ORANG YANG BERNAMA NIRDAWAT

—mengenang Budi Darma—

Taufiq Wr. Hidayat *

Budi Darma memperkenalkan orang yang bernama Nirdawat. Orang aneh. Tapi juga orang normal. Orang biasa. Tapi juga orang luar biasa. Orang bijak, yang kadang-kadang dianggap bejat. Bahkan suatu kali menjadi presiden, yakni Presiden Nirdawat yang memimpin Republik Demokratik Nusantara. Dalam “Tangan-tangan Buntung”-nya, Budi Darma mengisahkan Presiden Nirdawat yang mengagumi pemimpin negara tetangga yang tangannya buntung, tapi dihormati. Puluhan tahun yang lalu—sebelum Nirdawat menjadi presiden, ia adalah seorang kritikus sastra. Nirdawat mengupas karya sastra dan mengeritik habis kebanyakan novel Indonesia yang persis melodrama, dangkal, tak berbobot, dan sampah. Bahkan Nirdawat pernah mencemooh sejumlah sastrawan atau penyair berambut gondrong, bau, kumal, menenggak alkohol, bicara Tuhan dengan puisi-puisi ketuhanan, tapi tak punya karya. Kalaupun punya karya, karyanya cuma selembar dua lembar—itu pun karya “ngawur” yang lebih tepat disebut sampah yang tak dapat didaur ulang, yang dibaca berulang-ulang dalam setiap pertemuan. Yang dipuja-puja sendiri, disanjung-sanjung kawan-kawannya sendiri, dan dinobatkan sebagai “puisi gelap” atau “puisi sufi”.

Sebagai kritikus sastra, Nirdawat punya persamaan telak dan perbedaan yang juga telak dengan Kritikus Adinan. Kritikus Adinan adalah orang luhur, jujur, dan lurus. Tidak pernah bengkok. Baik. Tidak pernah menyimpan rencana jahat. Dan bukan bajingan. Tapi barangkali perbedaan Kritikus Adinan dengan Nirdawat, Kritikus Adinan tak semujur Nirdawat. Kritikus Adinan menjadi terasing, tersisih, dan disingkirkan karena kejujurannya. Keluhurannya telah membuat Kritikus Adinan diadili sejarah. Orang tidak membutuhkan kritik sastra dan—mungkin juga, kritik-kritik yang lain. Sehingga eksistensi Kritikus Adinan selalu digoyahkan keadaan. Publik tidak suka. Penyair, novelis, sastrawan, seniman, pejabat, hakim, dan entah siapa lagi, tidak menyukai Kritikus Adinan. Karena Kritikus Adinan jujur. Menyatakan kebenaran yang diyakininya. Ia terlantar. Diteror sejarah karena kejujuran dan keteguhannya memegang kebenaran. Tapi apakah sudah sedemikian parahnya keadaan manusia di luar pikiran dan keluhuran Kritikus Adinan, sehingga Kritikus Adinan dibenci dan disingkirkan? Pertanyaan itu bukan pertanyaan banyak orang. Tapi pertanyaan gaib yang tak pernah terjawabkan. Segala kebenaran, kejujuran, dan keluhuran Kritikus Adinan dianggap kejahatan. Lantaran Kritikus Adinan—menurut dirinya, berpegang teguh pada kewajaran. Dan apakah sudah sedemikian tak wajarnya sejarah, sehingga orang sewajar Kritikus Adinan disingkirkan, dibenci, dan dicemooh habis-habisan nyaris habis sungguhan? Pertanyaan gaib. Tak pernah terjawabkan.

Berbeda dengan Nirdawat. Nirdawat adalah sosok manusia serba bisa, serba ada, serba tahu, serba luar biasa. Setidaknya dalam idealisme Budi Darma. Ia bukan malaikat. Juga bukan iblis. Hanya manusia. Manusia biasa yang tidak biasa. Kadang-kadang Nirdawat begitu mulia. Kadang-kadang secara diam-diam Nirdawat menyimpan kejahatan. Dan semenyimpang apa pun Nirdawat, jika dilihat secara manusiawi, itu wajar saja. Kritik Nirdawat terhadap sastra Indonesia patut dipertimbangkan. Orang seperti Nirdawat sangat dibutuhkan untuk kemajuan dan kejayaan kesusastraan. Kemajuan dan kejayaan kesusastraan suatu bangsa itu seperti apa? Nirdawat barangkali dapat menjawabnya. Tapi itu tak pernah dilakukan oleh Nirdawat. Bahkan ketika suatu negara mengalami krisis kepemimpinan, Nirdawat dimohon dengan hormat menjadi pemimpin. Hanya Nirdawatlah satu-satunya orang yang sangat layak menjadi pemimpin di masa krisis pemimpin. Konon Nirdawat digelandang dengan sangat hormat dan lembut untuk menjabat atau dilantik sebagai Presiden Demokratik Nusantara. Dan ketika malam, istri Nirdawat mencium Nirdawat dengan lembut. Kemudian istri Nirdawat menggelandang Nirdawat ke dalam kamar dengan lembut dan penuh ciuman mesra.

“Perkenalkan, nama saya Nirdawat,” kata Nirdawat pada orang yang tak mengenal dirinya.

“Tapi siapa sebenarnya Nirdawat?” tanya Jiobet Darmawan kepada Penyair Matjalut.

“Itulah yang tak terpecahkan hingga detik ini. Bahkan ketika Nirdawat telah meninggal dunia akibat wabah, orang tak paham betul perihal Nirdawat. Yang jelas, Nirdawat cuma manusia. Manusia biasa yang tak sebiasa itu,” papar Penyair Matjalut.

“Omonganmu membingungkan.” Jiobet Darmawan membetulkan songkok hitam di kepalanya. Jiobet Darmawan adalah orang baik. Dia tidak menyimpan lonjoran besi pada tangannya, dan tak memendam cor-coran tembok dalam dadanya. Dia adalah salah satu kawan bicara Penyair Matjalut, punya minat pada cerita-cerita aneh Penyair Matjalut.

“Aku pun bingung ketika mencoba memahami Nirdawat. Sejarah pun tak menjelaskan sejelas-jelasnya perihal siapa sebenarnya Nirdawat. Apakah Nirdawat jatuh dari langit? Tapi kenapa orang tak melihat sayap pada kedua ketiaknya? Dan sejarah tak pernah melupakannya. Nirdawat akan selalu menjadi ingatan sejarah manusia sepanjang masa.”

Jiobet Darmawan mencoba mencerna dengan sebaik-baiknya kisah Penyair Matjalut. Keduanya minum kopi. Dan tentu saja merokok.

Yang terang, Nirdawat termasuk manusia yang sangat beruntung. Serba bisa. Serba tahu. Dan tentu saja banyak orang iri pada kehebatannya itu. Ia tak dikutuk secara terang-terangan atas kehebatannya. Berbeda dengan Kritikus Adinan yang secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan dihakimi sejarah karena kejujurannya. Dan berbeda pula dengan orang yang bernama Bambang Subali Budiman. Bambang Subali Budiman adalah orang terhormat, sering melakukan kegiatan sosial. Itulah karenanya, di belakang namanya tertera sebutan Sarjana Sosial. Tapi di balik kegelapan, Bambang Subali Budiman tak sebudiman itu. Ia menyimpan kejahatan dan kebejatan. Orang banyak tidak tahu. Orang banyak hanya tahu, bahwa Bambang Subali Budiman adalah orang sosial yang baik, banyak membantu masyarakat, dan dielu-elukan sejarah.

Penyair Matjalut menjelaskan semuanya kepada Jiobet Darmawan. Jiobet Darmawan heran, ternyata ada manusia seperti yang dikisahkan Penyair Matjalut tersebut.

“Tapi apakah Nirdawat menguasai ilmu-ilmu sastra sebelum dia menjadi presiden, Penyair Matjalut?”

“Tentu saja, Jiobet Darmawan. Nirdawat adalah manusia serba bisa. Serba tahu. Serba segala serba. Bukan hanya menguasai ilmu-ilmu sastra sehingga menjadi kritikus sastra yang termashur, ia juga seorang sastrawan tersohor seluruh internasional. Tapi dia manusia biasa. Tidak pernah mati dua kali. Dan tidak kebal senjata. Sehingga sekali mati, Nirdawat selamanya mati. Tapi orang seolah melihatnya tetap hidup. Bahkan kebanyakan orang tidak percaya kalau Nirdawat telah mati atau wafat. Ketika melihat suatu bangunan, melihat buku-buku sastra yang bagus, dan melihat negara yang baik, orang merasa Nirdawat ada di sana, hidup, dan bernafas secara sehat walafiat.”

“Lalu siapa Bambang Subali Budiman?” tanya Jiobet Darmawan.

“Dengarlah olehmu, wahai Jiobet Darmawan. Itu adalah orang yang gemar membantu di dalam masyarakat. Taat hukum. Mematuhi protokol kesehatan. Dan orang berpendidikan. Di belakang namanya tertera sebutan “sarjana sosial” disingkat “S.Sos”. Tak sembarang orang bisa seperti Bambang Subali Budiman. Dia orang baik. Dijuluki “The Good Man”. Semua orang mengenalnya sebagai orang baik. Tapi di balik semua itu, dia punya pikiran mesum dan bejat. Gemar mengintip istri orang secara sangat diam-diam. Dan membayangkan adegan mesum yang menjijikkan. Dia menyimpan kejahatan. Tapi Bambang Subali Budiman—sebaik apa pun dia, tak lain cuma manusia biasa, bukan?” urai Penyair Matjalut.

“Entahlah. Saya tak mengenal Bambang Subali Budiman.”

“Bagus. Baiknya kamu tak mengenal Bambang Subali Budiman yang bergelar S.Sos itu. Karena sesungguhnya dia orang yang tak sepenuhnya suci dan tak sepenuhnya jahat. Tak seutuhnya individual dan tak seutuhnya sosial. Ia mungkin tetanggamu.”

“Bukankah tetanggaku adalah kamu?”

“Ngawur!”

Penyair Matjalut dan Jiobet Darmawan tertawa terbahak-bahak. Diam-diam pembicaraan keduanya diamati oleh orang yang bernama Nirdawat. Di balik pagar rumah Penyair Matjalut, Nirdawat mengendap-endap. Bersembunyi di balik semak. Menguping pembicaraan Jiobet Darmawan dan Penyair Matjalut. Tiba-tiba secara kebetulan, seseorang melewati semak. Orang itu kaget melihat Nirdawat di situ.

“Bukankah Tuan Nirdawat sudah mati? Benarkah Anda Nirdawat atau orang yang mirip Nirdawat?” tanya orang yang kebetulan lewat itu heran.

“Maaf. Siapa Anda?” tanya Nirdawat dari balik semak-semak.

“Perkenalkan. Nama saya Kritikus Adinan. Dan tetangga saya bernama Bambang Subali Budiman.”

Nirdawat terperanjat.

Tembokrejo, 2021

Nama, tempat, peristiwa dalam cerita fiksi ini, seyogianya benar-benar ada dan terjadi dalam kenyataan.


*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *