Tiga Sajak Mardi Luhung

Jawa Pos, 13 Sep 2020

Kosong

Jika musim yang berat ini tak kunjung rampung, apa yang akan
kita lakukan. Bertahan atau pindah ke planet lain. Pindah
ke planet lain? Kenapa tidak. Sebab, telah terdengar kabar,
bahwa, dalam tahun-tahun ke depan, akan ada misi pergi
ke planet Mars. Dan di sana, akan dibangun permukiman baru.

Permukiman antarplanet. Permukiman yang mengusung
mimpi-mimpi indah tentang sebuah tempat: bersih, tenang,
dan teratur. Mirip keadaan bumi ketika pertama kali dihuni
Adam. Bumi yang menyediakan semua yang dibutuhkan
dan yang akan dikembangkan. Tapi, sayangnya, misi itu
hanya menyediakan karcis berangkat saja. Tanpa balik lagi
ke bumi. Jadinya, sekali berangkat, sekali itu pula, kita
mesti melenyapkan segala kenangan yang ada di dalam diri.

Termasuk kenangan pada ayah, ibu, tante, om, sampai
pada pacar dan mantan. Dan kita pun menjadi orang-orang
baru. Orang-orang yang ketika menulis hidupnya, akan
memulai dengan pembuka: ”Pada hari, tanggal, bulan, dan
tahun nol, kami turun dari kekosongan. Dan kami
pun tak ingin menengok pada apa yang mengular di belakang.”

(Gresik, 2020)

Lemari

Jangan tidur. Sebentar lagi mungkin kiamat. Tidakkah
kau ingin tahu: bagaimana langit mengisut, gunung
melompat, dan samudra melesat. Melesat pergi. Pergi
tanpa permisi. Seperti perginya si patah hati yang telah
kehilangan akal. Si patah hati yang menjambak-jambak
rambutnya di sebelah gardu. Sambil memanggili nama
entah siapa. Ayo, jangan tidur. Naiklah ke bumbungan.

Pertajam pandanganmu. Sebentar lagi mungkin kiamat.

Dan sebentar lagi, kau akan tahu, bahwa ada yang telah
lama menyapamu. Sejak pertama kau buka matamu. Dan
sejak kau tuding dunia dan isinya sebagai isi lemarimu.

(Seekor gantrung kelabu terbang rendah di sebelah pagar).

(Gresik, 2020)

Kepada Umur

Telah aku lewati malam-malam yang pernah tak bisa tidur lelap. Telah aku
lewati malam-malam yang pernah mencangkung di sisi unggun. Dan telah
aku lewati malam-malam yang pernah melihat bintang jatuh sambil terpejam.

Malam-malam, di mana, aku mengulurkan pikiran menuju kerahasiaan. Yang
aku jaga dengan segenap jari yang ada di tangan dan kaki yang memanjang.

Malam-malam, di mana, aku memanggili sekian nama bukan dengan kalimat.

Tapi, dengan lambaian yang berulang-ulang. Sebab, menduga, bahwa mereka
adalah si pembisik langkah. Yang selalu mengiringi ke mana saja aku pergi.

Dan ke mana saja aku edarkan sorot mataku yang berdikit-dikit merabun ini.

Juga telah aku lewati malam-malam yang pernah ingin sekali tak lagi menjadi
malam. Berlagak sebagai pagi, siang, atau sore yang baru. Padahal, siapa pun
tahu, bahwa jubah malam adalah gelap. Gelap yang tak mungkin tersorot sinar
matahari. Gelap yang meluas. Dan meluas ke entah. Yang pernah aku kenakan
ketika rembulan tenggelam. Dan seekor burung putih berseliweran. Terlambat
kembali ke sarang. Seperti keterlambatan duka, ketika merasa, bahwa apa-apa
yang berguguran pasti akan kembali bertumbuhan. Berkembangan. Dan telah,
telah, aku lewati malam-malam yang lebih malam daripada malam itu sendiri.

(Gresik, 2019)


MARDI LUHUNG Lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Lulusan Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Jember. Puisinya tersebar di berbagai media. Pada 2010, dia mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award kategori puisi. Sedangkan kumpulan cerpen pertamanya adalah Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011). Dan Cumcum Pergi ke Akhirat (2017) adalah buku puisi terakhirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *