EMIRATES

Muhammad Antakusuma

“What you like to drink, Sir?” tanya seorang pramugara Emirates ke Omar yang duduk di sebelahku.

“Corona! Heineken!” jawab runtut Omar ketika si pramugara menjawab tidak ada.

“We only have Budweiser,” adalah penawaran si pra­mugara. Sambil menikmati hiburan di layar depan tempat duduknya, ia habiskan tiga kaleng bir.

Aku, sekadar basa-basi menanyakan apakah ia suka bir bintang?
“Problem?” balasnya.

Nada bicaranya terkesan, “Masalah buat lu kalau gue minum bir?”

Tapi sepertinya dia ingin mengatakan, “Apakah saya boleh minum?”

Sepertinya dia memerhatikan salatku beberapa menit setelah pesawat lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta.

Walaupun lembaran menu sudah disajikan di awal penerbangan, namun makan malam baru ditawarkan se­telah aku mencicipi beberapa film. Django Unchained, film bertema lawas yang kurang menghibur dalam pener­bangan lama. Stand Up Guys, film yang penuh dengan per­cakapan yang membosankan. Dua-duanya dibintangi ak­tor favoritku, Leonardo DiCaprio dan Al Pacino. Namun ternyata bau makan malam lebih mengasyikkan.

“Chicken or beef?” sapa Pramugara.

Langsung kuminta ayam karena kupikir menu ayam yang berbumbu oriental beserta nasi tomat dan sayur kai-lan lebih menggairahkan. Lebih enak ketimbang menu daging sapi, sejenis rendang (Beef empal balado: classic recipe of braised beef, served with local vegetable and coco­nut rice). Betul enggak? Ah, rugi dong naik pesawat mahal dengan menu pinggir jalan seperti di warung makan pa­dang.

Si Omar diberi nasi sapi.

“Chicken?” tanyanya ke Pramugara.

Oh, ia ternyata mau nasi ayam. Ia menawariku, tapi aku tidak mau.

“Wait a minute, I’ll be back,” kata pramugara ke Omar. Tapi Omar tetap memakan nasi sapi yang diberikan.

Ketika pramugara yang lain lewat, dari logatnya, ku­pikir ia berasal dari Inggris. Eh, ternyata dari Prancis. Omar mencoba mengungkapkan lagi keinginannya, “Chicken.”

Si pramugara mencoba menjelaskan kalau penum­pang tidak boleh meminta lebih dari satu menu.

“Chicken,” Omar terus mengulang.

“I can’t give you now, I have to service the others,” begitu kira-kira jawaban si pramugara setelah Omar mencoba memakai bahasa tubuh supaya si pramugara memberinya nasi ayam yang ada di troli makanan. Akhir­nya si pramugara yang santun dan lembut itu berjanji un­tuk kembali. Tapi sepertinya si Omar tidak begitu mengerti bahasa Inggris. Kucoba untuk menjelaskan ke­padanya bahwa si pramugara akan kembali. Dia menyi­ratkan simbol mengerti dan melanjutkan makan.

Ketika sedang menikmati roti pembuka dengan olesan mentega dan keju, rasanya ada sesuatu yang jatuh mengenai kakiku. Aku tahu benar benda itu dari meja si Omar. Kubiarkan saja. Sensasi chicken mousakhan benar-benar enak. Di layar di depanku, seorang pelacur menjilat telinga Al Pacino.

Si pramugara yang tadi berjanji akan kembali tidak kembali. Nasi sapi Omar sudah habis. Setiap pramugara yang lewat, setiap itu juga si Omar menagih nasi ayamnya.

Permintaan si Omar dijawab oleh seorang pramu­gara, “It is chicken, Sir!”
“No, beef,” begitu kira-kira kata Omar, tidak mau ka­lah.

Kulirik ke penutup piring makannya. Tulisannya memang “chicken”, tapi kuyakin Omar makan nasi sapi. Iseng-iseng aku menganalisis sambil menunggu hidangan teh hangat. Aha, ternyata si Omar mengambil penutup mangkok temannya yang berstiker “chicken” setelah pe­nutup alumunium foilnya yang berstiker “beef” jatuh ke kakiku.

Si pramugara akhirnya juga memberi Omar nasi ayam. Dasar, kenapa lu habisin nasi sapi kalau lu maunya nasi ayam? Apa lu doyan dua-duanya?

Aku kemudian bertanya ke Abdul, pria yang duduk di sebelah si Omar, “Saudi Arabia?”

“Ya,” jawabnya.

Dua setengah jam lagi sampai Dubai. Lebih dari tujuh can bir sudah dihabiskan si Omar, termasuk di antaranya adalah dua kaleng Heineken.

“One more?” candaku.

“Qul Masyaallah,” balasnya.

Ah, mungkin dia memang tidak mengerti bahasa Inggris!

2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *