Meraba Kebanyumasan melalui Sastra

Muharysam Dwi Anantama *
suaramerdeka.com

Sastra merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat. Ia lahir dari dan di tengahtengah masyarakat karena penulis sastra bagian dari masyarakat. Sering kita temui karya sastra identik dengan kehidupan sehari-hari.

Karya sastra merupakan manifestasi laku masyarakat setiap hari. Alamsemesta, termasukmanusia, menyuguhkan bermacam fenomena. Penulis sastra mesti membekali diri dengan pengetahuan dan kepekaan untuk mampu merangkum menjadi karya.

Penulis harus mampu dan mau membuka mata serta telinga atas segala fenomena alam dan sosial. Kearifan lokal adalah salah satu objek cukup menarik perhatian bagi penulis sastra. Tak heran, beberapa penulis mengangkat fenomena itu ke dalam karya.

Bahkan beberapa penulis menjadikan kearifan lokal sebagai pijakan karya. Berbicara soal kearifan lokal dalam karya sastra, ingatan akan mengelana dan jatuh ke sosok Ahmad Tohari. Itu sangat lumrah. Ahmad Tohari adalah penulis yang rajin mengabadikan perihal kearifan lokal dalam karya.

Sebut saja novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang sangat kental dengan nuansa kebanyumasan. Penyair Banyumas pun tak ketinggalan menjadikan kebanyumasan sebagai roh dalam karya. Ahmad Sultoni, misalnya, merekam fakta tentang ritual pesugihan di Bukit Srandil.

Kita simak puisi “Di Bukit Srandil” dalam buku Historiografi (2013): Di bukit terjal bergelombang berkali aku ketemukan/rupa gunung terbelah dua, konon belahan angka ë5/gelombang pasang malam purnama, kusaksikan lagi/orang-orang berduyun menghidupi kawanan moyang/dan mereka anggap jalan membuang kelaparan.

Ahmad Sultoni menarasikan sederet fakta di Bukit Srandil. Ia merekam sikap irasional orang yang datang ke sana. Puisi lain yang mengambil Bukit Srandil sebagai objek inspirasi adalah “Di Srandil”. Melalui puisi dalam Diksi Para Pendendam (2012) itu, Badrudin Emce menafikan perilaku pesugihan di Bukit Srandil.

Sebagai penyair yang lahir dan besar di pesisir selatan Jawa, tepatnya Cilacap, Badrudin Emce begitu akrab dengan literasi pesisir. Beberapa puisinya begitu lekat dengan lingkungan: pesisir selatan Jawa.

Kebanyumasan dalam Puisi

Zaman globalisasi membuat pemuda alpa memahami budaya asali. Pemuda hari ini berada dalam cengkeraman westernisasi. Budaya dalam negeri tampaknya kalah menggiurkan dibanding produk budaya luar negeri.

Alih-alih hanya mencicipi, pemuda kini malah makin ketagihan dan menikmati suguhan budaya luar negeri. Bahkan membuat beberapa antipati terhadap budaya sendiri.

Namun fenomena itu tak memengaruhi diri dan karya penyair muda Banyumas. Beberapa tetap menggali budaya yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi. Lewat puisi, mereka nguri-uri budaya sendiri. Meneroka makna yang lebih dalam demi kesubliman budaya kita.

Salah satu penyair yang begitu getol menuliskan budaya asali adalah Indra KS. Beberapa puisinya yang mengisi Historiografi (2013) begitu kental dengan nuansa kebanyumasan. Ia menghidupkan kembali budaya Banyumas yang selama ini hampir mati, hilang ditelan bumi.

Dalam puisi “Pledoi Sebuah Tarian”, ia menghadirkan kembali kesenian buncis, yang selama ini tak terdengar lagi. Ia menggemakan melalui puisi. Suara angklung yang berkidung/wangi kemenyan/dan harumnya kembang tujuh rupa/lebur dalam sebuah tarian.

Setali tiga uang dengan Indra, Hendrik Efriyadi pun menarasikan budaya Banyumas yang sedang menanti ajal; kebudayaan yang minim apresiasi dari generasi muda. Melalui puisi “Sekar Gadung” (Historiografi, 2013), ia menghadirkan ebeg ke pembaca.

Ada kendang mengirama riang/merasuk nuju pangkalpangkal tulang/seolah hanya syair ini yang patut untuk tuan/besi yang menua terus diaduka dengan kendang/ pengiring lantunan, sekar gadung/menerjemah perjalanan.

Banyumas juga lekat dengan kesejarahan. Banyumas pada masa lampau adalah salah satu pusat perekonomian yang cukup digdaya.

Irfan M Nugroho merangkum hal itu dalam puisi. Lewat puisi “Sebuah Kota”, dia menggugah memori kita. Bernosltalgia, melihat kembali sejarah yang rebah di tlatah Banyumas. Simak puisi dalam Historiografi(2013) itu.

Ada yang terperam pada wajah kota lampau/semacam sejarah, tentang bangunan-bangunan kerdil/di bawah rel kereta yang tak pernah lelah berderit;/suara derap serdadu, kuali perebus warna kain batik,/dan rumahrumah plesiran pejabat pabrik gula yang kini diam.

Ornamen kebanyumasan berupa sejarah dan budaya mungkin lambat- launmenguap dari ingatan. Tercecer seiring perubahan zaman yang begitu cepat. Kita yang harus berusaha mempertahankan.

Membuatnya tetap digdaya di tengah masyarakat. Seperti ditulis Adhy Pramudya dalam puisi “Melacak Muasal”: tak ada sejarah tanpa kita, sebab/kitalah nenek moyang itu sendiri (Kelahiran Kedua, 2018).

_____________
*) Muharsyam Dwi Anantama, lahir di Banyumas, 12 Juni 1995. Tinggal di Desa Lebeng RT 02 RW 02 Nomor 32, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini bergiat di Komunitas Penyair Institute Purwokerto.
https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/116139/meraba-kebanyumasan-melalui-sastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *