Kesahajaan Seorang Iman Budhi Santosa di Jagat Kesenian


Imam Muhayat

Pertemuan awal dengan Iman Budhi Santosa, seingat saya tahun 1988 di Sanggar Eska. Saat itu status perguruan tinggi masih IAIN Sunan Kalijaga. Selama kepemimpinan komunitas Eska dengan Lurah Sanggar Eska dipegang oleh Hamdy Salad, Aly D. Musyrifa, dan Otto Sukatno CR (Allahu Yarham), saya masih sering bertemu dengan Iman Budhi Santosa.

Sosoknya supel, banyak cerita, dan rada serius. Sesekali memberikan petuah seperti orang tua sendiri. Bahkan ada obrolan profesi hingga menghunjam di ceruk terdalam kehidupan.

Umpan-umpan obrolan menawarkan alternatif dan sulit ditebak. Seolah-olah komunikan dilepas di ladang pilihan sendiri dan mesti berani membuat kreasi -meminimalisasi- risiko sebuah pilihan. Layaknya pembelajaran universitas alam yang selama ini menjadi tempat berhikmad bagi Bang Iman.

Pandangan saya tentang Bang Iman, panggilan saya kepadanya, sedemikian konsisten dalam dunianya. Yakni dunia seni, sastra, budaya, dan spiritual. Selama itu pula ia suntuk mengemasnya dalam bentuk kontrak sosial dan aestetika universal. Berlama-lama selalu nyaman duduk bersama di ruang obrolan santai maupun pertemuan resmi.

Juga tak hendak tergesa-gesa pergi manakala handaitolon lama bersua kembali. Terasa pertemuan dengannya selalu bersifat kekeluargaan, menyenangkan, dan menggembirakan.

Hal itu mungkin bawaan, bentukan, dan fitrah ia sendiri yang telah menyatu dengan jiwa dan raga. Ia telah berhasil membangun kesadaran hulu-hilir kesadaran diri dalam ikatan kontrak sosialnya dan aestetika universal. Bukti semua itu dapat dilacak dari rekam jejaknya yang panjang.

Masyarakat kebudayaan Indonesia mencatat nama Iman Budhi Santosa dengan tinta emasnya: ia satu diantara tujuh orang tersohor yang mendirikan Persada Studi Klub (PSK) yang menjadi cikal bakal para kreator seni budaya Indonesia.

Catatan keramat yang tak pernah terlupakan oleh Komunitas seni budaya Indonesia dan Bang Iman sendiri, tentunya adalah hari Rabu Pahing petang pukul 15.00-18.00, tanggal 5 Maret 1969 di Malioboro 175 A lantai atas. Jejak tersebut tidak lain melibatkan tujuh orang yang akhirnya melahirkan Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta.


Ia, Imam Budhi Santosa berada di tengah-tengah mereka diapit Umbu Landu Paranggi, Teguh Ranusastra Asmara, Ragil Suwarna Pragolapati, Soeparno S. Adhy, Ipan Sugiyanto Sugito, Mugiyono G. Warso.

Karib warga PSK pertama yang dibanggakan oleh Bang Iman dan sesekali dikisahkan adalah Faisal Ismail, Achmad Munif, Mieska M, Amien, dkk. Sebelas tahun kemudian komunitas berasal dari tujuh orang tersebut yang dimulai dari tahun 1968-1979 menggaet anggota tidak kurang dari 1500 orang dari Sabang sampai Merauke. Bimbingan masal penyair dilakukan oleh ketujuh dedengkot PSK hingga banyak melahirkan poros jagat kesenian dan kebudayaan Indonesia.


Sebut saja misalnya: Korie Layun Rampan, Yudhistira A. Nugraha, Agus Dermawan Tantana, Kusnin Asa, Linus Suryadi, Emha Ainun Nadjib, Faisal Ismail, Achmad Munif, Soeparno S. Adhy, Miska, Jujuk, Suryanto, Darwis, Mustofa W. Hasyim, Arwan Tuti Artha, Sujarwanto, Suminto A. Sayuti, Sutiman Eka Ardana, Jabrohim, Suripto Harsa, dkk. Belakangan para dedengkot PSK bermigrasi sesuai panggilan nurani tanpa henti hingga melahirkan generasi-generasi produktif betapa terkekang di ruang duli.

Kesuntukan para dedengkot PSK, dalam hal ini Bang Iman sendiri begitu menyadari mesti adanya konsep penguatan generasi produktif yang selalu menyadari, apa arti dan nilai apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan (baca sastra).

Selain itu sedemikian disadarinya bahwa fungsi kesenian dan kebudayaan dalam masyarakat penting adanya, lalu siapa lagi dan kapan mesti dimulai. Terasa kepedulian Bang Iman yang sedemikian itu menjadi ritual hariannya sebagai ibadah dan muamalahnya yang dilakukan insha Allah dicintaiNya.

Di mata sohibnya, Maman S. Mahayana, kumpulan puisi Iman Budi Santosa, “Cupu Manik Hasthagina”, ketiga puluh puisinya menempatkan kisah dunia pewayangan.

Simbol-simbol sebagai sumbernya sekaligus muaranya melekat di sana memperoleh konteksnya. Kenyamanan kolaboratif dengan dalang menjadi instrumen tegur sapa, wahana, media tujuan komunikasi bermuara capaian kualifikasi kepurnaan kehidupan sebagai tapak tilas para wali diantaranya Sunan Kalijaga. Kreasi komunikasi yang dibangunnya amsal kesahajaan, dan kemuliaan budi sekaligus akhlakul karimah.

Perspektif teologi profetik menjelaskan bahwa sebaik-baik timbangan adalah keluhuran dan keagungan moralis. Sekali lagi, hingga praksis sosial dan tesis aestetika universal sungguh masih banyak orang mengabaikan.

Sedangkan bagi Bang Iman pandangan saya, sebagai kawan telah lolos dengan penuh liku-liku Ujiannya. Selamat Jalan Pak Iman Budhi, Allah Swt. bersamamu dan senantiasa mencintaimu, amin.

10 Desember 2020

Keterangan: Dua Foto Persada Studi Klub (PSK) Yogyakarta, dari fb Nurel J.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *