Sastra Indonesia Dianaktirikan

Cetak Biru Kebudayaan DIY
Iman Budhi Santosa *
Kedaulatan Rakyat, Maret 2015.

Sejak dasa warsa 60-an, Yogyakarta sudah diakui sebagai salah satu sentra pertumbuhan dan pengembangan sastra Indonesia dan Jawa. Tolok ukurnya antara lain, karena prestasi penulisan kreatif sastrawannya yang membanggakan. Regenerasi sastrawan pun juga terus berlanjut hingga setiap periode muncul karya-karya sastrawan Yogya yang memberi warna khas pada zamannya.

Apabila pencapaian tadi dianggap istimewa, agaknya keistimewaan itu lebih disebabkan oleh besarnya etos bersastra dan tingginya kreativitas serta kemandirian para sastrawan. Bukan lantaran Yogyakarta sebagai daerah istimewa, maka pertumbuhan dan pengembangan sastra juga ‘diistimewakan’. Dalam arti, sastra memperoleh dukungan dan fasilitas ‘istimewa’ dari pemerintah sehingga menghasilkan prestasi-prestasi yang ‘istimewa’ pula.

Dalam sejarahnya, dukungan bersastra di Yogya paling nyata justru datang dari lembar kebudayaan media massa koran/majalah, komunitas sastra, kampus, penerbit buku, dan lembaga seni budaya swasta. Sementara dukungan dari instansi/lembaga pemerintah kebanyakan hanya diwujudkan lewat program tahunan Balai Bahasa dan Taman Budaya. Ternyata, dalam kondisi seperti itulah sastra Indonesia dan Jawa menemukan ‘keistimewaan’-nya di Yogyakarta.

4 Cabang Seni

Dengan diberlakukannya UU Keistimewaan DIY, seakan bertiup angin segar bagi sastra karena memperoleh perhatian dari pemerintah. Ada 4 cabang seni yang ditetapkan sebagai binaan oleh Pemprof DIY, yaitu: seni rupa, seni pertunjukan, seni sastra, dan seni multi media; baik tradisional maupun modern.

Dalam draft awal Cetak Biru Kebudayaan DIY yang diterbitkan Dinas Kebudayaan awal 2015, diam-diam sastra sudah menunjukkan ‘keistimewaannya”. Yaitu, uraian mengenai sastra hanya menempati lebih kurang 1,5 halaman saja, dan yang diprioritaskan adalah sastra Jawa. Sementara pemaparan kesenian lain sampai berhalaman-halaman banyaknya. Draft awal Cetak Biru juga mendata organisasi kesenian di DIY. Tercatat di sana: organisasi seni rupa 16, organisasi seni pertunjukan 5.223, organisasi perfilman 42, permainan tradisional 34, kerajinan properti budaya 246, galeri seni rupa 34, penghargaan seniman/budayawan 261, tokoh seniman/budayawan 487.

Walaupun Cetak Biru Kebudayaan DIY baru merupakan draft awal yang perlu dikritisi dan mungkin direvisi, namun dengan minimnya pemaparan mengenai kebijakan sastra akan memunculkan sekian banyak pertanyaan mendasar. Misalnya, mengapa tidak satu pun organisasi/komunitas sastra di Yogyakarta yang tercatat di sana? Mengapa hanya sastra Jawa yang diketengahkan? Di mana posisi sastra Indonesia? Bagaimana jika gara-gara draft awal itu masyarakat sastra Indonesia merasa dianak-tirikan? Misalnya, tim penyusun draft awal kurang data mengenai sastra Indonesia dan Jawa di DIY mengapa tidak mengundang dan bertanya kepada aktivis sastrawan di Yogya yang puluhan jumlahnya.

Dari pengamatan kasar selama 2014 s.d awal 2015 saja, kegiatan sastra yang berupa pergelaran di Yogya tetap lebih banyak yang dilaksanakan secara mandiri. Hanya beberapa even tertentu yang memperoleh dukungan dana pemerintah, termasuk danais. Demikian juga penerbitan buku-buku sastra. Sebagian kecil penerbitan buku sastra memang diprakarsai dan didanai oleh penerbit. Namun, kebanyakan justru para sastrawan sendirilah yang merogoh kocek untuk membiayai penerbitan buku-bukunya, termasuklaunching hingga pemasarannya.

Dalam iklim bersastra seperti itu, terkesan sastra menjadi sangat minoritas di Yogya. Berbeda jauh dengan seni pertunjukan maupun seni rupa. Konon, berbagai even pameran seni rupa, juga pergelaran seni pertunjukan (teater, ketoprak, wayang orang) benar-benar telah didukung dana dari pemerintah (danais) hingga ratusan juta rupiah.

Mungkin, ada baiknya pemerintah DIY dan masyarakat sastra saling membuka diri dan membangun silaturahmi. Sebab, sastra Indonesia dan Jawa benar-benar telah menyumbangkan prestasi besarnya secara nyata bagi Yogyakarta. Sehingga, agak mengherankan jika dalam era keistimewaan ini sastra hanya menjadi penonton. Apalagi Yogyakarta juga sudah menyandang predikat besar sebagai ‘kawah candradimuka’-nya calon sastrawan besar di Tanah Air kita ?

_____________
*) Penulis adalah penyair dan pemerhati budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *