PESTA

Taufiq Wr. Hidayat *

Jumalot si pembual, mengisahkan perihal orang yang bernama Mosakkat di sebuah warung kopi. Semua tahu, Jumalot hanya pembual, pengangguran setengah baya yang belum berkeluarga. Di kota itu, ia hidup sendirian. Selalu mengomentari status-status WA atau Facebook kawannya. Ia gemar sekali memegang android. Meski dalam perbincangan, ia selalu melihat android sekadar mengintip status WA atau video-video, sehingga terlihat tak memedulikan atau menghargai orang yang berbicara di hadapannya. Meski orang yang berbicara di hadapannya orang yang harus dihargai dan didengarkan, Jumalot mengabaikannya demi menyentuh-nyentuh layar android. Perilaku yang buruk. Lantaran ia tak pernah sepenuhnya mendengarkan orang bicara, hidupnya pun tak pernah tertata. Berantakan. Tapi pada suatu keadaan, menjilat-jilat.

Tapi siapakah Mosakkat? Jumalot mengisahkan secara terputus-putus lantaran ia tak pernah betah 5 menit saja untuk tidak mengusap layar androidnya. Di perempatan itu, ia mengisahkan seorang pendeta dalam “Don Camillo”-nya Giovanni Guareschi. Menurut Jumalot, Mosakkat menceritakan, dalam “Don Camillo”, sang pendeta frustasi dan nelangsa melihat politik yang menurutnya menyimpang dari agama. Ia pun curhat kepada Tuhan. Tuhan menjawab secara ajaib, kata-Nya: “Maaf Tuhan tidak ngurusi politik!”

Mosakkat adalah pembual, kata Jumalot yang juga pembual. Ia gemar berbohong telah menyejahterakan rakyat, dan akan selalu menyejahterakan rakyat, memerhatikan orang-orang miskin dan anak-anak terlantar. Berjanji akan lebih baik dan pasti yang paling baik. Padahal semua itu bohong. Seperti halnya Jumalot, Mosakkat gemar perempuan, sebagaimana tanda dari sebuah penyakit parah bernama penyakit kekuasaan. Tapi penakut. Ia gila pengakuan. Cerita-cerita Jumalot selalu menjadi perhatian, meski semua orang tahu ia hanya pembual.

“Sebagai orang kaya, gila berkuasa, Mosakkat itu sombong,” kata Jumalot kepada beberapa orang di warung kopi. “Mosakkat suka sekali memberi harapan, tapi kosong!”

Tak satu pun orang-orang di warung kopi yang tahu siapa dan di mana Mosakkat hidup. Mosakkat hanya hidup dalam mulut dan khayalan Jumalot.

“Bohong!”

“Mosakkat memang pembohong.”

“Kamu yang bohong.”

“Hahaha!” Jumalot tertawa. Lalu kembali mengusap-usap layar androidnya.

Hari-hari terus berlalu. Pemilu demi pemilu selalu pilu. Pilkada demi Pilkada selalu penuh noda. Pilkades demi Pilkades selalu saja menyisakan urusan yang tak beres. Kebohongan demi kebohongan terus saja berkibar-kibar gagah seperti bendera-bendera partai. Tahun demi tahun. Musim ke musim. Tapi rakyat harus dipaksa bergembira dengan pesta demokrasi yang basi. Begitu tutur Jumalot. Jumalot bukan pengamat politik. Dia hanya menceritakan orang yang bernama Mosakkat, manusia yang tak bisa hidup dan tak bisa berbahagia tanpa pesta demokrasi. Tak bisa makan tanpa politik. Dan tak bisa hidup tanpa berbohong. Tak mungkin seru tanpa menipu.

Ada sebuah pesta, kata Jumalot. Pesta yang disukai oleh Mosakkat, dan yang selalu diselenggarakan dengan pengorbanan dan uang yang luar biasa besar. Di dalam pesta itu, gelas-gelas mewah berisi darah. Minumannya darah yang merah. “Darah memang merah, Jendral!” kata Jumalot, pengangguran pemalas dengan rambut berantakan dan hidup yang juga berantakan. Pisau dan garpu selalu mengawasi leher manusia. Lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu kemenangan, peperangan, dan caci maki. Makanannya adalah nasib orang lemah. Taring-taring menyeringai, selalu haus dan lapar. Rakyat dipaksa melihat. Dipaksa bergembira. Dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak bisa dipilih dan tak layak dipilih. Tapi rakyat harus memilih.

“Kalau tidak memilih, awas!” ujar Jumalot menirukan kata-kata Mosakkat. “Hahaha!” Jumalot tertawa terbahak-bahak.

Orang-orang tak ikut tertawa. Hujan pun turun seperti pada jaman purba.

Banyuwangi, 2020


*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *