SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (6)

: Filsafat Manusia dalam Novel Iwan Simatupang

Djoko Saryono *

Bagi Iwan Simatupang, hidup manusia merupakan proses mencari jatidiri yang dilakukan dengan menggelandang, mengembara, berziarah terus-menerus, dan migrasi terus-menerus. Ini dimaksudkan agar makna hidup di dunia ditemukan. Dalam proses ini sebenarnya manusia berhadapan dengan persoalan absurditas hidup, irasionalitas hidup, dan ketidakpahaman akan hidup. Tokoh-tokoh novel Iwan menggambarkan hal ini. Tokoh-tokohnya berhadapan dengan kehidupan yang absurd, irasional, dan tidak terpahami.

Di sini Iwan nampaknya mau mengatakan bahwa manusia harus sampai pada kesadaran bahwa hidup itu absurd, irasional, dan tidak terpahami. Semua ini bersumber dari benturan keterasingan, rasa tanggung jawab, rasa bertindak, memilih dan kecemasan. Absurditas hidup yang dikemuka-kan Iwan dalam novel-novelnya menyangkut kematian, kebebasan, dan ketiadaan makna hidup. Ketiga persoalan aubsurditas hidup ini menonjol sekali dalam novel-novel Iwan.

Kematian bagi Iwan Simatupang merupakan titik akhir pencarian jatidiri manusia, hakikat dan keberadaan manusia di dunia. Kematian ini sekaligus merupakan titik akhir tragedi yang dialami manusia dalam mencari jatidirinya. Tragedi sendiri timbul karena ketidakpahaman manusia dalam memahami dan mencari jatidirinya. “Pedang diayunkannya. Darah jernih memancur. Tubuh yang tak lagi berkepala itu, rubuh. Kedua tangannya masih terjalin erat dalam pengucapan doa yang tak sempat selesai diucapkan. Selesai! Selesai semua, ya Bapa!”, tulis Iwan dalam Merahnya Merah. (MM). Ihwal kematian seperti ini begitu kuat dan sarat dikemukakan oleh Iwan dalam keempat novelnya. Obsesi Iwan akan masalah kematian begitu besar.

Di samping kematian, kebebasan juga mendapat porsi pembicaraan yang besar dan kuat dalam keempat novel Iwan. Iwan menaruh perhatian demikian besar terhadap masalah kebebasan. Hal terjadi karena kebebasan merupakan prasyarat penggelandangan dan pengembaraan manusia dalam upaya menemukan hakikat dan keberadaannya di dunia. Bagi Iwan, manusia yang bebas adalah manusia yang menggelandang dan mengembara ke mana saja. Dalam Kooong, dia bagaikan burung perkutut yang lepas bebas ke mana saja.

Manusia bebas adalah manusia yang terus-menerus ingin pergi ke mana saja tanpa tujuan pasti. Dalam Merahnya Merah hal ini terlihat pada hidup Tokoh Kita yang selalu berkelana ke mana saja, menolak kemapanan karena kemapanan berarti ketidakbebasan. Karena itu, sebenarnya manusia tidak memerlukan nama, pangkat, jabatan, harta benda, dan gelar kesarjanaan. Tulis Iwan dalam Ziarah, “Bebas? Ha! Itulah inti perselisihan paham kita. Hati-hati Saudara dengan kata”bebas”itu. Saudara harus dapat merasakan getaran, irama, dari masa. Saudara seperti ketinggalan zaman saja. Ya, saudara telah terlalu lama bercokol di pekuburan ini saja. Di sini memang tempatnya sejarah berhenti. Dari segi ini saja, saudara sudah seharusnya pergi dari sini. Saudara telah memberikan gambaran tentang diri saudara sebagai manusia prasejarah.” Lalu tulisnya dalam Koong, “Saya masih ingin merdeka, bebas, seperti saya sekarang ini.” Ini semua manandaskan bahwa kebebasan merupakan prasyarat menemukan makna keberadaan hidup di dunia dan hidup di dunia, termasuk kebahagiaan hidup.

Kalau hidup itu absurd dan irasional sehingga tidak terpahami, apakah makna hidup bagi manusia. Hal ini juga dibicarakan Iwan dalam novel-novelnya. Dalam novel-novelnya, Iwan hendak menegaskan bahwa hidup itu tidak bermakna. Hal ini karena hidup itu sendiri tetap misteri, tidak terpahami walaupun manusia terus mencarinya dengan memikul segala risiko. Betapapun pencarian manusia akan makna hidupnya, dia akan sia-sia, setidak-tidaknya tidak menemukan apa-apa sampai kematian tiba. Tulis Iwan dalam Ziarah, “Apakah hidup? Jawab yang dipetiknya malam kemarin dari burung pungguk yang memanggil-manggil kepada bulan sabit, tak membuat dia puas. Jawab itu, yang baginya kurang lebih berbunyi: kehidupan adalah suasana, adalah iklim, dari maut tak sebegitu meyakinkannya sendiri, betapapun besar pengaruh perkataan”iklim”itu dalam seluruh filsafat dan sastera modern sekarang ini. Lagi pula, ada sesuatu pada jawab itu yang terasa cemplang baginya.” Ini menandakan bahwa hidup manusia hanyalah rentetan tregedi, jalinan prahara demi prahara, dan dikendalikan oleh fantasi-naluri semata-mata. Hidup seperti ini tidak terpahami oleh manusia. Oleh karena itu, melalui nasib tokoh-tokohnya, nampaknya Iwan mau mengatakan bahwa hidup itu tidak bermakna. Manusia mengalami ketiadaan makna hidup.

Penekanan pada kematian, kebebasan, dan ketiadaan makna hidup sebagai bagian dari absurditas manusia, apakah yang bisa dikatakan tentang paham filosofis Iwan? Demikian juga berdasarkan keyakinannya bahwa hakikat manusia terletak pada keberadaannya di dunia, paham filsafat apakah yang hendak diterompetkan Iwan Simatupang?


______________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

One Reply to “SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (6)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *