Rachmat Djoko Pradopo Rutinitas Menyantap Koran Pagi

Ardi Teristi
Media Indonesia, 5 Nov 2015

DUNIA sastra dan pendidikan menjadi bagian penting dan tidak dapat dipisahkan dari sosok Rachmat Djoko Pradopo. Di usianya yang menginjak 76 tahun pada 3 November lalu, pria yang akrab disapa Djoko itu masih aktif di kedua dunia tersebut.

Di dunia sastra, Djoko masih aktif menulis sajak-sajak hingga sekarang. Beberapa buku kumpulan puisi telah diterbitkannya, antara lain, Matahari Pagi di Tanah Air (1967), Hutan Bunga (1993), Aubade (1999), Mitos Kentut Semar (2006), dan Tidur tanpa Mimpi (2009).

Di dunia pendidikan, dosen Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada itu juga masih membimbing mahasiswa S-3 sastra yang sedang menyusun disertasi. Ia biasa diminta membimbing mahasiswa S-3 sastra yang sedang menulis disertasi tentang stilistika.

“Sekarang saya tinggal membimbing mahasiswa S-3. Terakhir saya mengajar stilistika untuk mahasiswa S-1, tetapi beberapa tahun lalu saya menunjuk Pak Supriyadi untuk menggantikan saya mengajar mata kuliah tersebut,” kata dia ketika ditemui di rumahnya, di Kampung Notoyudan, Kota Yogyakarta, Selasa (6/10) lalu.

Walau tidak lagi mengajar S-1, beberapa buku karangannya masih menjadi bacaan wajib mahasiswa sastra hingga sekarang, seperti Pengkajian Puisi, Prinsip-Prinsip Kritik Sastra, dan Kritik Sastra Indonesia Modern (yang akan dicetak ulang dengan judul Kritik Sastra Indonesia Abad 20).

Sastra memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, tersebut. Sejak SMP sekitar 1950-an, Djoko sudah mulai tertarik pada sastra.

“Saya sudah membaca karya-karya sastra yang tidak diajarkan di sekolah sejak SMP,” aku dia. Beberapa karya sastra angkatan Pujangga Baru dan Angkatan 1945 kala itu ia lahap. Cerita dan gaya bahasa dalam karya-karya sastra itulah yang membuat Djoko mulai tertarik pada kesusastraan.

Djoko pun mulai menulis cerita pendek yang dimuat media stensilan untuk konsumsi murid dan guru di sekolahnya. “Saya semakin mencintai sastra saat duduk di SMA. Saat itu saya sudah membaca pengarang baru saat itu, seperti Ajip Rosyidi, Toto Sudarto Bachtiar, hingga Subagio Sastrowardoyo,” kenang dia.

Usia Djoko kini memang tidak lagi muda. Namun, di dalam tubuhnya yang menua, sang profesor masih menyimpan ingatan yang kuat. Hal tersebut tampak saat ia bercerita tentang perjalanan hidupnya, mulai masa sekolah hingga menjadi dosen, keterlibatannya dalam Manifes Kebudayaan, sampai pertemuan-pertemuannya dengan para teman dan guru yang kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh di dunia sastra Indonesia, dari Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Abdul Hadi WM, Darmanto Jatman, Subagio Sastrowardoyo, hingga A Teeuw.

Ingatannya yang masih kuat itu, kata sang profesor, disebabkan kebiasaannya membaca setiap hari. Hingga sekarang pun dia masih rajin membaca koran. “Paling tidak ada tiga koran langganan yang saya baca setiap pagi,” kata dia.

Dari membaca koran inilah, kata Djoko, inspirasi untuk menulis puisi sering muncul. Namun, tidak jarang pula, puisi-puisinya banyak terinspirasi dari pengalaman sehari-hari atau hasil perenungan.

Puisi-puisi yang ditulis Djoko cenderung bergaya humoris. Ia memandang kehidupan dengan pemikiran yang nalar dengan disertai canda. Tidak jarang, ia mengungkapkan hubungannya dengan anggota keluarganya dalam bait-bait puisi. Dua di antara puisinya yang menceritakan keluarganya tersebut ada dalam sajak berjudul Sajak Orang Sakit dan Anakku Dokter Hewan.

Djoko mengatakan, selain istrinya, anaknya selalu ‘cerewet’ tentang kesehatannya. Tidak jarang dia terlibat debat dengan anaknya yang seorang dokter hewan. Sampai-sampai Djoko pun membuat sebuah sajak bagi putrinya dengan judul, Anakku Dokter Hewan.

Perdebatan tersebut, kata dia, sebagai bentuk rasa sayang. Ia pun selalu menuruti yang diminta sang anak. “Saya bangga kepadanya,” kata Djoko.

Untuk menjaga kesehatannya, Djoko rutin berolahraga ringan. Pria yang hobi menonton sepak bola dan tinju itu biasa jalan santai di sekitar rumah setiap pagi. Selain itu, ia rutin memeriksakan kesehatannya setiap bulan.

Manifes Kebudayaan
Dalam perbincangan di rumahnya yang sederhana, Djoko sempat menuturkan tentang kiprahnya di bangku kuliah. Menurut dia, selain belajar sastra di ruang kelas, dia aktif dalam komunitas sastra di kampus.

Pergaulannya di komunitas sastra tersebutlah yang membawanya mengenal para sastrawan terkemuka yang disebut di atas. Bahkan, pada 1963 dia ikut bergabung bersama sejumlah sastrawan yang mendukung Manifes Kebudayaan.

Manifes Kebudayaan ialah konsep kebudayaan yang mengusung humanisme universal. Manifes itu diprakarsai antara lain oleh Wiratmo Soekito, Zaini, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, serta Soe Hok Djin (Arief Budiman).

Kala itu, mereka berseberangan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Lekra memiliki doktrin realisme sosialis.

Djoko mengaku pilihannya untuk mendukung Manifes Kebudayaan tanpa disengaja lantaran diajak temannya. Akibat keterlibatannya dalam Manifes Kebudayaan tersebut, karier dosennya sempat terhambat karena Presiden Soekarno melarang manifes tersebut.

Bahkan, ia pun sempat diminta dosennya saat itu agar meminta maaf kepada rektor UGM karena keterlibatannya itu. “Saya menurut. Padahal, rektor saat itu juga belum tentu tahu tentang Manifes Kebudayaan,” tukas dia tertawa. (M-6)
_____________________
BIODATA

Nama: Prof Rachmat Djoko Pradopo
Tempat, tanggal lahir: Klaten, 3 November 1939
Istri: Sri Widati
Anak: empat (Hindria Listyadi, Andria Sonhedi, Nadia Fibria Warastri, dan Briandara Yosi)
Cucu: empat

Pendidikan:
S-1 Sastra Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1965)
S-2 Studi Sastra di Rijksuniversiteit di Leiden (1981)
S-3 Ilmu Sastra UGM (1989)

Buku karya ilmiah:
Bahasa Puisi Penyair Utama Indonesia Modern
Pengkajian Puisi
Prinsip-Prinsip Kritik Sastra
Beberapa Teori dan Metode Kritik Sastra
Kritik Sastra Indonesia Modern (diterbitkan ulang Kritik Sastra Indonesia Abad 20)
http://www.mediaindonesia.com/news/read/8678/rachmat-djoko-pradopo-rutinitas-menyantap-koran-pagi/2015-11-05

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *