DAN TAUFIQ PUN MEMBADUT


Fatah Yasin Noor

Nah! Akhirnya terbit juga. Buku ini lumayan tebal, 400 halaman lebih. Adalah kumpulan tulisan mutakhir Taufiq Wr. Hidayat yang semuanya pernah dimuat di akun facebooknya. Tentu saja setelah melalui proses editing yang ketat. Tak semua yang diunggah di Facebook ada di buku ini. Sebagian pernah dimuat media cetak. Buku adalah jalan terakhir manusia di dunia mengoptimalkan amalan untuk bekal hidup di akherat.

Dan sesuatu tentang Gus Dur, dalam buku ini, soalah pintu masuk untuk pelbagai hal. Boleh jadi ini mimpi yang akhirnya jadi kenyataan, betapa tulisan dengan beragam “masalah” menjadi dokumentasi sejarah kekinian yang, menurut saya, sangat penting. Setidaknya buku ini benar-benar tengah membuktikan, bahwa cerita tak harus mengangkat tokoh secara hitam-putih. Dan bicara soal agama, misalnya, tak harus dengan cara dan bentuk yang sok agamis yang “nggilani” (menjijikkan). Taufiq membicarakan soal ini dengan santai, tapi mendalam. Tak ada kesan ingin mendesakkan kebenaran “yang paling” di situ. Ia sadar betul, bukan wakil Tuhan di bumi yang mendapat sepuluh perintah Tuhan yang harus disampaikan.

Berbekal pengetahuan agama selama mondok di bawah asuhan langsung Kiai As’ad, entah bagaimana caranya Taufiq fasih bahasa Qur’an, mengenal Nahwu-Shorof (kaidah bahasa Arab) dengan baik dan benar. Untuk hal ini, ada semacam keajaiban, selarik bakat alam yang dengan cepat menangkap makna bahasa ayat-ayat Al-Qur’an. Ini saya terangkan untuk sedikit memberi gambaran secara komprehensif tulisan Taufiq berproses. Artinya, proses kreatif yang tertuang adalah sangat dipengaruhi lingkungan dan bacaannya. Kebetulan ia menyukai bacaan sastra. Karya Afrizal Makna, Hamsad Rangkuti, Rendra, dan yang lain hapal di luar kepala. Dus pemikiran Gus Dur dengan pelbagai anekdotnya itu. Islam Nusantara, yang diusung oleh—istilah Gus Dur—kiai kampung, secara eksplisit menolak Islam yang ke Arab-araban. Tradisi NU yang menerjemahkan Islam melalui kitab kuning adalah syarat untuk lulus menjadi santri yang mumpuni. Nah cerita Taufiq di buku ini tak lain dan tak bukan, dituntun oleh pemahaman ini, terutama pemikiran keislaman inklusif Gus Dur lewat bahasanya yang sederhana tapi tidak kehilangan kaidah-kaidah ilmu berabad-abad dalam khzanah pemikiran Islam. Islam yang lebih menekankan pada esensi iman tinimbang performan tetek bengek syariat dalam beribadah. Dalilnya jelas saat Taufiq menanggapi perbedaan. Demokrasi ala Gus Dur yang sering membela yang minoritas kadang sering berbenturan dengan kaum Nahdliyyin sendiri, tapi Gus Dus tetap bisa dimaafkan. Marahnya para kiai yang mencuat di media seolah menggemparkan, mengarah ke perpecahan, padahal tidak!

Jadi, Anda akan “kecele” (salah duga) jika mencoba mencari pesan dalam buku kumpulan tulisan “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” ini. Pesannya apa? Tulisan yang baik tak lepas dari kalimat-kalimat yang baik, mengalir puitis. Tulisan Taufiq cenderung kocak, lincah, dan renyah. Banyak cerita keseharian yang bikin ngakak sekaligus sebuah ironi tentang kemiskinan. Kadang saking geramnya, banyak penguasa ngomong kemiskinan, Taufiq memelesetkannya dengan “kumiskinan”.

Di zaman sekarang ini, mencari pemimpin yang amanah, ikhlas, dan merakyat sungguh sulit, kecuali Gus Dur! Soal kehidupan orang-orang kalah, tapi punya daya hidup yang luar biasa. Penuh kritik sosial yang diceritakan tanpa kehilangan rasa humornya. Potret orang kecil yang sering luput dari perhatian khalayak ramai. Sebagai santri, sudah seyogianya patuh dan “sendiko dawuh” kepada kiai. Tak terkecuali Taufiq yang sempat mondok di pesantren kuno. Ini kumpulan tulisan yang beragam, ditulis dengan konsep yang matang. Semuanya mencakup masalah kemanusiaan. Dikemas dengan gaya Taufiq dalam bentuk kisah. Boleh disebut cerpen, tapi dengan sejumlah catatan. Boleh juga disebut kumpulan esai, tapi esai yang menjelaskan satu pesan yang mengandung cerita. Semuanya ditulis secara spontan, tak ada pesan sponsor! Letupan pikiran dan perasaan di sini dan sekarang. Buku ini bukan sejenis buku yang direncanakan untuk kepentingan tertentu. Sangat orisinal khas Taufiq Wr. yang sederhana. Syukur Alhamdulillah terbit!

