Taiwan dan Imajinasi Harapan


Yusri Fajar *

Tahun 2007, dari sebuah paspor biru (paspor dinas) Indonesia yang harus saya miliki untuk kepentingan tugas belajar, saya tahu nama dua negara di mana paspor tersebut tak berlaku yaitu Israel dan Taiwan. Indonesia memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan dua negara itu.

Nama Taiwan sejak lama populer di berbagai kampung dan desa di Indonesia termasuk desa kelahiran saya. Wilayah yang bersebelahan dengan Tiongkok itu menghadirkan Imajinasi harapan bagi orang-orang Indonesia yang ingin mengubah nasib dan memperbaiki hidup dengan menjadi pekerja migran di sana. Taiwan menjadi bagian mimpi-mimpi yang membayangi para perempuan dan lelaki yang tak peduli Taiwan punya hubungan diplomatik dengan Indonesia atau tidak. Bagi mereka yang terpenting adalah negeri kecil itu bisa memberikan asa lebih baik dibanding hidup di desa tanpa pekerjaan dan penghasilan menjanjikan.

Beberapa tahun Terakhir bahkan Taiwan cukup populer di kalangan pelajar dan akademisi yang ingin studi lanjut. Seorang sahabat saya yang tengah menempuh S3 di sana terlihat sumringah dalam foto-fotonya, dan mengirim kabar bahwa Taiwan nol kasus terkait covid-19.

Gambaran Imajinasi para (calon) pekerja Migran Indonesia atas Taiwan dan realitas kehidupan sebagian dari mereka tergambar secara menarik dalam film dokumenter ” Help Is On The Way” garapan sutradara Ismail Fahmi Lubis. Film ini berhasil memotret latar kehidupan para perempuan calon pekerja migran Indonesia yang bermimpi menggapai harapan ke Taiwan dan juga perjuangan pekerja migran yang telah sukses melintasi batas untuk bekerja pada keluarga Taiwan.

Sedih sebenarnya melihat latar kehidupan dan kondisi para (calon) pekerja migran itu; ada berbagai persoalan dan latar belakang Yang membuat mereka harus pergi ke Taiwan, mulai masalah keluarga dan ekonomi. Jika saja negara ini mampu memastikan dan memberikan kelayakan hidup bagi orang-orang terpinggirkan begitu, tentu mereka tidak harus pergi.

Beberapa waktu lalu saya nonton film dokumenter ini di Goplay dan saya seperti bisa melihat imajinasi-imajinasi atas harapan para pekerja migran itu terus membayangi pikiran dan jejak mereka.

____________
*) Dosen FIB Universitas Brawijaya; novelnya ”Tamu Kota Seoul” (2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *