ORANG GILA, PENINDAS, YANG TERGILAS


Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan tatkala malam, ada orang gila di lampu penyeberangan, tepat pada pukul 02 malam. Ia terlihat oleh sang aku. Sang aku yang dalam perjalanan pulang malam-malam, sendirian. Sang aku melihat orang gila tersebut di lampu penyeberangan, orang gila yang kemudian lewat justru ketika lampu berwarna merah, berdiri di tengah zebra cross.

Kisah orang gila itu, diabadikan Iwan Fals, yang kala itu kolaborasi dengan Billy J. Budiardjo, dalam lagu “Orang Gila” tahun 1994. Orang gila itu membawa gembolan. Langkahnya seolah tak mengalami perubahan, seperti sebuah lagu lama yang didengarkan sang aku, dalam perjalanan menuju pulang. Dan yang selalu sendirian. Orang gila itu—di antara lelampu kota, dini hari, menyapa siapa saja yang ditemuinya dengan sapaan: “Selamat malam”. Namun sang aku, menyapa si orang gila: “Apa kabar?”. Orang gila tetap diam. Dia tidak tersenyum. Dan tidak pula menangis. Ia hanya menyapa “selamat malam”. Tak lain. Sedangkan dalam melangkah, ia melangkah lurus, dan terus saja lurus ke depan.

Tahun 1990-an, kesenjangan sosial perkotaan ditandai maraknya orang gila. Penyebaran orang gila jalanan sampai pula ke kota-kota kabupaten dan desa-desa. Setiap tahun, semakin pesat pertumbuhan kota-kota, semakin tak sedikit korban. Keniscayaan pembangunan dan hilir-mudik orang, jabatan-jabatan, mobil, listrik, dan barang-barang sebagaimana dalam kepala Afrizal. Di sana, di kota-kota itu, orang gila, keterlantaran, mungkin juga bunuh diri, kemiskinan. Keadaan itu sejatinya jauh lebih buruk dari pandemi. Kata orang, kelaparan tak mungkin membunuh orang kaya. Tapi corona bisa. Maka orang waspada, agar tidak ketularan.

Sehingga di dunia yang profan dan bertumbuh dengan kecanggihan mesin itu, ketertinggalan dan keterasingan tak lain hanya korban, selamanya harus terjaga dan terpelihara sebagai korban. Tidak boleh mengganggu kesejahteraan yang kuasa. Pada 2003, Sapardi Djoko Damono menerbitkan sehimpun cerita “Membunuh Orang Gila”. Di situ hidup manusia yang cuma murah saja, tak berharga. Ada kebebasan yang diperoleh amat mudah. Semakin jauh sejatinya, kita rasanya perlu menyadari alangkah penting “menjaga kewarasan” itu. Menjaga kewarasan untuk mengerti, segila apa dunia, sebanyak apa orang-orang gila. Orang yang gila yang mewakili kenyataan nasib entah siapa, yakni orang yang kehilangan keluarganya, kehilangan pekerjaan, dan tak punya tempat pulang. Jalanan adalah rumah. Siapa di dalam “zaman edan” ini, yang sesungguhnya edan (gila), tanya orang Jawa. Yang “ngedan” (menggila). Dan yang “kedanan” (tergila-gila). Maka di situ, akan ditemui kaum penindas, kaum pintar kesasar (fallacy) dalam mendedahkan kenyataan dan peristiwa. Kecemasan telah menjadi virus baru yang menyerang paru-paru kesejarahan yang tambah lemah tanpa kerja.

Padahal kerja sejatinya aktivitas kreatif yang menciptakan diri. Bagi Karl Marx, orang mendapat pengakuan dari pekerjaannya. Pekerjaan bukan belaka alat memperoleh kebutuhan, namun ia memberi nilai unik karena manusia punya kreativitas berpikir dalam mengolah benda-benda. Dengan begitu, manusia dapat dihargai dari hasil kerjanya. Ketika hasil pekerjaan itu telah menjadi konsumsi, ia terpisah jauh dari yang telah mengerjakannya. Seorang pembuat kursi mewah, tak pernah merasakan empuk kursi yang pernah dibuatnya. Ia hanya alat produksi, pekerjaan dihargai oleh nilai tukar yang bukan kepuasan dirinya sendiri. Setidaknya “the German ideology” mentahbiskan sosialisme ilmiah yang ‘anti-humanis’. Ini menarik, lantaran Marx mendasari argumennya dengan “determinasi ekonomi”, bahwa kekuatan modal yang mempengaruhi sejarah, bukan agama, seni, filsafat, budaya. Sejarah materialistik yang mashur itu, menolak harapan, khayal, atau ekspektasi gombal agama dan sejenisnya. Namun pada fakta yang berdasar perkembangan kehidupan hukum masyarakat. Meski konflik dari faktor ekonomi makin gawat oleh inovasi pada teknik produksi. Cita-cita luhur Marx pada masyarakat tanpa kelas—sungguh sayang, terbukti gagal. Manusia dan kerja menjadi alat produksi yang cukup dihargai nilai tukar: uang. Sering pula tak layak dan tak melihat manusia. Melainkan melihat manusia hanya alat, kerumunan, dan tak lebih bermakna daripada mesin. Itu menegas kembali jeritan SWAMI II pada 1991 dalam “Robot Bernyawa”.

Jangan bertanya, jangan bertingkah
Robot bernyawa teruslah bekerja
Sapi perahan di zaman modern
Mulut dikunci tak boleh bicara

Begitu katanya.

Mungkin begitu nasib komedi. Tertawa, tragedi, dan mati adalah niscaya fana. Kenapa harus tawa? Kenapa harus tragedi? Dan kenapa mati? Barangkali lantaran kita merindukan keabadian. Rindu keabadian merupakan “tarian iman”, bisik seseorang yang tak dikenal. Lantaran sifat-Nya mahakekal. Tetapi “kekal Tuhan” itu, masih bahasa dan sejarah. Tuhan “diri-Nya sendiri”, dan ini pun tetap pengertian bahasa yang tak pernah mungkin meraih pengertian tentang-Nya. Kemustahilan meliuk “tarian iman”, ekspresi transendental dan imanensi. Tak ada manusia selesai, dan bertahta sebagai segala-galanya. Dilihat-Nya hati. Siapa tahu dalam hati? Tapi bisakah ditemukan tragedi di tengah hidup yang tidak waras? Kemudian siapa sang aku, siapa yang disebut Tuhan itu? Dalam kenyataan sejarah, orang tak menemukan dirinya di dalam kerja, lantaran ia terus menerus ditindas yang punya kuasa, dipelihara supaya tetap pada posisinya.

Ada yang tergilas waktu, sudah tentu. Di antara pesat dan megahnya pertumbuhan kota-kota dunia. Ada yang pasti ditinggalkan, diabaikan, dilupakan. Dan orang gila dalam lagu Iwan Fals itu, hingga hari ini terdengar suaranya, sayup namun tegas: “kamu sapa siapa saja, selamat malam!” katanya.

Tembokrejo, 2020

_____________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *