Ikan

Djenar Maesa Ayu

Ia ikan yang terbang. Ia burung yang berenang. Dan saya, adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang.

Ia menatap saya dengan pancaran mata riang. Syahdu meliputi butir-butir hujan yang jatuh menimpa tubuh kami yang diam-diam menggelinjang. Sembunyi-sembunyi, kami menikmati denyar-denyar di lautan perasaan paling dalam. Sementara kilat mencabik-cabik langit hingga berupa potongan-potongan gambar pantulan kami berjumlah jutaan. Continue reading “Ikan”

SASTRA KENDARI

Syaifuddin Gani

Pintu Kesilaman

Sastra Kendari sudah lebih maju dari segi kuantitas, juga kualitas dibanding ketika pertama kali saya mengenalnya sejak tahun 1997 ketika tiba di Kendari. Selain soal karya, kemajuan itu juga sangat nyata pada orang atau penulis yang melahirkan karya itu. Dan mereka, para generasi terkini itu, berusia muda dan menampakkan semangat mencipta dengan penuh kegembiraan. Continue reading “SASTRA KENDARI”

Qiu Shui Yi

Lan Fang
Jawa Pos, 20 Feb 2011

AKU menekukkan punggung seperti panda yang malas bergerak. Angin menggasak dada. Dingin menghajar kulit. Kunaikkan retsliting jaket tipisku, agak macet. Jaketku tampak tua, pudar dan lepek. Warna birunya sudah tidak sempurna seperti tarikan retslitingku yang tersendat-sendat.

Dengan kesal, kutarik retsliting jaket sekuat-kuatnya. Seketika itu juga gigi retsliting lepas dari relnya. Aku tidak tahu apa sebabnya. Apakah aku yang terlalu kuat menariknya atau jaket yang kukenakan ini…. Continue reading “Qiu Shui Yi”

Maaf, Supir Itu Suami Saya!

Salamet Wahedi *
tabloid Memo edisi 156, 11 Juli 2010

“Mbak, Mbak sudah siuman? Syukurlah kalau Mbak sudah siuman”, lamat-lamat Reni mendengar suara setengah cemas di sampingnya. Perempuan muda seumurny, yang kira-kira dalam taksirannya, tiga tahun lebih tua dibanding dirinya. Ia juga melihat ruang tempatnya terdampar putih semua. Sekeliling, hanya warna putih yang menyapa retina-pupil matanya. Continue reading “Maaf, Supir Itu Suami Saya!”

Bahasa »