Wawan Eko Yulianto
Hasan Aspahani, penyair generasi mutakhir yang diramalkan banyak kalangan bakal (atau mungkin sudah!) berjajar dengan nama-nama serupa Sitok Srengene, Afrizal Malna, Sutardji Calzoum Bahri, berkata bahwa seorang penyair berhutang kepada bangsanya sebuah sajak terjemahan. Gampangnya, setiap penyair harus menerjemahkan sekurang-kurangnya satu sajak dari penyair berbahasa asing yang paling dia sukai. Continue reading “Diterjemahkan Bukan untuk Disembah”
