LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (50-59)

Sunu Wasono

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (50)

Keluar dari istana Pancalaradya, Kumbayana tak mau menoleh lagi ke belakang. Hasrat untuk berguru pada seseorang sudah bulat. Seseorang itu tak lain adalah Ramabargawa. Ia berharap setelah tamat dirinya akan mendapat jalan untuk memberi pelajaran Gandamana yang telah merusak tubuhnya. Ia yakin apa yang diinginkannya akan terlaksana. Untuk itu, ia pun tak henti-hentinya berdoa. Dalam doanya ia minta keadilan kepada dewa. Ia minta agar keinginannya untuk memberi pelajaran Gandamana di kelak kemudian hari dikabulkan.

Sementara Kumbayana berguru pada Ramabargawa, di istana Hastinapura diadakan pertemuan. Destarata yang memegang tampuk pemerintahan Hastina setelah kematian Pandu Dewanata mengundang Kunthi, Yamawidura, dan Pandawa untuk hadir di istana. Selain mereka, di istana hadir juga Gendari, Patih Sengkuni, dan Kurupati (Duryudana), anak tertua pasangan Destarata-Gendari. Agenda pertemuan hanya satu: penyerahan pusaka Lenga Tala kepada Pandawa. Untuk penyerahan itu, Destarata mengundang sejumlah orang sebagaimana telah disebutkan untuk menyaksikan penyerahan pusaka tersebut. Namun, sebelum pusaka Lenga Tala itu diserahkan, Destarata minta kepada semua yang hadir dalam pertemuan itu untuk mendengarkan cerita dia tentang Lenga Tala. Dia bilang bahwa semua yang hadir diminta menyimak baik-baik ceritanya agar mengetahui dan memahami asal-usul Lenga Tala dan kenapa minyak itu ada padanya serta kenapa minyak itu harus diserahkan kepada Pandawa.

Destarata membuka ceritanya dengan kisah Perang Pamuksa, perang Hastina melawan Pringgadani yang mengakibatkan gugurnya dua raja, Pandu Dewanata dan Prabu Trembuku, dari dua kerajaan itu. Tak hanya itu.Konflik Hastina-Pringgadani membuat terusirnya Gandamana dari Astina dan naiknya Sengkuni sebagai patih Hastina menggantikan posisi Gandamana.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (51)

Semua yang hadir dalam pertemuan mendengarkan kisah yang disampaikan Destarata. Di tengah-tengah cerita, tiba-tiba Destarata memanggil Sengkuni.
“Hei, Sengkuni. Kaudengarkan ceritaku. Adikku Yamawidura, koreksilah kalau ada kata-kataku yang salah. Kalian adalah saksi hidup apa yang kuceritakan. Ini juga menjadi bagian dari sejarah hidup kalian. Sengkuni, kau boleh mengoreksi kata-kataku, tapi jangan kaubantah kebenaran yang kusampaikan karena dunia telah mengabadikan semua yang telah diperbuat manusia. Dewa pun telah mencatatnya. Yamawidura, Sengkuni, kau mengerti apa yang kumaksud?”
“Mengerti, sinuhun,” jawab Sengkuni.
“Demikian juga adinda, Kakangmas Destarata,” ujar Yamawidura.
“Jauh sebelum kerajaan Hastina berperang dengan kerajaan Pringgadani, Hastina aman tenteram. Rayat sejahtera. Tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba terdengar kabar bahwa Pringgadani membangkang dan menantang perang. Aku diminta adikku Pandu untuk memberikan pandangan bagaimana sebaiknya Hastina bersikap: langsung menyerang Pringgadani atau mengirim utusan guna mengklarifikasi. Aku memberi saran Pandu agar mengirim utusan untuk mengklarifikasi kabar itu. Jika kabar itu benar, cukuplah Hastina menyerahkan urusan itu kepada Gandamana untuk menyelesaikannya. Pandu tidak usah turun tangan langsung. Waktu aku bicara seperti, kalau tak salah ada Sengkuni dan Yamawidura. Sengkuni dan Yamawidura, apakah yang kukatakan ini benar?”
“Benar, Kakangmas,” jawab Yamawidura.
Tak terdengar suara Sengkuni. “Kok tak terdengar suara Sengkuni. Apakah Sengkuni tidak ada di sini? Sengkuni, kenapa kamu diam saja?”
Kurupati menggerak-gerakkan tangan Sengkuni. Seketika Sengkuni bangun. Kurupati berbisik kepada Sengkuni, “Bilang benar, Paman.”
“Benar.”
“Apanya yang benar, Sengkuni. Sepertinya kau kurang yakin dengan apa yang kamu katakan,” ujar Destarata.
Kembali Kurupati membisiki Sengkuni.
“Semua kata-kata sinuhun benar,” ujar Sengkuni tegas.
“Nah, begitu. Aku akan melanjutkan. Tapi sebelumnya kuingatkan. Kalau ada yang ngantuk, lebih baik pergi dari sini. Tidur saja di luar.”
Semua yang hadir diam. Suasana sedikit tegang. Sengkuni merasa bahwa kata-kata Destarata ditujukan kepada dirinya.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (52)

“Aku lanjutkan. Ada satu hal yang membuat aku bingung pada waktu itu, utamanya ketika aku dimintai pendapat dan saran tentang keinginan Pandu untuk meminjam Lembu Andini. Harap kalian tahu bahwa pada waktu itu Pandu baru saja punya istri muda. Siapa lagi kalau bukan Madrim, gadis dari Mandraka. Segala permintaan Madrim dipenuhi Pandu. Saking cintanya Pandu kepadanya, permintaan Madrim agar Pandu meminjam Lembu Andini akan diturutinya. Aku sudah mengingatkan Pandu risiko yang bakal ditanggung Pandu dan Madrim manakala keinginan itu diwujudkan. Lembu Andini itu titihan pribadi Sahyang Girinata Jagat. Dewa saja tak berani pinjam, kenapa Pandu berani-beraninya pinjam. Itu “kaduk wani kurang duga” alias kurang ajar namanya. Oh, Pandu, Pandu, kenapa kamu tak mau mendengar kata-kataku. Kunthi, aku tak bermaksud mengorek luka lama. Kamulah yang paling sakit kalau cerita itu diungkapkan lagi,” ujar Destarata sedih.
“Nasi telah menjadi bubur, Kakang Adipati. Sesal tak ada guna. Silakan dilanjutkan, Kakang Adipati,” jawab Kunthi.

Destarara menarik napas dalam-dalam sesaat sebelum melanjutkan ceritanya. Panjang lebar ia bercerita. Ia kadang-kadang berhenti lama seraya mengusap keringat di dahinya. Tak satu orang pun berani memotong kata-katanya. “Singkat cerita, akhirnya Pandu berangkat ke kahyangan Jonggring Saloka untuk menghadap Batara Guru. Diutarakanlah maksud kedatangannya. Tak pelak, Batara Guru pun keberatan. Tapi Pandu berdalih bahwa ia telah berjasa kepada dewa. Ia pernah membunuh raksasa yang mengamuk di kahyangan. Kalau tak ada dia, katanya, kahyangan akan berubah menjadi tempat raksasa. Para dewa hijrah ke alam raksasa. Katanya, atas jasa itu telah tiba saatnya dewa membalas budi umatnya yang berjasa. Batara Guru tetap tak mengizinkannya. Bahkan Narada pun sempat mengingatkan. Tapi Pandu tetap ngotot pada pendiriaannya. Saking ngototnya, ia kehilangan kendali. Tanpa diminta, tak ada yang memaksa pula, ia pun bersumpah di hadapan para dewa, andaikata ia dipinjami Lembu Andini, ia dan Madrim bersedia dimasukkan ke neraka. Dengan kata lain, ia dan Madrim bersedia dimasukkan ke neraka jahanam asalkan dipinjami Lembu Andini.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (53)

Destarata meneruskan kisahnya. Semua yang berada di hadapannya menyimak. Juga Gendari, istrinya, yang duduk di sampingnya.
“Jagat seisinya bersaksi atas sumpah Pandu. Batara Guru merasa kasihan terhadap Pandu. Akhirnya, ia pinjamkan Lembu Andini kepada Pandu. Tapi Batara Guru tak bisa mencabut sumpah Pandu. Kata-kata Pandu mengekal di dinding neraka. Pada saatnya ucapan Pandu akan menjadi kenyataan. Dikatakannya bahwa Pandu harus siap dan ikhlas menerima konsekuensi dari ucapannya. Pandu mengamininya.

Turun dari kahyangan Pandu naik Lembu Andini dengan Madrim. Tak terkira rasa bahagia keduanya. Sepanjang perjalanan keduanya berasyik masyuk. Jagat seperti milik berdua saja. Tak boleh ada orang lain yang iri atas kebahagiaan mereka. Barangkali sudah menjadi takdir Pandu dan Madrim. Sebuah tragedi pun terjadi. Ketika Pandu sedang berasyik masyuk, berolah asmara dengan Madrim di atas Lembu Andini, di semak-semak belukar sepasang kijang juga melakukan hal yang sama. Celakanya, kejadian itu terlihat Pandu. Lebih celaka lagi, Pandu tersinggung atas perilaku sepasang kijang itu. Ia anggap sepasang kijang itu menyindirnya. Tanpa pikir panjang, dilepaskanlah sebuah anak panah ke arah mereka. Kijang jantan pun meregang nyawa. Ternyata kedua kijang itu jelmaan dari pendeta sakti. Begitu terpanah, jasadnya berubah menjadi wujud aslinya. Demikian juga istrinya. Sebelum sang istri bunuh diri sebagai rasa solider atas kematian suaminya, ia mengutuk Pandu dan Madrim. Katanya, keduanya, Pandu dan Madrim, kelak juga akan mengalami peristiwa dan nasib tragis.”

Sampai di situ Destarata berhenti sejenak. “Apakah aku perlu melanjutkan cerita menyedihkan ini. Sesungguhnya aku merasa kasihan sama Kunthi. Hei, Kunthi, apakah Dinda Kunthi sanggup mendengarkan ceritaku. Apakah Dinda mengizinkan aku untuk melanjutkan cerita?”
Kunthi tak langsung menjawab. Matanya berkaca-kaca. Tak urung, ia pun terisak. Tak sanggup ia menjawab pertanyaan Destarata.
“Kunthi, maafkan aku. Maafkan kakakmu yang tak peka ini,” ujar Destarata.
Akhirnya, keluar juga kata-kata Kunthi. “Cerita sudah dibuka. Semua yang hadir di sini telanjur mendengar. Mereka akan penasaran kalau cerita ini dipenggal. Silakan Kakang Adipati melanjutkan,” ujar Kunthi setelah berhasil menata perasaan dan hatinya.

Destarata melanjutkan cerita. “Terpaksa aku persingkat ceritanya. Setelah puas berkendara Lembu Andini, Pandu dan Madrim kembali ke Hastina. Di alun-alun mereka disambut rakyat. Sesampai di kedhaton, Kunthi pun menyambut kedatangan Pandu dan Madrim.” Destarata menarik napas dalam-dalam. “Kunthi, di bagian ini rasanya aku berat menyampaikan cerita. Aku tak ingin melukai hatimu, Kunthi. Bagaimana kalau kamu saja yang melanjutkan. Gantian aku yang menjadi pendengarnya. Ayo, Kunthi. Berceritalah.”
“Maafkan aku, Kakangmas Adipati. Kakangmas saja yang melanjutkan. Tak apa-apa. Aku baik-baik saja,” jawab Kunthi.
“Baiklah kalau begitu. Tapi sampai di mana tadi. Sengkuni, apakah kamu masih ingat kisah selanjutnya? Apa yang terjadi setelah itu?”
“Maafkan sinuhun. Waktu itu hamba masih berada di palagan menghadapi prajurit Pringgadani. Sungguh hamba tak tahu apa yang terjadi dengan Kakang Pandu dan kakang mbok Kunthi,” jawab Sengkuni.
“Apa begitu. Bukannya kamu lagi mengatur siasat untuk memfitnah Gandamana?
“Ampun, sinuhun.”
“Sudahlah. Nanti ceritanya akan sampai di bagian itu juga. Aku lanjutkan saja ceritanya. Kalian dengarkan dan simak baik-baik.”
Semua yang hadir mengiyakan.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (54)

“Saat Pandu dan Madrim menginjak istana, rasanya seisi istana menaruh simpati dan empati pada Kunthi. Meski hati Kunthi teriris-iris, ia masih sanggup ‘memuji’ ketampanan Pandu dan kecantikan Madrim. Kunthi, waktu itu kamu bilang apa kepada mereka?” tanya Destarata.
“Mohon maaf, Kakangmas Adipati. Dinda sudah lupa,” ujar Kunthi.
“Benar-benar lupa atau pura-pura lupa.”
“Maaf sinuhun,” sela Gendari. “Hamba sebagai perempuan merasa tidak nyaman dengan cara sinuhun bercerita. Sebaiknya bercerita saja. Tak usah melibatkan Dinda Kunthi. Jangan sinuhun siksa lagi hati Dinda Kunthi dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya menambah luka baru. Luka lama belum sembuh sudah sinuhun tambah luka baru. Mohon sinuhun tak bertanya-tanya lagi kepada Dinda Kunthi. Hamba merasa bahwa sinuhun tak sekadar tanya, tapi sudah menginterogasi dan mengintimidasi. Maafkan atas kelancangan hamba.”
“Weladala. Aku malah disalahkan. Laki-laki memang tak peka. Perasaannya tak sehalus perasaan perempuan. Baiklah kalau begitu. Aku teruskan saja.”
“Maaf, sinuhun. Maaf sekali lagi. Sinuhun kenapa bisa bercerita begitu rupa, padahal–maaf seribu maaf–sinuhun sejatinya tak dapat melihat,” tanggap Gendari.
“Aku tahu apa yang kamu kerjakan Gendari meski aku tak bisa melihat. Kamu gelisah karena belum dapat jatah pun aku tahu. Kamu kecewa karena aku sibuk dengan hewan piaraan aku juga tahu. Mataku memang tak melihat, tapi mata hatiku bisa melihat. Karena itu, ketika Sengkuni menghasut keponakannya untuk menjahati Pandawa, aku tahu semua.”
Sengkuni terlihat gelisah, tapi tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Ia melirik kakaknya, Gendari. Tapi yang dilirik tak memberikan reaksi.
“Semua yang dilakukan Pandu itu dilaporkan ke aku. Jadi aku tahu luar-dalamnya Pandu. Semua yang kurasakan, semua yang kulihat dengan mata hati, ketika aku ceritakan kepada Pandu tak ada yang salah. Tak ada yang disangkal Pandu. Sejak kecil, sejak anak-anak, aku dekat dengan Pandu. Jadi jangan kausangsikan kata-kataku, Gendari. Mengerti?”
“Mengerti, Sinuhun,” jawab Gendari.
“Kuteruskan. Jangan ada yang menyela agar ceritaku selesai. Nanti kalau sudah selesai, kita bicarakan bagaimana langkah kita selanjutnya.”

Destarata melanjutkan ceritanya. “Sungguh tidak enak pertemuan Pandu dan Madrim dengan Kunthi. Walau dibakar api cemburu, Kunthi akhirnya bisa menata hati dan pikirannya. Pada saat itulah ia mengutarakan keinginannya untuk menyampaikan sesuatu yang amat penting kepada Pandu. Tapi ia mohon izin untuk keramas dulu sebelum mengutarakan isi hatinya. Pandu pun merestui. Selesai keramas, Kunthi menghadap Pandu. Lalu ia dengan hati-hati dan pilihan kata yang tepat menyampaikan sesuatu kepada Pandu.”

Destarata berhenti sejenak. Ia minta minum. Saat diberi air putih, ia menanyakan empon-empon. Gendari memberi isyarat kepada abdi dalem istana agar menyediakan empon-empon. Ia juga mengingatkan abdi dalem agar tak melupakan pasangan empon-emponnya. Tanpa disebutkan nama makanannya, abdi dalem sudah tahu makanan apa yang diinginkan gustinya. Tak lain adalah rondo royal dan klepon.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (55)

Setelah menyeruput empon-empon dan mencicipi klepon, Destarata melanjutkan ceritanya. “Aku lanjutkan ceritanya. Masih pada ingin mendengarkan atau tidak?” tanya Destarata.
“Silakan, Kakang Adipati,” Kunthi paling duluan menjawab.
“Teruskan,” susul Bima. Lalu yang lain pun menjawab mau, kecuali Sengkuni.
“Aku belum mendengar suara Sengkuni. Apa Sengkuni masih di sini atau sudah tidur di kepatihan?”
Sengkuni yang baru saja menyeruput kopi dan menyantap juadah worang—ia secara khusus minta dibuatkan kopi dan disediakan juadah, tak mau ia minum empon-empon–langsung merespon, “Siap.”
“Siap apa Sengkuni?” tanya Destarata.
“Siap menerima perintah,” ujar Sengkuni.
“Aku perintahkan kepadamu sekarang untuk menyimak baik-baik ceritaku. Jangan kau pelintir kata-kataku. Paham?”
“Siap.”
“Mengerti?”
“Siap.”
“Kamu bilang siap siep siap siep. Kutanya sekarang, mengerti atau tidak?”
“Siap sinuhun, bukan siep.”
“Mengerti?”
“Siap. Mengerti!”
“Di Hastina ini ada sepuluh orang macam kamu hancurlah kerajaan.”
“Sinuhun, mohon dilanjutkan ceritanya,” kata Gendari.

Destarata pun melanjutkan kisahnya. Ia terus saja bercerita. Dikatakannya bahwa setelah mandi keramas dan berdandan serta menggunakan busana serba putih, Kunthi menghadap Pandu. Ketika ditanya Pandu kenapa Kunthi menggunakan baju serbaputih, Kunthi menjawab bahwa apa yang dia sampaikan tidak dilandasi kepentingan apa pun. Ia hanya sekadar menyampaikan sesuatu yang ia alami. Ia tidak punya maksud lain. Apa yang dia sampaikan murni datang dari pengalaman pribadi. Tak direkayasa. Keinginan untuk menyampaikan pengalaman itu adalah keinginan suci, jauh dari iri hati dan hasrat untuk menyindir atau menakut-nakuti. Itulah sebabnya ia memakai serba putih. Dia bilang itu lambang kesucian dan kebersihan jiwa.
“Kunthi, kalau ada yang salah, tolong dikoreksi,” ujar Destarata.
“Sudah benar, Kakang Adipati. Dilanjutkan saja,” ujar Kunthi.
“Aku ambil intinya saja agar cepat selesai. Jadi begini. Di hadapan Pandu, Kunthi bercerita bahwa selama Pandu berbulan madu bersama Madrim dengan Lembu Andini ia bermimpi berkali-kali. Anehnya, mimpinya sama. Jadi dalam kondisi setengah tidur setengah jaga, Kunthi seperti melihat Pandu dan Madrim naik biduk di atas telaga yang tenang. Ada bunga teratai dan aneka ikan di telaga itu. Lalu dari gunung bertiuplah semilir angin. Sesekali tiupan angin itu menyibak rambut Madrim yang wangi. Di tepi telaga sejumlah pohonan tumbuh, di antaranya pohon turi, petai, mangga, dan tembesi. Semua pohon itu berbunga. Sungguh panorama di sekitar telaga indah sekali.”

Sampai di situ, Destarata lama terdiam. Semua yang mendengarkan ceritanya menahan dan saling memandang. Destarata belum juga melanjutkan ceritanya. Gendari yang duduk di sampingnya memberanikan diri bertanya. “Sinuhun, kenapa berhenti. Apa ingin menyeruput empon-empon lagi.”
Abdi dalem istana pun sigap. Ingin menuangkan empon-empon ke tempat minum Destarata, tapi urung ketika mendengar kata-kata Destarata. “Empon-emponnya cukup. Aku butuh waktu sebentar untuk menata hati sebab yang akan kusampaikan selanjutnya benar-benar membuat aku sedih. Sampai sekarang kesedihan itu seperti tak habis-habis.”
“Yang sudah berlalu biarlah berlalu, Kakang Adipati,” ujar Kunthi. “Sejak itu, bahkan sebelumnya, aku berusaha tabah. Lanjutkan saja ceritanya. Aku sudah ikhlas, Kakang Adipati.”
Destarata mengamini kata-kata Kunthi. Ia pun melanjutkan cerita.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (56)

“Kukatan sekali lagi bahwa panorama di telaga dan sekitarnya indah sekali. Suara alun yang sesekali ditingkah kecipak air yang terbit dari geliat dan loncatan ikan yang bercumbu dan kejar-mengejar menambah semuanya resep. Juga kilau sinar mentari senja yang membuat bayang-bayang memanjang dan semua di sekitarnya danau bernuansa jingga kiranya melengkapi keindahan panorama. Namun, keindahan itu hanya berlangsung sesaat sebab setelah itu apa yang terjadi dan terlihat justru sebaliknya. Tiba-tiba saja datang hujan lebat sekali disertai geluduk dan angin kencang. Pohon-pohon di sekitar danau tumbang. Bunga teratai terbawa lesus entah ke mana. Alun berubah menjadi ombak yang ganasnya menyamai ombak laut selatan di saat lagi pasang. Sungguh pemandangan yang mengerikan. Biduk yang dinaiki Pandu dan Madrim terbalik. Kunthi, Yamawidura, Destarata, dan segenap punggawa istana sudah berusaha menolong Pandu dan Madrim, tapi sia-sia. Pandu dan Madrim karam bersama biduk yang dinaikinya. Begitulah mimpi Kunthi. Semua kejadian dalam mimpi itu diceritakan Kunthi kepada Pandu.”

Destarata berhenti sejenak. Ia meneguk empon-empon. Lalu menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara lagi. “Kunthi, apakah yang kuceritakan ini benar?”
“Sepenuhnya benar, Kakang Adipati,” jawab Kunthi singkat.
“Mohon dilanjutkan. Tidak usah diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Nanti kalau ada yang salah, Dinda Kunthi pasti akan menginterupsi dan mengoreksi,” ujar Gendari.
“Lo lha iya. Ini sejarah, Gendari. Aku mesti berhati-hati. Jangan sampai aku tanpa sadar mengubahnya. Di sini ada saksi hidupnya. Aku butuh klarifikasi, juga justifikasi.”
“Sungguh benar kata-kata sinuhun. Tapi sampai kapan yang hadir di sini harus mendengarkan cerita sinuhun,” ujar Gendari.
“Sampai selesai. Karena itu, yang tak sanggup mendengarkan sampai selesai, silakan meninggalkan pasewakan ini,” tegas Destarata.
“Sengkuni, apa kamu masih sanggup mendengarkan ceritaku?”
“Siap.”
“Siap atau sanggup.”
“Sanggup. Siap!”
“Baik. Kuharap yang lain juga sanggup.”
Tanpa menunggu jawaban, Destarata pun melanjutkan ceritanya.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (57)

“Dasar Pandu lagi kosong jiwanya, cerita Kunthi yang disampaikan dengan penuh cemas ditanggapinya dengan enteng. Dikatakannya bahwa mimpi Kunthi itu hanya bunga tidur. Katanya, karena Kunthi kurang rileks dan banyak pikiran, mimpinya jadi aneh-aneh. Pandu pada waktu itu benar-benar kehilangan kepekaan. Nalarnya juga entah ke mana. Sekian lama Kunthi menanti kedatangan Pandu, begitu bertemu hanya sebentar saja Pandu mau diajak berbincang-bincang. Bahkan Pandu menolak ketika Kunthi memohon kepadanya untuk singgah di tempat peraduannya. Katanya ia lagi capek. Ia malah menggandeng Madrim untuk masuk ke peraduannya. Sebetulnya aku tak senang menyampaikan bagian cerita ini. Aku kasihan sama Kunthi. Meskipun aku laki-laki, aku bisa memahami perasaan perempuan. Pastilah seorang istri pada dasarnya tak mau diduakan. Bukankah begitu, Kunthi.”
“Kenapa mesti bertanya lagi. Bikin Dinda Kunthi susah menjawabnya. Tak usah dijawab, Dinda Kunthi,” ujar Gendari.
“Oh, tak etis kutanyakan ya. Baiklah. Kalau begitu, aku lanjutkan ceritanya,” kata Destarata.

Semua kembali menyimak cerita Destarata.
“Seiring dengan perjalanan waktu, Madrim pun hamil tua. Sementara hubungan Hastina-Pringgadani kian memanas. Tampaknya Gandamana yang diutus Pandu untuk mencairkan ketegangan kedua kerajaan tak berhasil. Ada indikasi bahwa ketegangan itu sengaja diciptakan oleh oknum tertentu yang ingin mengambil keuntungan di saat suasana sedang keruh. Belum diketahui siapa dalang dari ketegangan antara Hastina dan Pringgadani. Tahu-tahu sudah meletus perang. Gandamana yang menjadi panglima perang berhasil memukul mundur pasukan Pringgadani. Namun, entah bagaimana awal kejadiannya, Gandamana lengah. Ia terjebak oleh perangkap lawan. Tanpa ia ketahui, saat mengejar prajurit Pringgadani, ia terperosok dan jatuh ke dalam luweng. Prajurit Pringgadani tak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka menimbuni luweng itu dengan batu. Untunglah ada seseorang yang menyaksikan kejadian itu. Dengan kesaktiannya ia selamatkan Gandamana. Kasihan benar Gandamana. Aku kalau teringat pada kejadihan itu sedih sekali. Apalagi kalau teringat pada peristiwa setelah itu. Oh, Gandamana, malang benar nasibmu. Oh, Pandu. Kenapa kamu kehilangan kearifan pada saat itu. Semua itu biang keroknya kamu, Sengkuni.”

Destarata diam sejenak. Ia terlihat menahan amarah. Tangannya mengepal keras. Untung kepalan itu tak dia pukulkan pada benda yang ada di situ. Jika sampai itu terjadi, niscaya benda apa pun yang terkena tinjunya akan hancur. Meski buta, Destarata diberi kelebihan. Tenaganya luar biasa besar dan kuat sekuat tenaga tujuh gajah. Ia juga punya ajian lebur seketi yang kalau digunakan akan sangat berbahaya. Siapa pun yang terjamah tangannya akan lebur dan hangus. Mendengar namanya disebut-sebut dan tahu bahwa gustinya menahan amarah, Sengkuni cemas. Ia sedikit beringsut dan siap menghindar manakala Destarata melayangkan tinjunya.
“Sengkuni, buka kupingmu lebar-lebar. Aku ingin melanjutkan ceritaku. Kamu mendengar suaraku, Sengkuni,” ujar Destarata setelah emosinya agak turun.
“Siap, sinuhun,” jawab Sengkuni singkat.
“Tolong yang lain awasi dan jaga Sengkuni. Jangan sampai dia pergi sebelum kuperintahkan pergi.”
“Aku akan menjaganya,” saut Bima.
Destarata merasa lega setelah mendengar suara Bima. Ia pun melanjutkan ceritanya.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (58)

“Terbebas dari perangkap dan jebakan prajurit Pringgadani, Gandamana ditemani Yamawidura ingin melaporkan keadaan dan apa yang dialaminya ke Pandu. Tapi rupanya mereka keduluan oleh seseorang yang hatinya hitam. Difitnalah Gandamana. Dikatakannya bahwa Gandamana telah berkhianat. Seseorang itu melaporkan kepada Pandu bahwa Gandamana telah bergabung dengan musuh. Katanya ia telah mengabdi kepada Prabu Trembuku dan siap memakzulkan Pandu. Gandamana selama ini, kata seseorang itu, diam-diam ingin menjadi raja di Hastina. Jagat dewa batara, kenapa di dunia ini ada manusia jahanam macam itu.”

Destarata berhenti bercerita. Napasnya ngos-ngosan. Ia berusaha menahan amarah. Keringat pun keluar dari dahinya. Gendari berusaha menenangkan. “Sabar, Sinuhun. Mohon tidak emosional.”
Akhirnya, Destarata bisa menata hatinya. Ia lanjutkan lagi ceritanya. “Gara-gara hasutan bedes jelek itu Pandu buta hatinya. Ketika Gandamana dan Yamawidura datang untuk melaporkan keadaan di lapangan, wajah Pandu masam. Hatinya sudah diliputi amarah dan kekecewaan. Ia menampik sembah-sungkem Gandamana. Dirinya tak sudi bicara dengan Gandamana. Oh, Pandu, adikku. Kenapa kamu pada saat itu bisa sekhilaf itu. Duniamu benar-benar gelap. Ke-Pandu-anmu sudah melesat. Tak ada lagi, hilang sudah kewaskitaan dan kearifanmu. Hem, Pandu. Pandu.” Destarata terisak. “Tak kunyana kamu bisa keblinger oleh hasutan iblis laknat itu. Oh Pandu. Oh, Dewa, mohon tangan keadilanmu bekerja. Si mulut berbisa itu pada suatu saat nanti harus ngundhuh wohing pakarti. Ia tak boleh luput dari hukuman. Tapi…” Destarata berhenti sejenak.
“Apakah Sinuhun baik-baik saja?” tanya Gendari.
“Kakang Adipati, mohon jangan dipaksakan. Sampai di sini saja ceritanya,” timpal Kunthi.
“Haaaaaaa. Tidak bisa. Aku dan yang lain berhak mendengar cerita itu sampai akhir,” tuntut Bima.
“Mohon diteruskan, Siwa Adipati,” ujar Puntadewa yang dari awal tak pernah buka mulut.
“Prunanmu ingin Wa Adipati menuntaskan ceritanya,” imbuh Pamadi.
“Baiklah. Tanggung. Harus kurampungkan ceritanya,” ujar Destarata.

Gendari memberi isyarat agar abdi dalem mengeluarkan penganan dan bandrek. Ia minta agar lemper, klenyem, dan kukus waluh dihidangkan. Sambil mendengarkan cerita Destarata, semua yang hadir di pertemuan itu menyeruput bandrek dan menikmati penganan. Hanya Sengkuni yang tampak gelisah. Ia tak bisa seperti yang lain. Tingkahnya diketahui oleh kakaknya, Gendari. Ia pun akhirnya mencoba minum setelah Gendari dengan bahasa isyarat menyuruhnya minum. Biasanya kalau lagi suntuk hatinya atau sedang menghadapi suasana yang tak mengenakkan, Sengkuni minum tuak. Tapi kali ini ia harus minum bandrek karena tak ada tuak, tepatnya tak disediakan tuak.

LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (59)

“Yamawidura sudah berusaha menceritakan apa yang terjadi di lapangan, tapi tetap tak percaya. Ia lebih percaya kepada laporan seseorang yang datang lebih dulu kepadanya. Gandamana yang mencoba ikut membantu Yamawidura untuk menjelaskan segera dipotong dengan bilang bahwa Pandu tak mendengar lagi suara Gandamana. Sedih rasanya kalau mengingat masa itu. Pandu benar-benar hilang kewaskitaan dan kearifannya sebagai narendra. Oh, Pandu. Sejak ia duduk di atas Lembu Andini tingkah lakunya ngawur. Ia merasa seperti dewa, padahal sejatinya ia masih titah lumrah.”

Pada saat Destarata sedang menarik napas, Kunthi memberanikan diri menyela. “Mohon jangan terlalu larut dalam kesedihan, Kakang Adipati.”
“Bagaimana tidak sedih Kunthi. Mewakili Pandu, aku minta maaf atas tindakan Pandu kepadamu. Tak selayaknya ia memperlakukanmu seperti itu.”
“Aku sudah lama memaafkan. Meskipun agak pribadi, sekarang mohon dilanjutkan agar anak-anakku tidak penasaran,” ujar Kunthi.
“Baiklah. Sampai di mana tadi.”
“Yamawidura,” Yamawidura mulai buka suara.
“Oh, ini suara Yamawidura. Dari tadi kenapa Dinda diam saja. Kamu bukan hanya saksi hidup, tapi pelaku hidup, pelaku sejarah. Koreksilah kalau ada kata-kataku yang keliru.”
“Kasinggihan, Kakang Adipati. Semua yang Kakang Adipati katakan benar adanya,” jawab Yamawidura.
“Syukurlah. Kulanjutkan saja ceritanya.”
“Mangga,” Yamawidura mempersilakan.

Destarata mencoba setenang mungkin dalam melanjutkan kisah. Dibetulkannya sikap duduknya, lalu mulailah ia bicara.
“Karena apa yang dikatakannya tidak dipercaya, akhirnya Yamawidura pun bertanya kepada Pandu, siapa sesungguhnya yang melaporkan kepada Pandu bahwa Gandamana telah berkhianat dan menginginkan kursi kerajaan Hastina. Dijawablah oleh Pandu bahwa yang melaporkan tak lain adalah Haryo Soman alias Sengkuni.”

Sontak pandangan mata semua orang yang berada di pertemuan itu tertuju kepada satu sosok: Sengkuni. Puntadewa, Bima, dan Arjuna terlihat menahan amarah. Untuk yang lain, apa yang disampaikan Destarata bukanlah hal yang baru. Itu sudah menjadi “rahasia” umum. Saking kesalnya, suara Bima terlepas, “Huh.” Menjadi sasaran sekian banyak mata, Sengkuni mati gaya. Ia salah tingkah. Tapi dasar penghasut julik, ia masih bisa bicara. “Semua sudah berlalu. Sekarang mohon dipikirkan ke depannya bagaimana,” katanya.
“Tidak bisa begitu saja dilupakan. Kau bukan korban. Kau pelaku. Andaikata kau korban, tentu tak bisa bilang begitu,” saut Destarata.
“Hamba juga korban, Sinuhun. Gara-gara peristiwa itu, badan hamba jadi jelek dan menyeramkan begini, padahal dulu, sebelum kejadian itu, hamba tampan. Ke mana pun pergi selalu diikuti perempuan-perempuan cantik yang menyediakan diri untuk menjadi istri hamba meskipun hanya menjadi istri ke-25 atau ke-30, bahkan menjadi sekadar istri cadangan pun mereka mau. Tapi setelah kejadian itu, semua perempuan kalau bertemu hamba, belum ditanya sudah melengos, belum diajak berkenalan sudah kabur, belum dirayu sudah ketakutan, bahkan baru melihat dari kejauhan sudah lari karena jijik. Apa ini tidak menyakitkan. Ha ha ha.”
“Itu karena ulahmu sendiri, Sengkuni. Kamu menghalalkan cara demi memperoleh jabatan. Orang lain yang menjadi korban lidahmu jauh lebih menderita. Jangan kamu sela kata-kataku. Lagi pula, tak ada yang lucu kenapa kamu tertawa. Kulanjutkan ceritanya agar semuanya jelas,” ujar Destarata. (Bersambung)

2 Replies to “LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (50-59)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *