Pengemis, dan Naguib Mahfouz


Fatah Anshori *

Naguib Mahfouz, penulis kelahiran Gamaliya, Mesir. Ia meraih penghargaan Nobel Sastra tahun 1988. Pertama kali mendegar namanya, dari ulasan di blog Bernard Batubara tentang bukunya, The Thief and The Dogs. Sebuah uraian menarik, hingga membuat saya menandai namanya. Sampai pada suatu hari yang entah kebetulan atau sudah direncanakan Tuhan yang Maha Esa. Di sebuah perpustakaan kota Lamongan, yang tidak begitu besar juga tidak kecil, sedang-sedang saja—tapi bagaimanapun saya sangat mencintainya. Nama Naguib Mahfouz, saya temukan di selipan buku-buku tua pada rak paling bawah, dan barangkali hampir jarang manusia berkenan membacanya. Saya benar-benar tak menyangka, menemukan buku penulis besar terselip di perpustakaan kota yang barangkali tidak begitu mencintai sastra, orang-orang di sini lebih suka makan ketimbang membaca, termasuk saya. Baiklah, sepertinya saya sudah terlalu jauh melipir. Novel Mahfouz, yang berjudul Pengemis ini menceritakan tentang Omar dan kehidupannya. Omar, seorang hakim yang segala kebutuhannya sudah terpenuhi, punya istri cantik, dua anak, dan harta lebih dari cukup. Sebagai orang awam, mungkin kita selalu mendamba hayat seperti ini, lantas berasumsi serupa itulah kebahagiaan. Tapi tunggu dulu, apakah begitu? Apakah kebahagiaan setiap orang selalu sama, diukur dengan kekayaan dan segala keinginan yang tercukupi? Jujur sebelum baca novel ini, saya pernah memikirkannya, tetapi tentu saja tidak terlalu dalam, seperti apa hidup jika seluruh keinginan sudah terpenuhi, dan mungkin akhirnya tidak mempunyai satu pun keinginan. Barangkali itulah tokoh utama Omar pada novel Pengemis ini. Di usianya kian tua, ia mengatakan kegelisahan itu sebagai penyakit, dan ketika seorang dokter memeriksanya, ia tidak menderita apapun. Ia mencoba menuruti seluruh keinginan, lebih tepatnya nafsu, nafsu seorang lelaki terhadap perempuan. Berhasrat mencari lagi gairah hidupnya dalam petualangan seks, ia terlibat perselingkuhan dengan Warda, seorang penari di klub malam. Namun setelahnya merasakan lagi kebosanan, dan berpindah pada Margareth. Hingga akhirnya menemukan sebuah jawaban, bahwa seks—yang merupakan representasi dari nafsu serta keinginan liar manusia—bukan jawaban tepat. Novel ini sedikit mengingatkan saya tentang Norwegian Wood, Haruki Murakami, rasanya, novel ini juga membuat merenung lebih dalam tentang seks yang bukan merupakan jawaban yang tepat. Keseluruhan dari novel Pengemis, tidak bisa saya ceritakan secara detail dari awal hingga akhir. Namun perlu ditandai, dari Mahfouz di novel ini, ia menjadi narator yang kerap membuat saya bingung, tentang kata ganti orang yang ia gunakan sering berubah-ubah, kata-kata ia gunakan entah itu dalam dialog atau narasi, kerap kali terkesan puitis dan dalam, saya setuju Bernard Batubara tentang ini. Dan mengenai tulisan ini yang tidak memiliki paragraf, terserah dibilang meniru Eka Kurniawan atau tak itu urusan Anda. Saya hanya ingin mencoba hal baru, dan terlalu malas buat paragraf, juga apa rasanya menulis tanpa paragraf seperti yang terasakan kini.

_______________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya terpublikasi di Website Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *