Mengenal Sepak Terjang Panji Surengrana, Bupati Lamongan (1707-1723?) II

Yoks Kalachakra *

Perang Campuh KartaSura dan SuraBaya

Setelah penyerangan ke beberapa wilayah Kabupaten dilakukan oleh Panji Surengrana dan Panji kertayudha. Gresik, Sedayu, Tuban, Jipang, Japanan, Kediri hingga wirasaba sudah di kuasai oleh keduanya. Maka keraton Kartasura dan VOC bereaksi keras atas langkah makar Adipati Surabaya Arya Jaya Puspita bersama adik-adiknya, Panji Surengrana (Tumenggung Lamongan) dan Panji Kertayudha.

Kartasura dengan pasukan gabungan dari para Tumenggungan yang wilayahnya diserang oleh Surabaya bersiap bergerak menyerang balik Surabaya. Sasaran awal mereka adalah Lamongan, sekutu utama Surabaya yang dipimpin oleh adik Adipati Jaya Puspita, Tumenggungan Panji Surengrana. Serangan ini menghancurkan pertahanan Panji Surengrana di Lamongan yang baru saja pulang ke Lamongan. Kota Lamongan di kepung dari utara, barat, dan timur, rusak hancur lebur, bala pasukan banyak yang mati dan lalu kota ini di bakar jadi ‘karang abang’ oleh pasukan gabungan Kartasura yang di pimpin oleh Ki Juragan Bali. Namun serangan tersebut tidak mampu menyurutkan semangat Panji Surengrana dan bala pasukan Lamongan tak ada yang menyerah, mereka menyingkir ke hutan dan bergerilya. Peristiwa ini tercatat dalam babad tanah Jawi dengan sengkalan 1643 Saka atau 1721 M, berikut cuplikan kisah yang dipaparkan dalam babad tersebut.

Karang Abang di Kota Lamongan

Ketika Patih Cakra Jaya tiba di Tuban, Panji Sureng Rana menyingkir dari Paronggahan. Setelah Ki Patih sudah berangkat ke Sura-Baya, Panji Sureng Rana dan Ki Juragan kembali balik ke Paronggahan lagi. Waktu itu Ki Juragan mulai berpikir dalam hatinya, “Si Panji ini bagaimana sih maunya. Kata Panji perang itu atas perintah sang Prabu di Karta Sura, tetapi terrnyata memusuhi patihnya sang Prabu serta orang setanah Jawa. Jadi, saya ini mengikuti orang yang durhaka pada Paduka Raja. Padahal hidupku menjalankan dagang sampai aku jadi kaya-raya, karena berkahnya yang menjadi raja di tanah Jawa. Lebih baik aku ikut Ki Patih. Mungkin dapat menjadikan kematian dalam diriku.”

Ki Juragan lalu pura-pura sakit, tidak makan minum selama tujuh hari tujuh malam. Tetapi jadi sakit beneran. Ki Juragan kena diare. Setelah dilaporkan ke sang Panji, Ki Juragan lalu diperintah untukpulang ke Gresik bersama anak-istrinya. Perjalannya dengan ditandu. Setibanya di rumahnya di Gresik, Ki Juragan segera makan nasi, lalu sehat seketika.

Bantuan dari Bali yang bernama Dewa Kalaron bersama balanya mesanggrah di Gresik. Dewa Kaloran itu sedang agak sakit. Ia lalu mengundang Ki Juragan. Dewa Kaloran bertanya situasi peperangan. Ki Juragan memberikan keterangan panjang-lebar. Dewa Kaloran setelah mendengar keterangan itu sangat dongkol hatinya. Lalu berbicara dengan Ki Juragan, “Ki Juragan, Saya sangat kecewa setelah mendengar keterangan itu. Sebab kata si Panji, ia mengundang saya untuk membantu dirinya atas perintah Susunan Paku Buwana, akhirnya justru jadi musuhnya. Jika demikian saya akan kembali pulang ke Nusa Penida saja.” Ki Juragan menjawab, “Jika engkau akan pulang, Sebaiknya Anda lapor ke Patih Jaya dan minta tanda bukti kepada beliau. Bila tidak mendapat izin Ki Patih, engkau akan kesulitan mendapatkan jalan. Sebab Madura itu diperintah oleh Patih Cakra Jaya. Padahal engkau sekutunya Panji Sureng Rana. Jadi musuhnya orang setanah Jawa. Jika tidak beruntung, justru engkau yang dapat bencana beserta bala Anda”. Dewa Kaloran berbicara lagi, “Ki Juragan, saya menurut segala petunjukmu.”

Ki Juragan lalu mengirim utusan, menyampaikan surat tanda takluk kepada Ki Patih. la menjelaskan yang menjadi kehendak Dewa Kaloran. Tentang rencananya untuk pulang ke Bali beserta balanya, minta tanda bukti dari Ki Patih agar selamat di jalan. Utusan Ki Juragan sudah sampai di Sura-Baya, surat disampaikan kepada Ki Patih. Setelah membaca surat, Ki Patih sangat senang hatinya. Beliau lalu menjawab surat untuk memanggil Ki Juragan serta memberi tanda bukti kalau sudah mengizinkan kembalinya Dewa Kaloran beserta balanya ke Bali. Ki Juragan dan Dewa Kaloran setelah menerima surat segera berangkat. Ki Juragan mengantar sampai di jalan. Dewa Kaloran selamat dalam perjalanannya sampai di Bali. Ki Juragan lalu ke Sura-Baya. Ki Patih bersama Kumendur setelah melihat Ki Juragan begitu gembira, tampangnya gagah perkasa serta banyak balanya orang-orang budak-belian. Ki Patih lalu bertanya kepada Ki Juragan apakah berani diadu perang melawan Panji Sureng Rana. Jawab Ki Juragan bahwa ia berani. Di mana pun, kapan pun bertemu, tidak gentar sedikit pun berperang dengan Ki Sureng Rana. Ki Patih lalu memerintahkan kepada bupati Tegal, Kali Wungu, dan Brebes agar mengadu perang Ki Juragan ke Lamongan.

Para bupati yang diperintah segera berangkat bersama balanya menuju Lamongan. Mereka lewat Gresik, lalu terus ke Lamongan. Pada waktu itu Panji Sureng Rana baru saja pulang dari Paronggahan terkejut dengan kedatangan prajurit KartaSura dari arah Sura-baya. Lalu terjadilah campuh perang. Ki Juragan mengamuk beserta rekan-rekannya. Bala Lamongan banyak yang tewas sebab gugup melawannya, tidak mengira kalau akan ada musuh yang datang. Lalu Bupati Tuban beserta bala pasukannya menutup dari utara. Prajurit dari Jipang menutup dari sebelah barat. Panji Surengrana dengan sisa balanya yang masih hidup lari dari kota Lamongan ke tengah-tengah hutan yang terletak di selatan. Sangat sulit medannya untuk di tembus. Bala pasukan Lamongan seorang pun tak ada yang menyerah. Kota Lamongan lalu dibakar dijadikan’ karang abang’. Ki Juragan dan para bupati beserta balanya lalu kembali ke perkemahan di Sura-Baya.

Ki Patih dan Ki Tumenggung Karta Negara mengirim surat laporan tentang situasi perang terakhir kepada sang Prabu di Kartasura. Mereka menceritakan tentang juragan yang bernama Ki Bali, banyak temannya, mau berkorban perang membantu sang Prabu, sangat berani dan tangkas di dalam ulah krida-nya perang. Utusan Ki Patih sudah berangkat sambil mengantarkan si Juru Tulis yang dikehendaki sang Prabu.


Sebelumnya: http://sastra-indonesia.com/2020/05/mengenal-sepak-terjang-panji-surengrana-bupati-lamongan-1707-1723/
________________
*) Yoks Kalachakra, nama aslinya Supriyo. Pernah menerima penghargaan sebagai penggiat seni dan budaya di Lamongan, dll, telah banyak menemukan sejumlah situs bersejarah kerajaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *