Ensiklopedia Sastra Kalsel dalam Kritik

(Tanggapan terhadap Kritik Ivan Denisovitch)

Mahmud Jauhari Ali
Radar Banjarmasin

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah swt atas adanya kritik terhadap sebuah buku yang baru saja diterbitkan oleh Balai Bahasa Banjarmasin. Buku yang disusun oleh sebuah tim ini telah berhasil menjadikan masyarakat Kalimantan Selatan membaca isinya. Bahkan, saya berani mengatakan bahwa buku ini telah berhasil menciptakan proses berpikir kreatif dari para pembacanya. Continue reading “Ensiklopedia Sastra Kalsel dalam Kritik”

APA KABAR SASTRA INDONESIA?

Fadlillah Malin Sutan *
http://www.harianhaluan.com/

Apa Kabar?

Sebuah sapaan yang ramah, bersahabat dan umum, “Apa kabar sastra Indonesia?” Pada sisi lain, seakan sudah lama tidak berjumpa, atau sesaat, satu waktu kita bertemu, tidak lagi dekat, tidak lagi akrab, sehingga kita ingin tahu kabar beritanya. Seandainya sastra Indonesia itu adalah orang maka tentu ia akan menjawab; “Baik-baik saja” atau dia menjawab, “Waduh, aku sedang sakit perut”. Continue reading “APA KABAR SASTRA INDONESIA?”

Liar, Nakal dan Penuh Cinta

Salamet Wahedi *
Jawa Pos, 6 Maret 2011

Dalam sejarah sastra Indonesia, pengarang yang menulis berbagai genre bisa dihitung dengan jari. Bahkan, kalau pun ada, itu hanya sekadar metamorfosa pencarian, atau pelarian di tengah kebosanan proses. Dengan kata lain, seorang pengarang selalu identik dengan satu genre. Misal Sutardji Calzoum Bahri, sefantastis apa pun dia menulis karya selain puisi, semisal cerpen, tetap dikatakan penyair yang menulis cerpen. Atau Sapardi Djoko Damono ketika menghadirkan kumpulan cerpen “Orang Gila”, tidak serta merta mendapatkan label cerpenis. Dia tetap diidentikkan dengan penyair yang melakukan petualangan estetika di negeri lain. Continue reading “Liar, Nakal dan Penuh Cinta”

Suamiku dan Layang-layangnya

Kadek Sonia Piscayanti
http://www.balipost.co.id/

Musim layang-layang tiba lagi. Langit berwarna-warni oleh layang-layang yang berserakan di langit. Ratusan jumlahnya. Bagi suamiku, mungkin saja musim ini adalah musim terindah yang selalu dinanti-nanti kedatangannya. Namun bagiku, musim ini adalah sebuah kutukan. Aku selalu membencinya, dan selalu berharap agar musim ini cepat pergi, kalau bisa tak akan pernah datang-datang lagi, karena ia telah merebut suamiku. Aku selalu merasa cemas, tepatnya, selalu merasa dinomorduakan oleh suamiku pada musim layang-layang seperti saat ini. Continue reading “Suamiku dan Layang-layangnya”

Potret Heroik Sagung Wah dalam Karya Sastra

Igk Tribana
http://www.balipost.co.id/

HUT ke-59 Kemerdekaan RI baru saja lewat. Tercapainya kemerdekaan bangsa Indonesia tentu karena pengorbanan para pahlawannya. Jiwanya dikorbankan demi kemerdekaan bangsa dari belenggu penjajahan. Ketika para kesuma bangsa ini berjuang, tidaklah terbetik dalam jiwanya untuk mendapatkan tanda jasa apalagi imbalan berupa materi. Perjuangan dilakukan murni untuk melepaskan bangsa ini dari penjajah. Karena itu, semua warga wajib menghargai jasa para pahlawan seperti kata orang bijak, ”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Continue reading “Potret Heroik Sagung Wah dalam Karya Sastra”

Bahasa »