PERAHU KERTAS SAPARDI DJOKO DAMONO

: RENUNGAN MENDALAM TENTANG KEMANUSIAAN

Ibnu Wahyudi *
Suara Karya, 22 Juni 1984

Dalam rentang waktu yang relatif dekat, Sapardi Djoko Damono mengalami dua peristiwa yang barang tentu sangat membanggakannya, terutama karena kedua peristiwa itu berupa penganugerahan hadiah tertinggi terhadap kepenyairannya—sebuah dunia yang agaknya memang digelutinya dengan sepenuh hati.

Tahun 1983 sangat boleh jadi merupakan tahun yang penuh berkah bagi penyair kerempeng ini. Ia bagaikan kejatuhan bulan: dipetiknya buah-buah kepiawaiannya mengolah kata itu pada tahun 1984 ini. Betapa tidak; akhir bulan Maret 1984 lewat, sapardi berhak atas hadiah uang sebesar Rp 400.000,00 dari Dewan Kesenian Jakarta melalui keberhasilan kumpulan sajaknya, Perahu Kertas, memenangi Hadiah Sastra DKJ untuk tahun 1983. Kemudian, kurang dari sebulan ke depan, bulan April, di Malaysia Sapardi menerima pula hadiah sebesar 15.000 ringgit Malaysia atas keberhasilan buku puisinya Sihir Hujan sebagai kumpulan puisi terbaik dalam Anugerah Puisi Putra II yang diselenggarakan oleh Gappena (Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia) dan ditaja oleh Bank Bumiputera Malaysia Berhad. Kenyataan seperti ini tentunya merupakan suatu pencapaian prestasi yang tidak biasa.

/1/
Sosok Sapardi Djoko Damono sejauh ini memang sudah cukup dikenal, baik sebagai penyair, penerjemah, pengajar, maupun juga sebagai pengamat sastra. Sebagai penyair, ia telah membukukan sajak-sajaknya ke dalam kumpulan DukaMu Abadi, Mata Pisau, Akuarium—dua kumpulan sajak terakhir ini lalu disatukan di bawah judul Mata Pisau—, Perahu Kertas, dan Sihir Hujan. Sebagai penerjemah, karya-karya terjemahannya terbilang cantik dan cemerlang, khususnya pada karya terjemahannya yang berjudul Lelaki Tua dan Laut (dari The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway). Karya-karya terjemahannya yang lain adalah Daisy Manis (dari Daisy Miller karya Henry James), Kisah-kisah Sufi (dari Tales of the Derwishes yang dikumpulkan Idries Shah), Puisi Cina Klasik, Puisi Brazilia Modern, Sepilihan Sajak George Seferis, Lirik Klasik Parsi, dan sejumlah karya terjemahan lagi.

Karya-karya Sapardi lainnya, yang merupakan semacam hasil pengamatan atau hasil kajian, di antaranya adalah Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan, Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang, dan Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas.

Sedangkan saat ini, tahun 1984, Sapardi sedang menyiapkan karya-karyanya yang lain, baik berupa hasil terjemahan, karya kreatif, maupun karya-karya ilmiahnya. Lewat kenyataan seperti ini, tidak pelak apabila Sapardi memang layak diperhitungkan dalam peta dan khazanah Sastra Indonesia Modern. Ketekunannya dalam dunia kreatif dan pengajaran sastra, sungguh patut dikedepankan.

Dalam tulisan ini, pembicaraan semata-mata hanya dipusatkan pada kumpulan sajaknya yang telah memenangkan Hadiah Sastra DKJ itu, yaitu Perahu Kertas yang diterbitkan oleh PN Balai Pustaka tahun 1983.

Kumpulan sajak yang berisi 43 sajak ini, ditilik dari sisi stilistika maupun tematikanya, memang tidak beranjak jauh dari sajak-sajak Sapardi yang terdapat dalam kumpulan yang lain. Akan tetapi, justru karena kekonsistenan dalam bentuk dan isi semacam inilah Perahu Kertas dianggap layak menang lantaran “Sapardi mampu membuktikan dirinya sebagai penyair suasana,” sebagaimana menjadi titik berangkat Dewan Juri Hadiah Sastra DKJ tahun 1983.

Sejauh ini, Sapardi memang sangat dipahami atau diidentikkan sebagai penyair suasana atau seringkali pula diberi cap sebagai penyair imajis. Sebutan-sebutan semacam ini tentu saja bertolak dari kecenderungan dan kenyataan yang mengemuka dalam sajak-sajaknya yang cukup kentara menomorutamakan imaji atau citra sebagai elemen penting sajak-sajaknya. Pernyataan yang menyebutkan bahwa “dengan imaji-imaji yang konkret dalam puisi-puisinya, Sapardi menghidupkan fantasi-fantasi kita, hingga kita menemukan kembali dunia luar dan dunia dalam pengalaman kemanusiaan kita” (terdapat dalam “Pengantar” kumpulan Perahu Kertas ini, halaman 5), rasanya pantas diiyakan. Pembayangan terhadap sesuatu objek segera akan mengada dan kemudian bahkan seperti “memaksa” kita untuk diam-diam masuk ke dalam pengalaman-pengalaman unik atau juga ke dalam pengalaman-pengalaman keseharian yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kita. Menyimak sajak “Tajam Hujanmu” berikut ini misalnya:

tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
:
sembilu hujanmu
(h. 30)

seketika muncul suatu suasana sehari-hari atau sangat mungkin kita lalu merasa bahwa “Aku” dalam sajak ini adalah diri kita sendiri. Rambatan dingin, perihnya hujan, dan lain-lainnya, terasa adalah bagian pengalaman kita, menghentakkan kita.

Dengan imaji lihatan, imaji gerak—terutama—Sapardi “memerangkap” kita untuk terpaksa hanyut. Hal itu bisa terjadi teristimewa lantaran pemakaian citra atau imaji itu yang sudah begitu akrab dengan penginderaan kita. Terlebih lagi, Sapardi sangat terampil dalam memakai dan memilih pilihan kata atau diksi untuk sajak-sajaknya, menjadikan munculnya satu kekuatan tersendiri dari sajak-sajaknya itu. Perihal pemilihan kata untuk sajak-sajaknya, rupanya Sapardi telah menyadari sejak lama. “Kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi,” katanya lewat “Puisi Indonesia Mutakhir: Beberapa Catatan” yang terhimpun dalam Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan, halaman 66. Ditegaskannya lagi, dalam tulisan yang sama (h. 67) bahwa “kata-kata yang berbobot dalam puisi, pada pengertian saya, adalah kata-kata yang kecuali tak lagi kaku dan mampu berdiri sendiri-sendiri, juga hampir tepat bisa melahirkan pengalaman puitis seorang penyair.”

Dari pembacaan berulang terhadap sajak-sajak Sapardi (dari kumpulan yang manapun) mau tidak mau harus diakui bahwa memang ada semacam kesejajaran antara sajak-sajak Sapardi dengan sajak-sajak kaum imajis (Pound, Lowell, Hulme, Aldington, atau juga Doolittle) dalam hal pemakaian imaji, maupun pemilihan kata-kata. Melalui tulisan Cuddon dalam A Dictionary of Literary Term (h. 324), dikatakan bahwa kaum imajis cenderung untuk memakai imaji yang jelas dan tajam, serta memakai perbendaharaan kata-kata yang bersifat keseharian. Kenyataan tersebut, dengan jelas dapat dijumpai dalam sajak-sajak Sapardi.

/2/
Pengertian keseharian seperti telah disinggung, ternyata tidak hanya terbatas pada pemakaian kata-kata saja, tetapi juga yang berkaitan dengan peristiwa atau kejadian. Jelasnya, menghadapi sajak-sajak Sapardi, kita harus sudah bersiap untuk menghadapi ungkapan kejadian-kejadian yang “biasa”.

Dalam hubungan ini, rasanya kita masih harus bersetuju dengan pendapat Goenawan Mohamad dalam Horison, Februari 1969 (h. 42), yang menyatakan bahwa lewat lirik dan penggunaan imaji-imaji yang sugestif, “ia telah memilih untuk tidak berbicara lagi tentang semboyan dan prinsip-prinsip besar.” Bagi Sapardi sendiri tersirat adanya sikap yang cenderung berposisi bahwa gagasan besar tidak ada artinya dan bahkan berkemungkinan menjadi “hambar” bila gagasan besar itu ditulis oleh mereka yang tidak pas, atau dituang dengan pengucapan yang kurang memadai, sebagaimana diungkapkannya lewat esainya berjudul “Memperbincangkan Gagasan Besar,” Horison, Januari 1983, h. 23.

Begitulah, tampaknya Sapardi memang tak mau pusing dengan soal gagasan besar ini. Ia memang lebih memilih hal-hal yang akrab saja, yang dekat dengan keseharian manusia. Oleh karena itu pula, tidaklah aneh apabila ia kemudian banyak menampilkan hal-hal yang dapat dijumpai setiap hari atau yang merupakan bagian dari kehidupan kita yang sangat personal. Dalam sajak-sajaknya dapat ditemui akan pengungkapan misteri tentang bunga, angin, gerimis, capung, anjing, jam, selokan, dan burung misalnya, yang sepertinya hanyalah persoalan kecil dan sepele. Tapi, apakah sajak-sajak yang berbicara tentang benda atau mahluk-mahluk itu kemudian juga menjadi sesuatu yang tidak berarti?

/3/
Meskipun Sapardi hanya atau cenderung memilih hal-hal sederhana itu, sajak-sajak Sapardi hadir dengan keistimewaaan. Hal seperti ini dapat terjadi agaknya karena Sapardi menuangkan kesemuanya itu dengan emosi yang terkendali yang dipadukan dengan nilai-pikir yang sangat manusiawi.

Yang agaknya terasa lebih bernilai lagi dari sajak-sajak dalam kumpulan ini adalah kemampuannya menyadarkan kita akan kelengkapan semesta di sekeliling kita, dan sekaligus mampu menyadarkan kita akan kedirian kita sebagai manusia. Lewat sajak-sajaknya yang mengungkap misteri bunga, angin, hujan, dan sebagainya itu, setidak-tidaknya akan mampu mengajak kita merenungi hal-hal yang sangat mungkin tidak pernah kita hiraukan.

Dari sajak “Di Tangan Anak-anak” misalnya, kita tiba-tiba disentakkan untuk menyadari bahwa bagi anak-anak (satu jenjang yang pasti pernah kita alami semua), / … kertas menjelma perahu sinbad/, / … menjelma burung/; atau juga pada larik /di mulut anak-anak kata menjelma Kitab Suci/ (h. 49). Dari kenyataan itu, kita diajak untuk merenungi satu dunia yang pernah kita arungi dalam penggalan perjalanan kemanusiaan kita. Sajak lain yang juga cukup mampu untuk “mengajak kembali” ke dunia anak-anak, misalnya adalah pada sajak “Perahu Kertas” (h. 46).

Sajak-sajak dalam kumpulan ini tampak begitu matang; hal itu tiada lain agaknya setelah melewati suatu perenungan panjang tentang hidup keseharian di sekitar kita. Melalui jiwa puitis Sapardi, hal-hal yang biasa tersebut diungkapkan dan disodorkan kepada kita. Akibatnya, yang tertangkap kemudian adalah semacam “ajakan” untuk memahami dan merenungi kehidupan di sekeliling kita itu dengan seksama dan seintensif mungkin, karena di balik keseharian dan kesahajaan di sekitar kita itu ternyata banyak pelajaran yang dapat memperkaya rasa kemanusiaan kita. Penyadaran akan kemanusiaan yang semacam itulah yang sekurang-kurangnya dapat disebut sebagai upaya yang tidak sia-sia, terlebih-lebih lagi di tengah zaman yang menggusarkan dan sepertinya telah banyak yang kehilangan rasa dasar kemanusiaan ini.

Sudah barang tentu, menyinggung soal kemanusiaan ini, tidak dapat menafikan pula persoalan yang selalu mengikuti perjalanan hidup seorang manusia, yaitu semacam rasa ngilu, haru, ngelangut, sedih, dan penasaran. Akan tetapi, dengan mengindahkan rasa-rasa itu, justru akan semakin menyadarkan keberadaan kita sebagai manusia, sebagai suatu individu yang sesungguhnya terperangkap oleh situasi yang tidak kita kehendaki kehadirannya dan di luar kemampuan atau kekuasaan kita untuk menolaknya.

/4/
Sajak-sajak Sapardi, sebagian besar diungkapkan dengan perangkat lirik, yang berbisik, yang tidak berisik, berkisah dengan indah, namun sesekali juga menghentak dan menyentak. Dengan lirik, yang kemudian menjadi titik tumpu perhatian tentunya pada kemampuan mengeksploitasi diksi, khususnya dalam kerangka dasar untuk menjaga emosi dan keruntunan pengucapan. Dengan demikian, tidaklah perlu diherankan apabila kemudian dalam hubungan dengan pilihan kata, Sapardi tampak sekali begitu hati-hati, sebagaimana pula kehati-hatian para penyair imajis umumnya dalam memilih dan merangkai kata serta memelihara irama kata untuk menjaga terbentuknya suasana-suasana tertentu. Dalam kaitan ini, kemudian terlihat bahwa meskipun Sapardi cenderung hanya memakai kata-kata yang biasa dan sehari-hari, tampak sekali bahwa ia sangat jeli dalam menata serta menciptakan komposisi yang mampu mendukung hadirnya imaji-imaji tertentu. Sekadar contoh, kutipan berikut dapat menjelaskan: / … pandangmu adalah seru butir air tergelincir dari duri/ mawar (begitu nyaring!); swaramu adalah kertap bulu berang/ yang gugur (begitu bening!)/ (“Lirik untuk Lagu Pop”, h. 19).

Lirik, agaknya, sudah merupakan pilihan utama bagi Sapardi. Dengan lirik, dengan pengucapan subjektif, sebagaimana dikatakan oleh Goenawan Mohamad, “ ia pun telah membebaskan diri dari desakan pengaruh sajak-sajak ‘berjoang’ waktu lampau”. Dan dengan lirik yang terjaga pula, setidak-tidaknya ia akan menggiring pembaca kepada dua kemungkinan: menikmati lantunan komposisi kata-kata, serta sekaligus menikmati siratan makna yang mengemuka, baik yang barangkali saja hanya merupakan suatu perenungan yang mendalam atau yang hanya sekadar obsesi diri belaka. Namun, seandainya pun ternyata belum mampu menangkap kilatan makna yang mengiringi atau menjiwai sajak-sajaknya itu—karena barangkali disebabkan oleh uniknya pengimajian, misalnya—sangat boleh jadi hanya dengan menikmati komposisi lirik-liriknya yang memukau saja, para pembaca sudah cukup terpuaskan. Hal semacam inilah agaknya yang memang terjadi.

Namun demikian, sebagai penikmat sastra yang baik, kita tentunya akan berusaha terus untuk menelusur atau merebut makna yang disiratkan oleh sajak-sajak itu. Dan sajak-sajak Sapardi memang menantang untuk dinikmati, digauli, direnungi lirik-liriknya, sekaligus maknanya.
***


(Ibnu Wahyudi bersama Sapardi Djoko Damono, tiga tahun lalu).

___________________
*) Ibnu Wahyudi, sastrawan kelahiran Ampel, Boyolali, Jawa Tengah 24 Juni 1958. Mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia (UI), selain itu menjadi pengajar-tamu di Jakarta International Korean School (sejak 2001), di Prasetiya Mulya Business School (sejak 2005), di Universitas Multimedia Nusantara (sejak 2009), dan di SIM University Singapura.
Pendidikan S1 di bidang Sastra Indonesia Modern diselesaikan di Fakultas Sastra UI (1984). Tahun 1991-1993, mengikuti kuliah di Center for Comparative Literature and Cultural Studies, Monash University, Melbourne, Australia dan peroleh gelar MA, serta menempuh pendidikan doktor (Ilmu Susastra) di Program Pascasarjana UI. Tahun 1997-2000, menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.
Kumpulan puisinya yang sudah terbit, Masih Bersama Musim (KutuBuku, 2005), Haikuku (Artiseni, 2009), dan Ketika Cinta (BukuPop, 2009). Kumpulan prosamininya berjudul Nama yang Mendera (Citra Aji Parama, 2010). Buku puisinya Masih Bersama Musim masuk 10 besar penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2005. Buku-buku yang pernah disusun /disuntingnya, Lembar-lembar Sajak Lama (kumpulan sajak P. Sengodjo) Balai Pustaka 1982, Pahlawan dan Kucing (kumpulan cerpen Suripman) Balai Pustaka 1984, Konstelasi Sastra (Hiski, 1990), Erotisme dalam Sastra (1994), Menyoal Sastra Marginal (2004), Toilet Lantai 13 (Aksara 13, 2008), Ode Kebangkitan (2008), dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *