ANTARA SADAR DAN TIDAK SADAR

Proses Kreatif F. Rahardi dalam Menulis Cerpen

Saat seseorang sadar sepenuhnya, sebaiknya ia menulis artikel atau surat cinta. Puisi, cerita pendek, dan novel yang baik, ditulis antara sadar dan tidak sadar. Kalau tak sadar 100% (pingsan, koma, mabuk, atau kesurupan) tidak mungkin bisa menulis.

Pada pertengahan dekade 2000, saya ingin menulis cerpen berjudul Alun-alun Surya Kencana. Ini merupakan nama sebuah padang edelweis di Taman Nasional Gunung Gede dan Pangrango, Jawa Barat. Saya demikian mengagumi tempat ini, hingga saat menulis cerpen tidak bisa menjaga jarak. Isinya hanya kekaguman dan puja-puji. Sampai belasan kali saya mencoba menulis, selalu gagal. Bahkan beberapa kali saya berhasil menulis sampai enam atau tujuh halaman, tetapi tidak pernah bisa menyelesaikannya.

Proses ini berjalan sampai sekitar dua tahun, dengan belasan cerpen gagal, dengan judul sama: Alun-alun Suryakencana. Sampai suatu hari saya melupakan itu semua. Lalu antara sadar dan tak sadar mulai menulis. Saya membebaskan diri saya dari beban untuk menghasilkan sebuah cerpen. Mendadak dengan lancar saya bisa menulis, dan cerpen itu selesai dengan sendirinya. Hasilnya sangat berbeda dengan yang selama ini saya inginkan. Saya percaya yang menulis cerpen itu bukan diri saya tetapi roh sebuah cerpen. Orang-orang soleh akan bilang yang bekerja itu Roh Allah.

Cerpen itu kemudian saya kirimkan ke Harian Kompas dan dimuat pada terbitan 24 September 2006. https://frahardi.wordpress.com/2010/10/07/alun-alun-suryakencana/. Ini merupakan tema cerpen yang setelah melalui proses panjang, akhirnya bisa saya selesaikan. Ada juga yang seperti ini, tetapi tetap tak terselesaikan lalu saya lupakan. Hampir semua cerpen gagal saya, disebabkan oleh kondisi saya yang teramat sadar saat menulis. Dalam kondisi sadar, keinginan-keinginan pribadi bisa muncul. Keinginan untuk dapat honor, keinginan untuk populer, untuk diperhatikan dan lain-lain.
***

Akhir tahun 2012, saya sedang naik taksi dari Kantor Majalah Hidup di Batusari, Kebonjeruk, Jakarta Barat; untuk pulang ke rumah di Cimanggis, Depok. Sopir taksi itu menghidupkan radio, dan dari radio itu saya mendengar berita tentang adanya bentrokan antara aparat keamanan dengan demonstran. Tiba-tiba dalam pikiran saya terdengar kata-kata Amin berulang-kali. Juga terbayang sosok laki-laki yang berdemonstrasi. Sampai di rumah saya lupa makan, lupa mandi, lupa ganti baju, langsung menulis. Hanya dalam waktu kurang dari dua jam cerpen berjudul Amin itu selesai.

Cerpen itu kemudian saya kirimkan ke Koran Kompas, dan dimuat pada terbitan 20 Januari 2013. https://lakonhidup.com/2013/01/20/amin/ Ini termasuk cerpen yang cukup lancar penulisannya. Sebab sejak awal, saat mendengarkan berita radio itu, kondisi saya sudah antara sadar dan tidak sadar. Sejak berada dalam taksi itu, saya sebagai F. Rahardi sudah tidak ada. Yang ada hanya roh sebuah cerpen, yang tiba-tiba saja masuk ke dalam diri saya, meminjam otak dan tangan saya, agar bisa ditulis dan kemudian dibaca orang banyak. Kalau sekarang saya ditanya, bagaimana bisa menulis seperti itu, saya akan bilang tidak tahu.

Jadi sebuah proses kreatif menulis cerpen, bagi saya bukan berkonsentrasi ke masalah teknis penulisan, atau materi (bahan) cerpen. Proses kreatif bagi saya adalah mengosongkan diri sendiri, agar roh cerpen mau datang dan masuk ke dalam diri saya. Untuk itu diri sendiri harus dimatikan. Keinginan-keinginan pribadi, ambisi, semua harus hilang. Yang ada seseorang yang pasrah dan membuka diri untuk didatangi dan dimasuki oleh roh cerpen. Roh cerpen itulah sebenarnya yang akan menggerakkan pikiran dan tangan saya untuk menulis. Hingga cerpen itu sebenarnya bukan karya pribadi saya.
***

Puncaknya, saya bisa menulis dalam kondisi seperti kesurupan (entrance). Seorang aktor atau aktris yang baik, akan berupaya masuk ke dalam karakter tokoh yang ia perankan. Sebutan masuk itu saya hindari. Saya cenderung mengatakan, karakter tokoh yang ia perankan itulah yang seharusnya masuk ke dalam diri kita, hingga diri kita hilang sama sekali. Yang ada hanya tokoh yang diperankan oleh aktor dan aktris itu. Saya pernah mengalami hal ini ketika menulis cerpen berjudul Pertunjukan. Cerpen ini dimuat Harian Kompas tanggal 25 Maret 2012. https://frahardi.wordpress.com/2016/01/25/pertunjukan/ Tetapi sebenarnya saya telah menulis cerpen ini pada awal tahun 2011.

Saya tahu cerpen ini saya tulis pada awal tahun 2011, dengan melihat informasi tanggal di metadata komputer. Ceritanya, pada suatu hari awal tahun 2013 saya membuka-buka file dalam folder karya sastra yang pernah saya tulis. Maksudnya untuk membuang tulisan-tulisan yang tak saya perlukan lagi. Dalam folder itu kadang memang tersimpan file kosong, atau hanya berisi beberapa paragraf bahkan kalimat. Tiba-tiba saya menemukan sebuah cerpen berjudul Pertunjukan. Saya kaget sebab tak ingat pernah menulis cerpen seperti itu. Dari jam penulisan dalam metadata, cerpen itu saya tulis antara pukul 01:00 sampai dengan pukul 02:00 dini hari.

Dugaan saya, waktu itu saya sedang mengerjakan sesuatu yang sangat membosankan. Kemungkinan besar waktu itu sedang mengedit cover story Majalah Hidup. Waktu itu saya sedang di Kota Sorong, Papua Barat. Karena bete, dalam kondisi tidak sadar penuh saya menulis cerpen itu. Setelah selesai saya langsung tidur. Paginya lupa kalau tadi malam habis menulis sebuah cerpen. Kembali ke Jakarta makin lupa lagi. Andaikan saya tak iseng membuka-buka file untuk diseleksi dan dibuang, cerpen Pertunjukan ini akan benar-benar terlupakan. Hari itu juga saya langsung mengirimkan cerpen temuan saya itu ke Harian Kompas.
***

https://frahardi.wordpress.com/2018/03/20/antara-sadar-dan-tidak-sadar/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *