Berpijak pada Terompah Sastra dan Kesaksian

Heri CS
Jawa Pos, 31 Agu 2014

Keunggulan cerpen-cerpen Martin tidak terletak pada kemampuannya berlentur-lentur kata, melainkan bagaimana kisah-kisah yang melatarbelakangi kehadirannya. Kisahnya masih tentang kesaksian malapetaka 1965, namun dalam suasana yang lebih cair dan gamblang.

Buku kumpulan cerita pendek Mati Baik-Baik, Kawan (Ultimus, 2014) memuat 13 cerpen penulis senior Indonesia, Martin Aleida. Buku cetakan kedua ini lahir di tengah polemik Martin yang dicutat atas pemberian Penghargaan Akademi Jakarta 2013. Buku ini pada cetakan pertama diterbitkan pada tahun 2009 oleh penerbit Akar, Yogyakarta. Pada cetakan kedua ini juga disertakan 5 esai kritikus serta sahabat yang sebelumnya pernah dimuat di media massa dan makalah. Terbitan pertama memuat 9 cerpen dan pada cetakan baru ditambah 4 cerpen. Keempat cerpen itu yakni, Perempuan yang Selalu Menggelitik Pinggangku, Melarung Bro di Nantalu, Batu Asah dari Benua Australia, dan Tiada Darah di Lamalera.

Di usia memasuki 71 tahun, Martin masih memukau dan lincah menganggit cerpen atas “kredo” sastra kesaksiannya. Energi Martin seperti tak pernah habis untuk menuturkan sejarah kelam berkaitpaut dengan peristiwa 1965. Staminanya masih prima di tengah penulis-penulis lain yang susah payah dan terengah-engah menulis sejarah yang hingga kini terus diperdebatkan. Martin menganggit fiksi-sejarah dengan tanpa beban. Sementara, penulis sejarah lain mesti menjumput setumpuk referensi dan catatan kaki.

Seperti dalam buku-buku kumpulan cerpen sebelumnya, Martin dalam Mati Baik-Baik, Kawan tetap menunjukkan kelasnya sebagai “saksi sejarah” sekaligus kreator. Prosais dan mantan wartawan Tempo yang piawai menjadikan perjumpaan dengan tokoh maupun sahabat menjadi narasi sastra yang apik. Martin tak hendak menunjukkan, namun mengisahkan. Ia tak hanya ingin berbagi, namun juga lebih dari sekadar memberi. Sarat isi dan pemaknaan.

Berbekal pengetahuan dan kepekaan, Martin yang lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara ini bak pendongeng romantis dan humoris. Dongeng tak asal mendongeng. Dongeng sejarah kelam rezim Orde Baru yang bukan untuk meninabobokan. Kata-kata yang dilahirkan umpama mantra literer. Arswendo Atmowiloto, menyebut, cerpen Martin seperti narasi ludah tak bergetah. Ludah yang bertuah. Bahkan, sampai pada kutukan katanya adalah doa. “Bagi saya, tulisan Martin adalah tombak yang diacungkan dan bendera merah bertuliskan sejarah 1965 yang terus dikibarkan,” ujar Arswendo.

Martin, dalam catatan saya telah melahirkan 9 buku. Kalaupun buku cetakan kedua dengan beberapa tambahan tulisan ini turut dihitung maka menjadi 10 buku. Buku-buku yang telah terbit itu antara lain: Jangan Kembali Lagi, Juli (cerpen, 1969), Malam Kelabu, Ilyana dan Aku (cerpen, 1998), Layang-Layang itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi (novelet, 2000), Leontin Dewangga (cerpen, 2004), Jamangilak Tak Pernah Menangis (novel, 2004), Mati baik-Baik Kawan (cerpen, cetakan pertama, 2009), dan Langit Pertama Langit Kedua (cerpen, catatan perjalanan, esai, kritik dan perdebatan, 2013).

Romantisme Tragik

Membaca cerpen-cerpen pada buku setebal 212 halaman ini, pembaca akan melihat sisi lain sejarah yang kelam dalam balutan kisah romantisme orang-orang yang dikisahkannya. Martin memang tidak hendak memparodikan sejarah dan kisah-kisah nyatanya. Namun, dia seolah hanya ingin menyampaikan, bahwa kisahnya patut didengar dan diabadikan agar tidak hanyut ke sungai masa lalu.

Pada beberapa cerpen, pembaca dapat membaca begitu romantisnya kisah percintaan dua manusia yang berlatar belakang prahara 1965. Pada cerpen Malam Kelabu, kisah antara Partini dan Armada, tak kalah syahdu dan tragis apabila dibandingkan dengan kisah Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Apabila Romeo meminum racun untuk menyusul Juliet yang sudah meninggal. Maka, Armada yang hendak menyusul kepergian Partini yang tewas dibantai warga karena menyembunyikan paman yang diduga terlibat komunisme, memotong urat nadi, urat nadi leher, dan perutnya di atas Jembatan Bacem. Saya petilkan satu bagian di pengujung kisahnya.

“Ah…. Partini, aku datang menyusulmu.” Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang kedengaran tak lebih dari rintihan. Darah membasahi bajunya, membasahi tubuhnya. Membasahi aspal jembatan yang sudah rusak, menetes-netes ke atas permukaan air yang mengalir di bawah.

Akhirnya tubuh itu kehilangan semua tenaganya setelah nyawa yang mengisinya terbang entah ke mana. Dia bukan Kamaludin Armada lagi. Dia hanya tubuh yang sudah mati, mematah di pertemuan perut dan paha, terkulai di trali, dan jatuh mencebur ke dalam arus Bengawan Solo (hal. 42).

Cerita itu lahir dari kisah pahit Martin pada sosok mertuanya. Pada buku Langit Pertama Langit Kedua (Nalar, 2013), ia berkisah pada tahun 1966 dipenjara selama kurang lebih setahun di kamp konsentrasi Operasi Kalong di KODIM 0501, Jalan Kemuliaan, Jakarta Pusat. Di sana ia dikurung bersama beberapa rekan di surat kabar Harian Rakjat–termasuk Njoto beserta istri, Tarni dan kelima anaknya. Sampai akhirnya ia dibebaskan berkat surat wasiat dari kedua orangtua yang “sudah teken mati” akan berlayar dengan kapal laut selama tiga bulan untuk menunaikan ibadah haji.

Kehadiran cinta tak bisa ditolak ketika hadir meskipun di dalam masa tahanan. Lelaki kelahiran 31 Desember 1943 ini dipertemukan dengan gadis sederhana asal Solo, Sri Sulasmi (63). Sri sendiri ditahan di ruang dapur KODIM 0501 bersama tahanan perempuan lain. Saat berada di tahanan Sri mengasuh bayi Njoto dan Tarni yang disebut Martin, si Butet Kecil yang masih merah.

Martin kepada saya bercerita dalam sebuah kesempatan di Pondok Maos Guyub, Kendal, sampai saat ini setiap pergi ke Solo bersama istri harus menyeret langkah dengan hati seberat batu menuruni tebing Bengawan Solo. Di sana mereka melarung kembang sesajen untuk membuat semerbak perjalanan air yang diarungi mertua. Dahulu, mertua atau ayah Sri, setelah disuruh tentara untuk jongkok, ditembak, dan jasadnya ditendang, dilarikan arus entah ke mana.

Sementara, pada cerpen Perempuan yang Selalu Menggelitik Pinggangku, pembaca akan terbawa pada cinta yang terhalang tembok seorang mahasiswa yang memperoleh beasiswa kuliah di Moscow, Rusia. (hal 133-143). Ilham cerpen yang dimuat di Kompas, Minggu, 18 November 2012 itu berasal dari sosok yang bernama Djoko Sri Moeljono. Pun, pada cerpen Melarung Bro di Nantalu yang menceritakan tentang Bro, seorang eksil yang tak pernah lagi memperoleh kewarganegaraan yang sangat ia cintai karena dinistakan oleh sejarah kelam pascatragedi 1965. Kecintaan itu dibawanya mengembara dari satu negara ke negara lain. Dari Tiongkok hingga ke Paris. (hal.145-152).

Buku ini menurut saya, layak dikonsumsi publik penikmat sastra, budaya, hingga sejarawan. Buku ini mampu menjadi tambahan perspektif perihal peristiwa 1965. Sebab, kisah ditulis langsung oleh orang yang mengalami peristiwa 1965, bukan melalui kesaksian penyintas. Dari sudut pandang “sastra kesaksian”, isi buku ini bisa disejajarkan dengan prosa lain seperti novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam, Entrok karya Okky Madasari, serta Pulang karya Leila S. Chudori. Katrin Bandel dalam esai yang ikut dimuat dalam buku ini menyatakan, kumpulan cerpen ini sangat berarti sebagai bagian dari perjuangan melawan pemalsuan sejarah Indonesia yang terus berlangsung (hal. 208).

Catatan akhir, dalam buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang (Marjin Kiri, 2013), Arswendo juga disebut turut andil dalam mendukung orde baru saat pembuatan film Pengkhianatan G30S/PKI yang memosisikan PKI sebagai antagonis–musuh negara yang harus ditumpas. Pun, dalam novel karya Arswendo yang berjudul sama yang diterbitkan Sinar Harapan, 1986. Tahun 1986, Arswendo menulis novel Pengkhiatan G30S/PKI, berdasarkan film dengan judul sama sutradara Arifin C. Noer. Film dan novel itu dijadikan bahan kampanye untuk memberangus mereka yang dituduh komunis dan samasekali tidak berbicara mengenai korban pasca-1965. Sekarang Arswendo memberikan apresiasi yang tinggi pada cerita-cerita pendek yang ditulis Martin—yang menjunjung tinggi suara para korban. Di sini menariknya Martin–orang yang bisa bersahabat dengan orang yang dahulu pernah dalam catatan sejarah turut andil berkarya–dimana karya itu nyata-nyata menyudutkan korban-korban yang dibelanya.

Melalui Martin dan juga karya-karyanya, kita melihat kebiadaban dalam prasasti sejarah tragedi 1965. Entah sampai kapan kisah dan jejak sejarah kelam ini akan berujung. Entah sampai berapa lagi presiden berganti di negeri ini, namun Martin tetap akan berpijak pada terompah sastra dan kesaksiannya.
***

*) Heri CS, Penggiat sastra di Komunitas Lereng Medini, Boja, Kendal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *