MISTERI “PADA SUATU HARI NANTI”
Wafatnya sastrawan Sapardi Djoko Damono menjadi momen kian diakrabinya sastra, khususnya puisi karya almarhum. Salah satu puisi yang dikenal luas dari sastrawan yang meninggalkan kita pada usia 80 tahun ini berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”. Sangat mungkin, populernya puisi ini juga karena telah dimusikalisasi oleh M. Umar Muslim, diaransemen oleh Ari Malibu, serta didendangkan oleh Reda L. Gaudiamo, Nana Soebi, dan Ari Malibu dengan indah.
“Pada Suatu Hari Nanti” yang banyak dihafal terhimpun dalam buku Hujan Bulan Juni, halaman 95. Akan tetapi, judul “Pada Suatu Hari Nanti” sesungguhnya juga sudah diterakan oleh Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan duka-Mu Abadi (1969) pada halaman 32. Saat ini puisi tersebut sedang berduka lantaran tidak dihiraukan oleh sesiapa. Dia sangat bersedih.
Dalam terjemahan bahasa Inggris pun, kedua puisi ini mengalami semacam pembedaan–untuk tidak mengatakan “diskriminasi”. Namun, laku ini sekaligus membuktikan bahwa penerjemahan atas kata atau ungkapan sama bisa berbeda akibat nuansa makna atau penekanan pesan yang berbeda pula. John McGlynn dalam buku Before Dawn menerjemahkan “pada suatu hari nanti” yang pertama menjadi “Someday When” (30) dan “The Day Will Come” (146).
Begitulah. (Versi esai panjang tulisan ini tengah dikerjakan)
22 Juli 2020
HADIAH TERINDAH DARI SDD
Suatu sore di awal tahun 1984, seingatku di ruang Jurusan Sastra Indonesia FSUI Rawamangun, aku menemui Pak Sapardi. Beberapa menit sebelumnya, seorang petugas Gedung 1 mencariku di sekitaran warung makan Pak Wir, memberi tahu bahwa Pak Sapardi mencari diriku.
Segera aku menuju ruang jurusan yang berada di sudut barat Gedung 1. Pak Sapardi sering mengajak ngobrol soal kesenian dan tahun 1984 itu aku mulai diminta membantu untuk beberapa kuliah. Jadinya, aku berjalan menuju ruang jurusan dengan perasaan biasa.
“Sini, aku kasih hadiah,” ujarnya begitu aku menampakkan diri di pintu.
Hadiah? Tak habis pikir aku saat itu sebab tidak ada peristiwa penting yang menyebabkanku layak menerima sesuatu.
“Ini, bukumu. Tadi aku ke Balai Pustaka dan Pak Bagio (Subagio Sastrowardoyo) titip buku ini untuk kamu.”
Buku? Segera aku buka kertas payung yang membungkus sebuah buku. Begitu sebagian pembungkus terkoyak aku serasa melonjak. Betapa tidak; buku kumpulan puisi P. Sengodjo yang aku telusuri dari sejumlah majalah kebudayaan terbitan tahun 1947-1953, telah terbit.
Bahagiaku tak terkira. Ini buku pertamaku meski bukan karyaku tapi karya pamanku yang mulai terlupakan. Alhamdulillah, tak hentinya aku bersyukur sebab buku itu aku susun dan terbit ketika aku masih mahasiswa. Sungguh, hadiah terindah buatku.
Pak Sapardi, terima kasih, panjenengan telah membukakan pintu bagiku untuk dunia penulisan. Alhamdulillah.
21 Juli 2020
S DJOKO DAMONO, SUPARDI DJOKO DAMONO, SAPARDI DJOKODAMONO, SAPARDI DJOKO DAMONO
Pada waktu-waktu belakangan, orang tampak lebih biasa menyebut SDD bagi Sapardi Djoko Damono dibandingkan dengan Sapardi misalnya; sastrawan yang dua hari lalu wafat. Akan tetapi, dalam karyanya, nama SDD belum pernah disematkan. Nama yang pernah mewakili dirinya adalah S Djoko Damono ketika pertama kali puisinya muncul di majalah Merdeka tahun 1958 dengan judul “Cerita Burung”. Pernah pula namanya menjadi Supardi Djoko Damono pada puisi-puisinya yang dimuat majalah Indonesia tahun 1960. Kemudian, sempat namanya muncul sebagai Sapardi Djokodamono ketika karya-karyanya dimuat majalah Gelora tahun 1962. Selebihnya tentu nama yang tertera untuk karyanya adalah Sapardi Djoko Damono.
Akan tetapi, adakah selalu tanpa masalah dengan pelafalan atas namanya? Ternyata salah pengucapan lebih sering terjadi. Pernah namanya diucapkan sebagai Sapardi Djoko DARMONO dan bahkan sempat ada yang keliru menyatukan dua nama dosen FIB UI lainnya, menjadi Sapardi Djoko KENTJONO. (Djoko Kentjono, almarhum, adalah sejawat Pak Sapardi di FIB UI dan tinggal satu kompleks di Perumahan UI, Ciputat).
Pengucapan memang terkadang tidak sesuai “seharusnya” seperti penyiar televisi mancanegara yang repot sekali mengucapkan perenang keturunan Jawa-Suriname, juara Olimpiade dari Belanda, bernama Ranomi Kromowidjojo. Namun, nama Sapardi mestinya tidak semerepotkan itu. Nyatanya, wanita-penyiar televisi CNN Indonesia, mengucapkan almarhum sebagai “Supardi”. Mungkin saja bukan sepenuhnya salah penyiar sebab dalam teks memang tertulis “Supardi”. Ada-ada saja, ya.
21 Juli 2020
SAPARDI “GADUNGAN”
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono sudah pensiun sebagai mahaguru di FIB UI. Oleh sebab itu, tidak setiap hari pemuisi ini datang ke kampus. Sastrawan yang sangat terkenal dengan kumpulan sajaknya DukaMu Abadi ini rata-rata hanya dua-tiga kali seminggu datang ke kampus untuk mengajar atau memberi bimbingan. Namun, banyak mahasiswa yakin bahwa guru besar berperawakan kerempeng ini hampir setiap hari ada di kampus. Wajar jika banyak mahasiswa berpikiran seperti itu karena mereka tidak pernah diajar langsung; mereka hanya mendengar selintas sosok Pak Sapardi dari senior atau dari informasi lain. Ternyata yang sering di kampus itu “kembarannya” alias “Sapardi Gadungan”. Sepintas orang ini sangat mirip: topinya, kerempengnya, tingginya, gaya berjalannya, dan juga sepatu sandalnya. Akibatnya, sejumlah mahasiswa sering menegurnya sebagai Pak Sapardi, dan lelaki itu tampak selalu tersenyum atau mengangguk ketika ditegur. Padahal, orang ini adalah pemijat yang memang sering datang ke kampus sebab banyak dosen yang agaknya sreg atau nyaman dengan pijatannya. Dan sepertinya, ia “menikmati” keramahtamahan para mahasiswa itu.
2010
______________________
Ibnu Wahyudi, sastrawan kelahiran Ampel, Boyolali, Jawa Tengah 24 Juni 1958. Mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia (UI), selain itu menjadi pengajar-tamu di Jakarta International Korean School (sejak 2001), di Prasetiya Mulya Business School (sejak 2005), di Universitas Multimedia Nusantara (sejak 2009), dan di SIM University Singapura. Pendidikan S1 di bidang Sastra Indonesia Modern diselesaikan di Fakultas Sastra UI (1984). Tahun 1991-1993, mengikuti kuliah di Center for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, Melbourne, Australia dan peroleh gelar MA, serta menempuh pendidikan doktor (Ilmu Susastra) di Program Pascasarjana UI. Tahun 1997-2000, menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.



