MITOS KECEMASAN

Taufiq Wr. Hidayat

Pada suatu malam, tatkala lampu-lampu di sebuah kota dinyalakan—tak akan disebutkan di mana kota yang dicekam malam itu dalam esai ini, ketakutan datang bagai dari zaman purba. Lampu-lampu menyala tanpa siapa-siapa. Ketakutan dan kekhawatiran itu memasuki rumah-rumah, perkantoran, perhotelan, tempat-tempat yang biasa disinggahi orang, sarana-sarana transportasi. Ada yang diam-diam menjadi sunyi. Ketakutan itu seolah berasal dari suatu zaman, saat makhluk-makhluk selain manusia menguasai dan berjaya pada sebagian besar wilayah yang ditempati atau yang digunakan manusia. Yang masih manusia, cemas. Ia merasa tak kuasa melawan makhluk selain manusia itu. Kecemasan pun mewabah. Mewabah seperti penyakit yang tak mudah diselesaikan dan yang mengerikan. Kecemasan itu menggedor pintu-pintu, menyusup melalui jendela-jendela rumah, tempat-tempat publik, sekolah, rumah-rumah peribadatan. Kecemasan itu datang hanya untuk mengajarkan ketakutan yang tak punya kepastian dan jalan keluar. Tetapi yang diam-diam diselenggarakan dan dipelihara. Peristiwa imajinatif tersebut mengingatkan saya pada sebuah puisi Afrizal Malna yang termashur, yang ditulisnya sekitar setahun setelah ia menerbitkan kumpulan puisi dalam “Abad yang Berlari”. Baiknya saya menuliskan puisi itu secara utuh.

MITOS-MITOS KECEMASAN
Afrizal Malna

Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, saat-saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan menulis di situ. Tetapi kami sering mengalami kebutaan, saat merambahi hari-hari gelap gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang menggetarkan tanah ini. Burung-burung beterbangan memburu langit, mengarak gunung-gunung keliling kota.

Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak membelah waktu, mengucap diri dengan bahasa asing. O, impian yang sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal, siapakah pengusaha besar yang memborong tanah ini. Kami ingin tahu di mana anak-anak kami dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.

Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari kecemasan menggenang, seperti tak ada, yang bisa disapa lagi esok pagi.

1985

“Seperti tak ada, yang bisa disapa lagi esok pagi” seolah mantra yang mendiami kecemasan yang tak punya jalan keluar, melesat “membelah waktu”. Puisi ganjil ini ditulis pada 1985, tatkala Indonesia tengah menghadapi “wabah pembangunan” yang mencapai puncak tak tertangguhkan, yang wabah itu mengharuskan tumbal nasib manusia. Penderitaan yang lemah, dan kekalahan orang-orang di lapisan bawah. Derita dan kekalahan itu, dimulai dari ketakutan yang ditebarkan dan dijaga oleh senjata. Atau harapan kosong yang palsu, kebohongan dan hasutan. “Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, saat-saat kami kesepian,” katanya. Afrizal menyimpan firasat buruk akan masa depan. Bahwa senjata telah menjelma kenangan, menggoda manusia ketika ia kesepian. Kesepian tak ada yang diajak bicara, bertukar kata, atau tak ada ledakan, tak ada jeritan penyakit dan kematian. Dan zaman melesat, manusia rindu pada senjata yang ampuh. Sedang para nabi dan rasul-rasul ekonomi terus berdakwah. Saat puisi itu ditulis, Afrizal Malna belum mengenal android, ia mencetak puisi-puisinya dengan mesin stensil. Tiap peristiwa kala itu, hanya bisa menebar bagai wabah melalui radio. Sedang hari ini, ia dapat menyaksikan para penebar berita ketakutan dan ancaman berkhotbah melalui layar sentuh atau pun pengeras suara yang merobek telinga. Melalui kekuasaan. Mempersiapkan kegundahan ekonomi dunia. Yang semua disebabkan oleh bencana alam, penyakit, dan peperangan. Dan kita benar-benar telah mensahihkan, hari ini dunia sudah meninggalkan radio.

Dunia memang tempat yang rawan, kata seseorang entah siapa. Tapi di manakah tempat selain di bumi yang lazim disebut dunia ini? Orang tak punya pilihan. Ia harus tetap berada di sebuah wilayah yang berbahaya, yang disesaki oleh perang, kebencian, dan penyakit mematikan. Namun dasar manusia makhluk yang unik menurut dirinya sendiri di alam semesta, sekaligus paling membingungkan. Ia sanggup bahagia hidup di dalam derita dan bahaya. Ia mampu menjadikan derita dan bahaya sebagai bahan dasar kebahagiaan. Hanya manusia yang sanggup menciptakan keamanan di dalam bahaya, dan bahaya di dalam keamanan. Ia menciptakan damai di dalam peperangan, perang di dalam kedamaian.

Bagai dari zaman purba, kecemasan itu menjadi mitos. Mitos pembangunan dan kesejahteraan. Mitos penyakit dan kesembuhan. Dan mitos-mitos itu didirikan dalam laju waktu yang terburu, dijaga ketat oleh senjata dan kepentingan, disembah sebagai Tuhan, kemudian diajarkan dalam khotbah dan dalil-dalil yang meyakinkan. Kemanusiaan menghilang di antara ketakutan itu. Ketakutan yang diajarkan kecemasan. Orang-orang berdesakan, berebut tempat buat dirinya sendiri.

Tetapi apakah sesungguhnya yang terjadi di suatu malam yang dikerubung kecemasan itu? “Ada syair yang tiba pada rasa terjauh dalam diri manusia, tatkala di dalam malam yang dalam,” kata orang Jawa dalam “Kidung Rumekso ing Wengi”. Ia ingin dan berharap kuat jiwa-raga, jauh dari penyakit, derita, peperangan, dan kehancuran. Sebuah harapan jiwa. Harapan kemanusiaan. Dalam khasanah Jawa, ialah yang tak hanya selamat buat dirinya sendiri. Penjagaan dan pemeliharaan kebersamaan dalam kasih-sayang yang saling menyelamatkan. “Sluman slumun slamet,” kata mantra Jawa yang mashur. Bukan yang saling menghabisi demi sebuah kepentingan yang lebih kuat dan berkuasa.

Muncar, 2020

_______________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *