Sebelum Kunang-kunang: 27 Catatan Lepas Ahmad Yulden Erwin


(Ahmad Yulden Erwin, Foto jepretan M. Bob Thantowi)

1/
Kebanyakan penulis sastra di negeri ini cuma mengandalkan “bakat alam” dalam menulis, yang berarti menafikan studi. Itu sungguh aneh atau, mungkin, naif. Jika kau berlatih kendo, kau mesti memulainya dari latihan dasar, baru masuk ke ‘kata’ (jurus), lalu latihan tarung berpasangan, dan terakhir meditasi. Setelah sepuluh tahun barulah kau akan terbebas dari jurus, dari teknik–setelah berlatih setiap hari tentu saja. Dengan kata lain, teknik telah menjadi dirimu sendiri, pedang telah menjadi tanganmu sendiri, itulah yang disebut “bakat alam”. Di dalam kendo, kesombongan dan kebodohan tak cukup untuk menyelamatkan dirimu dari ayunan pedang lawan.

2/
Rahasia dari seluruh “Seni” ada dalam Kitab Vigyan Bhairav Tantra, sebuah kitab yang ditulis 5000 tahun lalu di Kashmir. Sungguh, saya belajar tentang hakikat seni, termasuk puisi, jauh lebih banyak justru dari Kitab ini. Seni, sama seperti jalan spiritual, adalah perluasan dari fungsi-fungsi inderawi kita. Seluruh indera kita (termasuk pikiran) sesungguhnya bersifat Kosmik, tak terpisahkan dari Alam Semesta. Setiap indera kita adalah Jalan menuju Jatidiri kita sendiri, Keesaan, Kehadiran Serentak dari Segala Sesuatu yang Ada–Presensi! Semua pemusik, pelukis, pematung, penari, dan sastrawan kelas dunia saya yakin menyadari “Rahasia Agung” ini.

3/
Rumus ‘Seni’ kelas dunia itu adalah ‘Berpikir Paradoks’ terkait pendalaman tematiknya. Keajaiban Seni itu muncul dari “lompatan”. Di Timur lazimnya menggunakan rumus: kecil ke besar, setetes embun dalam samudera. Di Barat, tetapi di Timur juga pernah diungkapkan oleh Kabir, penyiar sufi dari India, adalah kebalikannya: besar ke kecil, samudera dalam setetes embun. Keduanya sama menggetarkan oleh sebab sama menghasilkan keindahan dari yang “Tak Terkatakan”.

4/
Otak manusia, atau lebih tepat pikiran manusia itu, bersifat “klasik” atau “kuantum”? Kalau ada yang percaya begitu saja ketika seorang profesor neurosains bilang bahwa otak manusia itu “klasik”, maka ia telah mengalami sesat pikir karena otoritas. Sayangnya, ada seorang teman yang bersikap demikian. Kalau teman saya itu cukup cerdas, maka mestinya ia bertanya kepada sang profesor neurosains itu: “Kalau otak manusia memang ‘klasik’, maka bagaimana para ilmuwan bisa menciptakan dan memahami teori kuantum?” Pikiran manusia yang kompleks dan khaotik kerjanya itu terlalu gampangan dan simplistis kalau mau disamakan dengan kerja kausalitas urut-urutan ala “google translate” yang masih idiot itu. Selama problem P=NP dari Kurt Godel belum bisa terpecahkan, maka sebuah super komputer yang menggunakan teknologi AI tercanggih sekali pun tak bakalan mampu membuat sebait puisi surealis seperti puisi karya Pablo Neruda atau Octavio Paz atau Tomas Transtromer. Jika sebuah komputer belum mampu menciptakan sebait puisi surealis yang berkualitas, maka neurosains masih tetap sebuah “ilmu idiot” dibandingkan pikiran manusia modern. Para juru dakwah sains populer tak bakalan percaya ketika saya bilang bahwa puncak dari pikiran manusia itu bukan rumus Teori Relativitas Umum Einstein atau Teori Gelombang Schrodinger atau Teori Ketidakpastian Werner Heisenberg atau Teori Ketidaklengkapan Kurt Godel atau Teori Permainan John Nash, melainkan sebuah drama karya Shakespeare atau sebuah puisi karya Octavio Paz atau sebuah lukisan karya Vincent van Gogh atau sebuah komposisi musik karya Beethoven.

5/
Ketika epistemologimu keliru, kau akan membuat bencana. Tak pernah ada epistemologi di dalam kata. Segala sesuatu bukan bermula dari kata, tetapi sintaksis. Kata tak membentuk pemahaman dan epistemologi tanpa kata lainnya, sebab kata yang berhubungan dengan kata lainnya adalah sebuah sintaksis. Sebuah pemahaman, seperti juga sebuah makna dalam satu kata, selalu mengambil bentuk sebuah sintaksis. ISIS adalah sebuah sintaksis, bukan kata. Islam adalah kata, bukan sintaksis, tetapi makna kata Islam tergantung pada sintaksis, seperti tasrih makna kata di dalam sebuah kamus misalnya.

“No-mind” atau “sunyata” di dalam konsep Zen, bukan berarti kau berhenti berpikir, tetapi melampaui pikiran dan tak terikat pada pikiran, dan itu berarti kau menyadari bahwa pikiran memang tak punya substansi, tak punya “diri” yang solid, tak punya “cogito”, tetapi terus-menerus bergerak, bersiklus, mengalir, kreatif, bermain.

Pikiran hanya sebuah gerak yang mengalir tanpa henti, yang muncul dalam aneka bentuk kata, bahkan juga di dalam konsep dari morfem “penuh” atau “kosong” itu sendiri. Setiap konsep adalah sebuah sintaksis, bukan kata. Konsep angka “satu” sebagai angka “satu” jelas tak ada maknanya, kecuali angka satu itu ditasrih ke dalam satu sintaksis. Jadi, segala sesuatu tak bermula dari kata, melainkan sintaksis.

Ketika epistemologimu keliru, kau akan menjadi budak dari “virus pikiran”. ISIS adalah contohnya.

6/
Kini, pertama kalinya, para ilmuwan telah menemukan formula klasik untuk “pi” dalam dunia fisika kuantum. Pi adalah rasio antara keliling lingkaran dan diameternya, dan sangat penting dalam matematika murni, tapi sekarang para ilmuwan telah menemukan bahwa “pi” juga “bersembunyi” di dalam dunia fisika, tepatnya ketika mekanika kuantum menemukan bahwa “pi” juga terdapat pada saat membandingkan tingkat energi dari atom hidrogen. Hal yang sebelumnya dianggap sebagai “puisi matematis”, bilangan “pi” itu, kini telah terbukti memiliki korespondensinya dengan realitas fisik. Di sini alasan saya kenapa menyukai sains, karena di dalam sains baik sains murni maupun sains terapan tak pernah dianggap bertentangan, tetapi saling menguatkan, saling berkaitan.

7/
Puisi, seperti juga seni lainnya, bisa sederhana maupun kompleks dalam strukturnya. Baik sederhana maupun kompleks akan sama menggetarkan bila puisi itu ditulis dengan presisi dan keteguhan jiwa. Haiku-haiku Basho yang ditulis dengan struktur sederhana maupun haiku-haiku Tomas Transtromer yang dituliskan dengan struktur kompleks, keduanya sama menggetarkan. Seorang yang “memahami” dan telah melangkah di “jalan-setapak-estetika” akan langsung bisa membedakan mana puisi yang ditulis dengan seluruh “Jiwa” dan mana yang sekadarnya saja. Begitu pula halnya dengan seni bertarung pedang. Hanya orang bodoh yang nekat bertarung dengan para master samurai “iaido” semata karena melihat gerakan “kata” mereka yang rileks dan tak memahami bahwa para master samurai itu telah berlatih sepanjang hidupnya, menjadikannya sebagai “Jalan Hidup”. Dan kita sungguh-sungguh tertipu oleh ego kita sendiri jika berpikir bisa mengalahkan para master samurai ini tanpa belajar teori bertarung pedang dengan benar dan melatihnya selama bertahun-tahun. Di dalam pertarungan pedang yang nyata nyawa kita tidak bisa diselamatkan hanya dengan menggembungkan ego bodoh kita. Begitu pula halnya dalam menulis puisi.

8/
Menuntut orang lain untuk rendah hati adalah salah satu keangkuhan terselubung. Jika kau memang rendah hati, maka jangan tuntut siapa pun untuk melakukannya kepadamu, tetapi tundukkan saja dan–bila perlu–penggallah sendiri kepalamu yang penuh muslihat egoistik itu. Negeri ini sudah lama diselimuti tuntutan rendah hati atau kesantunan palsu model begitu, semacam politik etis para “menir”, agar kau terus merangkak-rangkak sebagai “koeli” di hadapannya.

Saya teringat pendapat spiritualis besar pada abad ke-19 dari India, Swami Vivekananda: “Tak ada dosa terbesar manusia selain menjadi lemah, karena bila demikian kau telah merendahkan martabat kemanusiaanmu sendiri dan meletakkannya di bawah telapak kakimu. Jadilah kuat, sehingga kau tak perlu merengek-rengek menuntut orang lain untuk melakukan kebaikan moral kepadamu, sebab sungguh tidaklah etis bila kau menuntut orang lain untuk menjadi budak kebaikan moralmu. Jadilah cerdas, sehingga seluruh dunia akan terbantu dengan berkurangnya satu orang bodoh di muka bumi. Tuhan Maha Kuat, maka jadilah kuat!”

9/
Penulis medioker itu selalu menuntut dan memaksa orang lain agar “rendah diri” di hadapan “dewa-dewa sastra” yang bloon. Jika ada orang lain terbang, ia segera menuntut orang lain itu merangkak-rangkak di tanah, sebab terbang dianggapnya sebagai bentuk keangkuhan (padahal maksudnya jangan terbang melebihi dirinya). Jika seseorang berjalan di tanah, maka ia akan mengejek orang yang berjalan di tanah itu agar segera terbang ke langit, tanpa memberi tahu bagaimana caranya terbang. Itulah mental feodal–termasuk bila sosok itu memiliki gelar akademis tertinggi–yang tak pernah bisa menatap sebiji benih bertumbuh menjadi sebatang pohon menjulang.

Mental feodalistik macam begitu tak lain satu bentuk kemunafikan karena selalu menuntut yang lain agar “rendah hati”, padahal maksud sebenarnya hanyalah agar yang lain itu selalu rendah diri di hadapannya. Rendah hati palsu semacam itu telah membuktikan hasilnya di sini: penjajahan selama berabad-abad. Kolonialisme dan feodalisme selalu bisa akrab, karena memang memiliki watak yang sama: budak! Kenapa? Karena hanya orang yang memiliki mental budaklah yang akan mampu memperbudak yang lain.

Di sini, di negeri ini, menurut saya, tak pernah ada pascakolonialisme, yang ada hanyalah epikolonialisme. Gagasan soal ini telah saya kemukakan dalam satu esai berjudul “Puisi Sugesti, Situasi Epikolonial, Logika Irasional” pada tahun 1994, saat saya masih mahasiswa, dan telah banyak beredar dalam berbagai situs internet hingga saat ini. Kata “epi” saya pinjam dari seorang filsuf Spanyol awal abad ke-20, George Santayana–mentor dari penyair Wallace Stevens–yang mengemukakan gagasan tentang epifenomenalisme, sebuah gagasan yang menyatakan bahwa fenomena kesadaran atau jiwa hanyalah hasil dari aktivitas tubuh, kelanjutan dari aktivitas tubuh. Begitu pun halnya dengan epikolonialisme, setelah penjajahan fisik berlalu pada proklamasi kemerdekaan 1945, maka penjajahan di negeri ini terus berlanjut dalam bentuk penjajahan pikiran, penjahan jiwa, penjajahan mental kepada bangsa sendiri. Penjajahan itu, pada dasarnya adalah soal mental, mental medioker dan bukan eksplorer.

10/
Dalam penulisan puisi, saya melanjutkan pandangan Chairil Anwar: “Saya adalah ahli waris kebudayaan dunia.” Sejak awal saya menekuni dunia sastra hingga saat ini saya nyaris tak mengalami konflik identitas seperti yang dialami para penulis pascakolonial dan realisme magis. Saya mencintai mitos-mitos Yunani, sama seperti saya mencintai syair-syair Hamzah Fansuri dan Abdullah bin Abdul Qadir Munsyi, hingga gurindam Raja Ali Haji. Saya terkagum dengan Vigyan Bairava Tantra dan koan-koan Zen, sama seperti saya kagum dengan Serat Centini dan La Galigo. Saya menekuni Zen dan Yoga dan Silat Kali, sama seperti saya menekuni logika simbolis juga matematika diskrit dan kosmologi kuantum juga teori khaos. Saya jatuh cinta kepada puisi-puisi China klasik dan haiku, sama seperti saya jatuh cinta kepada puisi-puisi imajisme dan surealistik. Saya studi linguistika dan semiotika secara intensif, sama seperti saya studi teks-teks sufistik dan budhistik. Saya suka musik klasik dan jazz, sama seperti saya suka musik etnik nusantara. Saya terhisap lukisan-lukisan impresionisme dan pasca-imrpresionisme, sama seperti saya terhisap motif-motif arabeska dan lukisan non-perspektif China dan Persia klasik, lukisan cukil kayu Jepang, hingga lukisan tradisional Bali. Saya terkagum dengan tari Butoh, sama seperti saya takjub dengan tari saman dan serimpi dan bedoyo. Saya membaca filsafat Eropa, sama seperti saya membaca filsafat Ki Ageng Suryomentaram. Dan, meski demikian, dari awal hingga akhir, saya tetap berada di halaman rumah saya.

11/
Momen puitik itu bukan renungan, bukan letikan emosi, bukan persepsi inderawi, melainkan hal yang membangunkan VIRTUE–nilai-nilai dalam kemanusiaanmu. Pencetusnya bisa apa dan siapa saja, bisa hal yang dianggap besar atau kecil, yang jelas bila momen puitik itu timbul kau akan menjadi lebih manusiawi.

12/
Guru pertama saya menulis puisi adalah puisi-puisi Chairil Anwar di dalam buku tipis yang berjudul DERU TJAMPUR DEBU. Itulah buku puisi pertama yang saya baca dari lemari perpustakaan ayah saya pada saat saya kelas 2 SMP, 29 tahun lalu. Setelah membaca buku itu saya pun mulai menulis puisi di dalam buku tulis, hingga berpuluh-puluh buku tulis. Saya juga terus membaca buku-buku sastra ejaan lama dalam lemari perpustakaan ayah saya. Pada saat kenaikan kelas 3 SMP, ayah saya bertanya apa hadiah yang saya minta. Spontan saya jawab: MESIN KETIK. Esoknya ayah saya membawa saya ke pasar loak ‘Sederhana‘, satu lorong di samping terminal angkot Tanjungkarang, dan membelikan saya mesin ketik kecil merek Brothers. Dengan mesin ketik itu saya menuliskan puisi-puisi saya dan mempublikasikannya ke media massa dan mengikuti berbagai festival sastra hingga saya mahasiswa. Setelah ayah saya meninggal barulah saya tahu dari ibu saya bahwa ayah saya berhutang di kantornya demi membeli mesin ketik itu. Pagi ini saya bersihkan mesin ketik itu dengan mata berkaca-kaca.

13/
Di dalam sastra atau seni pada umumnya, orang bisa mencuri teknik, tapi tak mungkin mencuri momen puitik atau momen estetik. Teknik bisa dipelajari, tapi momen puitik hanya bisa dimasuki ketika batin kita sadar sepenuhnya.

14/
Dalam bidang apa pun, dalam hal apa pun, dalam jalan apa pun, kita akan menemukan Zen, Chan, Dzogchen, Ghyan, Dien–menemukan kedalaman sekaligus keluasan–menemukan Samadi, termasuk di dalam sepotong puisi. Perbedaan hanya ada di dalam pikiran yang mendiskriminasi, yang hibuk memecah, memilah, bukan pada Jatidiri. Orang bisa berpikir Keheningan mampu dipecahkan dengan teriakan atau isak lirih–benar, namun tak selamanya. Tak ada teriakan atau isak lirih yang bisa abadi. Ketika semua itu berlalu, yang tersisa hanyalah Keheningan, jeda dalam ruang puitik itu, tepat seperti sebelumnya.

15/
Tiga tahun menjelang akhir hidupnya, sebelum memutuskan matinya sendiri, Vincent van Gogh hidup dalam momen artistik dari hari ke hari, melukiskan batinnya yang ia persepsi pada alam dan figur di sekelilingnya dan ia ekspresikan ke dalam kanvas-kanvasnya. Saat melukis ia terserap ke dalam momen artistik itu dengan utuh. Ia tak memikirkan yang lain, hanya lukisan dan lukisan dan lukisan yang memenuhi batinnya. Ia hidup dalam bentuk dan warna. Ke mana pun matanya memandang hanya lukisan yang ada, hanya presensi dari Keindahan yang sungguh-sungguh nyata. Ia hilang ke dalam lukisan, di dalam Keindahan. Dan orang-orang hanya menganggapnya sakit atau gila. Ia tak peduli. Baginya, momen artistik itu, momen puitik itu, adalah jatidirinya. Ia tak butuh jatidiri lain di luar dirinya. Dan ketika selesai, ketika seluruh energinya habis, seperti pelita yang kehabisan minyak, ia pun memutuskan meniup sendiri sisa api di sumbu pelita batinnya. Seniman memang tak abadi, tak sempurna–tapi adakah manusia yang sempurna, kecuali dalam mitos dan pikiran kita sendiri? Teks seni mungkin abadi, seniman tidak.

16/
Puisi tanpa ”Gita Puitik” adalah prosa. Puisi tanpa ”Lukisan Puitik” adalah filosofi atau khotbah palsu. Puisi tanpa ”Pendalaman Tematik” adalah racauan. Memadukan dengan laras ketiga hal itu adalah inti dari ”Komposisi Puitik”. Kompleksitas kerja kreatif penciptaan puisi terjadi ketika setiap unsur dari “Komposisi Puitik” itu juga memiliki unsur-unsur yang mesti dilaraskan menjadi satu komposisi (Sub-Komposisi Puitik). Rasa saya hal begini tak mungkin dilakukan tanpa pengetahuan yang memadai tentang teori sastra (ars poetica) dan latihan menulis yang tiada henti. Karena itu mencipta puisi bagi saya lebih merupakan ”Jalan-Hidup” ketimbang kendaraan buat menggembungkan ego penulis puisi akan popularitas pribadi.

17/
Saya hanya menulis puisi ketika ada momen puitik yang menyentuh jiwa saya, sebuah momen keserentakan yang meluaskan sekaligus mendalamkan pikiran dan rasa saya, dan karenanya layak untuk dituliskan ke dalam puisi. Dengan begitu puisi akan menjadi bahasa jiwa yang diabadikan oleh jiwa agar mampu menyentuh dan membangkitkan keindahan tersembunyi di dalam jiwa kreator kedua, sang pembaca. Teknik adalah soal cara, bukan esensinya. Tetapi, tanpa teknik yang matang, jiwa itu juga tak bisa hadir ke dalam puisi, tak bisa menjadi presensi, menjadi momen puitik yang tak terganti di dalam jiwa pembaca.

18/
Ame Agaru, “Selepas Hujan”, frasa yang menjadi judul naskah film yang terakhir ditulis Akira Kurosawa, sutradara film kelas dunia dari Jepang itu, amatlah puitis. Kenapa? Frasa puitik itu bukanlah simbol atau metafora atau simile–karena dalam konteks majas perbandingan frasa itu tak “menunjuk” pada “satu” topik yang pasti, yang dicarikan titik persamaan dengan “kendaraan majasnya”. Frasa puitik itu adalah semacam semiotik, semacam tanda yang secara serentak membuka ruang bagi kehadiran tanda-tanda lainnya. Frasa “Selepas Hujan secara serentak merujuk pada sekian tanda sebelumnya dan menunjuk pada sekian tanda setelahnya. Tanda itu dapat merujuk pada kejadian sebelum hujan itu, mungkin pesta yang hangat dalam cuaca yang dingin, mungkin keriuhan pertarungan seorang ronin, mungkin rasa sayu saat berjalan sendiri pada setapak jalan di tepi hutan, dan sekaligus menunjuk pada tanda setelah hujan: Keheningan, kejernihan langit di angkasa, seekor elang yang melayang sendiri tanpa suara. “Ame Agaru” adalah tanda yang dapat merujuk pada satu hal yang pasti, tetapi serentak pula menunjuk pada segala yang mungkin–seperti jiwa, seperti puisi.

19/
”Bunuh diri kelas” itu gampang diomongkan. ”Melakoni solitude” itu gampang diserukan. Tapi, uji sesungguhnya ada dalam laku, bukan dalam khotbah. Lao Tze berkata, ”Tao bukan menambah, tapi mengurangi.” Itu sama dengan aforisma sufi: ”Matilah sebelum mati.” Tiba mati kita tak membawa apa-apa, hanya sendiri, sepenuhnya sendiri. Saat terjaga, kita tak melihat segala yang ada dalam mimpi, namun kini bunga-bunga rumput itu nampak bermekaran di depan mata.

20/
“Ilmu pedang adalah soal jiwa. Pelajari jiwa sebelum mempelajari ilmu pedang. Pikiran jahat, pedang pun jahat,” kata Takuan Soho. Rasa saya, perkataan Takuan Soho kepada Musashi ini bisa sedikit dimodifikasi, kata ‘pedang’ bisa diganti ‘puisi’: “Puisi adalah soal jiwa. Pelajari jiwa sebelum mempelajari puisi. Pikiran buruk, puisi pun buruk.”

21/
Ketika dunia sastra lebih banyak mengurusi pribadi sastrawannya ketimbang karya sastra, maka itulah tanda-tanda dunia sastra sedang mandeg. Dunia sastra, sama seperti matematika atau fisika, di mana karya dalam bidang tersebutlah yang menjadi ukuran kemajuannya. Dalam dunia fisika teoritis atau matematika murni, seseorang diakui sebagai ilmuwan karena temuannya yang bisa diuji oleh ilmuwan lainnya. Begitu pun dalam dunia sastra, ukuran akhirnya adalah teks sastra itu sendiri, bukan sastrawannya. Anda bisa membuat mitos hiperbolik tentang sosok sastrawan, tapi Anda tak mungkin melakukannya terhadap karya sastra yang benar-benar brilian, sebab teks sastra itu sudah cukup membuktikan keindahannya. Anda bisa memfitnah sastrawan, tetapi Anda tak mungkin memfitnah sebuah teks sastra.

22/
Seumur hidup pelukis melarat ini tak pernah ikut pameran lukisan di mana pun di muka bumi. Ia juga tak pernah mengikuti kompetisi “Salon” di Paris–sebuah kompetisi para pelukis yang, bila lukisannya lolos seleksi oleh para kurator seni rupa di Paris, dapat melegitimasi sang penciptanya sebagai pelukis berkelas, dan lukisannya akan mulai melejit harganya di mata para kolektor masa itu. Para pelukis muda Eropa pada masa itu pun berlomba-lomba bisa mendekati para kurator “Salon” atau para pelukis yang telah sah “dibaptis” oleh mereka. Tapi, tidak bagi pelukis melarat asal Belanda yang pernah tinggal beberapa tahun di Paris. Ia hanya melukis dan bersahabat dengan beberapa pelukis pasca-impresionis yang amat dibenci oleh para kurator “Salon”–oleh sebab dianggap telah menghancurkan estetika lukisan neoklasik dan impresionis pada masa itu. Ia hanya bergaul dengan beberapa orang saja di antara pelukis pasca-impresionis, yaitu: Paul Gauguin, Lautrec, dan Georges Seurat. Selebihnya ia hanya berdiam di kamar sewanya yang murah: melukis dan mambaca dan terus menulis surat yang menceritakan seluruh proses kreatif melukisnya kepada adik lelaki satu-satunya. Sekembalinya dari Paris ia pun terus melukis dan melukis–dilambari oleh satu tekad untuk menemukan gaya melukisnya sendiri. Sepanjang hidup ia hanya mampu menjual satu lukisan, itu pun tidak dalam rangka pameran lukisan, tetapi karena ia diambang bahaya tidak makan dan terpaksa menjual lukisannya dengan harga murah. Namun, ia terus melukis dan melukis, tak peduli apakah lukisannya akan laku dijual atau kelak dia akan terkenal. Dan, akhirnya, ia pun berhasil menemukan gaya lukis ekspresionismenya yang khas itu. Kini dunia mengenang pelukis itu sebagai pelopor lukisan modern dunia. Lukisannya diburu kolektor kelas atas di mana-mana. Para kritikus memuja-muji karyanya. Para apresian terkagum-kagum dengan capaian artistiknya. Sulit membayangkan bahwa semua itu tercipta dari proses kreatif yang amat menyakitkan dan kesepian luar biasa. Pelukis itu bernama: Vincent van Gogh.

23/
Apa yang akan terjadi pada persepsi kita, ketika ’dewa’ yang kita hormati dan kita puja, sosok yang kita duga tak memiliki kelemahan itu, yang kita anggap mampu menyublimkan segala ‘virtue’, mendadak hadir sebagai sebuah bayangan yang cacat dan tak sempurna, yang memiliki sisi gelapnya sendiri? Wabi-sabi, ketaksempurnaan dalam kesempurnaan, hanya akan selamanya menjadi konsep, ilusi yang membayang sepanjang hidup, sebelum menjadi sebuah peristiwa. Semua yang kita bangun, baik atau buruk, cacat atau sempurna, adalah persepsi kita sendiri. Dan kita tak perlu membunuh ‘dewa’, jelas saja hal itu memang tak akan bisa, karena ia, ‘dewa’ itu, hanyalah sebuah konsep yang kita pilih untuk kita tolak atau percaya. ‘Ilusi-batu’ itu, Tuan dan Puan, tetap tegak di sana, di tepi sebuah jalan sunyi yang kini mungkin telah jarang dilalui orang.

24/
Menulis puisi itu subjektif. Tetapi, teks puisi itu objektif. Itulah sebabnya sebuah puisi yang benar-benar Indah, yang memiliki jiwa, akan tetap hidup bahkan ketika tubuh penyairnya sudah lama mati. Bukan sebaliknya.

25/
Seorang penyair yang “hidup” akan sadar bahwa pertama-tama ia menulis puisi untuk memekarkan cahaya di dalam jiwanya. Jika orang mau membuka diri, moga cahaya dalam jiwanya pun ikut mekar. Tapi, bila menutup diri, berarti itu pun pilihannya. Sebuah teks puitik seperti bibit cahaya, ia akan tumbuh dan memekarkan bunganya yang harum dan indah di lahan yang lembab, bukan gersang.

26/
Secara teknik, saya bisa mencetak penyair. Tapi, saya tak bisa mencetak Jiwa Penyair. Percayalah, tak ada kursus kilat untuk mencetaknya. Jiwa Penyair mesti dilahirkan, bukan dicetak. Begini adalah fakta yang tak terbantahkan: Segala yang tak berjiwa, hanyalah bangkai.

27/
Seorang sahabat saya, penyuka musik blues, pernah berkata kepada saya (tentu saja telah saya modifikasi ujarannya menjadi bahasa tulis, tapi intinya sama): “Saat mendengarkan satu musik yang indah, maka sikap pertama yang mesti kauambil hanyalah satu, yaitu: rileks. Kau tak bisa menikmati alunan nada yang indah dari suatu musik, kalau pikiranmu terus hingar dan begerak tanpa henti. Yang perlu kaulakukan hanyalah mengendurkan otot-otot tegang pikiranmu, dan menyerahkan seluruh ketegangan itu kepada nada-nada yang mengalun indah di sana. Biarkan nada-nada itu memasuki dirimu, sehingga musik pun mengalun dalam jiwamu, menjadi jiwamu.”

Pesan sahabat saya itu acapkali muncul serupa bisikan di dalam kepala saya saat saya menjadi terlalu tegang berhadapan dengan puisi yang kompleks atau lukisan abstrak yang ganjil. Yang saya lakukan hanyalah duduk atau berdiri serileks mungkin, dan membuka diri terhadap ekspresi artistik yang aneh atau ganjil itu. Saya mengistirahatkan pikiran saya yang tegang dan hingar, dan membiarkan diri saya dihisap ke dalam keanehan eksoresi artistik itu–membiarkan mereka mengalunkan nada-nada ganjil, bentuk-bentuk aneh, makna-makna absurd–membiarkan saya dibawa ke dalam ketiadaan yang agung, keluasan dari segala yang tanpa bentuk. Lalu, pada titik itu, saya tiba-tiba akan mendengar suara yang lembut di dalam pikiran saya, seolah suara dari karya seni itu sendiri, yang dengan rileks mengungkapkan seluruh rahasianya–termasuk keindahan, keunikan, dan kepalsuannya. Begini, rasa saya, cara paling jujur dan santai untuk berdialog dengan karya seni yang memiliki ekspresi kompleks.
***

[2012 – 2015]

______________________________
Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandarlampung, 15 Juli 1972. Ia telah menerbitkan kumpulan puisi “Perawi Tanpa Rumah” (2013), “Sabda Ruang” (2015), “Hara Semua Kata” (2018) “Perawi Tanpa Rumah (Edisi revisi, 2018), “Perawi Rempah” (5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *