7 Capil F. Rahardi

KOMPAS DAN PUISI


Liburan Natal 1975, saya dan beberapa teman penyair ngobrol macam-macam. Salah seorang mengeluh: “Suara Karya memuat puisi, Sinar Harapan juga, kok Kompas tidak ya? Padahal cerpen selalu ada”. Waktu itu belum ada Kompas Minggu. Sambil lalu saya bilang. Mungkin karena tidak ada yang ngirim. “Ah mosok sih?” kata teman tadi. Bisa jadi, kata saya. Coba besuk iseng-iseng saya kirim. Besuknya bener, saya kirim 5 puisi asal comot, berupa ketikan di atas kertas doorslag, diberi pengantar, dimasukkan amplop, ditempeli perangko, dicemplungkan ke bis surat. Awal Januari lima puisi itu dimuat dan dapat honor. O, ya lupa. Waktu itu puisi saya masih “nggenah”.
***

Keteragan tambahan dari Halim HD: “Antara 1972-73 kompas ada ruang puisi. Yang ngasuh emanuel subangun. Banyak puisi yg dibabat. Banyak yg protes. Akhirnya ruang puisi itu ditiadakan karena bangun emooh ngasuh.”

F. Rahardi: “Saya ketemu Subangun setelah di Jakarta. Waktu itu redaktur Budayanya Alfons Taryadi. Bangun menulis ceramahnya Sardono di Teater Arena TIM sepulang dari AS, dengan judul: Ceramah Seorang Penari Besar. Lalu diawali dengan kalimat: Sardono memang seorang penari besar. Paling tidak besar dalam membual. Banyak yang ngamuk, lalu ia dipindah dari desk budaya, lalu dikirim ke Paris untuk ambil S3. Setelah ia keluar dari Kompas saya beberapa kali ketemu Bangun dalam kapasitasnya sebagai Direktur Alocita.”

KAMU NULIS SAJA DI KONTAN


Tahun 1998, Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) beraudiensi dengan Pak Jakob Oetama (JO). Ia Ketua ISKA 1964 – 1985. Waktu itu saya baru saja resign dari Trubus. Pak JO tahu itu. Selesai audiensi dia menahan saya lalu bilang: “Kamu nulis saja di Kontan.” Meski mendapat “titah” dari JO, juga kenal baik A. Margana, saya tetap membuat proposal, contoh tulisan, lalu saya ajukan ke redaksi tanpa menyebut nama JO. Redaksi setuju, saya diberi ruang sebulan sekali. Sambil mereka minta kontak para penulis pertanian. Daftar kontak saya serahkan. Lama-lama saya diminta sebulan 2 X. Kemudian tiap minggu sampai sekarang. “Amanah” Pak JO saya jalankan dengan tetap menjaga kualitas tulisan sesuai standar.

SANG “PERINTIS” ITU BERPULANG


Tahun 1957 Keng Po dibredel. Tahun 1961 menyusul mingguan Star Weekly. Tampaknya kritik tajam PK Ojong tak disukai pemerintah. Maka ketika 1963 ia bersama Jakob Oetama mendirikan Intisari nama PK Ojong tak dicantumkan. Tahun 1965, Bung Karno minta Frans Seda Ketua Partai Katolik, agar partai ini punya koran sendiri. Ojong dan Jakob diserahi tugas ini. Awalnya koran ini direncanakan bernama Bentara Rakyat. Bung Karno tak setuju. Presiden pertama RI ini memberi nama Kompas, yang kemudian tumbuh menjadi bisnis media terkemuka di Indonesia. Dan hari ini, Rabu 9/9-2020, Pak Jakob, Sang Perintis itu berpulang dalam usia 88 tahun. Ini foto Pak Jakob, Pak Ojong, Adisubrata dan Irawati awal dekade 1960.

MUNIR

Di depan sekitar 30 anggota BIN, saya bertanya: “Bisakah kasus Munir terbongkar?” Mereka menjawab serentak: “Tidak mungkin!” Tetapi ketika saya tanya: “Mengapa tidak mungkin?” Mereka diam. Saya lalu memberi gambaran. John F. Kennedy, presiden negara adidaya itu, tewas tertembak di Dallas, Texas, 22 November 1963. Kasusnya tetap gelap sampai sekarang. Benigno Aquino Jr. Senator dan kandidat presiden terkuat Filipina; tewas tertembak saat turun dari pesawat sepulang dari AS. Istrinya, Corazon Aquino; kemudian menjadi Presiden Filipina. Tapi kasus suaminya tetap gelap. Tewasnya Anwar Sadat, Muhammad Zia-ul-Haq, Indira Gandhi; juga gelap. Apalagi MUNIR. Waktu itu saya melatih mereka agar bisa menyusun laporan secara singkat, lengkap, jelas dan akurat.

IVAN ILLICH: MIMPIKU JADI NYATA!


Andaikan masih hidup, Jumat lalu, Ivan Illich Sang Filsuf Modern dan Imam Katolik, genap berusia 94 tahun. Ia lahir 4 September 1926, dan wafat 2 Desember 2002. Yang wafat fisiknya. Sebab idenya tentang Deschooling Society, Tools for Conviviality dan terutama tentang Medical Nemesis; sekarang menjadi kenyataan. Pandemi (wabah) Corona telah mengakibatkan tatanan dunia berubah total, dan anehnya; hampir seluruhnya; pendidikan, kesehatan, perangkat keramahan, produktivitas; semua mengarah ke yang dicita-citakan Ivan Illic. Kadang ide manusia memang “mendahului zamannya”. Misalnya Leonardo da Vinci yang merancang helikopter, padahal listrik dan mesin belum ditemukan. Saya yakin, di alam sana, Ivan Illich, sedang tertawa. “Mimpiku sekarang jadi nyata”.

KORUPSI INFORMASI MODEL TEMPO


Keberimbangan (cover both sides), telah diabaikan Koran Tempo. Menurut KBBI, petaka = bencana. Dalam konteks ini bencana wabah corona. Tetapi petaka Tempo tidak tertuju ke wabah corona, melainkan kebijakan “Normal Baru” pemerintah. Lalu mengapa lambang negara, Garuda Pancasila yang rusak? Pemerintah dan negara dua hal yang berbeda. Dan apa benar normal baru itu petaka? Hari ini posisi Indonesia dalam “peta” wabah corona dunia masih di peringkat 23 (populasi 274 juta, kasus 174 ribu). Dibanding China di posisi 37 (populasi 1,4 miliar, kasus 85 ribu); kita kalah. Tetapi peringkat 1 dunia itu negara adidaya AS (populasi 331 juta, kasus 6,2 juta). Kedua Brasil (populasi 212 juta, kasus 3,9 juta). Tiga India (populasi 1,3 miliar, kasus 3,6 juta). Kecuali India dan AS, di atas kita ada 22 negara, dengan populasi lebih kecil, dengan kasus lebih banyak; termasuk negara-negara maju Inggris, Perancis, dan Jerman.

10 MALAM PASKAH


Senin 12 April 1993, pukul 00.00 WIB, pohon kenari itu telanjang dan kedinginan. “Aku memang tak pernah pakai baju, tak pernah pakai celana, tak pernah pakai rok. Aku bukan laki-laki, bukan perempuan. Aku pohon. Tetapi aku sudah menyaksikan puluhan kali Malam Paskah di Gereja yang Megah di depanku ini. Rentetan perayaan Paskah Katolik itu biasa disebut Pekan Suci Paskah, dimulai dari Minggu Palma, Perjamuan Suci pada hari Kamis, Jumat Agung, wafat Yesus Kristus, yang di kalender-kalender disebutnya ‘Wafat Isa Al Masih’. Lho, Jumat Agung itu hari rayanya Umat Muslim atau Kristen Katolik sih? Ah, ya biarin sajalah itu urusan manusia Indonesia. Bukan urusan pohon kenari tua yang ditanam di depan gereja Katolik Sukasari.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *