Dua Puisi Karya Warsan Shire, Penyair Somalia

Diterjemahkan Ahmad Yulden Erwin, 27-9-2015

YANG MEREKA LAKUKAN SORE KEMARIN

mereka membakar rumah bibiku
seperti perempuan di televisi aku pun tersedu
terlipat di tengah
serupa lembaran uang lima pound.
kutelpon pemuda yang dulu pernah mencintaiku
sebisa-bisa membikin suaraku terdengar ‘oke’
kusapa halo
ia bertanya, warsan, apa yang salah, apa yang terjadi?

aku telah berdoa,
dan beginilah doaku;
tuhan sayang
aku berasal dari dua negara
yang satu didera kehausan
yang lain dilanda kebakaran
keduanya kini membutuhkan air.

larut malam itu
kuletakkan atlas di pangkuanku
telunjukku bergerak ke seluruh permukaan bumi
seraya bertanya lirih
di manakah yang terasa perih?

atlas itu menjawab
di mana-mana
di mana-mana
di mana-mana.

RUMAH *)

tak seorang pun meninggalkan rumah
kecuali rumah adalah mulut hiu
kau hanya melarikan diri ke perbatasan,
ketika kaulihat seluruh penduduk kota mulai mengungsi

para tetanggamu berjalan lebih cepat ketimbang dirimu
hingga napas berdarah dalam tenggorokan mereka
bocah lelaki teman sekolahmu dulu
yang menciummu hingga pusing di belakang pabrik kaleng tua
memegang senapan yang lebih besar ketimbang tubuhnya
kau hanya meninggalkan rumah
ketika rumah bukan lagi tempat yang ramah.

tak seorang pun meninggalkan rumah
kecuali rumah telah menghalaumu
api di bawah kaki
darah panas dalam perutmu
hal begitu bukanlah tindakan yang terpikir untuk kaulakukan
hingga pisau membara itu mengancam lehermu
dan bahkan kau masih menyimpan lagu kebangsaan
di dalam hatimu
merobek paspormu di toilet bandara
terisak hingga setiap suap sobekan kertas di mulutmu
membuat segalanya menjadi jelas, kau tak akan kembali.

kau seharusnya paham,
tak seorang pun menempatkan anak-anaknya ke dalam perahu
kecuali perairan lebih aman ketimbang daratan
tak seorang pun akan membakar telapak tangannya
bergelantungan di bawah kereta
di bawah gerbong-gerbongnya
tak ada yang mau berhari-hari dan bermalam-malam
bertahan di dalam perut truk
malahap lembaran koran kecuali setiap mil perjalanan
menawarkan hal yang lebih baik
tak ada yang mau merangkak di bawah pagar
tak ada yang mau dipukuli
dikasihani

tak seorang pun memilih kamp pengungsi
atau lajur untuk membaringkan
tubuhmu yang tinggal rasa sakit
atau penjara,
karena penjara masih lebih aman
ketimbang kota terbakar
dan seorang penjaga penjara
pada malam hari
lebih baik ketimbang satu truk besar
penuh lelaki yang terlihat seperti ayahmu
tak seorang bisa menahan semua itu
tak seorang pun yang tak jadi mual
tak seorang pun yang berkulit cukup tebal

semua
kaum hitam mesti pulang,
para pengungsi
imigran kotor
pencari suaka
penghisap negara kami hingga kering
kaum negro dengan tangan meminta
semua mencium bau aneh
kebiadaban
negara mereka dan sekarang mereka ingin
mengacaukan negara kami
sebagaimana kata-kata kotor mereka
membalikkan punggungmu
mungkin karena satu pukulan terasa lebih lembut
ketimbang satu anggota tubuh yang sobek

atau kata-kata yang lebih lembut
keluar dari mulut empat belas lelaki di antara
sepasang kakimu
atau penghinaan yang lebih mudah
ditelan
ketimbang puing-puing
ketimbang tulang-tulang
ketimbang potongan tubuh
anak-anakmu.
aku ingin pulang ke rumah,
tapi rumah adalah mulut hiu
rumah adalah laras pistol
dan tak seorang pun meninggalkan rumah
kecuali rumah terus menghalaumu hingga ke pantai
kecuali rumah berkata
agar mempercepat langkahmu
menanggalkan pakaianmu di belakang
merangkak melewati gurun
menyeberangi lautan
tenggelam
diselamatkan
kelaparan
mengemis
melupakan seluruh harga diri
sebab bertahan hidup bagimu lebih penting saat ini

tak seorang pun meninggalkan rumah
hingga rumah adalah suara berkeringat di telingamu
yang berkata—
tinggalkan,
larilah dariku sekarang juga
aku tak tahu apa yang telah terjadi
namun aku tahu bahwa di mana saja
jauh lebih aman ketimbang di sini.

______________________
*) Puisi ini dipakai oleh UNHCR dalam kampanye penyelamatan para pengungsi dari Syria.

***

WHAT THEY DID YESTERDAY AFTERNOON

they set my aunts house on fire
i cried the way women on tv do folding at the middle
like a five pound note.
i called the boy who used to love me
tried to ‘okay’ my voice
i said hello
he said warsan, what’s wrong, what’s happened?

i’ve been praying,
and these are what my prayers look like;
dear god
i come from two countries
one is thirsty
the other is on fire
both need water.

later that night
i held an atlas in my lap
ran my fingers across the whole world
and whispered
where does it hurt?

it answered
everywhere
everywhere
everywhere.

HOME

no one leaves home unless
home is the mouth of a shark
you only run for the border
when you see the whole city running as well

your neighbors running faster than you
breath bloody in their throats
the boy you went to school with
who kissed you dizzy behind the old tin factory
is holding a gun bigger than his body
you only leave home
when home won’t let you stay.

no one leaves home unless home chases you
fire under feet
hot blood in your belly
it’s not something you ever thought of doing
until the blade burnt threats into
your neck
and even then you carried the anthem under
your breath
only tearing up your passport in an airport toilets
sobbing as each mouthful of paper
made it clear that you wouldn’t be going back.

you have to understand,
that no one puts their children in a boat
unless the water is safer than the land
no one burns their palms
under trains
beneath carriages
no one spends days and nights in the stomach of a truck
feeding on newspaper unless the miles travelled
means something more than journey.
no one crawls under fences
no one wants to be beaten
pitied

no one chooses refugee camps
or strip searches where your
body is left aching
or prison,
because prison is safer
than a city of fire
and one prison guard
in the night
is better than a truckload
of men who look like your father
no one could take it
no one could stomach it
no one skin would be tough enough

the
go home blacks
refugees
dirty immigrants
asylum seekers
sucking our country dry
niggers with their hands out
they smell strange
savage
messed up their country and now they want
to mess ours up
how do the words
the dirty looks
roll off your backs
maybe because the blow is softer
than a limb torn off

or the words are more tender
than fourteen men between
your legs
or the insults are easier
to swallow
than rubble
than bone
than your child body
in pieces.
i want to go home,
but home is the mouth of a shark
home is the barrel of the gun
and no one would leave home
unless home chased you to the shore
unless home told you
to quicken your legs
leave your clothes behind
crawl through the desert
wade through the oceans
drown
save
be hunger
beg
forget pride
your survival is more important

no one leaves home
until home is a sweaty voice
in your ear saying–
leave,
run away from me now
i dont know what i’ve become
but i know that anywhere
is safer than here

__________________________
Warsan Shire (1988) adalah penyair perempuan kelahiran Kenya, tinggal dan dibesarkan di Somalia, kemudian terpaksa menjadi pengungsi mengikuti kedua orang tuanya akibat konflik bersenjata di Somalia, sebelum akhirnya menjadi warga negara Inggris. Ia mengalami trauma akibat perang dan baru benar-benar sembuh pada usia 25 tahun. Puisi-puisi perempuan muda berusia 25 tahun ini banyak mengangkat tema-tema konflik di negara yang membesarkannya, di Somalia, negara yang hancur oleh kelaparan, perang saudara, pertikaian etnis dan agama, pula keserakahan memperebutkan sumber daya alam. Somalia, di dalam hati Warsan, mungkin seperti sebuah bola dunia yang terluka dan, ia berharap, kita semua ikut merasakan perihnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *