Jadi Bagian Hidup, Ibaratkan Sastra Harta Karun
Dwi Agus
Radar Jogja 29 Des 2014

Sosoknya tak lagi muda, tapi semangatnya tetap membara. Inilah yang tercermin dari seorang Prof. Dr. Rahmat Djoko Pradopo. Ketekunannya dalam dunia sastra mengantarkannya mendapatkan sebuah penghargaan. Bentuk penghormatan ini dia dapatkan di Bangsal Kepatihan Jogjakarta, beberapa waktu lalu (18/12).

JOGJAKARTA terkenal sebagai lahan subur pertumbuhan sastra. Para penggawanya pun memiliki peran besar untuk mengisi keindahan ini. Salah satu sastrawan yang patut diperhitungkan adalah sosok Rahmat Djoko Pradopo.

Selama puluhan tahun dirinya mengabdikan diri dalam dunia sastra. Pria yang pernah menjadi Guru besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Jogja-karta, ini begitu total. Selain aktif menjadi dosen, dia juga terus berkarya.“Saya sangat mencintai dunia sastra di Indonesia. Keindahan sastra sangatlah kaya dan masih bisa dikembangkan lagi,” kata pria kelahiran Klaten, 3 November 1939, ini.

Baginya dunia sastra adalah dunia yang hidup. Tidak hanya sastra Indonesia, sastra Jawa pun ibarat harta karun, di mana ke-kayaan ini menunggu untuk digali lagi dan diolah. Terlebih diangkat dan memiliki po-tensi besar dalam dunia sastra.Sebagai pecinta sastra, dirinya menilai sastra Jawa merupakan potensi. Namun dalam perkembangannya, sastra ini seakan kurang terjamah. Kiblat yang lahir pun cen-derung pada sastra gaya barat.“Tapi sastra Jawa tetap memiliki kekuatan yang lebih Saat ini para pecinta sastra Jawa mulai melirik. Sehingga saya yakin ke depannya sastra Jawa dapat bertahan, bahkan berkembang,” kata suami dari Sri Widati ini.

Peran sastra, Rahmat tidak hanya berhenti dalam karya saja. Pada 1 Maret 2011 dirinya mendirikan sebuah yayasan khusus sastra. Yayasan Sastra Yogyakarta yang disingkat Yasayo ini memiliki peran penting.Termasuk dalam memberikan penghargaan kepada insan sastra di Jogjakarta. Tidak hanya dalam dunia sastra Indonesia, tapi juga sastra Jawa.

Penghargaan ini, menurut Rahmat, sebagai bentuk penghormatan dalam menggeluti dunia sastra.Namun untuk mendapatkan penghargaan ini Rahmat menentukan sejumlah persyaratan. Tentunya penghargaan ini akan diberikan kepada sastrawan yang benar-benar aktif. Dalam hal ini telah menerbitkan setidaknya tiga buku dalam kurun waktu tahun 2011 hingga sekarang.“Jika bukan kita sendiri yang menghargai dan memberikan penghormatan, lalu siapa lagi? Semangat-semangat inilah yang wajib terus kita apresiasi,” kata bapak empat anak ini.

Menyelami dunia Rahmat tak lengkap tanpa membahas ka-ryanya. Pria berkacamata ini mengingat karya pertamanya diterbitkan tahun 1967. Buku puisi pertamanya ini berjudul Matahari Pagi di Tanah Air.Di tahun ini pula Rahmat resmi diangkat sebagai tenaga pengajar di UGM. Kembali ke almamater, tentunya membuat dirinya semakin semangat untuk berkarya. Dia pun sempat diutus ke Korea pada tahun 1969 men-jadi dosen tamu di Hankuk Uni-versity Seoul.“Sejak kecil saya memang suka dunia sastra, bahkan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Seakan ada panggilan untuk menggeluti dunia ini,” katanya.

Selain karya seni sastra, ter-nyata Rahmat juga aktif menulis jurnal ilmiah. Seperti Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra In-donesia Modern (1985), Prinsip-Prinsip Karya Sastra (1987), Pengkajian Puisi Indonesia (1987), Beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern (1988).Ada pula Wajah Indonesia dalam Sastra Indonesia: Puisi 1960—1980 karya bersama Imron T. Abdullah, Supriyadi, dan Sugihastuti (1994), Beberapa Teori Sastra: Metode Kritik dan Penerapannya (1995), dan Kritik Sastra Indonesia Modern (2002).

Rachmat Djoko Prodopo juga dikenal sebagai penyair. Beber-apa karya puisinya pun telah menghiasi dunia sastra Indone-sia. Hasil karyanya itu dikumpul-kan dalam kumpulan puisi yang berjudul Matahari Pagi di Tanah Air (1967) dan Aubade (1999).Hasil karya puisinya yang lain dimuat dalam kumpulan puisi Tugu (1986) dan Tonggak II (1990). Berkat totalitas ini pula Rahmat mendapatkan penghargaan dari Dinas Kebudayaan DIJ. Dia dianggap sebagi insan yang me-miliki peran besar dalam pelestarian seni dan budaya.“Penghargaan ini menjadikan saya lebih semangat berkarya. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi bagaimana caranya dapat menginspirasi orang lain. Sastra pun merupakan bagian penting dari seni dan budaya Indonesia,” ungkapnya.

Riwayat pendidikan Rahmat pun berawal dari SD Wedi I Kla-ten tahun 1981. Pendidikan SMP juga diselesaikan di Klaten di SMPN I pada tahun 1955. Sela-njutnya, ia masuk SMA Negeri II bagian A di Jogjakarta dan lulus tahun 1958.Pada tahun 1965 ia menyele-saikan pendidikan Sarjana Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UGM. Pendidikan S2 diperolehnya pada Rijkuniversiteit Leiden, Nederland, tahun 1981. Pendidikan tertinggi diperolehnya pada program dok-tor (S3) Ilmu Sastra UGM tahun 1989. (*/laz/jiong)

https://www.radarjogja.co.id/prof-dr-rahmat-djoko-pradopo-dan-ketekunannya-dalam-dunia-sastra/

Categories: Canting