Diskursus Luka, Identifikasi Subjek, dan Hasrat Lacan dalam Puisi “Luka” Karya Dwi Pranoto

Moh. Fathoni

Lacan dalam konsepsi psikoanalisanya menggunakan dua strategi: fenomenologi dan struktural. Dengan fenomenologi, ia memilih subjek yang mempunyai hasrat dan menempatkannya ketidaksadaran agar menjadikannya sebagai “subjek yang bebas”. Kedua, struktural digunakan sebagai alat untuk membahas pengukuhan diri subjek, yakni sebagai dalam identifikasi diri [subjek]. Pada yang terakhir ini, Lacan mengembangkannya pada struktur bahasa. Lacan dalam hal ini mengikuti Freud, dengan mengembangkan konsep transalasi bahasa, bahwa ketidaksadaran merupakan hasrat yang bergerak dan mendorong kepada kondisi yang kacau [chaos] yang secara terus-menerus. Meskipun pada akhirnya tujuan subjek tersebut tidak benar-benar dicapai, hanya proses identifikasi yang ideal, proses dan proses yang tidak pernah selesai. Karena menurut Lacan, dalam diri terdiri dari tiga hal yaitu kebutuhan [need], permintaan [demand], dan hasrat [desire]. Ketiganya  berhubungan dengan tiga fase berikutnya: yang nyata [real], imajiner dan simbolik.

Dalam tulisan ini akan membahas relasi-relasi hasrat, identifikasi subjek, beserta mekanismenya dalam diskursus psikoanalisis ala perspektif Lacan yang dibaca melalui medium teks sastra. Teks yang dimaksud, yakni Puisi “Luka” karya Dwi Pranoto [2011]. Puisi tersebut merupakan salah satu  puisi yang tergabung dalam antologi puisi terbarunya “Hantu, Api, Butiran Abu: Sepilihan Puisi”.

Transposisi Subjek: Relasi Hasrat dan Perkembangannya

Pada mulanya yang nyata adalah subjek aku-pengarang [real], lalu ia diimajikan sebagai aku-pengarang [imaji] akibat kelahiran sebuah teks sastra. Sebelum adanya teks sastra tersebut, dinamakan fase pra-oedipal, diri [subjek] belum terjadi identifikasi atau belum dilakukan, karena aku-pengarang [real] dengan aku-pengarang citraan merupakan kesatuan; keduanya belum terpisahkan [bayi subjek belum lahir dari garwa ibu]. Sehingga tidak ada identifikasi terhadap dunia kenyataan dan keberadaannya di dunia [realm of the real].

Yang real dimaksud di sini ialah suatu kondisi tanpa adanya kehilangan [loss] atau kekurangan [lack]; artinya semua kebutuhan dapat dimungkinkan terpenuhi. Karena tidak ada kekurangan terhadap kebutuhan [need] dalam dunia realitas maka tidak ada pula bahasa untuk berkomunikasi atau menandakan. Yang real adalah suatu alam yang tidak pernah dapat digambarkan atau dicitrakan. Di sisi lain, hasrat ketidaksadaran yang terdiri dari hasrat memiliki dan hasrat menjadi, dalam pandangan Lacan, seseorang tidak menemukan identitasnya sebagai aku-pengarang [real] jika tidak memiliki karya. Dengan demikian subjek mengalami kekurangan [lack], yang berupa identitas dirinya sendiri. Maka kemudian agar memiliki aku-pengarang [imaji], aku-pengarang [real] memasuki fase imajiner.

Dalam fase imajiner, aku-pengarang [imaji] dapat mewujudkan hasrat memiliki-nya, yakni memiliki citraan aku-pengarang. Dalam kondisi ini subjek [diri] mengalami kehilangan [loss] yang real, sebab setelah melakukan identifikasi keberadaan dirinya: bahwa bagian-bagian “pengada” dari dirinya terlanjur hilang dalam tahapan imajiner; bahwa identitas merupakan bentukan kekurangan eksistensial yang bermula dari identitas praverbal; bahwa citra aku-pengarang [imajiner] hanya bayangan. Penemuan akan kehilangan ini melalui identifikasi imajiner dengan objek-objek yang ditemuinya. Yang lain ini kemudian mendominasi dan merepresi sehingga mengidentifikasi dirinya untuk mengikuti fase simbolik. Citra orang lain yang berada di tataran imajiner dan kode yang membentuk fase simbolik, sebab menurut Lacan, proses penemuan diri ini berfungsi sebagai paradigma dari semua hubungan selanjutnya.

Wujud kehilangan ini disampaikan oleh aku-pengarang [imaji] melahirkan bahasa yang berupa aku-simbolik dalam teks-puisi. Kelahiran bahasa ini menandai bahwa dimulainya fase simbolik: dari aku-pengarang [imajiner] dalam teks menjadi kita-lirik [simbolik]. Tetapi objek-objek tersebut di luar tidak dapat ditemukannya. Aku-pengarang [imajiner] telah kehilangan alam yang real-nya. Kesenjangan atau kekurangan kembali dialami oleh subjek. Proses identifikasi yang berkaitan dengan hasrat membuka kemungkinan adanya konflik dari dua fenomena: ketika suatu identifikasi menjadi mapan, maka ini juga berarti berfungsinya suatu sistem yang merepresi semua hasrat; kedua identifikasi selalu berada pada posisi dimotivasi sehingga orang merespon pada keinginan menjadi [will-of-being].

Hanya melalui cara simbolik?yakni dengan bahasa?analisa dapat dilakukan. Tujuannya, agar subjek [diri pertama] menghadapi, mengakui, dan kemudian mampu mengidentifikasi bagian “pengada” yang hilang dalam tahapan imajiner: “mendapatkan luka dan bercakap dengan sesama kita” agar aku-pengarang [imajiner]–yang dalam teks-puisi tak mungkin diwujudkan?maka mengidentifikasi dirinya melalui bayangannya: kita-lirik [yang simbolik]. Jadi kita-lirik merupakan bayangan aku-pengarang yang diturunkan kualitas dari aku-pengarang real menjadi aku-pengarang citraan [imajiner], kemudian disimbolkan di dalam bahasa lirik sebagai kita-lirik. Hal ini dimaksudkan aku-imajiner dapat memiliki suatu identitas yang bisa direkognisi oleh diri sendiri dan dipertemukan serta direkognisi orang lain.

Dengan demikian, subjek [diri kita-lirik] mengidentifikasi dalam bentuk cinta kepada yang lain. Identifikasi ini merupakan menjadi orang lain [active narcissistic desire].Kemungkinan tersebut terlihat dalam baris terakhir: “Agar bisa bercakap dengan sesama kita.”

Dalam puisi ini terdapat dua subjek yang lain [other] adalah dunia yang berhasrat [hanya menerima] pasif dan memberi kuasa terhadap wujud “luka” dengan memberikan identitas [yang ini] kepada “luka” yang dibuat di masa lalu, yang perihnya menetap di hari ini.” Sedangkan “Luka” berarti tragedi dunia yang berarti sejarah manusia. Hanya dengan mengidentifikasi diri yang pernah mengalami tragedi [memiliki luka] sehingga “perihnya kini masih, melekat dan menetap dalam ingatan sampai hari ini.”

Upaya ini lalu bertujuan untuk menghadapi konsekuensi diskursus sosial dalam identifikasi, yakni berupa hasrat yang lain [dunia], “karena dunia hanya menerima luka”. Sedangkan bercakap dengan sesama kita,” merupakan bentuk dari well-being ketika kita mengolahnya untuk menempatkan diri kita dengan penanda-penanda itu [atau menempatkan diri bertentangan dengan penanda-penanda] agar dilihat orang lain; Hal ini memuaskan passive-narcissistic pada hasrat akan keteraturan simbolik yang ada pada diri kita.

Tujuan untuk membentuk penanda kolektif ”sesama kita” tergantung dengan keteraturan atau konsekuensi kita-lirik [simbolik] pada dirinya sendiri untuk keberlangsungan proses identifikasi berikutnya, antara aku-lirik [implisit simbolik] dan kita-lirik [eksplisit], seperti dalam kata “mendapatkan, mengingat, melupakan, bercakap,” pilihan itu sendiri.

Diskursus Luka

Subjek yang utama ialah setiap subyek yang bertindak melampaui segala halangan’ sistem identifikas dalam tatanan simbolik yang menekan dan menenggelamkannya. Bagi Lacan, yang utama adalah bagaimana setiap identitas dalam tataran simbolik itu menjadi subyek yang bebas.

Menerima hidup sama halnya dengan menolak kematian. Meski hidup tampak berat dan perlu perjuangan, meski luka-luka akan menyiksa, tapi lupakan. Kematian atau kehidupan sama-sama berpotensi melukai. Kelahiran bukan kutukan, tetapi luka. Dan luka lahir dari relasi ketidaksadaran subjektifitas. Ia bisa saja lahir melalui rahim imajiner. Bayi simbolik yang bernama kita-lirik lantas bersikeras mengulangi ketidaksadarannya kembali [repetisi] melalui “luka”.

“Luka” merupakan pengganti [substitusi] dan kondensasi [pemadatan] hasrat dengan cara menemukan dirinya dengan subjek kolektif “sesama kita” agar kita-lirik mencapai tujuan akhir [bercakap dengan sesama kita]. Sebagaimana bahasa, manusia adalah mediasi bagi munculnya hasrat.

Lacan menjelaskan bahwa bahasa tidak pernah mendapat tempat pada tataran real [nyata]. Meski demikian bahasa menandai bukan untuk mengekspresikan pemikiran atau menggambarkan realitas, tetapi lebih pada upaya mengkonstitusi subyek sebagai suatu secara historis dan geografis, dan secara kultural mengarah pada spesifikasi proses menjadi. Bahasa memiliki kapabilitas untuk memposisikan subjek sebagai social being [“sesama kita” – subjek kolektif] karena bahasa memiliki sistem sendiri dan memaksa setiap subjek dalam ranah simbolik. “Luka” dalam hal ini menjadi prasyarat simbolik untuk menuju pada pencapaian diskursus tragedi dalam sejarah kehidupan manusia. Hanya dengan mengidentifikasi diri yang pernah mengalami tragedi [memiliki luka] tujuan hasrat dapat dicapai. Kata tersebut sering dipilih sebagai ungkapan tragik. Sebab sering digunakan itulah, kata “luka” menjadi klise, yang dapat bermakna konotatif.

Namun, yang lain [the other] yang berupa penanda-penanda: dunia dalam puisi ini tidak dapat diabaikan oleh hasrat narsistik [passive-narcissistic] sehingga dalam upaya menjadi [will-being] perlu semacam adanya pengorbanan kepuasan [hasrat memiliki] yang tampak dalam kata “harus”. Di sini terasa munculnya etika dalam diskursus “luka” [tragedi-sejarah manusia]. Kemudian ingatan yang sekaligus berarti ada kemungkinan untuk melupakan merupakan ironi dalam logika hasrat; ambivalensi dunia yang harus ditunaikan sampai dengan hari ini. Puisi yang dibangun koheren ini kemudian dikemukakan suatu pertemuan diri subjek kolektif di dalam rangkaian penanda-penanda yang lain [the other]. Dengan demikian, dalam diskursus “luka” yang nyata [real] tentu tidak mungkin dicapai, kecuali “luka” dalam tatanan imajiner atau simbolik. Tetapi pada kedua tataran tersebut terdapat lackness atau kekurangan, sehingga untuk mencapai pada hasrat yang bebas perlu transposisi lanjut, yakni keinginan untuk kembali pada kehilangan [loss]: kembali kepada yang nyata [real], yang berarti kehidupan sosial di luar ranah ranah imajiner sebagai aku-pengarang di bawah bayangan kita-lirik dan bahasa yang simbolik sebagai aku-pengarang. Dengan demikian diskursus “luka” berdimensi ganda: dalam psikoanalisis berdimensi diri [self] yang  melakukan didentifikasi diri menjadi hasrat passive-narcissistic, dan dalam diskursus etis-sosial menjadi diri sosial [subjek kolektif], tetapi yang terakhir ini tidak pernah terjadi sebab yang real tidak pernah melakukan identifikasi: subjek yang bebas tidak pernah terwujud. Dalam dunia real, hasrat subjek tidak terpuaskan.[]

Luka

Kita harus mendapatkan luka di sini
Agar kita bisa mengingat
Mengingat luka ini dan melupakan yang lain
Karena dunia hanya menerima luka
Luka yang dibuat di masa lalu
Yang perihnya menetap di hari ini
Agar bisa bercakap dengan sesama kita

[Puisi Dwi Pranoto dalam Antologi Hantu, Api, Butiran Abu: Sepilihan Puisi]

Daftar Bacaan

Bracher, Mark. 2009. Jacques Lacan, Diskursus, dan Perubahan Sosial: Pengantar Kritik-Budaya Psikoanalisis. Yogyakarta: Jalasutra.
Pranoto, Dwi. 2011. Hantu, Api, Butiran Abu: Sepilihan Puisi. Yogyakarta:Gress Publihsing
Teeuw, A. 1983. Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya
Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya. Jakarta: Grafiti.

https://katafath.wordpress.com/2011/11/30/diskursus-luka-identifikasi-subjek-dan-hasrat-lacan-dalam-puisi-luka-karya-dwi-pranoto/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *