Diterjemahkan Bukan untuk Disembah

Wawan Eko Yulianto

Hasan Aspahani, penyair generasi mutakhir yang diramalkan banyak kalangan bakal (atau mungkin sudah!) berjajar dengan nama-nama serupa Sitok Srengene, Afrizal Malna, Sutardji Calzoum Bahri, berkata bahwa seorang penyair berhutang kepada bangsanya sebuah sajak terjemahan. Gampangnya, setiap penyair harus menerjemahkan sekurang-kurangnya satu sajak dari penyair berbahasa asing yang paling dia sukai. Continue reading “Diterjemahkan Bukan untuk Disembah”

Cakrawala Sastra, Tanpa Jender

S Prasetyo Utomo*
Kompas, 29 April 2007

Agak berlebihan ketika Sapardi Djoko Damono mengatakan, masa depan novel (sastra) Indonesia terletak di tangan perempuan pengarang kita. Memang benar, Sapardi Djoko Damono cukup beralasan mengemukakan pendapat ini karena beberapa fenomena. Pertama, bermunculan perempuan pengarang Indonesia yang sangat serius melakukan eksplorasi gaya bercerita. Kedua, berkembang industrialisasi kapitalistik yang sangat bergairah memasarkan teks-teks sastra karya perempuan pengarang kita. Continue reading “Cakrawala Sastra, Tanpa Jender”

Sterilisasi Bahasa

Acep Iwan Saidi*
Pikiran Rakyat, 5 Mei 2007

ESAI saya bertajuk “Matinya Bahasa Sunda” yang dimuat pada lembar budaya ini (Khazanah, 17/02/2007) mendapat banyak tanggapan meskipun tidak dalam bentuk tulisan di media. Dari semua tanggapan itu bisa disimpulkan bahwa tulisan tersebut disikapi secara mendua: diterima, tetapi sekaligus dipersoalkan. Oleh sebab itu, kiranya perlu sekali lagi ditegaskan apa yang saya pikirkan tentang bahasa Sunda tersebut. Continue reading “Sterilisasi Bahasa”

Bahasa »