Santri dan Barokah Sang Kiai

Habibullah *
Radar Madura JP, 8 Juli 2018

KATA “barokah” sangat populer melebihi apa yang bisa dipahami dari kata itu sendiri. Sehingga, kata ini begitu sakral, dan rasanya tidak bisa diperoleh dengan cara biasa.

Imam Nawawi Jawi, konon, menjadi ulama alim karena selama belajar di Makkah senantiasa melinting rokok gurunya. Selesai belajar dari Makkah, dia pulang dan “tiba-tiba” menjadi orang alim serta penulis kitab. Ini semua karena barokah gurunya. Sebab, Imam Nawawi selalu melinting rokok sang guru.

Ada juga santri yang setiap hari menjaga kuda kesayangan sang guru. Begitu pulang, santri ini “tiba-tiba” bisa baca kitab kuning dan bisa paham isinya dengan baik, sebab peroleh barokah sang guru yang sangat berhubungan diatas ketekunan santri tersebut merawat kuda gurunya.

Bahkan, suatu ketika, teman saya di Bangkalan mengisahkan tentang santri Kiai Khalil yang sangat lugu, namun patuh. Kepada santri itu, Kiai Khalil berkata “Bersihkan kebun salak ini”. Santri itu segera membersihkan kebun. Ketika Kiai Khalil datang dari undangan, terkejutlah melihat semua pohon salaknya lenyap.

Kiai Khalil memanggil santri tadi dan bertanya, “Kenapa semua pohon salak saya lenyap dari kebun?” Santri itu dengan tersenyum menjawab, “Iya, sudah saya bersihkan sesuai dengan titah Kiai”. Karena kejadian ini, Kiai Khalil menyuruh santrinya itu berhenti mondok, dan pulang. Karena barokahnya Kiai Khalil, kata teman saya itu, orang tersebut menjadi ulama.

Dari semua peristiwa di atas, kita bisa perhatikan proses perolehan barokah yang tidak lumrah. Melinting rokok, merawat kuda hingga membersihkan pohon salak milik sang guru bisa membuat orang menjadi alim. Kita tahu, alim itu adalah orang yang punya ilmu. Ulama adalah orang yang menguasai ilmu agama secara luas. Bukankah ini proses tidak wajar jika melinting rokok, merawat kuda, dan menebang pohon salak bisa membuat orang pintar, paham ilmu agama?

Proses yang wajar dengan belajar. Semakin tekun belajar, makin paham dan bagus keilmuannya. Melinting rokok, berdasarkan proses yang wajar, bisa menjadikan orang ahli bikin rokok. Ketika pulang, dia bukan jadi orang alim, melainkan saudagar rokok, atau bikin pabrik rokok.

Saya percaya barokah itu ada. Al-quran sendiri menjelaskan tentang hal itu. Namun dari kisah barokah yang kita dengar, saya merasa ada pemotongan kisah dan penyederhanaan cerita, sehingga bagian cerita yang merupakan proses yang wajar hilang entah ke mana.

Maksud saya, boleh jadi Imam Nawawi memang berkhidmat dengan melinting rokok gurunya, tapi dia juga pelajar yang giat. Bisa saja santri merawat kuda dan melenyapkan pohon salak itu santri yang tekun muthalaah. Cerita seperti itu dihilangkan. Jika tidak dihilangkan, tidak akan menjadi kisah hebat. Tidak bernilai berita yang bisa disimak dengan ketakjuban.

Karena, bagaimanapun kisah yang penuh tiba-tiba, seketika dan serta-merta alias instan adalah kecenderungan semua manusia. Manusia itu ’ajula, kata Alquran, alias terburu-buru. Senang kepada hal yang tidak biasa. Sebab proses biasa yang wajar, sangat sulit dan jelimet serta kurang menarik.

Tersebarnya kisah tentang barokah seperti itu, kendatipun secara teoretis sesuai kepentingan naluriah manusia, juga disebabkan banyak pelajar atau santri mendahulukan ilmu daripada pengabdian. Kisah ini ditujukan kepada para santri agar tak hanya menimba ilmu gurunya, tapi juga harus berbakti kepadanya.

Persis dengan pemelihara sapi perah. Mereka tak hanya mengambil susu sapi semaunya. Mereka juga dengan sadar merawat sapi itu secara bagus, diberi vitamin, dimandikan, kandangnya dibersihkan, bahkan bermalam-malam dijaga takut dicuri orang. Mereka memang butuh susunya. Namun juga sadar, tanpa merawat sapi dengan baik, maka susu yang diperoleh hanya sedikit adanya.

Begitu pula santri menyerap ilmu gurunya. Dia harus berkhidmat kepada sang guru, baik dengan melinting rokoknya, merawat kudanya (boleh juga ‘merawat’ putrinya) atau membersihkan kebunnya, maka sang guru akan rida memberikan semua yang dia miliki. Termasuk doa-doa dan harapan baik kepada santri itu. Dari doa dan harapan baik ini, Allah kemudian mengabulkannya. Ketika santri bersangkutan pulang, ilmu yang dia peroleh bertumbuh, dan diarahkan kepada kebaikan umat.

Itulah barokah. Bagaimana menurut Anda?

*) Alumnus Pondok Pesantren Bustanul Huffaz As-Saidiyah, Sampang.
https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/08/86454/santri-dan-barokah-kiai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *