Sajak-Sajak Rakai Lukman

Bacalah Atas Nama

Bacalah atas nama yang maha segala, nak
meski belum kau tahu abjad dan aksara
bacalah atas nama yang maha segala, nak
meski belum kau tahu hijaiyah dan kauniyah
bacalah atas nama yang maha segala, nak
meski belum kau terka bising lalat dan lebah
bacalah atas nama yang maha segala, nak
meski kau belum tereja jejak sapi dan unta
bacalah atas nama yang maha segala, nak
meski belum kau beda cermin dan kaca
bacalah atas nama yang maha segala, nak
meski belum kau pilah deras sungai dan hujan
bacalah atas yang maha segala, nak
segala yang berada lekas sirna
segala yang kuasa luluh
segala yang menempel akan tanggal
kecuali Esa yang mengukir tinta di lauh
pelentur kaku penentram ngilu
bacalah sebelum selimut mengubur
sebelum burung dan katak asyik dengkur

Kalirejo, 2017

Para Penjual Pisang

Pisang-pisang baris berbanjar
Berkerumun
Menanti lembar-lembar rupiah
Celoteh kanan kiri
Tawar-menawar nasib
Murah meriah meluncur dari bibir yg resah
Hilir mudik, tarian pagi.
Sembari menyayi lagu subuh

Orang-orang tepian pasar
Mengais rizki, jamuan anak-istri
Dan ongkos sekolah
Yg melambung di pucuk langit

Tawanya adalah air mata yang teduh
Berucap syukur
Meski hati letih memanggul

Kalirejo, 2017

Sepotong Kisah Wali Murid

Sejak kecil ia piatu. Pengail ikan berumpan cacing dan lumut. Ikanikan kali ditampung dalam timba. Di bawa ke gubuk reot, sehari makan sepiring cukup. Ikan matang menari di lidah ibu, nenek dan tetangga. Sekolahnya modal tekad dan melapor kepala madrasah “tak ada biaya spp dan ujian”.

Ia santri tak gemar mengaji. Hobi memasak bagi kawanan santri. Tiga nampan diramu “sayur kangkung, sambal dan teri”. tiga suap melaju di lambung. Sudah cukup, ia memanen tawa.

Jual bubur kacang ijo di pinggir jalan, ongkos hidup dan spp kedua puteranya dan seorang yatim-piatu dirawat sepenuh purnama. Kisahnya mengalir penuh kelekar dan sumringah.

Ia berkawan sesepuh dan kiai. Subuh dirangkul dengan cuci panci dan meracik bekal usaha. Matanya riang, kalbunya benderang. Ia ajari sanak famili menyulam nafkah. Sederhana, mandiri, bersahaja. Kisahnya didedar di bangku sembari menunggu doadoa bertebaran. Ia punguti lalu haturkan penuh makna. Lalu pamit dan titip semangkuk bubur kacang ijo, yang kusimpan di etalase ruang tamu

Dukunanyar, 2018

___________________
Rakai Lukman ialah nama pena Lukmanul Hakim, kelahiran Gresik 1983. Ikut berkecimpung di dunia kesenian semenjak SMA, berlanjut di Yogyakarta, lantas pulang ke kampung halaman. Di tanah kelahiran, masih ikut nimbrung di perhelatan alam estetika. Sempat nongkrong di Sanggar Jepit, Teater Eska, Roemah Poetika, Teater Havara, KOTASEGER (Komunitas Teater Sekolah Gresik), Gresik Teater, DKG (Dewan Kesenian Gresik), Lesbumi PCNU Gresik, dan Sanggar Pasir. Menjadi Guru SB di SMK Ihyaul Ulum, dan Guru BI di SMK al-Ihlas. Antalogi tunggal “Banjir Bantaran Bengawan.” Antalogi bersama, Kitab Puisi I Sanggar Jepit (2007), Burung Gagak dan Kupu-kupu (2012), dan Seratus Penyair Nusantara, Festival Puisi Bangkalan II, 2017. Juga terlibat riset dalam program pendampingan teater DKJT 2018, dan pengkajian sejarah lokal Desa Canga’an, Ujung Pangkah, Gresik 2019. Kini sedang mempersiapkan antalogi kedua, “Curhatan Bengawan” 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *