3 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *

1. KEMATIAN VASCO TRANA, SANG NATURALIS

Saya hikmati tangga nada terakhir simponi Beethoven nomor 9, saya terpana menatap sebingkai lukisan abad pertengahan, saya membaca seuntai soneta yang memilukan, saya menulis prosa tentang satu spesies bunga beracun yang mampu membunuh kupu-kupu dengan serbuk sarinya, saya berjalan menembus padang ilalang di seberang sepuing huma, mata saya menangkap cahaya matahari hinggap di lengkung embun sewarna cermin, awan-awan yang seperti gumpalan kapas di sayap tempua, jejak-jejak anoa pada jalan setapak berlumpur di tepi hutan, dan, pagi ini, saya melihat bulan seperti pipi halus seorang dara… **)

Itu adalah kalimat terakhir, di halaman terakhir, pada catatan harian Vasco Trana, seorang naturalis Portugis yang terpikat menyusuri aneka flora sepanjang garis khayali Alfred Wallace, tertanggal 15 Juni 1899. Sebulan setelah itu ia menghilang dan tak pernah kembali. Menurut laporan resmi polisi Hindia Belanda tertanggal 16 September 1899, yang patut diragukan kebenarannya, sang naturalis mendadak lenyap setelah bertekad memburu dua spesies anggrek hitam yang hanya tumbuh pada satu punggung gunung berapi di Sulawesi.

Tersentak membaca catatan harian puitis Vasco Trana, setahun sebelum Albert Einstein menerbitkan teori foton yang ganjil di jurnal Annalen der Phsyik, saya menduga naturalis Portugis itu tergolong ilmuwan penyuka puisi-puisi romantis seperti Charles Darwin. Menurut saya nyaris tak ada naturalis Eropa pada saat ini yang memiliki kepekaan estetik setara Vasco Trana ketika melihat fenomena alam. Atau, bisa jadi, mereka kini terlalu sibuk mengejar paten ribuan obat herbal yang harganya tak bakal terjangkau sekedar tiga puluh sen upah harian kuli-kuli kontrak onderneming di Jawa. Para kuli itu lebih suka menghabiskan separuh upahnya untuk membeli candu.

Pada suatu siang yang panas dua tahun lalu, sambil memandang lengkung ombak membuih di pantai, saya membayangkan Vasco Trana duduk meringkuk pada satu pojok penjara pemerintah kolonial Belanda di Makassar. Hal yang membuatnya benar-benar tersiksa, bukan sebab ia mesti bernapas sebui dengan maling lada dan begal pala, tetapi karena ia tak memiliki kertas dan pena untuk menuliskan catatan hariannya.

Saya berpikir, seperti setoreh luka lama dalam konflik perdagangan rempah di Tarnate dan Tidore, pemerintah kolonial Belanda menganggap temuan-temuan Vasco Trana dalam bidang flora bisa jadi berbahaya bila jatuh ke perusahaan-perusahaan obat dari Portugis dan Inggris, yang, tanpa wasangka berlebih, telah tersohor seantero Eropa sebagai pemangsa rente paling ganas dan hanya mampu disaingi oleh hiu-hiu kelaparan dari Laut Merah. Maka, dengan rasionalisasi selicin lendir di kulit sidat, dibuatlah sebendel laporan resmi yang luar biasa komprehensif, sekaligus dibumbui sedikit cerita-cerita gaib. Di dalam laporan rahasia polisi kolonial Belanda itu terungkap Vasco Trana diculik atas perintah seorang kepala suku tak dikenal yang hobi mengunyah biji mata musuhnya.

Kisah tentang hilangnya Vasco Trana pertama kali saya dengar dari Daeng Parewa, sahabat sekaligus pemilik rumah tempat Vasco Trana tinggal selama lima tahun di Makassar. Waktu itu saya tengah mengadakan penelitian tentang beberapa spesies mamalia langka di Sulawesi. Awalnya, di tengah kesibukan saya sebagai seorang naturalis Inggris yang teracuni secara ketat oleh metode ilmiah, saya tertarik untuk secara dingin dan objektif melakukan semacam penyelidikan independen guna mengungkap fakta tersembunyi di balik hilangnya Vasco Trana. Meski penyelidikan itu sebenarnya saya lakukan sebagai selingan belaka. Selanjutnya, setelah saya membaca laporan resmi yang cukup menggelikan dari polisi kolonial Belanda, serta mengumpulkan kesaksian berbagai pihak, saya justru tertarik menuliskan temuan saya terkait hilangnya, atau lebih tepat penghilangan, Vasco Trana dalam suatu cerita detektif bergaya novel “The Notting Hill Mystery” karya Charles Felix.

Oleh karenanya, bersama surat ini, saya kirimkan kepadamu naskah novel “Kematian Vasco Trana, Sang Naturalis” untuk diterbitkan. Dengan beberapa pertimbangan, yang jelas demi keselamatan saya sendiri, saya menyamarkan nama-nama tokoh dalam novel itu (termasuk nama asli Vasco Trana). Saya percaya kepadamu, sebagai seorang editor dari penerbit yang cukup berwibawa di London, akan menjaga identitas saya dan fakta sebenarnya di balik penyiksaan keji sang naturalis Portugis, Vasco Trana, di dalam penjara benteng Fort Rotterdam di Makassar.
_________

**) Kutipan ini bersumber dari surat seorang naturalis Inggris Mr. Edward B. Illiad yang ditujukan kepada kepada Mrs. Ellis Henderson, seorang editor magang dari satu penerbit novel detektif yang cukup ternama di London, tertanggal 26 September 1907.

2. THE SCARY DAYS

Cing Xiu, pembuat guci penyimpan abu jenazah keluarga, percaya Batavia akan jadi tungku pembakaran mayatnya. Kadang sejarah tak peduli pada harmoni, pada Yin-Yang, pada gerak air dalam gentong tanah teraduk jurus Tai Chi Cuan; dan pada pertengahan abad ke-18 ramalan Cing Xiu pun terwujud. Pemberontakan Kampung Cina dipadamkan tentara kompeni dengan api. Tubuh Cing Xiu ditemukan hangus memeluk sebuah guci.

Tiga abad telah berlalu, takdir keturunan Cing Xiu bertukar tangkap dengan lepas, hingga seorang Cing Xiu yang lain mendadak memutuskan siklus ramalan terkutuk itu. Begitulah, sebelum berita Agresi Militer Belanda yang kedua menyulut perlawanan koran-koran pergerakan di Jawa, untuk pertama kalinya Cing Xiu mendengar tentang kisah terkutuk nama moyangnya langsung dari bibir bergetar ayahnya—yang juga bernama Cing Xiu. “Jika setiap nama orang di muka bumi ini diperkenankan punya sejarah,” kata ayahnya, “tentulah aku tak sudi berakhir hangus di dalam tungku raksasa pembakaran tembikar.” Jadi, wajar saja, bila kini ia putuskan bahwa sejarah terkutuk nama moyangnya itu, dengan sikap paling pragmatik dari seorang pedagang elektronik, tiada lain sekedar mitos penghibur rasa tertekan ayahnya—mantan wartawan koran pergerakan, pejuang kesepian yang diabaikan secara sistematis oleh aib kepentingan para penguasa. “Kita ini orang Cina,” kata ayahnya, “dan orang Cina berarti bukan orang.”

Suatu pagi, beberapa tahun lalu, selembar surat sedih dilayangkan melintasi benua: “Mei 1998, aku tak ingat tanggalnya dan memang tak akan sudi kuingat lagi. Saat itu aku berusia dua belas tahun, ayahku dan kakekku tengah bersembunyi di dalam satu rumah-toko yang dikunci dari luar oleh puluhan penjarah gila. Pengepungan itu dipimpin beberapa lelaki bersurban sambil menyeru-nyeru nama Tuhan yang, bahkan, akan membuat sekawanan badak ketakutan. Ayahku, seperti setiap ayah yang bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anaknya, bermaksud sebisa-bisa melindungi urat nadi usaha keluarga. Namun, ramalan maut sang pembuat guci memang mesti digenapi. Kakekku dan ayahku (yang juga bernama Xing Ciu) tewas terkurung di lantai dua rumah-toko milik kami. Menurut laporan polisi yang kudengar dari ibuku (pada saat pembakaran keji itu terjadi, aku dan ibuku telah lebih dulu mengungsi ke Batam), mayat ayahku dan kakekku ditemukan meringkuk dengan tubuh hangus mengenaskan.”

Sendiri memasuki gerbang suwung dini hari, setelah bertahun-tahun terbenam dalam kuala kenangan, pelan-pelan saya tulis ulang tiga bagian kesaksian sahabat saya itu, Cing Xiu, seorang penyair kelahiran Semarang yang terpengaruh puisi-puisi Edgar Allan Poe. Kini ia tinggal bersama ibunya di Portland, di satu kawasan perbukitan yang menghadap ke pantai. Saban hari ia suka menyusuri jalan setapak menuju hutan maple, tak jauh dari belakang rumahnya. Bila tiba petang pohon-pohon maple di hutan itu akan disinggahi kawanan gagak. Pada tahun 2008 kumpulan puisi pertamanya terbit dan ia beri judul “Tiga Korban”. Saya berharap, dalam terbitan kedua, ia akan mengubah judul bukunya menjadi “Empat Korban”. Meski, saya tetap merasa yakin, ia tak akan pernah kembali ke tanah moyangnya.
______________

3. PENIS SANG JENDRAL

Mereka panggil aku, “Idiot!” Belum cukup, kadang mereka tambahi dengan gelar fantastis yang diawali kata “sang… “, semacam perpaduan dari simbol-vegetatif-kemiskinan dengan fiksi saintis yang kelewatan, seperti “sang idiot berbau jengkol dari luar angkasa”, atau, “sang idiot yang kencingnya bau pete dari planet mars”. Aku (bukan tak paham makna ejekan tersebut) hanya diam tersenyum di balik topeng idiotku. Dan kini, jenderal tua itu (adalah aku lima puluh tahun kemudian), masih dengan kecerdasan-idiotik masa kanaknya, telah lama membuang jauh-jauh setiap bisikan rasa bersalah ke sudut hatinya, dan, dengan pikiran sedingin dinding es di kutub selatan, ia tanpa sungkan memanipulasi amuk massa paling absurd sebagai kewajiban nasionalisme tanpa cela.

“Bahkan, jika kalian mesti membantai dua juta nyawa rakyat di negeri ini, jangan pernah merasa bersalah. Sebab kita sedang melindungi masa depan bangsa dari gerombolan para bajingan tanpa Tuhan,” katanya suatu malam dalam rapat terbatas para jenderal yang ia anggap paling setia—jenderal-jenderal yang akan menjalankan perintahnya tanpa bertanya. Bahkan andai ia menyuruh memotong penis mereka sekalipun, mereka akan dengan tulus ikhlas melakukannya, sebab mereka percaya pada doktrin nasionalisme tanpa cela untuk melindungi masa depan bangsa, dan, tentu saja mereka akan merasa sangat dihormati bila penis-penis mereka dikuburkan di taman makam pahlawan dengan suatu upacara militer.

Namun, tentu saja, dengan kesadaran yang sesadar-sadarnya, ia memang tak akan pernah memerintahkan kedua tangannya memotong penisnya sendiri. Ia menganggap perintah potong penis itu hanya rasional, sekali lagi hanya rasional, jika dan hanya jika dilakukan kepada selain dirinya. Sebab, ia adalah sang pelindung masa depan bangsa. Sungguh tidak lucu, pikirnya, jika sang pelindung masa depan bangsa mendadak berpidato tanpa penis.
_________________

*) Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandarlampung, 15 Juli 1972. Ia telah menerbitkan kumpulan puisi “Perawi Tanpa Rumah” (2013), “Sabda Ruang” (2015), “Hara Semua Kata” (2018) “Perawi Tanpa Rumah (Edisi revisi, 2018), “Perawi Rempah” (5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *