Revitalisasi (Pilihan) Sastra di tengah Pragmatisme Masyarakat

Yusri Fajar *
jiwasusastra.wordpress.com

I
Ada persepsi keliru dalam masyarakat yang perlu diluruskan, yaitu siswa di kelas eksakta (ilmu pasti) memiliki kecerdasan yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang berada di kelas humaniora, seperti sastra dan bahasa. Perspesi ini memengaruhi berbagai kebijakan dalam pengembangan kompetensi, sarana dan prasarana, termasuk perlakuan terhadap siswa yang memilih bidang bidang humaniora. Para pendidik dan orang tua bahkan banyak yang mempertanyakan pilihan siswa atau anak mereka terhadap jurusan sastra. Mereka menganggap selain jurusan sastra adalah jurusan yang lulusannya ’sepi dari pekerjaan’, jurusan sastra juga hanya cocok untuk anak-anak yang tingkat kecerdasannya ’biasa saja’. Fenomena di Sekolah Menengah Atas misalnya, siswa di Jurusan Fisika atau Biologi ’(A1 dan A2) biasanya dipandang’ lebih mumpuni’ dari pada mereka yang ada di kelas bahasa (A4).

Padahal kecerdasan itu sifatnya ganda (multiple intelegence) yaitu meliputi kecerdasan matematis, kinestetik, bahasa, analitik, dan sebagainya. Maksudnya belum tentu seseorang yang memiliki kecerdasan matematik memiliki kecerdasan dalam bidang kinestetik. Lebih jauh, belum tentu juga seseorang yang memiliki kemampuan dalam bidang sastra memiliki kemampuan dalam bidang matematis. Pemahaman ini perlu ditekankan untuk memberikan apresiasi yang memadai terhadap kemampuan dan keunikan individu. Menerima minat dan bakat secara objektif dan proporsional berarti menghindarkan anggota masyarakat dari upaya mereduksi tujuan pendidikan yang secara mendasar berkaitan dengan upaya mencetak generasi seutuhnya, generasi yang mampu mengenali sisi kemanusiaan dan relasi sosialnya, bukan generasi yang hanya menjadi ’mesin teknis pragmatis’ dari tantangan zaman. Penghormatan atas keunikan individu berarti juga meletakkan potensi yang ada dalam diri secara lebih utuh, termasuk di sini asalah pemberian apresiasi terhadap pilihan sastra.

Sastra sebagai sebuah disiplin ilmu dan karya dapat membangun kemanusiaan dan kebudayaan, memperhalus budi dan mendewasakan manusia, melahirkan masyarakat yang mampu berpikir mandiri dan berekspresi secara kreatif. Oleh karena itu karya sastra yang baik harus mampu mencediakiakan penalaran, menghaluskan akal budi, dan menggunggah hati para pembacanya. Upaya untuk memenuhi ketiga tuntutan dari sisi pembaca terintegrasi di dalam visi dan misi setipa sastrawan (Alwi, 2002).

Revitalisasi sastra secara umum memerlukan dukungan berbagai elemen, seperti pengajar, pengelola pendidikan, masyarakat, dan sarana prasarana. Seorang guru sastra menghadapi tantangan tidak hanya berkaitan dengan upaya peningkatan minat, apresiasi dan daya kritis peserta didik terhadap sastra tetapi juga pragmatisme mereka. Oleh karena itu seorang pengajar harus mampu meyakinkan peserta didik mereka bahwa sastra (baca: Inggris) akan memberikan kompetensi berbahasa dan konstribusi yang besar pada pembentukan kepribadian (character building) terutama terkait dengan entitas nilai-nilai dan pesan-pesan moral- universal –yanga terkandung di dalamnya, serta membangun nalar kritis dalam berwacana. Siswa sedari awal juga perlu mengetahui visi pembelajaran sastra, kompetensi yang akan mereka dapatkan dan tantangan yang akan dihadapi. Pengelola pendidikan juga dituntut untuk memberikan perhatian secara memadai terhadap jurusan humaniora dengan mendukung pengadaan sarana dan prasarananya.

Lebih jauh, pemberian penjelasan yang terarah tentang kompetensi yang bisa diperoleh siswa di jurusan sastra Inggris dan peluang kerja yang bisa diraih perlu dilakukan secara objektif dan benar. Misalnya, secara sederhana saja, jika mahasiswa menanyakan peluang kerja yang bisa diraih, dia diminta melacak lowongan-lowongan kerja di berbagai instansi seperti Departemen Luar Negeri, Departemen Pendidikan Nasional Depkominfo, dst yang memberikan kesempatan kepada lulusan S1 Sastra Inggris (perlu dicatat bahwa dalam pengumunan lowongan pekerjaan tersebut tidak pernah ada dikotomi antara sastra dan linguistik, S1 Sastra Inggris yang dicari). Dengan demikian persepsi lulusan sastra Inggris tidak marketable tidak didasarkan pada data dan alasan yang bisa diterima secara nalar.

II
Dunia sastra adalah dunia yang menggunakan medium bahasa. Oleh karena itu seorang sastrawan dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam bidang bahasa dan dalam mengekspresikan serta mengeksplorasi ide dalam karya yang ia tulis. Pengarang yang kemampuan berbahasanya kurang memadai pasti tidak akan mampu menyampaikan gagasannya secara baik. Cerpenis Indraswari Ibrahim pernah bercerita kepada saya bahwa cepen-cerpen dia yang dikirimkan ke majalah zaman pada tahun 70-an dinilai Putu Wijaya’, sang redaktur sastra majalah tersebut, bahasanya ’kurang renyah’ dan kurang enak dibaca. Demikian pula pembaca, apresiator, pemerhati sastra juga dituntut untuk memiliki kemampuan berbahasa dan analisis yang baik. Seorang yang tengah menggeluti sastra selalu dihadapkan pada kompleksitas bahasa yang menarik untuk dicerna. Ibaratnya bahasa dan sastra adalah dua keping mata uang yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu menurut Sayuti (2002), diperlukan ideologi dalam pelajaran bahasa dan sastra yang mengakui bahwa pelajaran sastra adalah upaya ’memelihara bahasa’. Moody (1997) lebih jauh menyatakan bahwa pengajaran sastra berperan dalam meningkatkan keterampilan berbahasa. Namun demikian, sastra tidak hanya berhenti pada dinamika bahasa tetapi menyelam lebih jauh dalam ’social milieu’ yang diciptakan pengarangnya.

Putu wijaya (1996) menyatakan bahwa sastra bukan hanya tulisan dan bukan hanya buku-buku. Sastra adalah pengalaman spiritual yang diungkapkan dengan kata-kata yang plastis sehingga memiliki daya magis yang dikemas dalam bentuk-bentuk cerita rekaan atau semi rekaan sehingga merupakan lukisan-lukisan kehidupan yang merupakan cerminan dari kehidupan nyata manusia. Sastra dengan demikian adalah sebuah senjata kemanusiaan yang ditembakkan sebagai upaya untuk memangkas batas-batas yang memisahkan manusia dan sedari awal sastra memang sudah melihat kemanusiaan sebagai lahan yang sangat kaya dan luas jangkauannya.

Melalui sastra sering diketahui keadaan, cuplikan-cuplikan kehidupan masyarakat, seperti dialami, dicermati, ditangkap dan direka oleh pengarang. Bahkan seringkali suasana tertentu dapat lebih dihayati dengan membaca sebuah novel atau sebiji sajak darispada membaca sebuah laporan penelitian ilmiah. Seringkali karya satra lebih mudah dan cepat samapai di hati, di rasa, daripada laporan ilmiah (Sayuti, 2002). Secara sosiologis, karya sastra dapat dipandang sebagai social stock of knowledge (Daniel Dhakidae, 1982), yakni tempat terhimpunnya pengetahuan tantang masyarakat, dan kita senantiasa dapat menimbanya. Dalam totalitasnya karya sastra seringkali menunjukkan adanya relevansi sosial. Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis atau sajak-sajak Rendra yang terhimpun dalam Potret Pembangunan dalam Puisi atau Blues untuk Bonie, atau sajak-sajak Emha Ainun Najib dalam Nyanyian Gelandangan dapat disebut, di samping karya-karya lain, sebagai contoh-contoh yang nyata.

Lalu mengapa membaca sastra? Mengapa membaca novel? Demikian pertanyaan yang diajukan Allan Wendnt untuk mengawali pengantarnya terhadap novel Thomas Hardy, The Mayor of Casterbridge. Novel khususnya, dan sastra, umunya, memberi kita pengetahuan dengan cara yang mengejutkan, juga membuat kita pribadi yang berbeda. Sejarah biasanya membawa kita untuk menyaksikan peristiwa dari luar, dari suatu jarak, sebagai pengamat. Dengan novel kita dapat mengambil bagian dalam berbagai peristiwa yang mendebarkan tanpa dikenal resiko gawat dari peristiwa bersangkutan.

Kehadiran novel Madam Bovary karya Gustavo Faubert menghebohkan kelas menegah prancis karena novel itu dengan keras menelajangi ambivalensi moral kelas borjuis Prancis. Sementara itu, novel Uncle Toms Cabin dengan jitu mengecam perbudakan di AS hingga selepas terbitnya novel itu terjadi diskusi yang panjang dan perbincangan yang melahirkan perlawanan anti Rasisme di AS. Di sisi lain, novel Arthur Koestler, Darkness at Noon, menusuk langsung jantung komunisme dan sosialisme di Eropa hingga menimbulkan perpecahan di kalangan mereka. Sementara, kemunafikan moralitas kulit putih Belanda mendapat hantaman keras dengan lahirnya novel Max Havelar karangan Multatuli yang memperkuat gerakan politik etik Hindia Belanda (Harjono, 2002).

Selain menyelam dalam dunia bahasa, sastra juga memberikan peluang yang amat besar bagi perkembangan daya kritis peminatnya. Analisis-analisis yang dilakukan atas karya-karya sastra, baik prosa, drama, puisi dan genre sastra lainnya, akan memperkaya wacana pembelajarnya, memperkuat kemampuan argumentasinya dan mendorong untuk menyampaikan opini dalam dialektika yang tidak monolitik. Tentu saja, pembelajaran sastra harus dilakukan dengan menarik, berbobot dan menyenangkan serta mendapatkan dukungan dari kegiatan ’ekstra kurikuler’.

IV
Ardjianto (1997) dalam Kakilangit menjelaskan tentang kegiatan sastra yang menarik dan beragam: diskusi sastra, bedah buku sastra, panggung puisi, seminar, pementasan drama, pembacaan cerepen, lomba bidang sastra dan mengundang sastrawan. Kegiatan tersebut ditunjang dengan berbagai media penunjang seperti penerbitan majalah, mading, penerbitan antologi cerpen dan puisi. Tentu saja di Jurusan Sastra Inggris kegiatan-kegiatan semacam ini akan mendukung upaya peningkatan minat siswa dan memiliki konstribusi positif bagi penciptaan atmosfer pembelajaran sastra. Rendahnya minat siswa terhadap sastra bisa jadi disebabkan dinamika kegiatan sastra yang hanya berhenti di kelas, sementara kegiatan informal belum mendapatkan perhatian yang memadai.

Slamet Sukirnanto (2002) menyatakan bahwa jika minat kepada sastra itu tumbuh karena dorongan menekuni pelajaran sastra di sekolah, dapat disimpulkan bahwa: pertama, Bapak/Ibu pengajar sastra telah berhasil, tidak hanya menanamkan pengertian dan pengetahuan sastra pada siswa, tetapi para pengajar telah berhasil menanamkan apresiasi sastra pada siswa dan menggugah meinatnya pada bidang ini. Kedua, mungkin karena siswa memiliki bakat khusus dan ditunjang oleh ketekunannya sendiri, seorang siswa telah menggauli sastra sangat mendalam, melebihi potensi siswa lain.

Pilihan siswa terhadap sastra atau linguistik berarti mencerminkan ’ketertarikan’ dan kecenderungan mereka. Namun begitu patut dipertanyakan, apakah pilihan mereka atas sastra dan linguistik memang didasarkan pada pemahaman yang tepat atas kedua konsentrasi tersebut. Jika pilihan itu didasarkan pada asumsi bahwa kedua konsentrasi itu memberikan ruang bagi pencapaian kompetensi berbahasa Inggris maka asumsi itu benar adanya. Artinya bahwa baik lingusitik dan sastra yang materi-materinya hampir mayoritas berbahasa Inggris dan dalam penyampaian materi serta diskusi di kelas selalu menggunakan medium bahasa Inggris, memang memberi bekal kompetensi berbahasa. Tetapi jika pilihan tertentu didasarkan pada asumsi ’siap kerja’ yang lebih baik di bandingkan konsentrasi yang lain, maka perlu dilakukan pengkajian ulang.

Tesis bahwa alumnus jurusan sastra Inggris tidak akan mampu bersaing dalam dunia kerja, sebenarnya telah gugur dengan sendirinya dengan melihat data dalam tracer study. Ada dua alumnus jurusan Sastra Inggris Universitas Brawijaya yang bekerja di Departemen Pendidikan Nasional Jakarta, satu dari konsentrasi sastra dan satu dari konsentrasi linguistik. Dua orang alumni lain dari jurusan yang sama bekerja sebagai wartawan di Jawa Pos Surabaya. Seorang alumnus yang menulis skripsi tentang konstruksi masyarakat patriakal dalam sebuah karya sastra, bekerja sebagai pengajar di English First. Barangkali penelusuran ini bisa menjadi dasar untuk melihat masa depan lulusan sastra.

Seperti yang disampaikan Budi Darma (2006), setidaknya Fakultas Sastra jurusan Inggris (baik sastra maupun linguistik: penulis) dapat membekali para lulusannya dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik untuk persiapan di pasaran kerja. Karena Fakultas sastra mengajarkan humaniora/the Humanities, dan ilmu-ilmu ini mengajarkan masalah-masalah kemanusian, maka Fakultas Sastra dapat mengantarkan lulusannya ke masyarakat luas dengan mempergunakan kiat-kiat hubungan antar manusia.

V
Persepsi masyarakat bahwa kecerdasan siswa di jurusan eksakta (ilmu pasti) lebih utama dibandingkan siswa di jurusan humaniora perlu diluruskan. Hal ini terkait dengan teori kecerdasan ganda manusia. Juga, penilaian mereka terhadap pilihan jurusan humaniora sebagai pilihan yang patut dipertanyakan, mestinya justru penilaian itu sendiri yang perlu dipertanyakan. Sastra dan Bahasa adalah dua entitas yang saling berkaitan. Tanpa bahasa, sastra akan kehilangan medium penyampaiannya. Tanpa sastra, bahasa juga akan kehilangan ruang eksplorasi estetisnya. Sastra mengajari pembelajarnya nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan dan ajaran-ajaran yang ada didalamnya akan memberikan pengetahuan untuk bekal mereka hidup dalam masyarakat dan di pangsa kerja. Memberikan justifikasi ’prematur’ dan tidak benar terhadap minat atas sastra, proses pembelajaran sastra, kompetensi yang didapatkan, dan peluang lulusan sastra di dunia kerja selain berpotensi mereduksi proses humanisasi manusia, juga terkesan menegasikan kekuatan ’metafisis’ di luar diri manusia. Akhirnya, meski tidak mudah menghadapi pragmatisme ’sempit’ masyarakat dan persepsi mereka atas sastra, upaya untuk memberikan pencerahan secara perlahan harus tetap dilakukan. Apakah demikian? Mari didiskusikan.

Denpasar, 9 Februari 2008 20.30
*) Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya.
https://jiwasusastra.wordpress.com/2008/09/14/revitalisasi-pilihan-sastra-di-tengah-pragmatisme-masyarakat/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *