Gus Dur, Sastra dan Diplomasi untuk Palestina

Siswanto *

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan salah satu tokoh yang berada di garda terdepan dalam perjuangan Kemerdekaan Palestina. Sudah puluhan tahun orang-orang Palestina tidak mendapatkan keadilan, tanahnya dirampas dan hak-haknya dibungkam. Jalan panjang telah dilakukan banyak pihak, baik internal maupun eksternal, dan negara-negara ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui diplomasi.

Sebagai pemimpin, Gus Dur melakukan banyak upaya dalam perjuangan Palestina, baginya ini suatu amanat bagi Nahdlatul Ulama (NU) untuk terus berupaya bahwa Indonesia, NU pada khususnya ikut dalam perjuangan Palestina, dan mengutuk segala bentuk penjajahan. Kita ketahui, Gus Dur tokoh penting yang banyak memberikan kontribusi dan dekontruksi didalam tubuh NU, salah satunya menggagas Khittah Nahdliyah pada Musyawarah Nasioal Alim Ulama 1983 dan Muktamar NU ke- 27 di Situbondo tahun 1984, bersama dengan KH. Ahmad Shiddiq sebagai Rais Aam, Gus Dur sebagai lokomotif utama berperan dalam keberlangsungan Khittah 1926 dibawah tekanan Orde Baru.

Empat aspek utama dalam gagasan besar Khittah 1926 yaitu: NU tidak lagi terikat pada partai politik manapun; NU kembali pada dasar perjuanngan yaitu organisasi keagamaan seperti yang tercantum dalam Qonun Asasi Nahdlatul Ulama; Menerima Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk final, dan penegasan kembali supermasi ulama di dalam jamiyyah Nahdlatul Ulama.

Diawal-awal kemerdekaan Indonesia, Faunding Father kita telah ikut dalam perjuangan Palestina, hal yang pernah dilakukan oleh Bung Hatta dalam Perjanjian Komisi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949 di Belanda, bahwa Palestina mengakui sepenuhnya kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan kedaulatan rakyat dan wilayahnya. Langkah dan dukungan yang telah dilakukan Palestina dalam masa-masa sulit bangsa Indonesia memberikan angin segar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan suatu pengakuan basa-basi, bahkan sesungguhnya kemerdekaan itu hak segala bangsa, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan. Itulah amanat yang tertuang dalam Undang-Undang yang telah dicanangkan Faunding Father bangsa Indonesia.

Melawan dengan Sastra

Pada tahun 1982 Gus Dur menggagas “Malam Puisi Palestina” di Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat, ini tahun-tahun awal dimana Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum PBNU (1982-2004). Pada saat itu pula, ia juga menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), salah satu lembaga kesenian dan kebudayaan di Jakarta.

Malam Puisi Palestina merupakan sebuah acara solidaritas untuk perdamaian, membendung kekerasan atas nama kemanusiaan didunia internasional khususunya Palestina. Gus Dur dari kalangan Kyai, mengajak tokoh seniman, di antaranya KH. Musthofa Bisri (Gus Mus), Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bahri, Subagyo Sastrowardoyo dan lain sebagainnya, bersama-sama membacakan sajak-sajak perjuangan Palestina. Suatu langkah yang banyak ditentang pada waktu itu, baik oleh Orde Baru, maupun dari kalangan Nahdlyin sendiri.

Musthofa Bisri sebagai salah satu tokoh yang membacakan sajak pada acara tersebut adalah rekan seperjuangan Gus Dur, ia berucap bahwa pada moment itulah pertama kalinya Gus Mus membacakan puisi, dan mengantarkan ia pada dunia kesusastraan.

Setelah 35 tahun terlewati, pada Agustus 2017, Gus Mus dan tokoh-tokoh yang masih hidup dalam perjuangan Palestiana mengadakan kembali acara Do’a Untuk Palestina di Taman Ismail Marzuki Jakarta, sebuah acara pembacaan sajak-sajak puisi, dan do’a solidaritas untuk konflik kemanusiaan di Palestina. Gus Mus mengkonsolidasikan dari berbagai tokoh, cendekiawan, sastrawan dan seniman untuk bersama-sama mendukung kemerdekaan Palestina. Konsolidasi vertikal–horizontal, bahwa problematik yang menimpa Palestina bukanlah persoalan agama, melainkan ketidakadilah, dan kekerasan terhadap kemanusiaan.

Suatu langkah diplomatis yang diwariskan Gus Dur terasa diwaktu sekarang, bahwa kontroversialismenya akan terjawab seiring berjalannya waktu ke waktu. Gus Dur mampu membawa Konflik Palestina pada ranah direndahkannya martabat kemanusiaan, bahwa seharusnya kehidupan manusia tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, tanpa adanya penindasan dan penjajahan berdalihkan kekuasaan semata.

Bagi penulis, disinilah Gus Dur mampu menggantarkan sastra dan kebudayaan sebagai lokomotif dalam perjuangan kemerdekaan Palestina, sikap kesantriaan Gus Dur yang telah mengesampingkan adanya benturan atau perseteruan konflik fisik atau senjata secara langsung. Bahwa kemanusiaan harus diangakat dengan cara-cara manusiawi.

Diplomasi yang Lentur

Berjuang untuk kemerdekaan Palestina tentunya membutuhkan cara-cara jitu dan waktu sangat lama demi rekonsiliasi dan terwujudnya perdamaian Palestina dan Israel. Pada tahun 1990, saat Gus Dur menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, melakukan kunjungan ke Israel, tentu Israel adalah negara yang menindas tanah Palestina.

Bukan Gus Dur jika langkahnya tidak menuai kontroversi dibanyak kalangan, kunjungan diplomasi Gus Dur disambut baik oleh pemerintahan Israel. Suatu sambutan yang luar biasa dan langkah awal membuka dialektik dalam pembebesan Palestina. Pada saat kunjungan ke Israel, Gus Dur menyampaikan pidato umum dengan mengutarakan dua hal penting untuk Palestina yaitu, kemerdekaan bagi Palestina, dan Keadilah bagi seluruh rakyat Palestina.

Langkah berani dilakukan Gus Dur dalam penyelesaian konflik kemananusiaan di Palestna, mempunyai cara-cara tersendiri yang belum pernah dilakukan oleh pemimpin sebelumya, bahkan pemimpin-pemimpin dunia yang ikut serta dalam pembebasan tanah Palestina. Sungguh Gus Dur merupakan sosok yang sangat berwawasan jenius dan punyai sikap diplomatik sangat tinggi. Ia mengupayakan persahabatan pada musuhnya sekalipun demi melakukan diplomasi internasional, bahwa segala yang telah diperbuat itu melanggar perdamaian internasional dan nilai-nilai kemanusiaan.

Suatu sikap kepemimpinan yang tidak mudah untuk dilakukan oleh orang-orang biasa, pertentangan akan muncul baik dari dalam maupun kalangan luar, akan tetapi, Gus Dur mampu meredam semua itu, bahwa diplomasi dalam perjuangan Palestinya sebaiknya dengan cara-cara baik dan lentur, termasuk membuka dialektik dan bersahabat dengan musuh sekalipun. Inilah diplomasi Gus Dur.

Pemimpin Pemberani

Pada Desember 2009 Gus Dur meninggalkan kita semua, kembali dalam keadaan tenang, duka mendalam menyelimuti hati keluarga, kerabat, rekan perjuangan dan rakyat Indonesia pada umumnya. Perjalanan hidup Gus Dur telah mewariskan garis nilai-nilai perjuangan, tidak meninggalkan harta atau warisan berupa materil.

Gus Dur telah mengajarkan kepada kita semua tentang kemanusiaan, keadilan dan kesatriaan. Sikap dan tauladannya telah membekas dalam sejarah yang harus dilanjutkan. Perjuangan belum berakhir, sekalipun usia telah lapuk dimakan waktu.

Gus Dur adalah seorang pemimpin yang dirindukan kita semua. Mengutip sajak yang dibacakan Gus Mus di Acara Haul ke-7 Gus Dur di Ciganjur, melantunlah:

Seorang pemimpin pemberani datang sendiri mengawal bukan dikawal umatnya
Seorang pemimpin pemberani datang sendiri
Membela kaum lemah hanya dengan kayakinan dan do’a
Pemimpin Pemberani memaafkan
Tanpa sedikitpun kebenciaan
Karena dihatinya hanya ada Cinta dan Tuhan.

Apa yang disampaikan oleh Gus Mus merupakan gambaran keberaniannya sebagai seorang pemimpin umat dan negara. Sisi humanisme dan kesatriaannya menjadi hal utama dalam meneladani nilai-nilai yang telah diwariskan oleh Gus Dur.

Gus Dur ialah jalan bagi kami untuk belajar ditengah kondisi krisis moral kepemimpinan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yah, Gus Dur telah mewariskan kepada kita semua, bahwa tauladan akan menghidupkan orang yang ‘sudah mati’ sekalipun.

*) Siswanto, Koordinator Penggerak Gusdurian Ciputat, Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
https://harakatuna.com/gus-dur-sastra-dan-diplomasi-untuk-palestina.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *