MENGUJI SEPULUH PROPOSISI DALAM KREDO PUISI SUTARDJI


Ahmad Yulden Erwin *

Berikut ini saya hadirkan sepuluh proposisi di dalam “Kredo Puisi” dari penyair Sutardji Calzoum Bachri:

1. Kata adalah pengertian (makna) itu sendiri.

2. Kata bukanlah alat penyampai pengertian.

3. Dalam kehidupan sehari-hari kata cenderung menjadi alat penyampai pengertian.

4. Karena menjadi alat penyampai pengertian, maka kata pun terjajah oleh pengertian.

5. Konsekuensinya, agar kreativitas dalam penulisan puisi menjadi mungkin, maka kata itu sendiri harus bebas dari penjajahan pengertian.

6. Contoh yang dimaksud dengan penjajahan pengertian di dalam kata adalah sebagai berikut:
(a) penjajahan definisi kata dalam kamus,
(b) penjajahan makna moralitas (atau kesantunan?) di dalam satu kata,
(c) penjajahan oleh aturan pemaknaan kata di dalam gramatika (tata bahasa).

7. Kata harus dibebaskan dari penjajahan pengertian agar mampu menciptakan “pengertiannya sendiri”, sehingga kreativitas di dalam penulisan pun dimungkinkan.

8. Yang dimaksud dengan kreativitas, setelah kata dibebaskan dari penjajahan pengertian, adalah:
(a) makna satu kata bisa berbalik (menyungsang) dari pengertian yang telah dijajah selama ini,
(b) makna satu kata bisa bertentangan dengan pengertian di kamus atau yang lazim ditentukan oleh masyarakat,
(c) makna satu kata bisa membelah (ambigu atau konotatif) dan bisa juga berkumpul dengan makna kata lainnya—meskipun hal itu dianggap tidak lazim atau menentang prinsip pemaknaan kata di dalam gramatika.

9. Kreativitas seperti diuraikan dalam poin 8 dimaksudkan agar kehadiran kata di dalam puisi bisa benar-benar bebas berfungsi sebagai pembentuk pengertiannya sendiri (bukan dijajah oleh pengertian seperti diurai dalam poin 6), sehingga puisi bisa mendapatkan “aksentuasi” yang maksimal.

10. Aksentuasi maksimal itu bertujuan agar kata dapat kembali kepada mantra, sehingga menulis puisi adalah satu upaya untuk mengembalikan kata kepada mantra.
***

Untuk lebih jelasnya, silakan dibaca “Kredo Puisi” dari Sutardji Calzoum Bachri ini:

KREDO PUISI

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

Dalam keseharian, kata cenderung dipergunakan untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian. Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri. Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dan tradisi lapuk yang membelenggu mereka seperti kamus dan penjajahan-penjajahan seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.

Bila kata-kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, dan menentukan kemauannya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tidak terduga sebelumnya, yang kreatif.

Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas: mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.

Sebagai penyair saya hanya menjaga, sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal. Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan Kata Pertama adalah Mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Jakarta, 30 Maret 1973

Sutardji Calzoum Bachri
***

Contoh satu puisi “mantra” karya Sutardji Calzoum Bachri:

BATU

batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati takjatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan
seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai
sedang lambai tak sampai. Kau tahu
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji?

***

Pertanyaan saya:

1. Adakah ketidaklogisan di dalam sepuluh proposisi dari Sutardji itu? Jika memang ada, kenapa itu menjadi tidak logis?

2. Bisakah Anda membuktikan letak inovasi dalam konteks ars poetica—baik di Indonesia maupun dunia—pada “Kredo Puisi” dari Sutardji itu?

3. Apa yang dimaksud dengan inovasi dan ars poetica dalam konteks perkembangan estetika puisi atau sastra di Indonesia dan atau dunia?

4. Menurut Anda apa yang dimaksud oleh Sutardji sebagai “aksentuasi maksimal” di dalam puisi?

5. Menurut Anda apa yang dimaksud “mantera” sebagai bentuk paling mula dari kata dan atau puisi seperti yang dinyatakan oleh Sutardji?

Jika Anda memang mau, maka mari kita diskusikan hal ini dengan logis, bukan dengan argumentum ad hominem atau sesat pikir lainnya. Silakan.

Saya sudah membantu membuatkan 10 proposisi dari “Kredo Puisi” Sutardji itu, sehingga kita bisa memikirkannya secara logis dan relatif mudah. Kerangka berpikir 10 proposisi itu menunjukkan bahwa Sutardji berupaya membuat kredo puisinya menjadi satu ars poetica tertentu yang bisa dibuktikan (benar atau salah) di dalam sistem logika tertentu. Jika ada yang hendak mengkritisi atau menggugat atau mendukung beberapa atau seluruh proposisi itu silakan kemukakan dengan argumen logis juga. Ketika kita mengkritisi satu pemikiran dengan logis, itu sama sekali bukan satu bentuk ketidaksantunan atau penghinaan atau sesat pikir atau hate speech (hahaha) terhadap penulisnya, tetapi semata untuk memahami satu persoalan dengan benar dan menghindari gosip atau pelabelan atau klaim kosong yang, menurut saya, sama sekali tak berguna bagi kemajuan sastra di negeri ini.

Apakah benar pendapat orang atau kritikus sastra selama ini bahwa inti dari Kredo Puisi Sutardji adalah “membebaskan atau menafikan makna dari kata”? Saya justru tidak menemukan hal itu di dalam Kredo Puisi Sutardji. Yang benar dinyatakan oleh Sutardji di dalam kredo puisinya adalah “membebaskan kata dari penjajahan pengertian (makna)”. Jika Anda masih ragu, maka kita bisa mengujinya dengan pertanyaan berikut: Apakah makna klausa “membebaskan kata dari penjajahan pengertian” identik dengan makna klausa “menafikan makna dari kata”? Apakah kata “membebaskan” identik maknanya dengan “menafikan”?

Perhatikan term-term kunci dari pernyataan Sutardji itu, yaitu: “membebaskan kata” dan “penjajahan pengertian”. Lalu, telisiklah lebih dalam makna dari Propoisi ke-1, yakni: “Kata adalah pengertian (makna) itu sendiri”. Jika penyataan Sutardji soal “membebaskan kata dari penjajahan pengertian” kemudian ditafsirkan sebagai “menafikan makna dari kata”, maka jelas akan terjadi kontradiksi dengan Proposisi ke-1.

Yang jadi soal, menurut saya, bukanlah pernyataan Sutardji, tetapi justru penafsiran terhadap pernyataan Sutardji di dalam kredo puisinya oleh mereka yang tidak paham atau mereka yang terlalu cepat bersikap menolak tanpa benar-benar menelisik kebenarannya.

Secara etimologi, kata “mantra” berasal dari bahasa Sansekerta dan biasa digunakan dalam tradisi spiritual Hindu atau Buddha. Kata mantra adalah sebuah kata atau suara dengan struktur pengucapan berulang untuk membantu konsentrasi dalam meditasi, atau sebuah nyanyian Veda, atau sebuah pernyataan yang sering diulang. Kata ini baru diserap ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-18 dan dimaknai secara harfiah sebagai “berpikir, berpikir di balik ucapan atau tindakan, pemikiran manusia, terkait dengan pikiran”. Di dalam bahasa Melayu, kata ini kemungkinan sudah masuk pada abad ke-5 atau ke-7 (atau sebelum itu) ketika masa Sriwijaya pertama. Di dalam bahasa Sansekerta sendiri kata mantra bisa berarti sangat luas seperti “teks magis, teks atau ucapan suci, ayat mistis, ucapan, formula dari doa, rahasia, nasehat, resolusi, bahkan pembebasan”. Silakan cek sendiri dalam kamus Bahasa Sansekerta

Dalam pandangan hidup orang Melayu, ada keyakinan bahwa tanah, air, matahari, bulan, tanaman, binatang, jin dan makhluk atau benda lainnya memiliki “spirit”. Untuk itu, diperlukan pembacaan mantra agar spirit atau roh dari benda atau makhluk tersebut tetap positif bagi manusia. Orang Melayu sejak dulu sangat akrab dengan tradisi mantra, karena dalam kehidupan sehari-hari mereka selalu mengucapkan mantra, misalnya: mantra pelindung diri, mantra pelancar pekerjaan, dll. Setelah masuknya agama Islam, orang Melayu ternyata masih berpegang pada kebiasaan membaca mantra ini, tetapi kemudian diakulturasi dengan tradisi Islam. Di dalam ilmu antropologi, akulturasi diartikan sebagai suatu proses sosial yang timbul ketika suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

Berikut contoh mantra-mantra dalam tradisi Melayu:

1. Mantra Penahan Kulit (Kebal):

Kejang aku kejang rungkup
Kejang tunjang tengah laman
Kebal aku kebal tutup
Terkucap kulit tak berjalan
Terkunci terkancing tak mara

2. Mantra Penunduk Hantu Laut (sudah berbaur dengan tradisi Islam):

Hai hai, anak datuk laut
Nyalah engkau, pergilah
Jikalau engkau tidak pergi
Aku pukul dengan ijuk tunggal
Dengan ijuk pusaka
Aku sekal kepalamu dengan sengkalan
Aku tau asalmu jadi
Dari kun fayakun
Berkat kalimat laihaillallah
Muhammadarrasulullah
Pua-pua adanya

Sutardji sebagai penyair yang lahir dan mengalami masa kecil dalam tradisi Melayu di Riau, memang akrab dengan tradisi mantra “puak” Melayu. Mantra, bagi Sutardji, mungkin semacam bawah sadar atau arkhetipe dari dirinya. Namun, kemudian bawah sadar ini dipengaruhi oleh berbagai tradisi estetika Barat seperti simbolisme, surealisme, hingga eksistensialisme Prancis ketika ia menuliskan puisi-puisinya. Tema-tema dalam puisi Sutardji juga mestinya dipahami dalam kerangka akulturasi estetika Timur (Mantra Melayu) dan Barat (simbolisme, surealisme, dan eksistensialisme Prancis). “Akulturasi” tersebut merevitalisasi pemahaman “mantra” dari tradisi mantra Melayu yang cenderung “fungsional” menjadi “mantra esensialisme (bahkan eksistensialisme)” di dalam puisi-puisi Sutardji. Itu juga tercermin dalam proposisi ke-2, ke-7, ke-8, ke-9, dan ke-10 pada Kredo Puisi Sutardji

©2017–2020
gambar dari : hanshayon.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *