Novel Cantik (Eka Kurniawan) Itu Luka


Fatah Anshori *

Sebelum membicarakan lebih jauh tentang novel ini. Mungkin sebaiknya bertanya dulu pada diri, apakah kita percaya pada buku-buku sejarah yang sudah terpelajari di bangku sekolah, bahwa itu kejadian sesungguhnya dari sebuah sejarah bangsa. Apa buku itu memang seratus persen benar, tidak dikurangi atau ditambah-tambahi meski sedikit saja. Lebih-lebih jika kita tahu setiap aib, bagaimanapun selalu ingin disembunyikan, atau lebih baik dihapus saja, jika itu memungkinkan. Barangkali itulah sikap skeptis saya terhadap sejarah, setelah membaca Cantik Itu Luka.

Pertama saya sadar, setiap buku memiliki sudut pandang masing-masing. Termasuk juga buku sejarah. Atau mungkin seperti ini, pada tahun-tahun tertentu, peristiwa di suatu tempat jelas berbeda dengan peristiwa di tempat lain. Itulah yang mungkin terjadi dengan Halimunda. Sebelumnya, saya sempat penasaran dengan Halimunda, dan iseng mencarinya di Google. Namun yang saya temukan kebanyakan hanya Halimunda yang berkaitan dengan novel Cantik Itu Luka. Hal ini mengingatkan pada sebuah novel yang memiliki setting tempat bernama Macondo, karena saya agak lupa dan hanya pernah membacanya dalam sebuah esai. Saya agak lupa dengan judul dan nama penulisnya. Yang pasti, Macondo juga merupakan sebuah tempat imajiner yang tidak ada di dunia nyata. Mungkin Halimunda juga seperti itu.

Terakhir saya lebih suka menyebutnya bahwa ini merupakan cerita tentang tragedi di suatu tempat bernama Halimunda. Sejak Post Kolonialisme hingga Nusantara, telah memproklamirkan kemerdekaan. Kita akan merasakan bagaimana suatu sejarah dimasa Kolonialisme Belanda di Halimunda, Masa Kolonialimse Jepang, dan sejarah-sejarah kelam Indonesia yang terjadi di suatu tempat. Menurut saya, novel ini memiliki latar belakang cerita yang sangat kuat.

Di satu sisi saya percaya novel ini fiksi semata, namun sisi lain seakan dituntut percaya kisah itu benar pernah terjadi di suatu tempat dalam masa tertentu. Dan saya yakin, ketika kita dengan jujur menyebut jumlah suatu bilangan atau nama tempat, itu akan membuat orang percaya tentang cerita kita. Sebagaimana berkata jujur, kita akan menyebut apapun dengan ringan dan tentunya tidak membuat orang curiga atas perkataan kita. Sebaliknya ketika berbohong, apa yang dikatakan kerap menutup-nutupi dan tidak mengandung kejelasan. Selanjutnya, saya kerap menghela napas takjub karena logika cerita yang dibuat sangat kuat. Di novel ini, Eka Kurniawan seolah sedang membuat sejarah lengkap tentang Indonesia di mata Halimunda.

Dalam salah satu jurnalnya, Eka Kurniawan pernah mengatakan bahwa keseluruhan novel ini dibangun atas deskripsi, adegan, dan sedikit dialog. Di sini dialog hanya berfungsi sebagai humor, ironi, atau punch-line—katanya sendiri—dan itu benar adanya. Novel ini diolah dari sebagian besar narasi daripada dialog sebagaimana planet kita disusun banyaknya limpahan lautan dibanding daratan. Entah kenapa narasi Eka benar-benar menyenangkan dan kerap diselipi humor yang pas tidak berlebihan. Kalimat-kalimatnya tampak elegan, dan sama sekali tidak berlebihan. Entah bagaimana, saya merasa Eka menyajikan kalimat yang tidak membuat mual para pembaca.

Saya sebenarnya lebih tertarik dengan cerita bahwa novel Cantik Itu Luka pernah mengalami penolakan berkali-kali dari beberapa penerbit. Namun Eka Kurniawan yakin, cepat atau lambat novelnya akan menemukan penerbit. Jika tidak salah, sebelumnya novel ini berjudul O, Anjing. Saya agak-agak lupa. Saat itu Eka sendiri mendapat pesan dari seorang editor, bahwa kurang lebih novel yang baik itu serupa novelnya Kuntowijoyo atau Mangunwijaya, kurang lebih seperti itu.

Di sini saya tak bercerita dengan detail isi novel ini sebagaimana seorang dalang pewayangan. Namun setelah membaca novel setebal 479 halaman ini saya seolah telah belajar banyak tentang sejarah, filsafat, mitologi, cerita sureal, pemberontakan, hal-hal gaib, pemikiran menyimpang, hidup yang gelap, dan tentu saja teknik-teknik menulis yang baru. Bagaimana cara menculik tokoh dan menyeretnya dalam cerita baru. Dan bagaimana menulis cerita dengan main-main, tapi membuat orang percaya. Terakhir, saya baru mengerti “kau bisa melakukan apapun yang kau suka dalam cerita yang sedang kau tulis.”

_______________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya terpublikasi di Website Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *