LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (3)

Sunu Wasono

Kalau mengikuti sepenuhnya struktur cerita wayang sebagaimana yang ditampilkan dalam pergelaran wayang kulit semalam suntuk, cerita tentang lenga tala ini akan panjang sekali. Bisa sampai sepuluh bagian. Jika itu terjadi, dijamin pembaca budiman akan bosan dan malas mengikuti. Karena itu, cerita ini akan dilanjutkan menurut gaya awak.

Sebetulnya yang tersaji ini tak sepenuhnya mencerminkan gaya awak sebab selalu ada saja campur tangan Lik Mukidi. Ketika awak menyusun bagian sebelumnya, bukan main cerewetnya Lik Mukidi. Baru dapat separagraf, komentar Lik Mukidi–kalau dituliskan–mungkin sudah lebih dari sepuluh paragraf. Dari gayanya, ia seakan sudah merasa jadi kritikus. Bukan hanya itu saja, Lik Mukidi kadang-kadang tampil layaknya penyunting senior di sebuah penerbitan besar. “Itu salah, yang betul ini. Jangan begitu, harus begini. Pakai tanda petik ganda dan tunggal yang benar. Atur spasi sesuai dengan kaidah. Bedakan cetak miring dengan cetak tegak. Yang ini jangan cetak tebal. Tak semua kata penting harus diawali dengan huruf kapital. Jangan semua kata ditekan, nanti seperti siaran pers menteri penerangan di zaman orde baru. Kata yang penting saja yang ditekan. Tentu dengan memiringkannya. Jadi penulis harus kritis, peka, berwawasan luas agar tulisannya bernas dan menyentuh perasaan dan tembus ke hati. Juga harus paham penggunaan pungtuasi. Menulis harus dengan hati. Jangan asal tulis dan asal jadi.”

Begitu antara lain yang dikatakan Lik Mukidi. Kalau semua ucapannya dikutip, butuh ruang yang cukup untuk menuliskannya. Tentu saja juga butuh kekuatan jari untuk menekan huruf-huruf di gawai. Dan awak tak punya kesanggupan untuk melakukannya. Karena itu, pengantar ini harus segera disudahi agar tak melantur, dan awak harus mulai melanjutkan cerita. Jika tidak, tak ada bedanya awak dengan Lik Mukidi.
***

Kurawa dipimpin Sengkuni mencari keberadaan Pandawa. Mereka menjelajahi hutan. Tak dinyana barisan Kurawa bertemu dengan barisan prajurit dari kerajaan Atas Angin. Prajurit dari Atas Angin mencari putra Raja Barat Waja yang meninggalkan istana, sementara Kurawa mencari Pandawa yang meninggalkan istana juga. Seperti biasa, kalau dua barisan prajurit bertemu di jalan, kedua-duanya saling menuduh, saling sesumbar, dan saling mengusir.

Sudah bisa dipastikan: keduanya akhirnya berkelahi. Demikianlah, setelah kedua pasukan bertempur, menunjukkan jurus-jurus silat andalan mereka dan teknik memainkan pedang, toya, trisula, keris, dan jenis senjata lainnya, akhirnya pasukan dari Atas Angin mundur untuk mencari jalan lain. Sementara itu, bala Kurawa beristirahat sejenak buat melepas lelah, mengeringkan keringat, dan melemaskan otot-otot sebelum melanjutkan perjalanan.

Bicara tentang mencari sosok-sosok yang pergi, siapa sebetulnya yang dicari para prajurit yang bertempur itu? Untuk para Kurawa sudah jelas siapa yang dicari dan kenapa mesti dicari. Tapi untuk prajurit dari kerajaan Atas Angin, siapa yang mereka cari? Sudah awak sebutkan sebelumnya bahwa mereka mencari putra Raja Barat Waja dari kerajaan Atas Angin. Tapi siapa dia? Tak lain adalah Bambang Kumbayana. Orangnya ganteng, pintar, dan sakti. Tapi sombong dan ndugalnya (bandelnya) ampun ampun. Saking dugalnya, sulit awak melukiskannya. Tapi sekadar contoh, bolehlah awak sebutkan satu ulahnya yang membuat miris bila orang menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Begini kisahnya. Pada suatu hari, ketika Bambang Kumbayana lagi berkuda di hutan dengan anak buahnya bertemulah ia dengan kelompok lain yang juga berkuda. Bambang Kumbayana marah semarah-marahnya ketika dari arah depan ada penunggang kuda yang tak mau minggir. Ditariklah orang itu dari kudanya, lalu dia hajar dengan jurus-jurus silatnya. Meski orang itu sudah minta ampun, Bambang Kumboyono tetap menghajarnya. Remuklah sekujur tubuh orang itu.

Korban atau orang yang dihajar Bambang Kumboyono itu tak lain adalah Ekalawya. Sungguh kasihan ia. Meski sudah minta ampun, tetap saja ia dibantai tanpa ampun. Kutukan dari orang yang teraniaya konon manjur. Dalam keadaan amat menderita Ekalawya pun mengutuk Bambang Kumbayana. Dikatakannya bahwa pada suatu saat nanti Bambang Kumbayana akan kena batunya sehingga tubuhnya akan ringsek, minimal seringsek tubuh Ekalawya. (bersambung)
***

2 Replies to “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *