Membersihkan Politik dengan Sastra

Judul Buku: The President
Penulis: Mohammad Sobary
Penerbit: KPG, September 2018
Tebal: iv + 404 halaman
Peresensi: Miftahul Ulum
news.detik.com

Politik pada senyatanya tidak mengenal ampun dan sungguh serius. Kita sudah disodori realitas politik yang begitu menegangkan sehingga bisa mengandai-andai seberapa lama lagi Indonesia akan tetap ada. Melihat serangkaian kontestasi pilkada baik pada 2017 yang terpusat pada Jakarta maupun Pilkada 2018, semuanya mengindikasikan kegentingan, keresahan, kegaduhan. Untuk menyebut harapan, kesejahteraan, dan kedamaian sangat jauh panggang dari api.

Menjelang kontestasi Pilpres 2019, tensi politik nasional semakin memanas dengan beragam manuver yang ditunjukkan para kontestan. Kita disibukkan oleh beragam drama yang menggenapi mozaik-mozaik masa depan Indonesia. Tentu kita masih ingat akan aksi berjilid-jilid sebagai reaksi kasus “penodaan agama” oleh Ahok. Buntutnya adalah Reuni Aksi 212. Juga kita baru saja disodori drama detik-detik terakhir menuju pemilihan cawapres oleh petahana dan penantang.

Indonesia dihadapkan pada keterbelahan masyarakat atas dua pilihan politik yang sama-sama memakai identitas sebagai senjata utamanya. Di kedua belah pihak sama-sama memiliki pendukung fanatik yang saling serang. Menguatnya intoleransi atas perbedaan politik dan identitas semakin dipoles untuk memanaskan mesin dan tensi politik pada 2019. Semua serba tegang dan genting.

Tapi, berbeda di tangan Mohammad Sobary yang sudah lama bergelut dengan masyarakat sebagai ilmuwan sosial, peneliti, dan “budayawan”. Penulis kawakan ini cukup berani dengan menyinggung realitas politik yang masih hangat kemarin untuk diceritakan dalam bentuk fiksi. Berbeda dengan yang sebelumnya, Sobary memakai sastra sebagai media untuk menangkap realitas politik dan meresponsnya dengan satire nan menohok. Keberanian ini sungguh berisiko melihat gejala populisme Islam yang semakin menguat.

Novel The President ini sangat dekat dengan realitas politik kita hari ini. Di mana sang presiden digambarkan sangat mirip dengan presiden kita hari ini, lengkap dengan orang-orang di lingkarannya. Latar tempat yang digunakan seperti Lapangan Banteng, Gedung DPR yang ada di Senayan, dan tempat-tempat nyata lain. Sobary menggunakan pendekatan realisme dalam menulis novelnya, meskipun dengan penyamaran tokoh-tokohnya.

Prosa yang disajikan dalam 404 halaman ini menyajikan liku-liku perjalanan seorang presiden dalam menjalankan roda pemerintahannya. Sekaligus memotret bagaimana presiden juga seorang politisi ulung yang tiba-tiba mencuat dalam konstelasi politik nasional. Dibagi dalam delapan bab beralur mulai dari presiden menanggapi rencana demo besar-besaran yang akan dilangsungkan oleh para “pejuang” ideologi sampai setelah demo.

Menarik sekali Sobary menunjukkan kedalaman maksud para pendemo, baik pasukan maupun elitenya. Dalam narasinya, Sobary ingin menunjukkan keberpihakan politiknya. Bahwa para pendemo punya keperluan hanya mencari nama dan popularitas, serta mencari posisi politbiro (politik birokrasi) yang baik.

Presiden dalam novel ini diimajikan seolah-olah sangat berwibawa dan tenang penuh dengan pertimbangan bijak. Ciri khas dari Sobary muncul dalam narasinya yang menjelaskan bagaimana presiden pantas menduduki jabatan tersebut. Lewat tokoh seorang jenderal polisi, Sobary ingin menunjukkan bahwa “teja” yang bersinar di kening Presiden adalah tanda-tanda kepantasan seseorang menerima kekuasaan.

Sobary memang mengusung konsep kekuasaan Jawa dalam menyusun tokoh-tokoh politik di dalam novelnya. Dalam konsep kekuasaan Jawa, ada empat tanda kekuasaan yang tercermin pada seseorang, yakni mendapatkan wahyu, galuh, teja, dan andaru. Teja adalah tanda-tanda kekuasaan yang menjelma dalam cahaya yang memancar dari tubuh seseorang. Konsep magis-religius digunakan untuk menjelaskan legitimasi kekuasaan dan cara memperolehnya.

Sayang sekali, dalam novel ini terlalu berpanjang-panjang penjelasan terkait tokoh-tokoh yang akan berpengaruh dalam kehidupan politik presiden. Misalnya dalam menggambarkan latar belakang dan pergulatan batin Sang Panglima, sobary membutuhkan satu bab penuh. Begitu pula dalam menjelaskan orang terdekat presiden yaitu Arya dan tokoh-tokoh pesantren yang terlalu detail hingga dua bab. Kiranya pusaran politik yang seharusnya pada presiden, tapi malah tersebar pada tokoh-tokoh di sekelilingnya yang bisa saja dipersingkat untuk mengaitkan pada konteks politik sang presiden.

Menjelang akhir babak dalam novel ini saya dikejutkan dengan perbedaan peristiwa yang terjadi di dunia nyata dan di dalam karangan Sobary. Demo yang sudah direncanakan memang sudah berlangsung, dengan tampilnya tokoh-tokoh agama dan politik untuk menyampaikan pokok pikirannya yang tertuju pada “Ganti Presiden”. Nahasnya, kemunculan tokoh Vedias Luzon, seorang perempuan yang sedang berhijrah, merasa dibohongi oleh kelompok pendemo karena telah menggadaikan agama dalam gelanggang politik. Sobary melalui Vedias Luzon ingin mengatakan bahwa demo tersebut sebagai kekerasan ideologis atas nama agama.

Sobary sering memakai konsep tradisional dan mitos sebagai konsep utamanya. Inilah yang menjadi kekurangan lain dari novel ini –pengesampingan rasio-legal (ala Weber) dalam memasuki alam politik “presiden”. Memang, penggunaan media sosial seperti Youtube dan Facebook sempat disebut. Tetapi, hanya sebagai “tempelan” agar terlihat kesan era modern. Dalam kenyataannya media sosial memiliki peranan besar dalam menggiring opini untuk kepentingan politik, sehingga kita mengenal konsep “disrupsi”. Sobary tidak menjabarkan bagaimana proses nyata penggiringan opini ini melalui jejaring teknologi dan disrupsi informasi sebagai arus utama percaturan politik.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang ada, kehadiran novel ini mengingatkan pada kata-kata John F Kennedy, bahwa “jika politik itu kotor, maka sastra yang akan membersihkannya, jika politik itu bengkok sastra yang akan meluruskannya”. Agaknya, Sobary ingin membersihkan politik yang kotor dan bengkok dengan menghadirkan The President sebagai penawarnya.

*) Miftahul Ulum, kader PMII Airlangga.
https://news.detik.com/kolom/d-4391480/membersihkan-politik-dengan-sastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *