Mencandu Kho Ping Hoo

Sapto Pradityo
ruangbaca.com

Pembelaan Kho Ping Hoo terhadap orang-orang miskin disampaikan secara eksplisit.

Saya mengenal cerita silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo pertama kali waktu kelas satu sekolah menengah pertama. Seorang kakak meminjam dari kios penyewaan buku. Saya ingat betul judulnya Jodoh Si Mata Keranjang. Tokoh utamanya, Tang Hay alias Hay Hay atau Si Pendekar Mata Keranjang. Alkisah, Tang Hay adalah anak haram, buah dari perkosaan yang dilakukan jai hwa cat alias penjahat pemetik bunga, Si Kumbang Merah. Continue reading “Mencandu Kho Ping Hoo”

Syair Sang Pejabat

Retno Sulistyowati
http://www.tempointeraktif.com/

Gerrr! Kesunyian robek di gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu malam lalu. Bukan dagelan ketoprak atau banyolan pelawak yang menjadi penyebab, melainkan pembacaan sajak. Bait-bait puisi yang dilafalkan Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail mengocok perut penonton.

Puisi Nurmahmudi sederhana sebenarnya. Bahkan puisi itu mirip laporan pertanggungjawaban kepada dewan perwakilan rakyat daerah. Teknik membacanya pun sangat biasa, tidak ekspresif, malah cenderung monoton. Toh, isinya mengundang tawa. Continue reading “Syair Sang Pejabat”

KENDARI DAN NEGOISASI DIRI *

Wan Anwar **

Perkenalan saya dengan hal ihwal Kendari masih amat terbatas. Dua kali menginjakkan kaki di Kendari (dan Raha) jelas tidak cukup untuk mengenal dan apalagi memahami Kendari (manusia, masyarakat, alam, sejarah, dan kebudayaannya). Meski demikian beberapa kenangan melekat dalam ingatan. Itu cukuplah membuat Kendari menjadi suatu tempat khusus dalam diri saya. Kenangan itu sebagian bersifat pribadi, sebagian lagi menyangkut kemasyarakatan dan kebudayaan. Continue reading “KENDARI DAN NEGOISASI DIRI *”

Wajah Kita Dalam “Negeri Daging”

Ken Sawitri

Negeri Daging (2002) adalah salah satu (dari delapan) antologi puisi Gus Mus (Ahmad Mustofa Bisri). Dikenal tidak hanya sebagai penyair, Gus Mus dikenal juga sebagai seorang ulama, cendekiawan, dan tokoh yang dihormati tidak hanya bagi umat tertentu.

Teguh mengemban amanah bahwa Islam adalah ‘rahmat bagi sekalian alam’ (rahmatan lil ‘alamin), Gus Mus mengedepankan pendekatan kasih sayang dalam setiap persoalan yang dihadapinya, dan mengkritik keras arogansi umat maupun ulama atas nama agama. Continue reading “Wajah Kita Dalam “Negeri Daging””

Mereguk Cinta di Negeri Butuni

Syaifuddin Gani

Menginjakkan kaki di Negeri Butuni selalu meninggalkan jejak yang bermakna. Negeri Butuni yang kumaksud di sini adalah Bau-bau. Secara administratif antara Buton dan Bau-bau memang berbeda, tetapi secara kultur memiliki kesamaan. Meskipun setelah pemekaran memisahkan keduanya, lahir pula “kebudayaan” yang berbeda. Bukankah setiap insan dan ruang memiliki lorong atau visi perbedaan yang merupakan keniscayaan? Kembali ke soal pengalaman saya. Continue reading “Mereguk Cinta di Negeri Butuni”

Bahasa »