Hakekatnya buku ini fokus pada kepenulisan yang berbau-bau nyastra. Sebuah tulisan yang diungkai dari keyakinan, bahwa teks itu dahsyat. Sebuah kalimat pembuka yang menempuh jalan bahasa sampai mencapai satu keutuhan. Mereka yang terbiasa bergelut dengan teks dengan segala kaedahnya. Merekam segala kejadian dan kadang dimetaforakan. Semacam simbol untuk menandai suatu keadaan tertentu, termasuk ramalan di masa yang akan datang. Seperti ramalan Nastradamus atau, dari bangsa kita sendiri, Joyoboyo. Beginilah Taufiq menyajikan cerita-cerita ringan yang begitu cair, mengalir seperti tanpa konsep. Tapi kita tak perlu berdebat masalah konsep. Sebab pandangan Taufiq soal kehidupan ini, kita simak langsung dari sejumlah tulisannya, orisinil, dan mencakup. Terutama pandangannya soal keagamaan yang mendalam, meski Taufiq tak memposisikan diri sebagai ahli agama. Ini sudah luar biasa kalau mau diukur dari kesetiaannya yang terus menulis tanpa sponsor.

Setidaknya buku ini telah menemukan jalannya setelah sekian lama tersimpan di manuskrip dan media maya. Kenyataannya buku lebih abadi, tak tergantikan di dunia cyber. Mungkin persoalan ini bisa menjadi pembahasan lain. Inilah bentuk tulisan lepas, semisal Kiai (iki ae), “ini saja”, yang syarat pesan kebenaran Islam secara universal. Ketika Taufiq bicara keindonesiaan, piagam Madinah di zaman Rasulullah SAW tak tercantum harus menjadi khilafah, atau negara Islam. Oleh sebab itu bisa dipahami kenapa Kiai Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur, salah satu anggota Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mencoret kalimat “menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Beruntung kita punya Tuhan Yang Maha Esa, istilah lain dari Allah. Istilah ini sepakat dan diterima semua golongan kelompok waktu itu. Tentu saja, ini sebuah pemikiran yang brilian, sebuah pandangan kontekstual yang melihat kenyataan bangsa yang beranekaragam. Dasar negara yang diambil dari kesepakatan bersama, disahkan bersama dalam sebuah lembaga resmi. Kita bisa membaca lagi sejarah lahirnya Pancasila.

Taufiq kadang, hanya sekadar menulis sekaligus tidak sekedar menulis. Apa-apa yang dinyatakannya, untungnya, dikemas dalam narasi teks yang ringan. Dan (kemudian) “badut pun pasti berlalu” adalah gambaran secara satir tentang nasib manusia. Badut-badut politik, para pecundang yang akhirnya ditertawakan dunia. Paham keesaan Allah itu seringkali tak mendasari perilaku manusia yang hanya sebatas jargon, enak dikhotbahkan. Namun, antara kata dan perbuatan bertolak belakang. Terus saja korupsi. Sindiran secara satir para badut itu kadang dimetaforakan dengan mengambil cerita wayang. Hubungan yang erat antara watak tokoh pewayangan dengan watak badut, para politisi busuk. Tinggal comot saja. Sebab di dunia pewayangan, watak dan karakter tokohnya sangat banyak dan sudah pakem. Kamu itu Sengkuni, kata Kiai Sutara, suatu saat. Syahdan, ketika aku baru pindah dari Wongsorejo ke Kanalan, Banyuwangi, ketertarikanku pada tulis-menulis telah diasapi oleh buku sastra para sastrawan terkemuka tanah air, aku Taufiq.

Banyuwangi, Juli 2017.

DAN BADUT PUN PASTI BERLALU
Sejumlah tulisan Taufiq Wr. Hidayat
2×24 cm; xv+400 halaman
Katalog Dalam Terbitan
ISBN: 978-602-60663-2-9
Penerbit: Pusat Studi Budaya Banyuwangi bekerjasama dengan Jaringan Gusdurian Banyuwangi, dan Lareka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *