PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (22)

: Peranan Sastrawan Perempuan yang Kabur dalam Historiografi Sastra

Djoko Saryono *

/1/
Bukan hanya sosok sastrawan perempuan Indonesia yang masih dituliskan relatif samar dalam historiografi sastra Indonesia, tetapi juga peranan sastrawan perempuan Indonesia juga masih dituliskan agak kabur, artinya belum sepadan dengan apa yang telah mereka lakukan, dalam historiohgrafi sastra Indonesia. Yang dimaksud denggan peran[an] sastrawan perempuan Indonesia di sini adalah aktivitas, tindakan, perilaku bermakna, dan kiprah bermakna yang dapat diterima, diwujudkan, dan dijalankan oleh sastrawan perempuan Indonesia demi tumbuh, berkembang, dan majunya dunia sastra Indonesia dalam dinamika sejarah perkembangan sastra Indonesia.

Peranan sastrawan perempuan tersebut dapat dilihat dari tiga hal. Pertama, keberadaan, kedudukan, dan intensitas keterlibatan mereka dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia. Kedua, prestasi sastrawan perempuan Indonesia dalam kancah kesusastraan dan mendinamiskan perkembangan sastra Indonesia. Ketiga, tingkat kreativitas dan produktivitas sastrawan perempuan

/2/
Di sini perlu dikemukakan dahulu pengertian keberadaan, kedudukan, dan intensitas keterlibatan sastrawan perempuan Indonesia dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia. Yang dimaksud keberadaan sastrawan perempuan Indonesia di sini adalah hal-ihwal yang menyangkut ada, hadir, atau munculnya sastrawan perempuan Indonesia dalam kancah percerpenan Indonesia. Lalu kedudukan sastrawan perempuan Indonesia di sini menyangkut status yang relatif tetap para sastrawan perempuan Indonesia dalam konteks dunia kesusastraan Indonesia. Sementara itu, intensitas keterlibatan sastrawan perempuan Indonesia berkenaan dengan keadaan, tingkatan, dan atau ukuran kedalaman dan kesungguhan sastrawan perempuan Indonesia dalam melibatkan diri di dalam kancah dunia kesusastraan Indonesia.

Telah disinggung sebelumnya, dibandingkan dengan sastrawan laki-laki, sastrawan perempuan memang muncul atau hadir belakangan atau lebih kemudian. Kemunculan sastrawan perempuan Indonesia dapat dikatakan tertinggal satu generasi atau sekitar 10 – 15 tahun. Jika sastrawan laki-laki sudah muncul tahun 1920-an melalui Merari Siregar dengan novel Azab dan Sengsara, maka sastrawan perempuan Indonesia baru muncul pada awal tahun 1930-an. Dalam sejarah sastra Indonesia diterakan bahwa sastrawan perempuan memang baru muncul pada tahun 1930-an.

Meskipun demikian, satu hal perlu dicatat, bahwa sejak zaman sebelum perang kemerdekaan, sastrawan perempuan Indonesia sudah muncul dalam percaturan sastra Indonesia. Ini menunjukkan bahwa sastrawan perempuan Indonesia bersama-sama dengan sastrawan laki-laki Indonesia mendukung dan mengiringi perkembang-an sastra Indonesia. Jadi, sejarah perkembangan sastra Indonesia telah diisi dan disemaraki oleh sastrawan-sastrawan perempuan sejak awal pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia.

Jika sejarah sastra Indonesia modern diperluas, dalam hubungan ini ditarik ke arah masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dan “ditambah” dengan sastra peranak¬an Tionghoa yang berbahasa Melayu Rendah, maka sebenarnya sastrawan perempuan Indonesia tidak dapat dikatakan tertinggal atau terlambat muncul dibandingkan sastrawan laki-laki Indonesia. Dikatakan demikian karena pada masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi sudah ada atau muncul sastrawan perempuan terkemuka yang bernama Siti Saleha, yang kreativitas dan produktivitasnya cukup baik, tidak kalah dengan sastrawan laki-laki. Masyarakat mengetahui bahwa Siti Saleha adalah saudara Raja Muda Kerajaan Riau dan saudara Raja Ali Haji, pengarang Melayu terkemuka yang telah menulis Gurindam Dua Belas. Dia juga ditengarai sebagai pengarang asli Syair Abdul Muluk, sebuah naskah yang sangat populer di lingkungan budaya Melayu dan Sumatera.

Sementara itu, perempuan Peranakan-Tionghoa telah ada yang menulis syair-syair dalam bahasa Melayu-Rendah pada dasawarsa 1880-an. Pada umumnya mereka menggunakan nama-nama samaran dan singkatan, misalnya Nona Boedjang, Nona Botoh, Nona Manis, Nona Glatik, dan K.P. Nio. Semua fakta ini makin menguatkan pernyataan di atas, yaitu bahwa sastrawan perempuan Indonesia sebenarnya sudah muncul semenjak dini atau masa embrional sejarah sastra Indonesia. Oleh karena itu, keberadaan, kedudukan dan keterlibatan sastrawan perempuan Indonesia dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia perlu diakui dengan mantap, tidak dapat diganggu-gugat, dan tidak dapat disembunyikan atau dikaburkan.

Salah satu faktor terpenting yang menentukan keberadaan, kedudukan dan keterlibatan sastrawan perempuan Indonesia dalam dunia kesusastraan khususnya dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia adalah intensitas keterlibatan mereka dalam dinamika perkembangan Indonesia, dalam hal ini intensitas berkreasi dan berkarya para sastrawan perempuan Indonesia. Berdasarkan pembacaan umum dapat dikatakan bahwa secara umum intensitas keterlibatan sastrawan perempuan Indonesia dalam berkreasi dan berkarya memang tidak setinggi intensitas keterlibatan sastrawan laki-laki Indonesia. Lama, tenggang waktu, dan jumlah waktu berkreasi dan berkarya sastrawan perempuan memang masih di bawah sastrawan laki-laki. Walaupun demikian, secara khusus, intensitas keterlibatan sastrawan perempuan Indonesia dalam menggeluti dunia kesusastraan Indonesia relatif signifikan atau berarti. Dikatakan demikian karena sudah relatif banyak sastrawan perempuan Indonesia yang cukup lama berkreasi dan berkarya dengan jumlah waktu dan teng¬gang waktu yang relatif banyak.

Sebagai contoh, Nh. Dini, Titis Basino, Rayani S. Widodo, dan Ratna Indraswari Ibrahim sudah lama bekreasi dan berkarya, rata-rata semenjak tahun 1960-an atau awal tahun 1970-an. Di samping itu, Leila S. Chudori, Marta T, Dorothea Rosa Herliany, Dewi Lestari, Ayu Utami, Abidah El-Khaleqy, dan Asma Nadia sangat produktif, tenggang waktu dan jumlah waktu berkreasi dan berkarya mereka banyak sekali. Menurut pengaku¬annya, Ratna bahkan sudah menulis sekitar 500 karya sastra semenjak akhir tahun 1970-an. Kemudian Leila S. Chudori, Dorothea, dan Abidah sudah menulis berpuluh-puluh karya sastra, mereka rata-rata sudah menerbitkan satu dua karya sastra. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa intensitas keterlibatan sastrawan perempuan Indonesia dalam sejarah perkembangan Indonesia sudah lumayan baik, bermakna, dan berarti.

/3/
Secara umum dapat dikatakan di sini bahwa para sastrawan perempuan Indonesia telah berpartisipasi dan berperanan secara bermakna dalam mengangkat dan memperkuat pamor sastra Indonesia di hadapan publik sastra. Walaupun in¬tensitas keterlibatan, kreativitas, dan produktivitasnya masih di bawah sastrawan laki-laki, berkat bobot dan kekhasan karya-karya mereka, sastra Indonesia menjadi terangkat derajatnya di mata pengamat sastra, pembaca sastra atau masyarakat sastra, bahkan lembaga-lembaga tertentu yang berkaitan dengan sastra budaya. Tegasnya, tidak kalah dengan sastrawan laki-laki Indonesia, sastrawan perempuan Indonesia telah mengangkat sastra Indonesia, bukan sebaliknya. Mereka telah ikut serta meningkatkan citra positif sastra Indonesia sehinga dapat dikatakan bahwa mereka memiliki prestasi.

Ada dua macam prestasi sastrawan perempuan Indonesia yang telah ikut serta mengangkat derajat sastra Indonesia. Prestasi pertama berupa diakui dan dihor-matinya para sastrawan perempuan Indonesia dan karya-karya mereka oleh para pengamat atau kritikus sastra, penerbitan, dan lembaga-lembaga tertentu yang bersangkutan dengan sastra. Ringkasnya, mereka telah memperoleh pengakuan atas bobot atau mutu kepengarangan mereka. Meskipun tidak selalu, terbukti para pengamat atau kritikus sastra Indonesia juga memberikan perhatian dan membahas cerpen-sastra karya perempuan.

H.B. Jassin memuji kepiawaian dan bobot-sastra karya-kasya Leila S. Chudori dalam Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa (Puspa Swara, 1993). Th. Sri Rahayu Prihatmi secara khusus membahas cerpen-sastra Nh. Dini dalam buku Nh. Dini: Karya dan Dunianya (Grasindo, 1999). Tidak sedikit pula para penulis skripsi, tesis dan disertasi yang membahas sastra Indonesia karya sastrawan perempuan. Di samping itu, berbagai penerbitan terkemuka di Indonesia telah menerbitkan karya sastra Indonesia karya sastrawan perempuan. Penerbit Pustaka Utama Grafiti, Grasindo, Gramedia Pustaka Utama, Balai Pustaka, Pustaka Jaya, BasaBasi, Bentang, misalnya, cukup banyak menerbitkan sastra karya sastrawan perempuan: di antaranya karya sastra Titis Basino, Nh. Dini, Leila S. Chudori, Aryanti, dan Ratna Indraswari Ibrahim.

Media massa cetak dan media digital sebagai sebuah bentuk penerbitan juga banyak memuat karya-karya sastra khususnya sastra karya perempuan, antara lain Kompas, Suara Pembaharuan, dan Horison. Selanjutnya, cukup banyak lembaga yang memberikan penghargaan kepada sastrawan perempuan Indonesia. Misalnya, Aryanti pernah memperoleh penghargaan dari Yayasan Buku Utama; Marianne Katoppo pernah memperoleh Hadiah Sastra Asia Tenggara (SEA Writer Award); dan Ratna Indraswari Ibrahim hampir setiap tahun memperoleh penghargaan dari Harian Kompas karena cerpen-cerpennya selalu terpilih sebagai sastra terbaik pilihan Harian Kompas. Demikian juga Muna Masyari langganan mendapat penghargaan dari koran Kompas. Beberapa lembaga luar negeri juga telah menerjemahkan cerpen-sastra Indonesia dan menerbitkannya, di antaranya sastra Leila S. Chudori dan Ratna Indraswari Ibrahim, misalnya Yayasan Lontar yang diketuai John McGlynn mener-jemahkan dan menerbitkankan sastra Leila dan Ratna dalam Menagerie 3 : Indonesian Fiction, Poetry, Photographs, Essays (1997). Hal tersebut merupakan prestasi tersendiri bagi sastrawan perempuan Indonesia sebab tidak semua sastra¬wan Indonesia memperoleh kehormatan tersebut.

Prestasi yang kedua sastrawan perempuan Indonesia adalah keunikan dan kekhasan karya-karya sastrawan perempuan Indonesia. Keunikan dan kekhasan itu mampu mengisi celah kosong pokok persoalan, tema, gaya, napas, bahkan perspektif atau perpektif cerpen-sastra Indonesia di samping memperkaya khazanah sastra Indonesia. Tegasnya, sastrawan perempuan Indonesia mampu menciptakan keunikan dan kekhasan baik bentuk maupun isi cerpen-sastra mereka – yang tentu saja berbeda dengan bentuk dan isi cerpen-sastra karya laki-laki sastrawan.

Sebagai contoh, Titis Basino dan Titi Said banyak menggali pokok persoalan dan tema penindasan dan nasib perempuan di dalam sebuah sistem patriarkis. Demikian juga perjuangan perempuan menegak¬kan kebebasan dan kemandirian dalam zaman modern. Ratna Indraswari Ibrahim banyak menyuarakan feminisme dan perjuangan keadilan bagi semua perempuan tanpa memandang kelas sosial dan latar belakang budaya mereka. Cerpen-sastra dan novelnya kebanyakan menggali pokok persoalan perempuan tersisih, tertindas, terpedaya, dan terpinggirkan oleh nilai budaya dan sistem di samping memantulkan warna-warna surealistis, mistis, dan humanistis. Leila S. Chudori banyak menampilkan napas surealisme untuk membungkus tema kejujuran, keanehan, dan pengorbanan manusia – sebuah nafas yang masih jarang digunakan oleh pengarang-pengarang laki-laki. Laksmi Pamuntjak bukan hanya mengusung persoalan politik, gastronomi, dan wabah secara serempak dalam karya-karyanya, tetapi juga menyorongkan corak estetika yang berbeda dengan sastrawan lainnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa keunikan dan kekhasan cerpen-sastra para sastrawan perempuan telah ikut mengangkat derajat sastra In¬donesia dalam kancah kesusastraan Indonesia ataupun dunia.

/4/
Tingkat kreativitas dan produktivitas sastrawan perempuan Indonesia dapat di¬lihat dari lama waktu kreasi mereka, bobot hasil kreasi mereka, dan jumlah karya sastra hasil kreasi mereka. Kesan umum membaca karya sastra Indonesia (secara ala kadarnya) menunjukkan bahwa secara umum tingkat kreativitas dan produktivitas cerpenis perempuan Indonesia sudah relatif tinggi atau tergolong baik. Jika dibandingkan dengan tingkat kreativitas dan produktivitas cerpenis laki-laki Indonesia, kreativitas dan produktivitas cerpenis perempuan Indonesia tidak kalah atau tidak kalah jauh. Dikatakan demikian karena sebagian besar sastrawan perempuan Indonesia mampu menulis berpu¬luh-puluh karya, dan beberapa kumpulan sastra dengan kualitas baik dalam sepanjang keterlibatan mereka yang relatif panjang dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia.

Sebagai contoh, Titis Basino, Titi Said, Nh. Dini, Ratna Indraswari Ibrahim, Leila S. Chudori, dan Dorothea Rosa Herliany mampu menulis karya sastra berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus cerpen dalam sepanjang keterlibatan mereka secara aktif dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia. Nh. Dini sudah menghasilkan ratusan karya sastra sepanjang karier kesastrawanannya yang sudah melampaui 40 tahun. Demikian juga Ratna Indraswari Ibrahim, misalnya, sampai sekarang sudah menghasilkan sekitar 500 sastra dalam 20 tahun keterlibatannya di dalam dinamika sejarah perkembangan sastra Indonesia – jumlah ini melebihi kreativitas dan produktivitas cerpenis laki-laki Indonesia seperti Umar Kayam, Muhammad Ali, Iwan Simatupang, Seno Gumira Adjidarma, dan Yanusa Nugroho serta Agus Noor

Selain itu, cerpenis perempuan Indonesia juga mampu berkreasi dan berpro¬duksi atau berkarya dalam waktu relatif panjang. Meskipun cukup banyak sastrawan perempuan Indonesia yang berkarya di bawah rentangan waktu 10 tahun, lebih banyak sastrawan perempuan yang mampu berkarya di atas 10 tahun. Nh. Dini, Titis Basino, dan Titi Said, misalnya, me¬nulis sastra – di samping menulis novel – sudah lebih 40 tahun. Bahkan Nh. Dini dan Titis Basino masih terus berkreasi dan berproduksi sampai sekarang sekalipun sudah memasuki usia di atas 50 tahun. Demikian juga Ratna Indraswari Ibrahim dan Maria A. Sardjono sudah berkarya selama lebih 30 tahun.

Pada masanya, karya sastra mereka terus muncul secara rutin dan kontinyu di media massa cetak. Apalagi nama-nama Leila S. Chudori, Dorothea Rosa Herliany, dan Abidah El-Khalieqy. Sekalipun baru muncul pada awal atau pertengahan tahun 1980-an, kreasi dan produksi sastra mereka cukup banyak. Mereka juga sudah menghasilkan buku sastra, misalnya Leila S. Chudori sudah menerbitkan Malam Terakhir, Laut Bercerita, Pulang, dan Nadira; dan Dorothea sudah menerbitkan kumpulan cerpen dan antologi puisi. Sekalipun mereka juga menulis genre lain, genre sastra tetap mereka tulis dalam sepanjang waktu keterlibatan mereka di dalam dinamika sejarah perkembangan sastra Indonesia. Jadi, lama waktu berkarya cerpenis perempuan Indonesia sudah cukup baik, efektif, dan efisien

/5/
Uraian di atas telah memperlihatkan bahwa peranan sastrawan perempuan Indonesia cukup berarti (signifikan) bagi sejarah perkembangan sastra Indonesia cukup signifikan. Tetapi, kesetaraan dan keseimbangan kedudukan dan peranan mereka dengan cerpenis laki-laki Indonesia terkesan belum sepenuhnya tercapai. Masih terdapat ketidakseimbangan dan ketidaksetaraan kedudukan dan peranan antara cerpenis perempuan dan cerpenis aki-laki Indonesia dalam wacana sejarah sastra Indonesia dan historiografi sastra Indonesia. Hal ini menuntut ditingkatkannya peranan dan dimantapkannya kedudukan sastrawan perempuan Indonesia dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia dan historiografi sastra Indonesia.

Untuk itu, para ahli sastra dan penggelut kajian perempuan dapat mendorong perempuan untuk lebih jauh dan intensif terlibat di dunia sastra Indonesia. Di samping itu, wacana sejarah sastra Indonesia dan historiografi sastra Indonesia perlu diperkaya atau malah diperbaharui agar kedudukan, peranan literer sastrawan perempuan Indonesia tercatat sesuai dengan kenyataan yang ada. Inilah salah satu tugas ahli sastra bersama ahli sejarah, yaitu memperbaharui dan memperkaya sejarah sastra Indonesia dan historiografi sastra Indonesia yang berkeseimbangan gender.

Bersambung…

*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

One Reply to “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (22)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *