3 Cerita Mini tentang Kolonialisme Karya Ahmad Yulden Erwin *

1. KAMPUNG PECAH KULIT

Banyak cara menghukum pada masa VOC. Keluyuran sebab hilang pekerjaan; sembarangan parkir gerobak di jalan; berbohong (utamanya kepada para meneer); tidur di bawah pohon; bahkan bila kau tanpa sengaja muntah di jalan akibat masuk angin: jelaslah kau sangat layak dijatuhi hukuman. Pukulan rotan, kerja paksa, atau dilempar ke bui selama tiga hari adalah jenis-jenis hukuman yang lumayan beradab demi menegakkan disiplin kaum inlander.

Khusus bagi para pengkhianat tentu ada hukuman lebih setimpal. Salah satunya hukuman bagi Pieter Elbelved. Menurut catatan harian panitera pengadilan Basiliun von Barend di Batavia, tertanggal 5 Juli 1722, Peter Elbelved adalah calo tanah blasteran Jerman-Jawa. Yudas Pengkhianat Kaum Kulit Putih ini dihukum Gubernur Jenderal Zwaardecroon tersebab berkomplot membantu serangan Raden Kartadria, priyayi Mataram, ke Batavia.

Tepat pukul dua belas siang, setelah pada pagi harinya tiga politierol (bila kini, kita bisa menyebut mereka hansip) keliling kampung mengumumkan putusan pengadilan, tibalah saat eksekusi bagi Peter Elbelved di satu tanah lapang. Cuaca terlihat sedikit mendung. Di bawah tatapan kuyup ratusan mata penduduk kampung, kedua tangan dan kaki Pieter Elbelved diikat, lalu, tanpa ampun, ditarik empat ekor kuda sampai putus; dari sanalah nama Kampung Pecah Kulit bermula.

___________

2. AIB 50 GULDEN

Meneer Peter van Houfs diberi gelar oleh para jongosnya sebagai “Lelaki Tidak Biasa”. Gelar itu muncul bukan karena ia sering melakukan berbagai tindakan yang tidak biasa, seperti makan roti keju dengan cabe rawit, atau minum wine dicampur bubuk lada dan kapulaga yang ia sebut wine-rempah versi Hindia-Belanda, tetapi karena ia sering latah menyisipkan kata-kata “tidak biasa” saat sedang bercakap dengan sahabat atau jongosnya. Kali ini, ijinkan aku menceritakan tentang Meneer Peter van Houfs menurut sudut pandang istri van Houfs, Nyonya Irene. Kuharap kau mau membaca surat tidak biasaku ini sampai akhir.

Irene, sang nyonya yang bermata biru dan berambut hitam itu, dengan kulit kuning indo yang luar biasa mulus dan sanggup membuat semut dari jenis apa pun tergelincir, nyaris setiap hari mencatat dengan detil dalam catatan hariannya berbagai kelakuan tak biasa dari suaminya. Misalnya: 21 November 1857, Rabu… Aku benar-benar kesal hari ini, si tua bangka van Houfs itu, semoga setan-setan kalap di neraka tak lupa mencambuk punggungnya, benar-benar kelewatan. Dengan kegilaan manusia paling barbar yang telah kehilangan rasa malu, dan terjadi tepat di depan ujung hidungku, ia menyuruh Ponirah, ya Ponirah, gadis jongos yang ketiaknya menyemburkan bau minyak pala itu, lewat seuntai kata-kata beracun, “Hei, kamu Ponirah, seperti TIDAK BIASA kamu pijet punggung saya nanti malam yah…” Dasar tua bangka, meneer tua bangka!… Atau ini: 26 November 1857, Minggu… Semoga setan-setan di neraka menarik lidahnya, aku amat mual saat ia menyapa teman dagangnya dalam suatu pesta malam minggu, “Selamat malam Meneer Harmesma. Meneer 50 Gulden yang hina ini dengan TIDAK BIASA berharap penuh setulus-tulusnya, agar Meneer 100 Gulden selalu sukses menjual lada terbaik yang TIDAK BIASA hanya kepada saya.” Betapa menjijikkan basa-basi tidak biasa dari bajingan tua itu.

Demikianlah, lewat catatan hariannya, lebih tepatnya makian hariannya, si Nyonya 50 Gulden itu, yang selalu ramah menyambut suaminya dengan “oh sayangku” saat pulang kerja, bisa dengan aman menumpahkan segala kekesalan hati terhadap suaminya. Sebagai istri seorang meneer yang terhormat, ia mestilah selalu bersikap hormat kepada siapa pun, terlebih kepada suaminya, karena ia, bagaimanapun, tetaplah seorang perempuan terhormat dari Kerajaan Belanda. Hingga suatu hari, sehabis merasakan pijatan yang TIDAK BIASA dari Ponirah, aku, ya aku yang disapa jongosku sebagai Meneer Peter van Houfs, membaca catatan harian Nyonya 50 Gulden itu. Catatan harian itu tersimpan rapi di dalam satu peti kayu, nyaris begitu hati-hati, ditutupi karung-karung goni, di gudang tua bekas tempat penyimpanan ladaku. Dengan sedikit rasa aneh, selembar demi selembar, kubaca aibku sendiri.

___________

3. ROSSIANA BUKAN RATU SHEBA

Perempuan-perempuan pribumi di Batavia, pada abad ke-18, menurut neneknya yang mendapat cerita dari buyutnya, adalah perempuan paling tabah terhadap bau badan suaminya. Pada tahun 1775, gubernur jenderal di Batavia melarang pemaksaan mandi dua hari sekali kepada soldadoe garnizun. Mereka cuma mandi seminggu sekali. Sementara “istri-istri” mereka, perempuan-perempuan pribumi yang wangi, dibebaskan mandi dua hari sekali.

Pada masa itu, Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra, yang tersohor dengan gelar “Meneer Pesta”, karena kecanduannya yang tak tertahankan pada pesta-pesta malam, mengimpor budak-budak perempuan dari Bali, Sulawesi, bahkan Koromandel di India. Dampaknya, sudah jadi sas-sus umum, bahwa perselingkuhan antara meneer Belanda dan budak perempuan pribumi (dan dari India juga) mulai merajalela di Batavia.

Salah satu kisah pilu, tepatnya sas-sus yang menyedihkan, adalah kisah Rossiana. Awalnya, sebagai budak perempuan umur enam belas tahun dari Bali, Rossiana (tentulah bukan nama aslinya) terpaksa seminggu sekali melayani nafsu-perselingkuhan-surgawi sang meneer yang membelinya. Pada masa itu, masyarakat Eropa yang kecanduan dengan rempah-rempah dari Hindia, memiliki mistifikasi keliru dengan menganggap rempah-rempah dihasilkan oleh tanaman yang diturunkan langsung dari surga. Setiap selesai menjemur lada dan kayu manis, Rossiana selalu didekati sang meneer yang mengendus-ngendus payudaranya seperti seekor anjing pudel, dan berkata, “Ah, Rossi… Bau tubuhmu seperti wangi surgawi Ratu Sheba…” Dan gadis berkulit coklat itu cuma terkikik malu. Itulah awalnya perselingkuhan sang meneer, dibumbui semacam mistifikasi bau tubuh istri Solomo, dengan budak perempuan bertubuh ramping dan berdada montok dari negeri seribu pura. Makin hari imajinasi mistis akan bau tubuh Ratu Sheba itu makin tak terkendali, dan hidung anjing pudel sang meneer pun minta dilayani nyaris setiap hari. Hingga akhirnya, istri sang meneer, nyonya Belanda yang bermata biru dan berambut ikal pirang, mencium bau busuk perselingkuhan suaminya.

Suatu malam, saat suaminya sedang berdinas menjalankan tugas persekutuan dagang untuk membeli lada di desa-desa, sang nyonya Belanda itu memerintahkan para jongos lelakinya mengumpulkan kayu bakar, membekap dan menculik Rossiana dari kamar budaknya, mengikat tubuhnya ke tiang kayu di hutan kecil, lalu membakarnya hingga jadi arang. Pagi harinya, beberapa jongos perempuan, yang tak tega mendengar nasib tragis gadis belia itu dari para jongos lelaki, mengumpulkan abu jenazahnya, lalu menghanyutkannya ke arus sungai Ci Liwung. Mereka berdoa semoga abu jenazah gadis Bali itu dapat “berlayar” pulang dengan damai ke tanah leluhurnya, ke kerajaan para Dewata.

Namun, saya masih merasa, kisah ini mungkin sedikit dilebih-lebihkan.

___________

*) Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandarlampung, 15 Juli 1972. Ia telah menerbitkan kumpulan puisi “Perawi Tanpa Rumah” (2013), “Sabda Ruang” (2015), “Hara Semua Kata” (2018) “Perawi Tanpa Rumah (Edisi revisi, 2018), “Perawi Rempah” (5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *