Kesaksian Martin Aleida, Kesadaran Kita


Berto Tukan *

PERKENALAN pertama saya dengan Martin Aleida terjadi pada 2003 melalui cerpen Kesaksian Ganja Kering Basah Air Mata. Saya kala itu begitu terhenyak dengan kompleksitas problem yang diangkat Aleida di dalam karyanya tersebut.

Betapa tidak. Ada perihal HAM (hak asasi manusia) yang berhubungan dengan DOM (daerah operasi militer) Aceh. Ada ganja sebagai barang ilegal serta ada seorang mahasiswi yang kesulitan dengan biaya kuliah.

Saya tentu saja ketika itu tiada tahu-menahu perihal siapa, dan bagaimana latar belakang penulis cerpen yang dimaksud. Bahwa ia adalah seorang penyintas tragedi 1965, di belakang hari barulah saya ketahui.

Martin Aleida memang dikenal produktif melahirkan cerpen berlatar tragedi 1965. Hal itu tampak setidaknya dari beberapa buku kumpulan cerpennya. Kedekatan Aleida pada tragedi 1965 diperkuat juga oleh buku nonfiksinya, Tanah Air Yang Hilang (Penerbit Buku Kompas, 2017).

Di awal 2020, penulis kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 31 Desember 1943 itu, sebelum pandemi Covid-19 memorak-porandakan keseharian kita, menerbitkan Romantisme Tahun Kekerasan: Sebuah Memoar (Somalaing Art Studio, Maret 2020). Dengan memoar itu, minimal dari pembacaan saya, kita akan mengenal lebih jauh seperti apa sastrawan yang bernama kecil Nurlan tersebut dan dari mana kisah-kisah yang ditorehkannya dalam rupa cerita pendek berasal. Sepanjang buku, kita akan mengenali peristiwa-peristiwa, orang-orang, pengalaman, dan pemikiran Aleida yang bertebaran di banyak cerpennya sebelumnya.

Romantisme Tahun Kekerasan memperjelas motif dan landasan karya-karya fiksi Aleida; dari sumur mana sajakah inspirasi ditimbanya. Sebagai apresiator atas memoar yang tidak bisa tidak membuat manusia yang masih memiliki hati nurani trenyuh, dan merasa ada sesuatu yang ingin deras mengucur dari mata, di bawah ini saya akan membagikan dua hal yang saya garis bawahi dari pengalaman Martin Aleida. Tentu saja masih banyak hal lain yang bisa ditimba dari memoar yang dimaksud.

Tertangkap dengan “Indah”

Kebanyakan dari kita mengidentifikasi Martin Aleida sebagai penulis dengan spesialisasi permasalahan 1965; khususnya keberpihakan kepada korban G 30 S 1965 dan kejadian-kejadian setelahnya di dalam konteks itu. Perihal apa itu peristiwa G 30 S 1965 dan tragedi 1965, saya kira tak perlu lagi diuraikan di sini.

Martin Aleida adalah salah satu korban tragedi tersebut. Hal itu tampak jelas di dalam Romantisme Tahun Kekerasan: Sebuah Memoar, pun di dalam referensi-referensi yang lain.

Aleida yang kala itu bernama Nurlan ditangkap pada 21 Oktober 1966, malam hari. Bersamanya, tertangkap pula lima orang lain; Putu Oka, Arifin, Mujio, Zaini, dan T. Iskandar A.S. Penangkapan itu pun terjadi dalam momen yang katakanlah ”indah”; sesuatu yang estetik menyesakkan hati atau katakanlah sesuatu yang saking menyedihkannya, terlihat indah.

Penjara Denotatif dan Penjara Konotatif

Sejak penangkapan itu, Nurlan menghuni kamp tahanan Operasi Kalong, di seberang Komando Distrik Militer 0501, di belakang gedung Bank Indonesia, Jakarta. Ia ditahan tidak sampai setahun. Ia lantas dilepaskan.

Martin Aleida belakangan mendaku tidak tahu alasan ia dilepas. Ia percaya bahwa surat dari ayahnyalah yang menyebabkan hal itu. Ayah dan ibunya pada akhir 1966 hendak menunaikan ibadah haji. Dan, sebelum berangkat, sang ayah mengiriminya surat wasiat. Demikian kesaksian Martin Aleida di dalam Tribunal Rakyat Internasional 1965 di Den Haag beberapa tahun silam.

Dalam hal ini, Nurlan bisa dibilang beruntung. Namun, keberuntungan itu bukan berarti membuat hidup Nurlan menjadi jauh lebih baik.

Ia justru menghadapi sesuatu yang lebih mengerikan; memasuki sebuah ”…kamp konsentrasi yang lebih besar. Sebuah penjara tak bertepi, dilingkung langit (halaman 106)”. Nurlan merasakan demikian, dan memang demikian adanya, lantaran, ”…tak seorang kawan pun yang tertinggal di dunia bebas ini. Semua sudah diringkus sampai tumpas (halaman 106).”

Bagaimana bisa hidup merupakan sebuah pertanyaan yang krusial. Bagi Nurlan, saya kira, bebas dari penjara menjelma dilema. Di satu sisi, bahagia terlepas dari segala siksaan fisik, meski Aleida mengakui bahwa ia tidak mendapatkan siksaan dari para penjaga, namun sebagaimana hidup di kamp, tentu saja jauh dari kata manusiawi. Juga terlepas dari siksaan psikis. Tapi, di sisi lain, masa depan yang sama sekali kabur dan tak pasti sudah menunggu.

Sepanjang Romantisme Tahun Kekerasan, bagian kisah dari Nurlan dibebaskan hingga menjadi wartawan Majalah Tempo adalah bagian tuturan yang paling membuat dada trenyuh. Mulai menyusuri rel kereta api untuk mencari teman, berjualan di pasar dan kaki lima, mendatangi rumah kekasih yang lantas menjadi istrinya di sebuah desa di Solo, sampai awal-awal bertemu kakak kandung di Pelabuhan Tanjung Priok.
***

Sebagai sebuah memori, memori ini penting kita baca karena di sana tercatat begitu banyak fakta yang membantu kita memahami tragedi 1965 dan memahami hidup orang-orang yang terdampak setelahnya.

Banyak juga tokoh penting, terkhusus di kalangan penulis dan sastrawan yang berafiliasi dengan Lekra maupun PKI, disebutkan dan diceritakan Aleida di sini. Bagi mereka yang melakukan studi sastra dan studi sejarah, tentu ini merupakan data yang berharga.

Namun, jika dua hal itu tak ada di sana, memori dari orang seperti Martin Aleida ini, orang yang mengarungi tiga bahkan empat masa penting untuk kita di masa kini.

Judul: Romantisme Tahun Kekerasan: Sebuah Memoar
Pengarang: Martin Aleida
Penerbit: Somalaing Art Studio, Jakarta.
Terbitan: Maret 2020
Ketebalan: 271 halaman

*) Berto Tukan, Aktif di ruangrupa; sebagai editor jurnalkarbon.net dan di Gudskul: Studi Kolektif dan Seni Rupa Kontemporer, Jakarta.
https://www.jawapos.com/minggu/buku/05/04/2020/kesaksian-aleida-kesadaran-kita/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *