.

Sebagai pembaca yang tekun, kemampuan sebagai seorang kritikus sastra sama sekali tidak muncul dalam esai-esai tersebut. Sikap yang menunjukkan kekuatan tradisi ilmiah dalam dirinya dengan kemampuan berteori yang mumpuni sehingga hasil analisisnya bisa menginspirasi para kreator sastra bahwa karya mereka memiliki kekurangan atau kelebihan.

Kembali kepada Jassin. Kemampuan Jassin mengapresiasi karya-karya sastra sangat andal pada zamannya. Pembaca pun tidak punya alternatif lain sebagai pembanding, sehingga apapun yang dihasilkan Jassin diasumsikan sebagai kritik sastra. Padahal, semua pengetahuan yang diperoleh publik sastra hari ini tentang karya-karya Chairil Anwar, bisa dikatakan tidak didapat dari Jassin. Pasalnya, ulasan-ulasan Jassin tentang sajak-sajak Chairil Anwar hanya membicarakan pada wilayah permukaan, tidak menukik pada esensi dari kepenyairan Chairil Anwar.

Sebab itu, Jassin lebih tepat disebut sebagai masa lalu kesusastraan Indonesia yang banyak mempengaruhi pemikiran dan gagasan tentang kritik sastra pada masa sekarang. Pengaruh itu sangat buruk, karena Jassin mewariskan karya apresiasi sastra sebagai kritik sastra. Apresiasi karya sastra hanya menghasilkan interteks, kuat ditandai oleh kemampuan kompilasi yang lebih tepat disebut sebagai keterampilan.

Mihar Harahap, misalnya, terampil mengkompilasi kisah-kisah dari sekian banyak cerpen menjadi sebuah tulisan yang kemudian disebutnya kritik sastra. Keterampilan ini tidak membutuhkan teori, mungkin, tidak membutuhkan tradisi akademis.
***

http://harian.analisadaily.com/rebana/news/kritik-sastra-atau-apresiasi-sastra/14072/2014/03/16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*