YANG CANTIK DAN YANG TERPIKAT


[Penari Tanggo, Lukisan Ndix Endik]
Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan di belantara WhatsApp, terdapat perbincangan seputar perempuan yang “harus shaliha”. Menurut seseorang, perempuan harus dapat memberikan kepuasan seksual kepada suaminya, itu baru disebut “shaliha”. Sehingga dengan “ke-shaliha-an” itu, ia dapat selamat dunia sampai alam baka. Tapi laki-laki tak diharuskan memberikan kepuasan seksual. Inilah kira-kira pengertian purba, bahwa perempuan itu budak, dianggap sekadar pemuas kelamin laki-laki. Hingga seorang perempuan—yang dikisahkan di alam WhatsApp tersebut, harus memakai pakaian yang merangsang sahwat pasangannya, bergincu, dan berparfum. Maksudnya agar suami tidak melirik perempuan lain yang lebih menarik secara seksual, lalu melakukan poligami. Alangkah hina dan dangkalnya kesetiaan seorang laki-laki jika diukur dengan baju, parfum, gincu, dada dan bokong yang agung. Betapa asing menemukan kesetiaan dalam sebuah rumah. Kesetiaan yang sesungguhnya nilai keimanan.

Bagi Heidegger, tatkala perempuan tampil dengan tubuhnya, ia adalah realitas yang mesti diperlakukan dan dipandang tak belaka tubuh, tapi juga jati diri. Tak boleh terjadi tafsir tunggal yang mutlak kebenarannya dalam memandang dan memperlakukan realitas tersebut. Memandang dan memperlakukan perempuan yang tampil dengan kebertubuhannya secara seksual belaka adalah sikap subyektif dari “pikiran yang lancang”. Seperti film porno yang tak obyektif. Sesungguhnya tidak genting. Karena kebertubuhan adalah wajar dan niscaya. Sahwat tak butuh pornografi. Tapi pornografi membutuhkan “sahwat yang diselenggarakan” guna meraih perhatian gila yang tak terjelaskan. Orang berbondong-bondong “membeli” dengan harga yang tak masuk akal

Keberagaman tafsir terhadap perempuan sebagai tubuh dan diri, sejatinya suatu keniscayaan. Sejauh tafsir tak memonopoli kebenaran, benturan kepentingan yang berdiri pada konteks yang berbeda-beda dapat terhindarkan. Sehingga terjadilah sebentuk proses pengenalan dan pengertian-pengertian wajar terhadapnya. Sebagai teks, kebertubuhan perempuan tak menghendaki tafsir yang tunggal. Tafsir tunggal merupakan upaya pengambilalihan realitas pada subyektifitas belaka. Suatu keingkaran! Memandang perempuan hanya seksualitas dan menyampahkan kompleksitas realitasnya sebagai perempuan adalah pengingkaran kemanusiaan. Dalam teks agama, ia pengkufuran terhadap pencipta realitas yang mahakaya itu.
***

Sahdan tersebutlah seorang perempuan tercantik di Sicilia. Wajahnya menggoda, bibir yang empuk merekah, tatapan mata yang liar, rambutnya menggerai menakjubkan, kedua dada yang menggunung agung, bokong indah yang bergerak-gerak kenyal ke kiri dan ke kanan tatkala berjalan. Dia bernama Malena. Sosok makhluk seksi ini diwakili Monicca Belucci. Siapa tak kenal Monicca Belucci? Perempuan Italia yang kedua kaki jenjangnya dapat menggoda sekitar pusar laki-laki ini, memerankan Malena dengan segala narasi indah tubuhnya. Tetapi keindahan tubuh itu pula yang membawanya pada celaka. Film “Malena” (2000) karya Guisseppe Tornatore ini seolah menyindir—atau justru menegaskan, bahwa kecantikan yang dimiliki seorang perempuan merupakan kutukan takdir atasnya. Kutukan yang tak terhindarkan, yang dapat menjerumuskan si empunya kecantikan tersebut ke dalam celaka, ke dalam nasib buruk yang penuh derita. Dalam doktrin agama, ia dikurung dan dibungkus rapat-rapat. Pun dalam tradisi. Perlakuan tak adil terhadap perempuan beserta kecantikannya, tak hanya dilakukan laki-laki, tapi juga dilakukan perempuan itu sendiri. Ia kerapkali menjadi bidikan mudah untuk dilimpahi kesalahan dan petaka. Ia dianggap lemah, kemudian dihakimi sebagai biang kehancuran pada suatu keadaan tertentu. Kecantikan itu—yang dimiliki perempuan tanpa diminta sebelum ia dilahirkan, kadangkala menjelma sosok pembunuh kejam yang menikam si empunya.

Malena yang memesona itu, harus bersedia ditinggalkan suaminya ke medan perang. Sicilia pada 1940, tatkala Perang Dunia II. Kaum lelaki di situ terpesona pada pinggul kenyal Malena. Pandangan kaum lelaki itu, tak lain hanya pandangan seksual semata. Sosok perempuan cantik dan seksi, sendiri ditinggal suaminya ke medan laga membela bangsa dan negara. Kaum istri di kota kecil itu iri, merasa takut, dan khawatir suami-suami mereka tersangkut di bawah selangkangan Malena yang harum, mulus, dengan aroma ganjil yang memikat hidung dan lidah laki-laki. Tak hanya laki-laki dewasa, seorang remaja berumur 12 tahun pun terpesona pada daya tarik seksual Malena yang memabukkan. Remaja 12 tahun bernama Renato itu, jatuh hati pada Malena. Tapi apa daya, usianya masih ingusan. Namun pandangan seksualnya bangkit dan bergolak dahsyat. Renato selalu mengikuti Malena, mengintipnya, mencuri celana dalamnya yang tipis dan halus, yang menyimpan aroma keringat dari bokong Malena. Ia melakukan onani, membayangkan melakukan hubungan seksual dengan Malena, sang pujaan hati. Pandangan seksual laki-laki pada perempuan—dalam film ini, menjadi keniscayaan yang tak terbantahkan. Semua pandangan laki-laki pada Malena adalah pandangan seksual. Sudut pandang laki-laki, kata Simond de Beauvoir. Bagi kaum laki-laki dalam film ini, Malena dipandang sebagai obyek seksual belaka. Tak lebih! Semua menginginkan Malena, tua dan muda. Semua jatuh tersungkur tak berdaya pada pesona Malena, mirip kisah keanggunan perempuan bernama Tince Sukarti Binti Mahmud dalam lagu Iwan Fals yang termashur itu. Sebuah “komedi seksual” dalam film ini, menghadirkan “kejorokan kelamin” yang menjijikkan, cabul. Tapi lucu. Oh alangkah naifnya manusia. Namun “komedi seksual” itu, membawakan pula narasi kelam, sial, dan tragis. Nasib kemanusiaan yang absurd.

Dalam tekanan dan penghakiman sosial, Malena tak kuasa menghadapi, cuma karena ia memiliki kecantikan dan tubuh yang sempurna. Namun Malena mempertahankan kesetiaan cintanya pada sang suami yang pergi ke medan perang. Hingga tibalah kabar, suaminya gugur. Malena mempertahankan hidup, menyerahkan tubuh dan kecantikannya sebagai pelacur pada tentara Jerman. Para istri di kota kecil itu semakin punya alasan menghakimi Malena. Para istri itu membenci kecantikan Malena lantaran takut suami-suami mereka jatuh ke dalam pelukan Malena, membeli Malena untuk ditiduri. Kisah ini mirip kisah “Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi”nya Seno Gumira Ajidarma. Beramai-ramai para istri di kota kecil itu menelanjangi Malena di tempat umum, menganiaya agar kecantikannya rusak, kemudian menggunduli rambutnya. Tragis dan keji.

Perempuan seringkali tak menyadari jadi obyek, atau pihak yang dikutuk, dan korban dari suatu keadaan. Film ini banyak menghadirkan komedi dan tragedi seksual. Tetapi ia menyampaikan sebuah narasi yang tiba pada sudut terjauh dalam hati manusia, betapa menyedihkan sang manusia dalam mempertahankan harga dirinya, melayani hasrat dan pilihan-pilihan hidupnya. Dalam kenangannya pada perempuan tercantik dan paling memikat hatinya, remaja yang bernama Renatoi mendesah tatkala ia telah menyadari kedewasaannya; “satu-satunya yang kukenang dalam hidupku, ialah seorang perempuan yang tak pernah bertanya. Dialah Malena,” katanya.

Kecantikan bukan tanpa resiko, lantaran ia harus menerima kenyataan dunia padanya, pandangan dan sikap tak adil, yakni sikap dan pandangan seksual belaka. Apakah manusia makhluk seksual? Jujur Prananto seakan mempertanyakan hal itu dalam cerita “Dua Wanita Cantik” (Kompas, 2004). Kenapa cantik? Dan kenapa harus “wanita”? Barangkali pada tradisi heteroseksualitas, ditegaskan dalil sahih, bahwa siapa yang mengidamkan wanita, pastilah laki-laki. Dan wanita itu akan mendapati dirinya begitu penting apabila ia didambakan atau diingini laki-laki. Di situ seringkali perempuan—yang disebut “wanita” itu, tak sadar—atau bahkan sangat sadar, dirinya adalah obyek. Tetapi waktu tak selalu berpihak pada pihak yang dianggap lemah itu, kendati dunia telah menepuk diri sebagai yang maju, beradab, dan—pada sebagian lagi, merasa paling tahu Tuhan dengan keangkuhannya beragama, atau merasa paling tahu manusia dalam berbudaya. Meski dengan begitu, dunia tak pernah bisa memungkiri, ia tak mungkin hidup tanpa perempuan. Namun kenapa dunia tak bisa hidup damai bersama perempuan? Pertanyaan ganjil ini seolah tak pernah terpecahkan dalam realitas hidup sehari-hari. Kadang menjadi humor aneh yang tak terhindarkan.

Kedunggebang, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *