KEBUDAYAAN MENDESAIN MASA DEPAN (BAGIAN 1)

Aprinus Salam *

Sebagai mahasiswa FIB UGM, akan banyak hal yang dipelajari. Akan tetapi, tema besar dari hal-hal yang dipelajari tersebut adalah Ilmu-Ilmu Budaya. Hal-hal yang akan dipayungi oleh ilmu-ilmu budaya tersebut antara lain bahasa, sejarah, antropologi, arkeologi, sastra, filsafat, sosiologi, dan politik.

Perbedaannya hanya terletak pada pintu masuk dalam mempelajari berbagai persoalan tersebut. Ada yang pintu masuknya lewat bahasa (linguistik, sastra, filsafat), berdasarkan kejadian dalam masyarakat (antropologi di satu sisi, dan sosiologi di sisi lain, dan politik), berdasarkan catatan, dokumen, dan artefak masa lalu (sejarah, arkeologi), dan sebagainya. Akan tetapi, ujung dari proses pembelajaran dan intelektualisasi tersebut adalah mempelajari manusia dan kebudayaannya.

Persoalannya adalah apa kontribusi Ilmu-Ilmu Budaya, bagi bangsa, negara, dan masyarakat, bagi dunia. Untuk itu perlu diketahui beberapa hal. Pertama, apa masalah atau tantangan kebudayaan. Apa hubungan masalah kebudayaan dengan masalah ekonomi, politik, dan sosial. Dalam masalah tersebut bagaimana mungkin Ilmu Budaya memberikan kontribusi.

Pertanyaan lain yang ingin saya jawab adalah apa mungkin (Ilmu) Budaya mendesain masa depan?

Tantangan Kebudayaan

Belum lama ini, saya mendapat washap dari seorang sahabat yang kebetulan pakar ekonomi. Washap-nya seperti ini, “Mas, tantangan ekonomi itu kemiskinan, kesenjangan, penggangguran, ketidakseimbangan gizi, migrasi, masalah ekspor-impor, dan sebagainya..… Kalau tantangan kebudayaan itu apa? Saya tidak tahu persis apakah pernyataannya tentang tantangan ekonomi itu benar atau belum pas. Akan tetapi, pertanyaannya tentang tantangan kebudayaan sangat menarik.

Setelah berpikir agak cepat (karena sedang washapan), agak sepontan saya menjawab. Tantangan kebudayaan itu antara lain; pertama, mencoba menahan terjadinya degradasi kemanusiaan yang semakin akut; Kedua, membongkar masalah beroperasinya kontestasi ideologi-ideologi dan adanya ketidakadilan sosial, dan ketiga berusaha mengurangi berbagai kekerasan dan kekejaman, baik fisik maupun terutama simbolik (non-fisik). Kemudian, saya tercenung memikirkan bagaimana saya perlu memperbaiki jawaban tersebut.

Persoalannya kemudian, apakah kemiskinan, kesenjangan (ekonomi dan sosial), pengangguran, bukan persoalan kebudayaan? Saya mengira hal tersebut juga persoalan kebudayaan. Alurnya, terdapat satu mekanisme atau sistem atau konstruksi (kekuatan) budaya, yang melahirkan berbagai kebijakan, atau peraturan, dan itu terutama kebijakan/peraturan ekonomi dan politik yang menyebabkan terjadinya kemiskinan dan sebagainya itu.

Dengan demikian, tantangan ekonomi atau politik bukan pada kemiskinan itu sendiri, tetapi bagaimana para pemikir dan pelaku ekonomi atau politik memiliki kekuatan, dan sekaligus menantang, terhadap berbagai peraturan atau kebijakan yang dimunculkan oleh dirinya.

Menjadi persoalan kebudayaan ketika berbagai peraturan dan kebijakan tersebut lahir dari “satu model dan konstruksi” (sebagai kekuatan yang mengatur) kebudayaan tertentu. Kebudayaan perlu bertanggung jawab terhadap dirinya ketika Ia ikut memproduksi hal-hal yang menyebabkan apa yang kemudian disebut sebagai mekanisme, peraturan, dan tantangan ekonomi atau politik. Dengan demikian, dalam konteks ini saya menempatkan kebudayaan sebagai sesatu yang tidak sektoral.

Hubungan-Hubungan

Persoalan kebudayaan adalah persoalan yang tidak bisa dilepaskan antara satu dan lainnya, seperti suatu jaringan yang saling terhubung dan menghubungkan. Kebudayaan adalah satu “laku hidup” yang hulu dan hilirnya saling tersambung, sehingga tidak jelas mana sebab dan mana akibat. Kebudayaan adalah sesuatu yang awal, tengah, dan akhirnya berjalan secara terintegrasi dan kadang tidak dapat diketahui di mana terminalnya, kecuali “kematian bersama”.

Sejarah menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang terintegrasi sebagai dan dalam praktik hidup, ketika perasaan, pikiran, dan tindakan berpadu dalam satu sistem atau formasi hubungan-hubungan, yang membangun suatu formasi sosial. Pada awalnya, relasi-relasi tersebut berupa relasi individual, tetapi kemudian menjadi relasi antarkolektif (formasi sosial-budaya). Dalam konteks ini, kebudayaan hidup dan berjalan dalam satu formasi budaya tertentu.

Dalam perjalanannya, berbagai formasi budaya tersebut mengalami arah perjalanan dan pengalaman yang berbeda, baik pada tataran geografi, etnisitas, gender, agama, dengan komposisi dan strukturasi yang berbeda. Hal ini menyebabkan adanya karakter budaya yang berbeda-beda pula. Perbedaan tersebut dimungkinkan dikarenakan perasaan, pikiran, dan tindakan, mendapatkan pengaruh dan penetrasi dari hal-hal yang tidak dapat diduga (bergantung perbedaan konteks). Pengaruh keberadaan geografi, hal-hal yang dianggap kekuatan surpranatural (hal relijiusitas, misalnya), berbagai itos dan dongeng, juga ikut menentukan karakter budaya.

Itulah sebabnya kemudian, dalam masyarakat yang berbeda-beda, kebudayaan menampilkan dirinya secara tidak sama dan memiliki konvensi-konvensi tersendiri, memiliki aturan dan agendanya sendiri, memiliki tujuan tersendiri, sehingga bisa saja antara kebudayaan satu dan yang lain saling berkesesuaian atau berbenturan.

Penjelasan di atas meletakkan kebudayaan secara makro, dengan resiko belum menjelaskan elemen-elemen internal dan eksternal pembentuk kebudayaan. Hal yang dimaksud dengan elemen internal adalah substansi-substansi yang berkorelasi dengan “struktur dalam”, sesuatu yang menyangga kesadaran, terutama terkait perasaan dan pikiran, yang “terakumulasi” ke dalam berbagai bentuk keyakinan, persepsi diri dan kolektif. Hal tersebut kelak sangat berkorelasi terhadap nilai, adat-kebiasaan, hingga hal-hal yang bersifat ideologis.

Sementara itu, hal yang dimaksud dengan elemen eksternal adalah sesuatu yang disebut sebagai “struktur luar”, yakni konstituen-konstituen yang membentuk dan membangun kebudayaan itu sendiri, meliputi formasi relasi dan sosial, konvensi-konvensi dan peraturan, struktur hierarki kekuasaan yang berimplikasi terhadap kehidupan dan tatanan ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya.

Struktur luar dan struktur dalam berhubungan secara dialektis. Itulah sebabnya, dalam hubungan yang dialektis tersebut biasanya terjadi apa yang kemudian disebut sebagai perubahan, baik perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Perubahan tidak dimaksudkan sebagai indikasi ke suatu ”yang lebih baik”, tetapi bisa jadi sebaliknya. Jatuh bangun soal kemiskinan dan kekerasan adalah implikasi dari hubungan dealektis antara struktur luar dan struktur dalam yang tidak dapat diprediksi atau dikendalikan.

Agama dapat diletakkan pada dua sisinya, baik dalam pengertian eksternal maupun insternal. Hal penempatan tersebut dengan asumsi bahwa secara khusus saya tidak mengkaji atau mempersoalkan apakah agama merupakan ilham eskternal atau ilham internal. Akan tetapi, yang jelas, dalam perjalannya agama memainkan peranan penting dalam dialektika “pembentukan” kebudayaan, baik sebagai sesuatu yang telah diyakini, maupun sebagai aturan eksternal yang mengikat.

Kebudayaan dan Masa Depan

Kembali ke pertanyaan semula, dalam konteks tersebut bagaimana mungkin Ilmu-ilmu Kebudayaan ikut berkontribusi mendesain masa depan. Pertanyaaan itu tentu tidak dengan mudah dapat dijawab. Hal tersebut terkait dengan “lingkaran setan” yang menyebabkan kebudayaan terjebak dalam dirinya bukan saja sebagai sebagai sebab, tetapi juga menjadi akibat.

Saya tidak bermaksud menjawab persoalan ini secara langsung. Saya akan melihatnya dari sudut janji-janji kebudayaan itu sendiri.

Seperti diketahui, budaya itu mengandung ideologi. Setiap ideologi, dengan peranan aparatusnya, berusaha menguasai warga agar warga mempraktikkan kehidupan sesuai tuntutan ideologis budaya bersangkutan. Dalam masyarakat Indonesia, paling tidak ada empat ideologi budaya yang saling berkontestasi memperebutkan pengaruhnya, yakni budaya lokal, budaya agama, budaya nasional, dan budaya massa/populer.

Hal menarik adalah janji budaya apa di balik persaingan tersebut. Budaya lokal menjanjikan kedamaian dan harmoni, budaya agama mengutamakan keseimbangan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam untuk menuju alam pasca-duniawi. Sementara itu, janji budaya nasional adalah kesatuan dan persatuan (bangsa), sedangkan janji budaya populer adalah apakah sesuatu menyenangkan dan bisa dikomersialisasi atau tidak.

Melihat persaingan janji tersebut, budaya lokal lebih adaptif terhadap budaya agama dan nasional. Namun, dalam sejarahnya, budaya nasional sering tidak cocok dengan budaya agama. Budaya nasional dan budaya massa dianggap sekuler dan duniawi oleh budaya agama. Akan tetapi, janji budaya massa/populer menempatkan diri di posisi yang berbeda dibanding budaya nasional. Bagaimana praktiknya dalam kehidupan sehari-hari?

Di antara ke empat ideologi budaya tersebut, yang paling heboh, menyenangkan, dan menguntungkan adalah budaya populer. Memang, setiap budaya dapat memanfaatkan teknologi massa sehingga sosialisasi dan peluang setiap budaya relatif sama. Masalahnya terdapat pada perbedaan janji sehingga kita dengan mudah mengadopsi budaya populer.

Budaya populer, sebagai anak kandung kapitalisme, jelas sedang menguasai kehidupan dunia. Segala aktivitas kita harus diperhitungkan berdasarkan kapital, karena berkaitan dengan modal untuk hidup yang dapat dirasionalisasi dan dikalkulasi. Kita dituntut harus kreatif menyiasati hidup dan menyesuaikan diri kalau tidak ingin terseok atau terlindas oleh konstruksi struktur yang berpihak pada kekuatan modal.

Akan tetapi, di atas semua itu, kekuatan utama budaya pupuler adalah bahwa budaya itu mendatangkan rasa kepuasan duniawi. Karena itu, budaya populer mampu mengkonstruksi cara, gaya, dan selera hidup sehingga jika kita merasa tidak mampu mengakses atau menjadi bagian dari budaya populer maka kita merasa ketinggalan zaman. Kita merasa hidup ini demikian pahit dan menderita. Di samping itu, produksi dan reproduksi budaya populer yang setiap hari dipompa media massa membuat kita, mau tidak mau, ikut menikmati budaya populer.

Terpaan budaya populer, tentu saja mendapat hadangan terutama dari budaya lokal dan budaya agama. Hadangan utamanya juga dari sisi janji ideologis itu sendiri. Terutama budaya agama menyerang sisi sekularisme budaya populer. Budaya agama mungkin tidak cukup manjanjikan duniawi, tapi dia melihat bahwa sekularisme tidak menjanjikan kehidupan pasca-duniawi. Ini senjata utama ideologi agama.

Di samping janji kedamaian dan kurukunan, perlawanan budaya lokal terhadap budaya populer lebih pada ideologi identitas. Budaya populer dianggap mengaburkan hakikat identitas (semacam jati diri) seseorang atau sekelompok masyarakat. Bukan berarti budaya populer tidak menjanjikan identitas, tapi identitas budaya populer dianggap palsu dan semu oleh budaya lokal. Akan tetapi, perlawanan budaya lokal tidak frontal, bahkan di beberapa sisi relatif kompromis. Hal itu terlihat dari kemampuan budaya lokal memodifikasi dirinya sehingga dalam banyak hal juga tampil populer.

Di antara ke empat kekuatan budaya tersebut, budaya nasional dapat dikatakan yang paling lemah. Hal itu disebabkan basis historis dan konteks kulturalnya juga dipaksakan secara politik. Terbukti janji persatuan dan kesatuan justru sering dicabik oleh berbagai kerusuhan yang disebabkan adanya perbedaan etnis atau agama. Apalagi jika hal tersebut masuk ke ranah politik, kerunyaman semakin menjadi-jadi.

Artinya, memang orang hidup dalam budaya nasional para aras umum atau permukaan. Hal itu dikarenakan, di berbagai tempat di Indonesia, orang hidup dengan budaya agama dan lokalitasnya masing-masing, ditambah dengan hidup bergaya budaya populer. Ketidakterikatan historis dengan budaya nasional menyebabkan budaya nasional hanya dimanfaatkan untuk kepentingan yang bersifat seremoni nasionalitas.

Juga budaya nasional tidak melakukan perlawanan signifikan terhadap budaya populer. Secara kesejarahan budaya nasional dan budaya populer memang tidak bertentangan. Budaya nasional yang diadopsi dari modernisme memiliki akar kesejarahan yang sama dengan budaya populer. Di samping itu, memang budaya populer tidak merugikan budaya nasional.

Bahkan identitas-identitas yang dibangun budaya nasional berjalan seiring dengan budaya populer terutama dengan adanya komodifikasi simbolik budaya lokal yang dinasionalkan. Terlepas dari itu semua, kita tidak dapat memungkiri bahwa seseorang hidup secara serempak dengan mempraktikkan keempat budaya tersebut. Persoalannya adalah soal struktur dan komposisi dari praktik budaya tersebut. Hal itu ditentukan oleh lokasi kulturalnya, pengalaman, dan konteks historis masyarakat bersangkutan.

(Ringkasan Materi Kuliah Perdana Mahasiswa FIB UGM Angkatan 2018, di Auditorium FIB, 13 Agustus 2018). (Bersambung ke Tulisan 2)

*) Dr. Aprinus Salam, M. Hum., Sastrawan kelahiran Riau, 7 April 1965. Dosen FIB UGM, Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM sejak 2013, Anggota Senat Akademik UGM 2012-2016, Konsultan Ahli Dinas Kebudayaan DIY (2013-2016). Pendidikan S1, Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM (Lulus 1992), S2 Program Studi Sastra Pasca Sarjana UGM (Lulus 2002, salah satu wisudawan terbaik), S3 Program Studi Sastra (Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora, Pascasarjana FIB UGM, lulus 2010).

One Reply to “KEBUDAYAAN MENDESAIN MASA DEPAN (BAGIAN 1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *