Mengenang Wing Kardjo

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat 10 Jun 2011

ALHAMDULILLAH laman Mata Kata bisa hadir kembali kehadapan pembaca yang budiman. Dalam kesempatan kali ini, redaksi menyuguhkan sejumlah puisi yang ditulis oleh almarhum Wing Kardjo, salah seorang penyair kenamaan dari Kota Bandung, yang tidak hanya dikenal secara nasional, tetapi juga internasional.

Banyak para kritikus sastra menyebutkan bahwa sajak-sajak yang ditulis oleh Wing Kardjo, baik yang terkumpul dalam Selembar Daun (Pustaka Jaya, 1974), Perumahan (Budaya Jaya, 1975), Fragmen Malam (Pustaka Jaya, 1975) maupun dalam Pohon Hayat: Sejemput Haiku (Forum Sastra Bandung, Mei 2002) bernada simbolis. Lima sajak Wing Kardjo yang Anda baca di bawah ini, dikutip dari kumpulan puisi Pohon Hayat: Sejemput Haiku dan Fragmen Malam. Semua kumpulan puisi tersebut saat ini sudah sukar dicari.

Penyair kelahiran Garut 23 April 1937 ini, meninggal dunia di Jepang pada 19 Maret 2002. Jasadnya dikuburkan di TPU Cieunteung, Tasikmalaya berdampingan dengan makam ibunya tercinta. Dalam perjalanannya sebagai penyair, Wing tidak hanya menulis puisi bertema cinta dengan berbagai variasinya, tetapi juga mengungkap tema-tema kegelapan, yang ujung-ujungnya merindukan cahaya kehidupan yang bersumber dari Cahaya Yang Maha Hidup, Allah SWT. Selain itu mengungkap pula tema sosial.

Sebagai manusia, Wing bukan golongan penyair yang asyik dengan dirinya sendiri. Ia seperti juga almarhum Rendra senang berbagai ilmu, dan tidak pelit bila ditanya proses kreatif. Bagi Wing, ketika seorang penyair menulis puisi, maka apa yang ditulisnya itu merupakan sebuah dunia yang otonom, yang tidak harus patuh dan tunduk pada setumpuk nilai-nilai yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat bila dilanggar.

Untuk itu, tak aneh bila sajak-sajak Wing banyak menggali tema kegelapan, yang seluruh pusatnya bermuara pada tubuh perempuan dan nafsu. Sajak-sajak yang dikutip di bawah ini memang tidak bertema demikian. Sajak-sajak di bawah ini lebih mengungkap kekosongan rohani, yang merindukan nilai-nilai spiritual, untuk kehidupan yang abadi kelak. Lima sajak yang ditulisnya ini, semua ditulis di luar negeri, yakni di Jepang dan Paris, Sebagian hidup Wing memang dihabiskan di sana, dalam dunia belajar-mengajar.

Di Bandung, Wing punya teman seorang pelukis, yang juga sudah meninggal dunia, Rudy Pranadjaya. Bila ke Bandung Wing kerap menjemput saya untuk datang ke rumah Rudy Pranadjaya, lalu kemudian menjemput penyair Juniarso Ridwan. Setelah ngobrol sana-sini lalu mengembara menikmati dunia malam dengan segala romantikanya. Pengalaman semacam ini bagi Wing adalah sumber yang tiada habis digali untuk menulis puisi. Untuk itu, Wing selalu bilang bahwa di dalam sumber nilai yang negatif, selalu ada celah menuju nilai-nilai positif. Di dalam celah itulah cahaya religius memancar. “Jadi apa yang dinamakan religius itu luas maknanya,” kata Wing Kardjo saat itu. Nilai-nilai religius dengan demikian bisa kita cerap dalam lima puisi di bawah ini, yang ditulis Wing dengan kalimat yang sederhana, namun kaya makna. Selamat membaca.
***

http://www.pikiran-rakyat.com/seni-budaya/2011/06/10/148133/mengenang-wing-kardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *