Mengenal Sepak Terjang Panji Surengrana, Bupati Lamongan (1707-1723?)

Selamat Hari Jadi Lamongan ke 451


Yoks Kalachakra *

Kisah sepak terjang Panji Surengrana ini saya kutip dari babad tanah Jawi yang dengan cukup detail mengulas mengenai kiprah para keluarga keturunan Kyai Ageng Brondong semenjak dari kedua anaknya yaitu Hanggawangsa (Jangrana) Dan Hanggajaya hingga cucu-cucunya Arya Jaya Puspita, Panji Surengrana, Panji Kerta Yuda, dan Jaka tangkeban. Pada pengangkatan Susuhunan Pakubuwana I Surengrana diberikan gelar Panji dengan jabatan sebagai Tumenggung yang berkuasa atas wilayah Lamongan. Namun pemberontakan Surabaya atas Mataram pada masa Amangkurat IV, yang di picu dari pembunuhan Jangrana II oleh algojo Mataram atas permintaan VOC menghantarkan Tumenggung Panji Surengrana (Lamongan) dan Adipati Arya Jaya Puspita (Surabaya, yang juga kakak dari Surengrana), dalam perang campuh yang berkepanjangan, dan berakhir dengan meninggalnya Arya Jaya Puspita (1720), serta penangkapan Panji Surengrana dan dibuang ke Colombo Srilanka bersama dengan keturunan Surapati pada 1723.
***

Jabatan sebagai Bupati Lamongan oleh Amangkurat IV berikutnya diserahkan kepada Rangga Permana. Berikut Petikan kisah Panji Surengrana dalam perang Surabaya yang tertuang dalam babad tanah Jawi.

Pada waktu itu Arya Jaya Puspita sudah menggantikan kakaknya menjadi adipati di Surabaya. Beliau menghadap, sowan ke Karta Sura hanya sekali bertepatan bulan Mulud. Bala Surabaya dikerahkan dibawa semua lengkap dengan senjata perangnya, jumlahnya kurang lebih lima ratus orang.

Kedua adiknya ikut juga, yaitu Panji Karta Yuda dan Panji Surengrana beserta dengan balanya masing-masing seribu orang. Sang Nata ketika melihat Ki Arya Puspita bersama balanya siap dengan pesenjataan berperang begitu senang hatinya. Beliau lalu mengundang semua orang se-negara Kartasura supaya melapisi ukiran kerisnya dengan emas atau selaka. Sudah terjadi dan ternyata begitu bagus. Mulai saat itulah adanya ukir berlapis. Ki Jaya Puspita ada di Karta Sura tidak lama, segera kembali ke Surabaya dan tidak mau sowan lagi, berniat makar. Sang Prabu lalu utusan Ki Tumenggung Sura Brata bersama Ngabei Wira Menggala untuk memanggil Ki Jaya Puspita di Sura-Baya. Kedua utusan di Sura-Baya setengah bulan, tetapi Ki Jaya Puspita selalu menunda saja. Ki Suma Brata dan Ki Wira Menggala mengetahui jika dianggap enteng saja, lalu minta pamit untuk kembali ke Kartasura serta melaporkan kepada sang Prabu.

Sang Nata segera berkirim surat kepada Kumendur di Semarang memberi tahu bahwa Ki Jaya Puspita mogok, berniat makar. Utusan pembawa surat segera berangkat, sudah ketemu Kumendur. Tuan Kumendur setelah membawa surat sangat gugup, lalu berangkat ke Surabaya lewat laut. Adapun Ki Jaya Puspita sepeninggal Ki Suma Brata lalu memberi perintah kepada adiknya yang bernama Panji Surengrana, agar mulai menaklukkan Gresik. Panji Sureng Rana lalu berangkat bersama balanya orang Lamongan. Mereka lewat Giri terus ke Gresik lalu terjadi perang merebut benteng. Tetapi tidak berhasil, Panji Surengrana mundur ke Lamongan.

Tibalah tuan Kumendur di Surabaya bertemu dengan sang Adipati Jaya Puspita, Kumendur bertanya tentang Panji Surengrana dalam menaklukkan Gresik, Jawab Ki Jaya puspita, berpura-pura siap untuk menmarahi adiknya. Kumendur bertanya lagl sebab-sebab Ki Jaya Puspita tidak mau sowan ke Kartasura. Lalu, dijawab bahwa beliau akan sowan, Kumendur setelah mendengar jawaban Ki Jaya Puspita demikian serta sikapnya yang begitu menghormati jadi tidak enak hatinya, la lalu memberi perintah membuat benteng di Gresik. Setelah selesai, Kumendur lalu kembali ke Semarang.

Sepeninggal Tuan Kumendur, Panji Sureng Rana lalu kirim utusan minta bantuan ke negara Bali. Tidak lama kemudian bantuan datang sejumlah empat ratus orang di bawah pimpinan Dewa Kaloran. Lalu mengepung Gresik. Orang-orang Gresik geger, lari saling bertubrukan sebab tidak mengira kalau ada musuh datang di waktu malam. Harta kekayaannya habis dijarah rayah. Setelah Gresik takluk, orang-orang Bali kembali ke Bali. Mereka berjanji besok akan kembali. Panji Sureng Rana juga memberi penghargaan harta kekayaan yang dipersembahkan kepada Rajanya.

Selanjutnya Ki Jaya Puspita memerintahkan kedua adiknya berdua agar mulai menaklukkan orang manca-negari dan orang pesisir. Kedua saudara berdua itu lalu membagi-bagi perintah. Panji Karta Yuda mengerahkan bala seribu orang memukul negera Japan. Sudah berhasil. Lalu diteruskan ke Wira Saba. Bupati sepi berkumpul di Kediri, berniat menghadapi perang. Di Wira Saba seorang bupati sudah diangkat oleh Panji Karta Yuda. Panji Karta Yuda bersama balanya lalu ke Kediri. Disitu disambut perang. Orang Kediri kalah, bupatinya lari ke Karta Sura.

Sementara itu Panji Sureng Rana mengerahkan bala seribu memukul Sidayu. Mereka disambut perang ramai sekali. Banyak yang mati. Sidayu berhasil ditaklukkan. Panji Sureng Rana lalu berputar memukul Jipang. Juga sudah berhasil ditaklukkan. Bupati lari, sebab serangan mendadak itu. Panji Sureng Rana kembali menggempur Tuban. Sudah kedahulan Panii Sureng Rana beserta balanya. Bupati Tuban lari ke Karta Sura.
***

Pada suatu hari sang Prabu di Karta Sura sedang miyos sinewaka. Para bupati pesisir, manca-negari di Kedu, Banyu Mas lengkap semua. Bupati dalam, serta para putra sentana juga sudah lengkap. Di pagelaran penuh sesak tidak ada selanya. Ki Patih Cakra Jaya melaporkan bahwa Ki Adipati Jaya Puspita benar-benar berbuat makar. Beliau sudah menaklukkan tanah pesisir dan manca-negari. Japan, Wira Saba, Kediri Jipang sudah takluk. Apalagi di Sidayu dan Tuban, kedua-duanya sudah dirusak oleh orang Sura-Baya. Sang Nata berbicara lantang, “Cakra Jaya, segera laporkan kepada Tuan Kumendur di Semarang, serta mintalah bantuan serdadu Kompeni. Dan kepadamu berangkatlah, kerahkan orang pesisir semua, lewatlah Semarang untuk minta bantuan bala serdadu Kompeni. Dan perintahkan kepada Tumenggung Karta Negara untuk berangkat ke Sura Baya lewat Jaya Raga untuk memimpin bala manca-negari.” Ki Patih menyatakan kesediaannya. Sang Prabumasuk ke kedaton. Ki Patih dan Ki Tumenggung Karta Negara lalu bersiap-siaga serta sudah mengirim surat ke Semarang. Setelah Siap semuanya, berangkatlah Ki Patih ke Semarang bersama balanya. Mereka berhenti di sana menunggu bantuan serdadu Kompeni dari Betawi. Sementara itu Ki Tumenggung Karta negara juga sudah berangkat lewat Jagaraga, mengerahkkan bala manca-negari semua. Cuma bupati Grobogan dipisah ikut barisannya Ki Patih. Bupatinya bernama Surya Winata dan Sasra Winata adalah cucu Panembahan Cakraningrat almarhum. Dahulu pernah manjadi bupati di Madura lalu dipindah ke Grobongan. Gerakan pasukan Karta Negara sudah sampai di dusun Maja Ranu. Bala manca-negari sudah berkumpul. Bupati Jipang sudah pula menjadi satu di situ. Begitu besar bala yang ada lengkap dengan persenjataannya.

Lalu terjadilah peperangan dengan Panji Sureng Rana, banyak yang tewas, lalu mundur beserta balanya ke Lamongan. Kota Jipang sudah diduduki Ki Tumenggung Karta Negara. Bala sumbangan dari Bali waktu itu datang lagi ada di Gresik, dipimpin oleh Dewa Kaloran membawa tiga bupati, yaitu Dewa Saka, Dewa Sade, Dewa Bagus Bala. Pasukan Bali ada tujuh ratus orang. Dewa Kaloran sudah bertemu dengan Panji Sureng Rana. Mereka akan menggempur Jipang lagi.

Di Gresik ada seorang saudagar kaya-raya, banyak balanya bernama Juragan Bali. Tampangnya gagah perkasa, perangainya tidak sabaran, memaksakan kehendak, pernah perang di laut. Ki Juragan itu dijadikan prajurit pengamuk di dalam perang oleh Panji Sureng Rana. Ki Juragan memiliki banyak jurus andalan. Anak-istrinya ditempatkan di Sura-Baya sebagai jaminan supaya Ki Juragan tidak tinggal gelanggang, curi lari waktu perang. Ki Sureng Rana lalu berangkat beserta balanya untuk merebut Jipang. Beliau membawa seratus orang Bali. KiJuragan beserta bala budak-belian ditempatkan di ujung barisan. Setibanya di Jipang terjadilah peperangan ramai sekali dengan Ki Tumenggung Karta Negara serta manca-negari. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Ki Tumenggung Karta Negara beserta sisa bala mancanegari berlari, berhenti di Dusun Brongkol sebelah berat Jipang sebab diamuk Ki Juragan beserta balanya. Jipang sudah diduduki Panji Sureng Rana beserta balanya.

Lalu Ki Panji Sureng Rana mendengar berita kalau Sidayu, Tuban sudah direbut oleh bala pesisiran atas perintah Patih Cakra Jaya. Sekarang beliau masih di Semarang menunggu bantuan serdadu Kompenidari Betawi. Panji Sureng Rana setelah mendengar berita itu sangat marah. Lalu perintah kepada Ki Juragan beserta balanya untuk menerjang musuhnya yang ada di Sidayu dan di Tuban. Ki Juragan segera berangkat disertai bala dua ribu orang, orang Bali lima puluh. Gerakan prajuritnya sudah sampai di Sidayu, lalu terjadilah perang can?puh dengan bala pesisir. Ki Juragan begitu bersemangat turun dari kudanya, ada di depan mengamuk beserta bala budak-belian. Banyak yang mati. Bala pesisir negeri melihat sepak-terjang amukan Ki Juragan dan orang Bali, lalu berlari ke Tuban menyusun barisan dan membangun benteng.

Sidayu sudah diduduki Ki Juragan dan bala dari Bali. Ki Juragan serta balanya mengejar musuhnya ke Tuban berniat menghancurkan benteng. Bala pesisir menyambutnya. Ki Tumenggung Tuban juga memiliki bala budak-belian sebanyak tujuh puluh orang. Mereka ini diadu untuk melawan perangnya Ki Juragan. Bala pesisir menyerbu dari samping kiri, dan samping kanan. Bala Ki Juragan banyak yang mati. Bahkan bala dari Bali yang berjumlah lima puluh itu sudah habis tewas semua. Ki Juragan beserta balanya diam-diam mengundurkan diri. Lalu utusan memberi tahu kepada Ki Panji Sureng Rana yang ada di Jipang atas keadaan di Tuban. Panji Sureng Rana setelah merndengar berita itu sangat marah. la segera berangkat dari Jipang beserta balanya untuk membantu Ki Juragan.

Begitu Jipang ditinggalkan Ki Panji Sureng Rana, maka kota Jipang diduduki lagi oleh Ki Tumenggung Karta Negara, serta mengerahkan bala manca-negari, Ki Tumenggung Karta Negara barisannya sudah besar. Adapun gerakan Panji Sureng Rana beserta balanya sudah sampai di Tuban lalu terjadi perang dengan Bupati Tuban serta bala pesisir. Panji Sureng Rana beserta balanya mengamuk. Bala Tuban banyak yang tewas lalu lari ke Lasem, mengumpulkan balanya yang sudah lari. Tuban sudah diduduki oleh Panji Sureng Rana. Lalu bantuan dari Patih Cakra Jaya datang di Lasem dipimpin Ki Adipati Citra di Jepara beserta balanya juga bersama Bupati Kudus, Demak, Pati, Juwana beserta balanya. Sudah berkumpul di Lasem. Barisan begitu besar. Lalu berangkat merebut Tuban.

Panji Sureng Rana dan balanya melarikan diri ke Paronggahan, sebab kebanjiran musuh besar. Tuban sudah direbut oleh bala pasisir. Sementara itu bala Kompeni dari Betawi sudah tiba di Semarang, jumlahnya tiga bregada. Terdiri dari macam-macam orang. Dari Belanda, Ambon, Ternate, Bugis, dan Makassar. Komandonya bernama Amral Brikman. Apalagi bala pesisir di sebelah barat Semarang juga sudah berkumpul di sana. Pada waktu itu Semarang begitu banyak orang dari berbagai daerah.

Setelah bala Kompeni istirahat, dua bregada diberangkatkan lewat laut dipimpin Kumendur Gobya di Semarang bersama Kapten Krasbun. Amral Brikman tinggal di Semarang bersama bala Kompeni satu bregada. Ki Patih Cakra Jaya ikut lewat di laut. Para bupati pesisir Tegal, Pekalongan, Kendal, Kali Wungu, Batang diperintah lewat darat. Begitu besar gerakan pasukan. Perjalanan Ki Patih dengan Kumendur singgah di Tuban menunggu bala yang lewat darat, serta mengumpulkan bala pesisir yang sudah ada di situ. Ki Patih lalu mengirimkan utusan ke Jipang, memanggil Ki Tumenggung Karta Negara dan orang mancanegari semua agar datang ke Sura-Baya. Tidak perlu melayani gerakan-gerakan kecil dari ulah di Sureng Rana dalam perjalanan. Hari datangnya di Sura-Baya dipastikan harus bersamaan dengan Ki Patih. Utusan segera berangkat. Sudah sampai di Jipang. Ki Tumenggung Kartanegara juga segera berangkat beserta balanya dari manca-negari. Di Jipang ditinggal bala secukupnya, dipimpin Ki Tumenggung Sura Wijaya. Perjalanan Ki Tumenggung dan balanya sudah sampai di Sura-Baya. Mereka mesanggrah dan mendirikan benteng di sebelah selatan kota Sura-Baya, yaitu di desa Sepanjang. Balanya memenuhi sawah dan berjalan. Adapun Ki Patih Cakra Jaya dan Kumendur beserta serdadu Kompeni bersama datangnya di Sura-Baya menunju ke loji. Di situ bentengnya sudah dijaga serdadu Kompeni sejumlah empat puluh orang. Pada waktu itu sudah dicoba direbut oleh bala dari Surabaya, tetapi tidak berhasil. Kumendur lalu bertahan di situ lagi.

Datangnya bala dari pesisir yang lewat darat jumlahnya tak terhitung. Lalu bertahan menjadi satu dengan Ki Patih Cakra Jaya. Banyaknya bala tumpah-ruah bagaikan samudra tanpa tepian, dalam keadaan siap-siaga. Serdadu Kompeni juga sudah mengarahkan mulut meriam ke arah luar benteng.

Ki Patih Cakra Jaya dan Ki Tumenggung Karta negara mengirim utusan menyampaikan laporan kepada sang Prabu. Dan berikutnya Perang Campuh Karta Sura dan Sura-Baya tak terhindarkan, Sura-Baya di kepung Karta-Sura dengan hampir Ratusan ribu pasukan…
***

____________________
*) Yoks Kalachakra, nama aslinya Supriyo. Pernah menerima penghargaan sebagai penggiat seni dan budaya di Lamongan, dll, telah banyak menemukan sejumlah situs bersejarah kerajaan.

One Reply to “Mengenal Sepak Terjang Panji Surengrana, Bupati Lamongan (1707-1723?)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *