OBITUARI WING KARDJO, Akhir Sebuah Kesepian

Jacob Sumardjo *
Majalah Gatra 25/3/2002

PUISI asli ialah penjelmaan kepribadian, identitas yang secara otentik dan unik menggelarkan dirinya. Apakah arti sajak selain jejak? Begitulah ucapan penyair Wing Kardjo. Ia wafat di Kyoto, Jepang, Selasa pekan lalu. Kalau sajak merupakan jejak penyairnya, maka sajak-sajak penyair ini boleh dikatakan ungkapan otentik dan unik dari hidup spiritualnya.

PUISI asli ialah penjelmaan kepribadian, identitas yang secara otentik dan unik menggelarkan dirinya. Apakah arti sajak selain jejak? Begitulah ucapan penyair Wing Kardjo. Ia wafat di Kyoto, Jepang, Selasa pekan lalu. Kalau sajak merupakan jejak penyairnya, maka sajak-sajak penyair ini boleh dikatakan ungkapan otentik dan unik dari hidup spiritualnya. Dengan membaca sejumlah sajaknya, dapat kita tangkap “hidup dalam hidup” Wing Kardjo –ungkapan yang sering dipakainya dalam sajak-sajak awalnya.

Berbeda dengan penampilan lahiriah Wing Kardjo, yang lebih banyak diam, tampak selalu serius berpikir, namun gemar canda dalam derai tawanya yang lepas, maka sajak-sajaknya lebih menampakkan pribadi yang gelisah, mencari-cari suatu jawab, bimbang dan sendu. Saya sendiri hanya beberapa kali bertemu dengan dia, tak pernah terlibat dalam percakapan berarti. Meskipun demikian, Wing suatu kali memberikan pada saya sebuah buku terbitan Jepang, Japan Traditional and Transformation karangan Reischauer Craig. Ini menunjukkan perhatiannya pada orang lain juga dalam jalur kedalaman.

Mengapa sosok yang termasuk pendek dan kecil ini tidak pernah menemukan jawaban hidup yang membuat tampak aman dan terlindung, di rumah dan pelabuhannya? Pada sebuah sajaknya untuk Kang Bandi almarhum, Wing berujar: tak usah lagi aku/ kau tunggu di balik pintu, jendela,/ tirai-tirai dengan lampu yang selalu/ benderang. Aku akan pulang/ jika anak-anak telah tidur, lelap/.sejak aku butuh pergi/ aku jalan saja entah ke mana/ menerawang bintang, bulan, awan,/ angin. Batuk-batuk. Tiada istirahat,/ sudah lama kau sendiri tahu-mimpiku bukan hidup kita/ sehari-hari.

“Aku butuh pergi” adalah kunci kegelisahan Wing Kardjo. Mungkin ini pula sebabnya, ia menghabiskan hampir separuh hidupnya di luar negeri, bahkan sampai akhir hayatnya. Ia belajar di Prancis pada 1962-1968, dan bekerja sebagai pengajar di Jepang pada 1984-2002, sehingga selama 24 tahun ia berada di luar Tanah Air. Penyair ini mendapatkan rumahnya justru di luar rumah. Dalam sajaknya, Surat Pada Seorang Ibu (Horison, April 1968), ia menggambarkan dirinya sebagai “mengembara sengsara di negeri orang asing”, “sebab di mana pun hadir benih yang jatuh di tanah, subur sebab air mata tumbuh menghisap hawa kebebasan, lahir karena sabar dan derita, matang dalam buah pengertian”. Rumahnya adalah kebebasan. Dan di negeri orang lain, ia akan tetap menjadi orang asing. Dan dalam posisi orang asing, ia tidak terikat dengan konteks, karena ia memang bukan merupakan bagian dari konteks itu.

Kebebasan adalah segalanya bagi Wing Kardjo. Bahkan kesengsaraan tidak dapat mengalahkannya. Derita dan air mata justru membuat semakin matang dalam pemahaman. Tetapi, mengapa lebih suka meninggalkan ibu dan tanah airnya? “Ah, yakinlah, Ibu, cintaku padamu kekal, walau berlayar tanpa haluan bertahun-tahun, kembali juga ke daratan: pangkuan kedamaian.” Itulah harga yang harus ia bayar untuk kebebasan.

Kumpulan sajaknya paling awal, Selembar Daun (1974), penuh dengan ungkapan batin yang sengsara itu. Selembar Daun adalah lambang kesendiriannya yang lepas dari pohon keluarga dan pohon bangsa. Meskipun ia ketemu orang lain, bahkan secara intim bagai “dalam rumah”, ia tetap merasa “hati selalu sepi”. Hati yang sepi itu bertebaran merasuki sajak-sajaknya dalam kumpulan ini. Sajaknya yang terkenal, Salju, pernah begitu populer karena diangkat dalam sebuah lagu Bimbo, mengeluhkan dirinya: ke mana akan pergi mencari matahari ketika salju turun, ke mana mencari perlindungan ketika pintu-pintu tertutup, ke mana mencari api ketika bara hati padam tak berarti.

Rupanya, penyair berusaha mencari ” kedamaian” itu dalam sosok perempuan. Beberapa sajaknya berisi, atau mengisahkan, pengalaman-pengalaman ini. Setelah segala beban, semesta menemukan dirinya dalam wajah lelah perempuan (Akhir Tahun, Hotel Henri IV). Namun, di sini pun dia tidak menemukan yang dicarinya, karena, “Matahari berkubur beku dalam tubuhmu.” Matahari, api, vitalitas hidup seolah lenyap, padam, sehingga hidup jadi beku dalam kesepian. Perempuan tidak memberikan pemecahan, karena “sementara pantai terbakar, kamu berbaring saja, sepi menguap dari tubuhmu”.

Mungkinkah ini yang membuat Wing Kardjo tidak membangun rumah tangga sampai saat ajalnya? Apakah lembaga perkawinan akan membatasi kebebasannya? Apakah arti perempuan bagi penyair ini? Dalam sajaknya, Sehabis Pertempuran, ia menggambarkan seorang lelaki sebagai Rahwana dan Rama sekaligus, yang terjaring dalam diri perempuan. Perempuan adalah kesempurnaan, juga sempurna dalam menghancurkan jagat, lalu membangun kembali jagat baru dari nafsu badani dan cinta sejati. Cinta adalah luka, itulah katanya dalam sajak Whisper in The Night.

Dalam kumpulan sajaknya yang kedua, Perempuan (1975), Wing Kardjo menulis sajak-sajak panjang, menyinggung persoalan-persoalan di luar dirinya, yakni kemasyarakatan. Dalam Fragmen Malam, ia menggugat para pemimpin dan penguasa sebagai Ken Arok, yang “bajingan dalam Pararaton” meskipun “penuh tanda-tanda kehormatan”. Rakyat hanyalah korban kekuasaan dari segelintir penguasa. Rakyat adalah “kita yang berjuta-juta, jatuh ke dalam jurang alienasi materi”, sedangkan penguasa “menyatakan hitam putih” sembari terlena “di seberang kemewahan yang maya”. Sajak-sajak “sosial” demikian itu masih hadir juga dalam buku puisi Wing Kardjo yang ketiga, Fragmen Malam: Setumpuk Soneta (1997). Ia masih mengecam para pemimpin yang mengavling Tanah Air, sebagai maling. Mereka berlayar di samudra air mata rakyat, sembari berpesta pora petasan di atasnya.

Wing Kardjo juga seorang religius. Hal ini terungkap dalam sajak Sesungguhnya Aku Tidak Minta Terlalu Banyak. Ia mengakui Tuhan yang mengetahui semua, “semua tanpa rahasia”. Tuhan juga Mahakuasa, “membiarkan saja permainan dunia” sampai terbukti “kita bayang-bayang mimpi” sendiri. Tuhan juga amat dekat dengan manusia, meskipun demikian, penyair “tidak meminta terlalu banyak”, dan tidak juga “beranjak dari diri sendiri”. Begitulah, kalau kita mempercayai bahwa puisi adalah otobiografi batin penyairnya. Setidak-tidaknya sebagai riwayat pemikiran penyair tentang makna hidup ini.

Wing Kardjo, sebagai penyair, tidak terlalu produktif. Ia hanya melahirkan tiga buku kumpulan sajak, itu pun dalam rentang waktu yang begitu panjang dari hidup penyair yang berusia 65 tahun ini. Tidak banyak, namun tiba-tiba kita merasa kehilangan dia setelah mendengar berita kematiannya. Ini menunjukkan betapa penting kedudukan Wing Kardjo dalam kesusastraan modern Indonesia. Ia mencapai status itu karena ia berpuisi dari lubuk kepribadiannya yang otentik, sehingga menghasilkan sajak-sajaknya yang unik. Keunikan sajak-sajaknya adalah keunikan pribadinya.

Penyair adalah pemikir, karena ia mempertanyakan segala hal, dari sudut filosofi pribadinya. Pada saya, sekurang-kurangnya, Wing Kardjo percaya pada arti kebebasan manusia. Dan kebebasan itu bukan tanpa risiko. Manusia dapat menempuh hidup lebih aman dan lebih mudah kalau tidak menggunakan kebebasannya, kalau ia menggantungkan diri pada mereka yang berpikir. Manusia yang malas berpikir akan kehilangan kebebasannya. Wing Kardjo mempertanyakan kembali makna “hidup” dalam hidup ini, makna perempuan, makna perkawinan, makna kekuasaan, bahkan juga tentang Tuhan. Semua pertanyaan itu membuatnya sengsara, sepi dan sendiri. Begitulah riwayat sang pemikir, seorang Wing Kardjo yang mengungkapkan pemikiran-pemikirannya dalam bentuk sajak-sajak. Hidup bagi Wing Kardjo adalah syair itu sendiri, meskipun ia juga menulis esai-esai tentang sastra dan teater.

Kini, Wing Kardjo telah memenuhi janjinya. “Aku akan pulang, jika anak-anak telah tidur, lelap dengan mimpi yang murni, kasih sayangmu”. Selamat berpulang Wing, kini engkau telah tiba di Negeri Kasih Sayang itu.

*) Jacob Sumardjo, Pengamat Sastra.
http://majalah.gatra.com/2002-03-25/majalah/artikel.php?pil=23&id=40288

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*