PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (12)

: Jangkauan Sejarah Sastra Indonesia

Djoko Saryono

Jangkauan sejarah sastra Indonesia akan menentukan ruang lingkup sejarah (umum) sastra Indonesia. Jangkauan sejarah sastra ini berkaitan dengan rentangan waktu dan isi yang dimasukkan atau diliput sebagai bahan sejarah sastra Indonesia. Rentangan waktu di sini berhubungan dengan pertanyaan sejauh manakah waktu yang diliput sebagai bahan sejarah sastra Indonesia; sedangkan rentangan isi di sini berhubungan dengan pertanyaan seberapa luas, banyak, dan dalam isi yang diliput sebagai bahan sejarah sastra Indonesia.

Rentangan waktu dan isi ini disikapi secara berbeda-beda oleh penulis historiografi sastra Indonesia. Penyikapan ini bertolak dari konsepsinya tentang sastra Indonesia dan pendekatan dan atau teori penulisan sejarah sastra Indonesia. Hal ini menimbulkan kecenderungan tertentu jangkauan sejarah sastra Indonesia. Bagaimanakah kecenderungan jangkauan sejarah sas-tra Indonesia itu? Mari kita lihat dalam berbagai historiografi sastra Indonesia yang telah ada dan populer pada masa masing-masing, yang berpengaruh terhadap wacana sastra Indonesia.

Dalam Kesusasteraan Baru Indonesia (KBI) tulisan Zuber Usman, jangkauan waktu sejarah sastra Indonesia meliputi masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi sampai dengan Chairil Anwar. Hal ini setidak-tidaknya dapat di-ketahui dari anak judul KBI yang berbunyi dari ABDULLAH BIN ABDULKADIR MUNSYI sampai kepada CHAIRIL ANWAR. Demikian juga dapat diketahui dari babakan sejarah dan angkatan sastra yang dikupas, yang dimulai dari zaman Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (lihat hlm.15-26) sampai dengan Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan 45 (lihat 267-298).

Zaman Abdullah digunakan sebagai titik mula waktu sejarah sastra Indonesia karena Abdullah adalah sastrawan Melayu yang sudah menulis dengan cara modern dan meninggalkan cara lama (lihat hlm.15). Dalam pada itu, babakan sejarah dan angkatan Chairil Anwar dijadikan titik akhir waktu sejarah sastra Indonesia. Mungkin hal ini disebabkan oleh karena (i) KBI ditulis pada dasawarsa 1950-an dan terbitan terakhir tahun 1961 sehingga bahan pada masa sesudah Chairil belum dimasukkan, (ii) perkembangan sastra Indonesia pada masa sesudah Chairil Anwar (dasawarsa 1950-an) belum saatnya dimasukkan karena belum diendapkan, dan (iii) penulis KBI berpandangan bahwa masa sesudah Chairil Anwar belum waktunya dimasukkan ke dalam sejarah sastra Indonesia.

Sementara itu, jangkauan isi sejarah sastra Indonesia cenderung berpusat pada biografi ringkas sastrawan dan ulasan-ulasan tematis (bukan strukturnya) karya-karyanya. Biografi ringkas di sini umumnya berisi kelahiran, riwayat pendidikan, dan peran yang dimainkan pada zamannya. Disertai juga ulasan-ulasan tematis cenderung merupakan ringkasan isi karya atau penafsiran tentang isi karya itu. Hal ini, misalnya, dapat diperiksa pada pembicaraan tentang Pujangga Baru (lihat hlm.187-258) yang memperkenalkan sosok Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, Amir Hamzah, dan J.E. Tatengkeng beserta pembicaraan tentang karya-karya mereka.

Dalam kaitan itu karya yang dibicarakan mencakup roman, puisi, drama, dan esei para tokoh. Latar sosial, budaya, dan bahasa hanya dibicarakan secara sekilas dalam KBI. Jadi, pembicaraan isi cenderung berpusat pada tokoh dan karya-karyanya tanpa banyak menyinggung konteks sosial, budaya, bahasa, dan lain-lain. Hal ini dapat diperiksa, misalnya, pada pembicaraan tentang zaman Pra-Pujangga Baru yang berstruktur (i) pembicaraan sosok Muhammad Yamin, Sanusi Pane, dan Rustam Effendi, dan kemudian (ii) pembicaraan karya-karya mereka secara ekspresif-apresiatif (lihat hlm.149-172)

Kecenderungan jangkauan sejarah sastra Indonesia dalam KBI tersebut berbeda dengan kecenderungan jangkauan sejarah sastra Indonesia dalam Sedjarah Sastera Indonesia Modern (SSIM) karya Bakri Siregar. Jangkauan waktu yang dicakup oleh SSIM lebih panjang dan lama daripada KBI. Demikian juga jangkauan isi yang dicakup oleh SSIM juga lebih luas dan banyak.

Sebagaimana tampak konsepsi dan pembabakan sejarah sastra Indonesia yang sudah dipakainya, dalam SSIM titik permulaan waktu sastra Indonesia pada awal Abad XX dengan ditandai oleh munculnya dan tradisi revolusioner yang dibawa dan dilaksanakan oleh Mas Marco Kartodikromo. Dikatakan dalam SSIM bahwa sastra Indonesia modern “bermula dengan kesadaran nasional… dia dimulai dengan tradisi repolusioner yang dilaksanakan oleh Mas Marco Kartodikromo (Ejaan disesuaikan dengan PEUBI, SSIM, 11)”. Lebih lanjut, ditandaskan oleh Bakri Siregar bahwa “Sastera Indonesia modern mulai dengan lahirnya kesadaran sosial dan politik nasion Indonesia. Marco menulis dalam bahasa (persatuan) Indonesia dan dalam bahasa daerah Jawa. Dua hasil utamanya ialah “Student Hidjo” (1919) dan “Rasa Merdeka” (1924) (Ejaan disesuaikan dengan PEUBI, SSIM, 25).

Hal tersebut berarti, menurut SSIM, sastra Indonesia bermula pada tahun sekitar 1919 melalui jalur Mas Marco Kartodikromo, bukan Merari Siregar seperti pandangan umum. Dan titik akhir waktu sastra Indonesia dalam SSIM adalah pada dasawarsa 1960-an, tepatnya pada tahun 1964 saat SSIM ditulis. Hal ini setidak-tidaknya dapat diperiksa pada periodisasi sastra Indonesia yang dikemu-kakan Siregar dalam SSIM. Disebutkannya bahwa babakan sejarah dan angkatan keempat sastra Indonesia ialah dari 1950, titik balik revolusi, hingga saat buku SSIM ditulis 1964 (lihat hlm. 15). Dengan demikian, sejarah sastra Indonesia menjangkau waktu 45 tahun.

Sekaitan dengan hal tersebut, jangkauan isi sejarah sastra Indonesia dalam SSIM tergolong luas, banyak, dan melebar dibandingkan dalam KBI. Isi sejarah Indonesia yang dijangkau oleh SSIM tidak terbatas pada biografi sastrawan terutama kesastrawanannya dan aspek tematis (isi) karya-karya sastrawan saja, tetapi juga meluas dan melebar ke aspek-aspek sosial, politik, budaya, bahasa, dan lain-lain yang melekat atau memberi konteks perkembangan sastra dari satu kurun ke kurun lain. Bahkan dapat disimpulkan bahwa aspek sosial-politik-budaya berposisi sentral dan amat penting dalam pembicaraan tentang babakan sejarah dan angkatan sastra Indonesia.

Hal itu, misalnya, dapat dilihat pada pembicaraan sastra Pujangga Baru (lihat hlm.72-122). Dalam pembicaraan sastra Pujangga Baru, dibicarakan masalah pergerakan kemerde-kaan nasional, kesadaran nasional dalam kebudayaan, keberadaan majalah Pujangga Baru, gerakan kebudayaan ge-nerasi Pujangga Baru, generasi-generasi Pujangga Baru, gerakan kesusastraan dab bahasa generasi Pujangga Baru, sikap politik generasi Pujangga Baru, konsepsi kebudayaan nasional tokoh-tokoh Pujangga Baru, konsepsi seni generasi Pujangga Baru, esei-esei generasi Pujangga Baru, dan sastrawan-sastrawan beserta roman-roman Pujangga Baru (lihat hlm. 72-122). Dalam hubungan ini, yang dibicarakan sebenarnya mencakup puisi dan roman meskipun roman mendapat fokus pembicaraan dalam SSIM. Hal ini menunjukkan bahwa jangkauan isi sejarah sastra Indonesia dalam SSIM justru lebih terarah dan terfokus ke aspek-aspek bukan sastrawan dan karya sastra, melainkan sosial, politik, dan budaya. Hal ini logis, sejalan dengan pandangan dan latar kehadiran sastra Indonesia yang diasalkan pada kesadaran revolusioner atau kesadaran sosial politik.

Bersambung…

2 Replies to “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (12)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *